
Hari yang di tunggu - tunggu Bagas dan Dewi akhirnya tiba. Seluruh keluarga sudah berkumpul di gedung tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan Bagas dan Tiara.
Acara akad nikah yang sebelumnya sudah di rencanakan di ganti menjadi acara penerimaan dan penandatanganan surat nikah.
Bagas dan Dewi tampak bahagia saat berfoto sambil memegang surat nikah mereka.
Seluruh keluarga besar mengucapkan selamat kepada mereka. Setelah itu acara dilanjutkan dengan acara resepsi.
Bagas dan Dewi sedang berganti pakaian di kamar. Dewi tampak malu - malu saat hendak berganti pakaian.
"Ayo Mbak ganti pakaian" ajak perias pengantin.
Mereka heran mengapa Dewi tampak keberatan saat berganti pakaian. Tadi saja saat memakai baju pengantin saat acara akad nikah yang di ganti menjadi penandatanganan surat nikah. Dewi memakai gaun putih dan itu di pakai di kamar mandi.
Saat ini juga Dewi hendak membawa gaun resepsinya ke kamar mandi tetapi karena gaunnya panjang tidak bisa di pakai disana, takut gaunnya akan basah.
"Mbak pakai di sini saja" perintah perias pengantin.
"Di kamar mandi aja Mbak" jawab Dewi.
"Kenapa Mbak, malu? Udah gak usah malu Mbak. Kami udah biasa kok Mbak" ujar wanita itu membujuk Dewi.
"Udah yank gantinya di kamar mandi aja Tadi pagi susah kan ganti bajunya di sana" Bagas juga ikutan membujuk Dewi.
"Tapi Mas" ujar Dewi.
"Udah gak apa - apa, mereka juga udah mengerti. Udah biasa" jawab Bagas.
Akhirnya Dewi dengan pasrah membuka bajunya dan ternyata..
"Oh si Mbak malu rupanya karena banyak tatonya. Pinter ya Masnya buat Tato" puji perias pengantin ketika melihat tanda cinta Bagas di tubuh istrinya.
Dewi hanya menunduk malu.
"Kan udah nikah kan Mbak, ngapain malu" ujar wanita itu
"Udah yank, Mbak - Mbak ini kan udah lama bekerja di bidang ini pasti mereka udah menemukan berbagai macam bentuk tato. Tapi aku yakin tato ku yang paling cantik" ucap Bagas bangga.
Wajah Dewi rasanya sudah panas karena menahan malu.
Dasar suami kurang akhlak bukannya malu atas kelakuannya, eh malah bangga. Umpat Dewi dalam hati.
__ADS_1
"Naaaah udah siap kan? tuh Mbaknya cakep banget" puji perias pengantin.
"Iya donk, namanya juga Dewi Mbak. Bidadari hatiku" puji Bagas.
"Beruntung banget ya si Mbak dapat suami pinter muji begini" puji Wanita itu.
"Itu bukan muji Mbak tapi modul rayuan gombal biar nanti malam di kasih jatah" potong Dewi akhirnya karena sudah kesal melihat tingkah suaminya yang percaya dirinya selangit.
"Hahaha.. biasa tuh Mbak namanya juga pengantin baru" jawab wanita itu.
Akhirnya Dewi dan Bagas sudah siap berganti pakaian dan mereka dibantu untuk berjalan masuk ke dalam ruang resepsi.
Seluruh tamu undangan sudah ramai berdatangan. Mulai dari keluarga, relasi bisnis, para pegawai di perusahaan Bagas dan juga teman - teman Bagas. Tak terkecuali Morgan.
Bagas memang sengaja mengundang Morgan agar Morgan tau kalau dia sudah kalah. Dewi kini sudah menjadi miliknya seutuhnya.
Ternyata Morgan datang bersama wanita lain, bukan Siska. Dan itu membuat Bintang dan Roy curiga mengapa Siska dan Morgan tidak bersama. Apakah telah terjadi sesuatu pada mereka?
Satu persatu tamu undangan mengucapkan selamat kepada Bagas dan Dewi. Pesta berjalan dengan meriah.
Siska mulai menjalankan aksinya. Dia mendekati Tiara yang saat itu sedang duduk sendiri sambil bermain dengan Zia yang sedang duduk di strollernya.
"Hai madu" sapa Siska penuh percaya diri.
"Kamu bisa cuek saat ini tapi setelah kamu melihat ini kamu pasti akan menangis" Siska melemparkan beberapa foto dirinya dengan Bintang sedang tidur di atas ranjang tanpa busana.
Dengan santainya Tiara mengambil foto - foto tersebut dan merobeknya.
"Sudah.. sudah.. aku lihat. Ada lagi, sini.. biar aku robek" ujar Tiara santai.
Siska terkejut melihat tanggapan Tiara dia tidak menyangka Tiara akan sesantai ini menyambut kedatangannya.
Sial, ternyata wanita ini kuat juga. Dugaanku salah selama ini. Umpat Siska dalam hati.
Tak lama Bintang datang dan mendekati istrinya Tiara.
"Ada apa ini Yank?" tanya Bintang.
"Tuh Mas wanita tak tau malu sedang menjalankan aksinya sebagai pelakor. Dia ingin menunjukan pada dunia busuknya rencana jahatnya. Dia pikir aku percaya" jawab Tiara.
"Bin aku menunjukkan kepada istri kamu foto - foto kita di Jogja agar dia bisa bersiap menerima aku sebagai yang kedua dalam hidup kamu" ucap Siska kepada Bintang.
__ADS_1
"Emangnya apa yang sudah aku lakukan pada kamu?" tanya Bintang.
"Kita sudah melakukannya Bin dan kamu berjanji akan menjadikan aku yang ke dua" jawab Siska berbohong.
"Hahaha.. kamu kira aku bisa percaya begitu saja rencana busuk kamu. Kamu pikir aku tinggal diam dengan segala kebohongan kamu?" ujar Bintang.
"Aku punya buktinya Bin" balas Siska.
"Aku juga punya bukti Sis. Kamu kira kamu saja yang punya bukti. Bukti kalau kamu menjebak aku, menyuruh pelayan memberikan obat tidur kepadaku? Bersiaplah sebentar lagi pihak hotel akan menuntut kamu atas pencemaran nama baik hotel mereka. Kamu sudah menyeludupkan seorang pelayan palsu ke dalam hotel sehingga nama baik Hotel tersebut tercoreng. Aku juga akan ikut menuntut kamu karena kamu sudah menjebakku" ujar Bintang.
"Tapi kita melakukannya atas dasar suka sama suka Bin" jawab Siska.
"Saat itu aku tidur Sis, aku tidak ingat apapun. Aku yakin aku tidak melakukan apapun pada kamu. Lagian aku kan kamu jebak. Kamulah yang bersalah pada masalah ini. Bersiaplah sebentar lagi kebebasan kamu akan segera berakhir" ancam Bintang.
"Ini semua bukti kejadian malam itu di kamar Bin. Kamu tidak punya bukti lainnya karena di dalam kamar tidak ada camera CCTV. Ya aku memang meminta pria sialan itu memberikan kamu obat tidur. Tetapi dia memberikan kamu obat perangsang Bin. Kamu memintaku untuk membantu kamu meredakan gaira* kamu malam itu. Apa kamu lupa Bin? Lihatlah semua foto ini" ujar Siska.
"Aku tidak percaya Siska. Kalau aku minum obat perangsang aku pasti akan ingat semuanya tapi aku tidak ingat apapun" lawan Bintang.
"Kamu berbohong Bin, tega sekali kamu memalsukan fakta sebenarnya. Kamu bilang kamu butuh kepuasan malam itu karena selama ini kamu tidak mendapatkannya dari istri kamu. Dia sudah cacat" Siska terus melakukan aksinya.
Tanpa sadar Tiara melakukan sesuatu karena mendengar Siska menuduhnya cacat.
Plak...
Tiara menampar wajah Siska.
"Sekali lagi kamu katakan aku cacat aku akan membuat kamu tersiksa lebih parah dari saat ini. Sudah cukup kamu berusaha untuk menghancurkan rumah tanggaku tapi jangan pernah sekalipun kamu katakan aku cacat. Kekurangan yang aku punya lebih tinggi harganya dari pada kamu yang sempurna tapi murahan. Milik kamu yang kamu anggap lebih berharga itu kamu jual pada banyak lelaki. Tanpa rasa malu kamu sendiri yang menunjukkan kepada semua orang betapa rendahnya dan murahannya kamu. Berteriaklah agar semua orang tau berapa harga diri kamu. Tunjukkan pada semua orang yang ada disini siapa diri kamu sebenarnya. Wanita jalan* pelac** dan pengganggu rumah tangga orang. Kamu pikir aku takut, kamu pikir aku percaya dengan semua kata - kata kamu. Mas Bintang adalah milikku sampai kapanpun dia tetap milikku. Tidak akan kubiarkan siapapun yang akan berusaha untuk merebutnya dariku" umpar Tiara dengan nada marah dan penuh emosi.
"Penjaga" panggil Bintang.
Tak lama kemudian datang dua orang bagian keamanan menghadap Bintang.
"Bawa wanita gila ini keluar, seret dia kalau dia tidak mau" perintah Bintang.
"Baik Pak" jawab dua orang pria kekar itu.
Mereka langsung memegang kedua tangan Siska dan menyeretnya keluar.
"Lihatlah perbuatan kalian. Aku pastikan kalian akan menyesalinya" umpat Siska sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG