
Kini mereka sudah kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Pak Bambang, Bagas, Bintangdan keluarga kecilnya sudah kembali ke Jakarta. Siti, Dewi dan Ali sudah kembali ke rumah mereka. Kini hanya tinggal Pak Wijaya sendirian, sepi.
Rumahnya kalau sudah seperti ini terasa sangat besar. Terasa begitu dingin, tidak ada suara riuh dan canda tawa. Semua kembali seperti semula.
Pak Wijaya baru selesai mengelilingi perkebunannya. Setelah sampai di rumah dia mandi dan memakai pakaian terbaiknya.
"Bapak mau ke mana, kok tampan sekali?" tanya asisten rumah tangganya.
"Aku mau pergi, tidak udah siapkan makan malam untukku. Aku akan makan malam di luar" jawab Pak Wijaya.
"Baik Pak" jawab asisten rumah tangganya.
Pak Wijaya berjalan menuju mobilnya.
"Yuk Din kita pergi" perintah Pak Wijaya.
"Baik Pak" jawab Mang Udin sigap kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Pak Wijaya. Setelah itu Mang Udin menyalakan mobilnya dan mulai menjalankannya.
"Kita akan pergi ke mana Pak?" tanya Mang Udin.
"Ke Cafe Kenanga" jawab Pak Wijaya.
"Baik Pak" jawab Mang Udin.
Pantesan wangi dan gagah rupanya mau jenguk mantan pacar. Ucap Mang Udin dalam hati. Dia sempat melirik dari kaca spion tampilan Pak Wijaya malam ini.
"Berhenti sebentar di depan Din" perintah Pak Wijaya.
"Baik Pak" Jawab Mang Udin.
Mobil menepi tepat di depan toko bunga. Pak Wijaya turun dari mobil dan berjalan masuk ke toko bunga. Pak Wijaya memesan bunga mawar putih kesukaan Siti.
Dulu waktu di kampung Siti suka sekali menanam dan merawat bunga mawar di halaman rumah mereka.
__ADS_1
Pak Wijaya masuk ke dalam mobil sambil memegang bunga yang dia beli tadi di toko bunga. Mang Udin tersenyum tipis mengintip dari kaca spion.
Pak Wijaya tiba di Cafe Kenangan sekitar pukul tujuh malam. Sesampainya di sana dia langsung masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman. Dia masih menyembunyikan bunga mawar yang dia beli dibalik tubuhnya.
Tak lama Siti menghampiri Pak Wijaya yang sudah duduk dengan santai di mejanya.
"Kok Mas gak kasih kabar dulu kalau mau ke sini?" tanya Siti.
"Aku sengaja mau buat kejutan untuk kamu. Ini sebuket bunga mawar putih kesukaan kamu" Pak Wijaya memberikan bunga yang dia beli tadi di toko bunga di pinggir jalan saat dia menuju ke sini.
"Mas masih ingat bunga kesukaanku?" tanya Siti haru.
"Aku masih ingat semuanya Sit.. Makanan kesukaan kamu, warna kesukaan kamu, bunga kesayangan kamu. Semuanya masih jelas dalam ingatanku" ungkap Pak Wijaya.
Siti meneteskan air mata. Dia melihat cinta yang begitu dalam terpancar dari mata Pak Wijaya. Cinta yang dulu pernah dia miliki kini... suara hati Siti.
"Rumah sangat sepi setelah kalian pergi. Aku kembali menjalani hidup seperti dulu sendiri dan kesepian. Beberapa hari ini aku merenungkan diriku mencoba bertanya pada hatiku. Apa lagi yang ingin aku cari, apa lagi yang ingin aku raih. Apa yang aku inginkan?" ucap Pak Wijaya.
Pak Wijaya menarik nafasnya panjang.
"Aku bertanya lagi lebih dalam di hatiku. Apa yang membuat aku bahagia? Ternyata yang membuat aku bahagia adalah keluarga Sit. Aku ingin memiliki keluarga yang utuh. Aku butuh rumah tangga yang membuat hidupku lebih berwarna.. lebih hidup dan lebih bahagia. Tapi di balik semua itu, kamulah kebahagian aku Sit" ungkap Pak Wijaya.
Siti semakin terisak.
"Aku ingin membangun rumah tangga kembali bersamamu. Membangun keluarga kita, memiliki anak - anak dan keluarga yang utuh. Aku ingin membahagiakan kamu Siti. Aku tau ini terlalu cepat bagi kamu. Aku akan sabar menunggu sampai kamu benar - benar siap untuk menikah lagi" sambung Pak Wijaya.
"Maaas... " ucap Siti terputus.
"Jangan jawab sekarang Sit, aku akan sabar menunggu kamu. Jawablah ketika kamu sudah benar - benar siap. Kapan pun aku akan selalu menunggu kamu. Selesaikan kewajiban kamu, kita juga tidak terburu - buru. Menunggu kamu bertahun - tahun saja aku sanggup Sit, kini hanya menunggu beberapa bulan saja mengapa aku harus keberatan. Aku akan setia menunggu saat itu tiba" potong Pak Wijaya.
"Terimakasih Mas... terimakasih atas semuanya.. Maaf kalau dulu aku sempat membuat kamu kecewa, meninggalkan kamu dan tak sabar menunggu kedatangan kamu" ungkap Siti.
__ADS_1
"Jangan lagi kita bahas masa lalu, semua sudah berlalu. Yang penting adalah masa depan kita bersama anak - anak. Aku sudah menganggap Dewi dan Ali sebagai anakku sendiri. Aku siap bertanggung jawab untuk kalian semua. Jangan ragukan itu" tegas Pak Wijaya.
"Aku tidak pernah meragukan kamu Mas. Terimakasih kamu mau mengerti keadaanku. Terimakasih kamu masih setia menunggu aku. Terimakasih atas cinta kamu yang tak pernah putus untukku.. " jawab Siti.
"Kalau begitu bolehkan aku memesan makanan sekarang? Aku sangat lapar" ucap Pak Wijaya jujur.
Siti tersenyum dibalik tangisannya. Pria ini, pria sederhana yang dulu sangat dia cintai. Pria yang tak banyak menuntut, menerima dan mencintainya apa adanya. Mengapa dulu dia tak sabar menunggu kedatangannya. Mengapa cintanya bisa berpindah kelain hati.
Tapi benar kata kamu Mas, untuk apa menatap masa lalu. Yang penting masa depan yang akan kita jalani. Aku juga ingin bahagia Mas, bersama kamu. Aku ingin menebus kesalahan aku dulu, membalas masa - masa indah yang pernah kita lupakan. Menebus semua kesedihan dan kepedihan hidup. Ya Allah.. terimakasih.. di penghujung usiaku KAU masih memberikan aku kesempatan untuk kembali bahagia dengan pria yang sangat aku cintai dulu dan sekarang. Ridhoi niat baik kami ini ya Allah dan izinkan kami bahagia bersama lagi. Doa Siti dalam hati.
Siti menghapus air matanya.
"Sebentar ya Mas, aku akan masakkan makanan kesukaan kamu. Spesial untuk kamu malam ini, aku sendiri yang akan memasaknya" ujar Siti.
Siti mengambil buket bunga yang diberikan Pak Wijaya dan dia bawa ke ruang kerjanya. Siti meletakkannya di pas bunga meja kerjanya. Siti tersenyum bahagia menatap indahnya bunga itu.
Setelah itu Siti berjalan ke dapur dan mulai memasak untuk Pak Wijaya.
"Ibu, kenapa Ibu memasak sendiri di dapur?" tanya koki di Cafenya.
"Ini untuk orang spesial" jawab Siti.
"Tapi mengapa Ibu memasak sambil menangis?" tanya Koki itu lagi.
"Ini tangisan bahagia. Sudah.. lanjutkan saja kerja kamu ya. Ibu akan meminjam dapur kamu sebentar" jawab Siti lembut.
Siti memasak dengan segenap hati, ingin memberikan masakan terbaik kepada Wijaya. Pria pertama dan terakhir yang telah mengisi hatinya. Yang akan menghapus luka masa lalu mereka dan bersama - sama meraih kebahagian bersama kelak di masa depan.
Setelah masak Siti menghidangkannya ke dalam piring kemudian membawanya kehadapan Pak Wijaya.
"Silahkan di makan Mas, makanan ini spesial untuk kamu malam ini" ujar Siti sambil tersenyum penuh bahagia.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG