Tiara

Tiara
Masak Bersama


__ADS_3

"Kenapa Tegar nangis seperti ini Mas, Mas bilang apa sama Tegar?" tanya Tiara.


"Ha...? Aku gak ada bilang apa - apa" Jawab Bintang bingung


Tiara memeluk Tegar.


"Kamu diam ya sayang, tidak ada Papa baru. Siapa yang bilang Mama mau menikah hem... Mama gak akan menikah dengan siapapun" ucap Tiara menenangkan Tegar yang masih menangis dalam pelukannya.


Entah mengapa jawaban Tiara barusan bisa membuat Bintang tersenyum. Walau sangat tipis tapi dalam hatinya merasa lega.


Bintang segera keluar dan mengecek urusan kantornya melalui email dari ponselnya.


Tiara sudah selesai menenangkan Tegar dan kini Tegar sudah tertidur. Mungkin karena pengaruh obat demam yang masih dia minum karena belum sembuh total.


Tiara menggelengkan kepalanya melihat Bintang yang sedang serius menatap ponselnya.


Pasti Mas Bintang bicara sesuatu nih sama Tegar sampai dia nangis sesedih itu.


Tiara kembali ke dapur dan mulai memasak untuk makan siang mereka. Bintang diam - diam melirik Tiara ke arah dapur.


Perlahan dia membuka aplikasi camera di ponselnya dan diam - diam Bintang mengambil foto Tiara yang sedang serius memasak di dapur kemudian membuat foto tersebut sebagai foto profil di kontak hpnya. Mama Tegar 💓


Kemudian dia menghapus tanda love di namanya. Setelah itu dia mengganti lagi namanya menjadi Ibu Anakku 💓


Untuk ketiga kalinya Bintang mengganti nama itu dan akhirnya hanya Tiara 💓


Tiba - tiba Tiara memanggilnya.


"Maas" ucap Tiara.


"Ya Ra" jawab Bintang. Dia langsung menutup layar ponselnya dan meletakkan ponselnya kemudian berjalan ke dapur.


"Tolong angkat kan galon airnya" perintah Tiara.


Bintang segera mengganti galon air yang ada di atas dispenser

__ADS_1


"Makasih Mas" ucap Tiara.


"Sama - sama, ada lagi yang bisa aku bantu?" tanya Bintang.


Tiara tampak sedang berfikir.


"Aku pengen masak ayam bakar, Mas bisa memanggangkan ayam ini?" tanya Tiara.


"Bisa" jawab Bintang cepat.


Tidak masalah, dulu waktu kuliah aku sering melakukannya. Bintang tersenyum dan segera membuat api kecil untuk memanggang ayam di taman belakang.


"Maaf Ra, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Bintang sambil dia membuat api.


"Mas mau tanya apa?" jawab Tiara.


"Kenapa malam itu kamu di jebak sama teman kamu? Apa mereka mau memperkosa kamu?" tanya Bintang.


Dia heran mengapa malam itu Tiara sampai di jebak dan diberi minuman beralkohol.


"Bapak Tiri kamu mau menjual kamu Ra?" tanya Bintang tak percaya.


"Iya Mas, Bapak Tiriku itu tidak punya kerja. Setiap malam dia suka mabuk - mabukan dengan teman - temannya. Dia menjual ku agar mendapatkan uang untuk dipakai mabuk - mabukan" ungkap Tiara.


"Jahat banget Bapak Tiri kamu Ra. Apa Ibu kamu tau?" tanya Bintang.


"Ibu gak tau Mas kalau Bapak mau jual aku" jawab Tiara.


"Trus kenapa kamu di usir dari rumah dan siapa yang mengusir kamu?" tanya Bintang lagi.


"Bapak Tiri aku Mas yang usir alasannya karena aku hamil di luar nikah. Aku rasa dia takut ketahuan sudah bekerja sama dengan temanku untuk menjebakku malam itu" ucap Tiara.


"Kenapa kami tidak membela diri Ra?" tanya Bintang.


"Aku mau jawab apa Mas. Aku mau cerita sama mereka kalau aku ikut dengan pria asing ke apartemennya dalam keadaan mabuk kemudian hamil, gitu?" jawab Tiara.

__ADS_1


"Maaf Raa... " ucap Bintang menyesal.


"Sudahlah Mas, sudah lima tahun berlalu. Aku sudah ikhlas dan tidak menyalahkan siapapun. Yang penting aku sudah bertobat dah tidak melakukannya lagi. Bagaimanapun Tegar tidak bisa disesali kehadirannya karena dia yang telah membuat aku kuat seperti sekarang ini" ujar Tiara.


"Tapi kalau saja malam itu tidak terjadi, mungkin kamu tidak di usir Ra" bantah Bintang.


"Dan Tegar tidak akan pernah lahir kedunia ini kan Mas? Semua rahasia Allah Mas. Kalau seandainya malam itu tidak terjadi, mungkin sekarang aku sudah di jual sama Bapak Tiriku dan hidupku mungkin lebih mengerikan Mas dari pada saat ini" ungkap Tiara.


Bintang terdiam dan meresapi perkataan Tiara.


Yah Tiara benar, mungkin kalau malam itu tidak terjadi aku tidak akan pernah bertemu dan mengenal Tiara. Batin Bintang.


"Sekarang kamu tidak pernah bertemu Ibu kamu lagi Ra?" tanya Bintang.


"Pernah Mas, dua bulan yang lalu saat aku ke Jakarta bersama Tegar. Secara tidak sengaja aku bertemu Ibu. Aku tanya mengapa ponsel Ibu tidak aktif lagi. Kata Ibu dijual Bapak karena Ibu ketahuan bertemu denganku saat aku wisuda dulu. Tapi sekarang aku sudah sering berhubungan dengan Ibu. Ibu sudah aku suruh beli ponsel baru dan mereka, Ibu dan adik - adikku sangat senang bercerita dengan Tegar" jawab Tiara sambil tersenyum bahagia menceritakan Ibunya.


"Berarti sekarang Tegar sudah kenal sama eyangnya ya?" tanya Bintang.


"Sudah, dia sudah kenal dengan eyang, om dan tantenya. hampir setiap malam mereka video call" jawab Tiara.


"Maaf Ra, Tegar tidak bisa berkenalan dengan Mama dan Papaku. Karena aku sendiri juga lari dari mereka. Kertasnya hidup kita mungkin berbeda Ra. Tapi kita sama - sama sendirian menjalani hidup ini" ungkap Bintang.


"Maksud Mas?" tanya Tiara penasaran.


"Saat aku kuliah, aku lari dari rumah orangtuaku dengan membawa tabungan dan beberapa barang berharga yang aku punya. Itu kujadikan modal usahaku sambil kuliah. Sampai aku tamat kuliah aku lebih fokus menjalankan usahaku dan alhamdulillah sampai sekarang Perusahaanku jadi besar seperti sekarang ini. Papaku orang yang sangat keras. Dia selalu memaksakan kehendaknya padaku. Dari kecil aku selalu di dikte, tidak boleh begini dan tidak boleh begitu. Aku harus sekolah di sini dan belajar ini itu. Semua dengan paksaan tanpa ada bertanya tentang apa yang aku suka. Mereka tidak pernah punya waktu untukku. Aku harus belajar dan berbuat baik tapi mereka tidak pernah memberikan kasih sayang kepadaku. Aku selalu kesepian di rumah. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan mereka dan aku bertemu dengan Dian, Roy dan Bagas saat kuliah. Kami saling bantu satu sama lain bahkan sampai sekarang. Jadi mohon maaf mungkin dariku Tegar tidak akan pernah mengenal eyangnya" ucap Bintang sedih.


"Tidak apa Mas, yang penting apa hal buruk yang kita alami dulu tidak kita ulang kepada anak kita. Mari kita ajari dia ilmu agama, agar dia tidak melalukan hal yang salah yang pernah kita lakukan" balas Tiara.


Bintang terdiam sejenak. Tiara benar, anakku tidak akan pernah aku paksa untuk menjadi seperti apa. Biarlah dia menjadi dirinya sendiri. Dan lagi dia harus mempunyai dasar ilmu agama agar dia tidak melakukan kesalahan seperti yang aku dan Tiara lakukan sampai dia terlahir ke dunia ini.


Semoga suatu saat nanti, ketika dia bertanya mengapa dia bisa terlahir ke dunia ini. Aku dapat menjawab pertanyaannya dengan bijak dan semoga dia dapat memaklumi bahwa setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi jangan sampai kita melakukan kesalahan yang sama sampai dua, tiga atau berulang kali. Tegas batin Bintang.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2