Tiara

Tiara
Penyelamatan Dewi Part. 3


__ADS_3

"Bapaaaaaaak" teriak Dewi sambil menangis terisak.


"Teganya Bapak mengkhianatiku. Tadi kan janjinya kalau aku bisa memberikan kalian uang, kalian akan membebaskanku" ucap Dewi putus asa.


"Harga tubuh kamu lebih mahal dari pada kedua barang ini, tapi ditambah dengan kedua barang ini kami bisa menambah tabungan kami untuk melarikan diri" jawab Tarjo.


"Bapak kejam... kejam sekali. Bapak tega menjual anak kandung Bapak sendiri" ujar Dewi sambil berteriak.


"Hanya itu satu - satunya cara agar Bapak bisa mendapatkan uang. Lagian kamu akan dinikahi Juragan dan mendapatkan harta yang banyak Itu janji Juragan pada Bapak. Kamu tidak akan hidup menderita" balas Tarjo.


"Tapi aku tidak mau menikah dengannya Pak" bujuk Dewi.


Lebih baik aku menikah dengan Mas Bagas. Mas Bagas tolong akuuuuuu.... teriak Dewi dalam hati.


******


Bagas, Bintang dan Tiara sudah sampai di rumah Wijaya. Siti kembali menangis sambil memeluk Tiara.


"Tiaraaaa, adik kamu..." ucap Siti sambil menangis.


"Tenang Bu, Dewi pasti akan kita temukan" jawab Tiara.


"Gimana Gas, ada kabar terbaru?" tanya Bintang.


"Sudah, aku sudah menemukan lokasinya. Untuk waktu membeli laptop dan ponsel Dewi minggu lalu aku memasang GPS di dalamnya. Untuk menjagakan hal yang buruk seperti ini. Kedua benda itu kan selalu dibawa Dewi ke kampus jadi aku berinisiatif membelikannya dua barang tersebut" jawab Bagas.


"Makasih Bro.. kamu memang sudah menjaga adikku dengan baik" Bintang menepuk bahu Bagas.


"Jadi dimana lokasi Dewi sekarang?" tanya Wijaya.


"Di ujung kota Sumedang Pak" jawab Bagas.


"Bagaimana Bin, apakah kita bisa berangkat sekarang?" tanya Wijaya.


"Ayo Pak, tapi Ibu dan Tiara di rumah saja ya biar kita saja yang pergi. Selain Tiara lagi hamil kita juga tidak tau suasana disana bagaimana. Bisa membahayakan buat Ibu dan Tiara. Kamu juga disini ya Al, jaga Ibu dan Kakak kamu" perintah Bintang kepada Ali adiknya Tiara.


"Baik Mas, aku akan jaga Ibu dan Mbak Ara" jawab Ali sigap.


"Tapi begitu kalian menemukan Dewi segera hubungi kami ya Mas" pinta Tiara.


"Iya sayang, jaga diri kamu baik - baik ya. Mas pergi dulu" Bintang mencium kening Tiara dengan lembut sebagai salam perpisahan.


Bintang, Bagas dan Wijaya bersama para pasukannya dan dibantu dengan polisi langsung menuju lokasi Dewi sesuai dengan alamat yang ada di GPS handphone dan laptop Dewi.


Dalam waktu beberapa jam akhirnya Bintang beserta rombongan sampai di tempat yang mereka tuju. Mereka sampai di sebuah rumah jelek dan di depannya ada mobil yang terparkir. Di duga mobil itulah yang membawa Dewi dari Mall sampai ke sini.

__ADS_1


Para polisi beserta rombongan yang Bintang dan Bagas bawa dari Jakarta sudah berhasil mengepung rumah tersebut.


Gerakan mereka sangat pelan, agar tidak menimbulkan kecurigaan Ida di dalam. Polisi mengintip ke dalam rumah. Mereka menemukan Ida dan Tarjo yang ada di dalam bersama Dewi.


Dewi sedang di hias dan memakai baju kebayak putih seperti pengantin.


"Apa yang mereka lakukan kepada Dewi?" tanya Bagas.


"Aku kok jadi teringat kejadian Tiara yang akan terulang pada Dewi ya" sambut Bintang.


"Maksud kamu?" tanya Bagas.


"Dewi mau di nikahkan Tarjo, jangan - jangan Dewi mau dijual juga seperti Tiara dulu" jawab Bintang.


"Bisa jadi seperti itu" sambut Wijaya.


"Gila, anak sendiri pun mau di jual juga, dasar bajinga* gak punya hati nurani dia" umpat Bagas kesal.


"Ayo Pak kita segera lakukan penangkapan" ujar Bintang kepada polisi.


"Baik, kita akan mulai aksi penyelamatan Dewi. Pasukan bersiaaaap.... satu... dua.... tiga.. mulai" teriak kepala Polisi.


"Angkat tangan kalian sudah di kepung" ucap Polisi kepada Tarjo dan Ida.


Sontak mereka berdua terkejut dan saling pandang. Polis masuk lengkap membawa senjata dan mengarahkan kepada mereka.


"Lepaskan senjata kalian atau anak ini mati" ancam Tarjo.


"Tahaaaan" teriak kepala polisi.


Mereka tidak berani bertindak gegabah karena kalau merek salah langkah bisa - bisa keselamatan Dewi terancam. Dewi bisa saja terluka bahkan terbunuh.


"Pak... mengapa Bapak tega seperti ini padaku Pak?" tanya Dewi sambil menangis.


"Diam kamu, ikuti kemana aku arahkan" perintah Tarjo.


"Pak lebih baik Bapak menyerah saja" jawab Dewi.


"Diam kamu! kamu mau mati?" tanya Tarjo.


Dewi akhirnya mengikuti semua perintah Tarjo karena tusukan benda tajam di lehernya terasa perih, padahal Dia saat ini memakai jilbab. Tapi Dewi yakin lehernya pasti terluka.


"Ayo Da ikuti Bapak dari belakang. Bawa kunci mobil. Kita pergi dari sini" perintah Tarjo.


"Ba.. baik Pak" jawab Ida.

__ADS_1


Ida membawa tas laptop Dewi dan tasnya sendiri kemudian mengambil kunci mobil setelah itu Ida mengikuti langkah Tarjo dari belakang.


"Wi jangan menangis ikuti saja apa perintahnya. Kami akan menyelamatkan kamu" teriak Bagas.


"Mas Bagas toloooong" panggil Dewi sambil terus menangis.


Dewi melihat sekeliling, polisi di setiap sudut sedang berjaga di tambah beberapa oengawal. Ida yakin mereka adalah orang - orang Pak Wijaya dan Bintang kakak iparnya. Dewi semakin sedih.


"Lihatlah Pak, orang - orang itu yang tidak punya hubungan darah denganku tapi sangat menyayangiku. Masak Bapak orang tua kandungku tega berbuat seperti ini padaku" rengek Dewi.


"Diam kamu! Kamu mau aku sembelih di sini!" teriak Tarjo.


"Aaw... " Dewi merasa lehernya semakin perih.


"Dewi kamu diam saja, ikuti semua perintahnya" ujar Bintang.


"Mas Bintang, sampaikan salamku pada Ibu, Mbak Ara dan Ali ya. Aku menyayangi mereka" ujar Dewi pada Bintang. Dia seperti sudah pasrah apapun yang terjadi dengan hidupnya.


Hati Dewi saat ini sangat hancur, Bapak kandungnya sendiri sedikitpun tidak pernah menyayanginya bahkan tega ingin menjualnya dan membunuhnya. Sedangkan Wijaya yang bukan siapa-siapa dalam hidupnya menawarkan kasih sayang dan perlindungan di rumahnya.


Dewi menatap Bintang, Bagas dan Wijaya satu persatu. Air matanya semakin deras mengalir. Tiga pria itu bukan siapa-siapa dalam hidupnya. Hubungan darah juga tidak ada. Tapi mereka rela mencari dan menyelamatkannya sampai ke sini.


Sedangkan dua orang yang ada di belakangnya, yang satu Bapak kandungnya dan satu lagi Kakaknya. Malah ingin menyakitinya.


Perlahan - lahan mereka bergerak keluar gedung sambil berjalan berdekatan dan berdempetan agar tidak terpisah dan tertangkap polisi. Ida memencet remote mobil untuk membuka pintu.


Polisi semakin ketat berjaga, mereka tak ingin salah sasaran. Tim tembak jitu sudah mengarahkan senjata mereka ke arah Tarjo dan Ida. Sedikit aja mereka punya kesempatan mereka akan langsung menembak Tarjo dan Dewi.


Pintu mobil sudah terbuka, mereka melangkah semakin dekat.


"Bukan pintunya Da" perintah Tarjo.


"Iya Pak" jawab Ida.


"Cepat kamu naik" ujar Tarjo kepada Ida.


"Baik" Ida masuk dari pintu pengemudi dan mulai mengambil posisi.


Tarjo mulai merenggangkan pisau yang ada di leher Dewi dan mendorong Dewi masuk ke dalam mobil. Kesempatan itu tidak di sia - siakan oleh polisi mereka segera menembakkan peluru dari senjata mereka dan mengenai tubuh Tarjo.


Der... der... der...


"Bapaaaaaaaaaaaaaak"......


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG


__ADS_2