Tiara

Tiara
Berfikir logika


__ADS_3

"Silahkan makan" ucap pria tua itu kepada Tiara.


"Ma.. maaf kalau keberadaan kami jadi merepotkan Anda" jawab Tiara.


"Tidak masalah. Anggaplah ini sebagai permintaan maaf saya, secara tidak langsung mobil saya yang menyebabkan kamu kecelakaan" jawab Pria tua.


Tiara terdiam sambil memandang kosong piring yang ada di hadapannya.


"Saya bisa memanggil kamu siapa? Sepertinya kita belum berkenalan sejak kemarin?" tanya Pria tua itu.


"Panggil saja saya Ara, nama Anda? " ucap Tiara.


"Saya Wijaya. Dah siapa nama anak muda ini?" tanya Pria tua yang bernama Wijaya kepada Tegar.


"Saya Tegar Opa" jawab Tegar.


"Opa? Kamu panggil saya Opa? Ya.. panggil saja saya Opa. Saya memang pantas menjadi Opa kamu hahahaha" tawa Pak Wijaya pecah karena gemas melihat Tegar.


Tiara mengelus lembut kepala Tegar.


"Jadi mengapa kalian bisa berada di mobil dengan kondisi kamu yang hamil kamu menyetir mobil dari Jakarta ke Bandung. Itu sangat berbahaya untuk kandungan kamu?" tanya Wijaya.


Tiara kembali menangis jika mengingat kejadian hari itu dimana Bintang Ulang Tahun.


"Mengapa kamu menangis Ara?" tanya Pak Wijaya.


"Karena Papa jahat Opa. Apa peluk - peluk Tante. Aku dan Mama melihatnya" jawab Tegar polos.


Kini Wijaya mulai mengerti permasalahan yang dialami oleh Tiara. Ternyata perselingkuhan dalam rumah tangga.


"Kamu bisa menceritakannya kepada saya. Anggap saya sebagai orang tua kamu. Mungkin kamu harus mengeluarkan apa yang mengganjal di hati kamu agar kamu merasa lega" ucap Pak Wijaya.


Tiara mulai menarik nafas panjang dan menghapus air matanya.


"Hari itu adalah hari ulang tahun Mas Bintang. Aku dan Tegar datang ke kantornya untuk membuat kejutan. Tapi saat kami sampai di kantornya kami melihat dia sedang bermesraan dengan mantan pacarnya. Mereka sedang berpelukan" Tiara kembali menangis ketika menceritakan kejadian siang itu.

__ADS_1


"Terus..?" tanya Pak Wijaya.


"Aku dan Tegar pergi meninggalkan kantor Mas Bintang dan pergi jauh dari Jakarta" jawab Tiara.


"Dan kamu memilih Bandung tempat untuk kamu lari?" tebak Pak Wijaya.


"Ibu dan adik - adikku tinggal di Bandung. Aku ingin bertemu Ibu untuk melepaskan kesedihanku" jawab Tiara.


"Dan membahayakan anak kamu dan calon anak yang ada dalam kandungan kamu?" potong Pak Wijaya.


Tiara terdiam, kini dia tersadar kelakuannya sangat gegabah. Dia hanya memikirkan perasaan dan sakit hatinya sampai lupa memikirkan keselamatan anak - anaknya.


"Aa.. aku mengemudi dengan hati - hati" ucap Tiara membela diri.


"Apa bisa orang yang sedang kecewa, emosi dan menangis mengemudi dengan hati - hati? Kalau kamu mengemudikan mobil dengan hati - hati pasti tidak akan terjadi kecelakaan? Walau syukurnya dalam kecelakaan itu kalian tidak mendapatkan luka yang serius?" desak Pak Wijaya.


Tiara kembali terdiam dan menunduk merenungi kesalahannya.


"Mengapa kamu tidak menyelesaikannya saat itu juga? Mengapa kamu malah memilih lari? Kamu kan istri yang sah, kamu berhak mengusir wanita itu dari kantor suami kamu?" tanya Pak Wijaya.


"Berarti kamu tidak mempercayai suami kamu donk?" desak Pak Wijaya.


"Dalam rumah tangga banyak sekali cobaannya. Bukan hanya dari kedua belah pihak tapi orang ketiga juga pemicunya. Coba kamu ingat - ingat apakah selama ini ada perbuatan suami kamu yang mencurigakan?" tanya Pak Wijaya mengintrogasi.


Tiara menggelengkan kepalanya.


"Nah coba kamu bayangkan atau reka ulang kejadian saat itu di kantor suami kamu apakah memang suami kamu berselingkuh dan bermesraan dengan wanita itu?" selidik Pak Wijaya.


"Maksud Bapak?" tanya Tiara tidak mengerti.


"Zaman sekarang ini bukan hanya pria saja yang nakal. Wanita juga lho tapi selalu pria yang disalahkan. Kami sebagai seorang pria sudah berusaha kuat menjaga pernikahan tapi kalau setiap hari wanita selalu menggoda dengan berbagai cara perlahan - lahan kami juga bisa goyah. Coba kamu ingat siang itu posisinya suami kamu sedang menggoda atau sedang di goda?" tanya Pak Wijaya.


"Sa.. saat itu Mas Bintang sedang di peluk dari belakang" jawab Tiara.


"Nah benar kan kata saya. Kalau kita gabungnya dari perkataan kamu, suami kamu tidak pernah melakukan hal yang mencurigakan dan selama ini kamu mempercayai suami kamu kan?" tanya Pak Wijaya.

__ADS_1


Tiara menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ucapan Pak Wijaya.


"Kemudian kamu bilang saat kejadian itu suami kamu yang sedang dipeluk dari belakang?" tanya Wijaya lagi meyakinkan.


Tiara kembali menganggukkan kepalanya.


"Saat suami kamu melihat kalian datang bagaimana ekspresinya?" tanya Pak Wijaya.


"Dia sangat terkejut kemudian berusaha mengejar kami tapi aku dan Tegar sudah lebih dahulu lari dan turun melalui lift" jawab Tiara.


Pak Wijaya memegang dagunya sambil berfikir.


"Kalau suami kamu terkejut itu wajar karena melihat kamu dan Tegar datang secara tiba - tiba. Dia mengejar kamu juga wajar karena kamu adalah istrinya. Secara logika dia pasti akan mempertahankan rumah yang tangganya mengingat kamu sedang hamil saat ini. Tapi tidak kah kamu mau menyelidiki kejadian saat itu yang sebenarnya? Entah mengapa saya sebagai laki - laki curiga dengan adegan saat kamu melihat posisi suami kamu dengan mantan suaminya? Posisinya di peluk dari belakang. Kalau pria yang sedang di mabuk cinta apalagi saat itu di ruangan tertutup ya... pasti dia yang bertindak agresif. Itu kalau benar dia berselingkuh. Tapi kalau dia dipeluk dari belakang bisa jadi kan saat itu suami kamu sedang dirayu?" tebak Pak Wijaya.


Tiara menatap wajah Pak Wijaya. Tak pernah terlintas sedikitpun pemikiran seperti yang dikatakan Pak Wijaya barusan.


"Kamu mau mengalah untuk wanita penggoda seperti mantan pacar suami kamu itu? Kamu tidak ingin memperjuangkan rumah tangga kamu dengan suami kamu?" tanya Pak Wijaya.


Lagi - lagi Tiara menatap Pak Wijaya sambil berfikir.


Bodoh sekali harus mengalah pada wanita jalan* seperti Siksa mantan pacar suaminya. Dulu kan kata Mas Bintang, Mas Roy, Mbak Dian dan Mas Bagas. Mas Bintang di selingkuhi oleh mantan pacarnya dan mantan pacarnya itu hanya mengharapkan uangnya Mas Bintang. Bisa jadi saat ini mantan pacarnya itu ingin merayu Mas Bintang kembali karena Mas Bintang sekarang lebih sukses. Mengapa aku tidak berfikiran seperti itu kemarin. Bodoh.. aku lari. Umpat Tiara salam hati.


"Bagaimana Tiara apakah kamu sudah memikirkannya? Mengalah atau berjuang?" tanya Pak Wijaya.


"A.. aku.. belum bisa memutuskannya saat ini Pak" jawab Tiara.


"Makanlah.. habiskan makanan kamu dan istirahat. Setelah itu masih banyak waktu kamu untuk memikirkannya. Rumahku ini terbuka untuk kamu kapan saja dan sesuka kamu. Lagian saya tidak punya keluarga. Saya senang kalian ada di rumah ini setidaknya saya bisa menganggap kamu sebagai anak saya dan Tegar adalah cucu saya" ungkap Pak Wijaya.


"Terimakasih Pak" jawab Tiara.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2