
Persiapan pernikahan Pak Wijaya dan Siti sudah semakin sempurna. Gaun Siti sudah diambil. Cincinnya juga, seserahan semua sudah di bungkus dan di hias dengan indah.
Pernikahan yang rencananya ingin sederhana saja akhirnya menjadi mewah dikarenakan Sekar yang ikut campur di dalamnya. Siti dan Pak Wijaya tidak bisa protes lagi karena apa yang dilakukan Sekar adalah demi untuk kebahagiaan mereka.
Saat mereka sedang kumpul di ruang keluarga tiba - tiba Bagas datang membawa sesuatu.
"Pak ini janji aku kemarin" ujar Bagas sambil menyerahkan dua tiket paket umroh kepada Pak Wijaya.
"Apa itu?" tanya Sekar ingin tahu.
"Tiket umroh" jawab Bagas.
"Tiket umroh? Untuk siapa?" tanya Sekar.
"Ya untuk Bapak dan Ibu sebagai hadiah pernikahan. Bapak dan Ibu ingin pergi umroh sekalian honeymoon" jawab Bagas sambil tersenyum.
"Waaaah bagus itu" sambut Pak Bambang.
"Pa kita ikut yuk" ajak Sekar.
"Kamu ini ada aja. Orang yang mau honeymoon kamunya yang semangat pengen ikut. Yang ada kamu malah mengganggu mereka berdua nanti" elak Pak Bambang.
"Kan kita mau umroh Pa, mau beribadah" jawab Sekar.
"Iya tapi selesai ibadah kan mereka mau jalan - jalan" sambung Pak Bambang.
"Gak apa - apa Bam. Kalian ikut aja, biar kita pergi bareng kan kita gak pernah perjalanan seperti ini berempat. Jadi mengulang nostalgia saat kita muda dulu. Kalau ada pasar malam di kampung kita pergi berempat" ujar Pak Wijaya.
"Tuh iya Pa, dulu mereka yang temani kita pacaran sekarang gak ada salahnya kan kita yang temani mereka pacaran. Gantian gitu loh Pa, kan seru" sambut Sekar.
"Iya Mas gak apa - apa malah enak kalau pergi ramai-ramai" ujar Siti senang.
Pak Bambang tampak sedang berpikir.
"Udah Pa pergi aja biar perusahaan aku kan lihatin" ujar Bintang.
"Betul Om, sekalian honeymoon kedua, siapa tau pulang - pulang Bintang dapat dua adek" sambut Bagas sambil tersenyum.
Reflek Bintang menjitak kepala Bagas.
"Ndasmu dapat dua adek. Nggak ah, aku gak mau punya adek lagi" tolak Bintang.
"Aaaww.. sakit Bin" protes Bagas
__ADS_1
"Habis kalau ngomong itu pakai sensor Gas" ujar Bintang.
Tiara dan Dewi tersenyum melihat dua pria tersayang mereka bercanda, layaknya anak kecil.
"Gas pesanin dua tiket umroh ya untuk Tante dan Om" pinta Sekar.
"Baik Tante, segera akan aku pesan" jawab Bagas sigap.
"Selamat punya adek broooh" ledek Bagas kemudian setelah itu dia lari menjauhi Bintang takut di jitak.
******
Hari yang di nanti akhirnya tiba. Hari ini adalah hari pernikahan Siti dan Pak Wijaya dan juga syukuran kelahiran putri kedua mereka. Bintang dan Tiara mengundang beberapa keluarga dekat, para sahabat dan relasi perusahaannya.
Pesta yang semula direncanakan sederhana kini menjadi berjalan meriah. Ridho beserta keluarga kecilnya dan juga kedua orang tuanya hadir dalam acara tersebut. Kedua orang tua Bagas juga hadir karena pernikahan calon besan mereka.
Roy dan Dian juga hadir walau kehamilan Dian sudah hampir memasuki bulan ke sembilan.
Pagi hari sekitar jam sepuluh pagi acara akad nikah berlangsung dengan khidmat. Pak Wijaya dengan lantang mengucapkan akad nikah tanpa ada kesalahan. Sepertinya dia masih ingat kata - kata yang pernah dia sebutkan dua puluh sembilan tahun silam di hadapan wali nikah mereka.
Kini Siti dan Pak Wijaya sudah duduk di pelaminan dengan senyuman yang tak pernah pudar di wajah merek.
"Alhamdulillah.. akhirnya kamu kembali menjadi istriku Sit. Rasanya lega sekali semua berjalan dengan lancar dan dengan restu anak - anak kita" ujar Pak Wijaya sambil terus menggenggam tangan istrinya.
"Aku berjanji di pernikahan kita kali ini aku akan menjadi suami yang akan selalu membahagiakan kamu. Aku tidak akan pernah pergi jauh lagi dari kamu" ucap Pak Wijaya dengan sungguh - sungguh.
"Aku juga akan berjanji selalu di samping kamu Mas, menemani kamu melewati lika liku hidup ini sampai maut memisahkan kita" sambut Siti.
"Aaamiin... " jawab Pak Wijaya.
"Lihat Sit, anak - anak kita tampak sangat bahagia dengan pernikahan kita" mereka melihat ke arah Tiara, Dewi dan Ali..
"Iya Mas" jawab Siti.
"Mereka pasti bahagia karena melihat Ibu mereka sangat bahagia hari ini. Kamu cantik sekali Sit. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada Sekar karena berkat bantuannya kita bisa melangsungkan pesta pernikahan yang meriah seperti ini. Sangat berbeda dengan pernikahan kita dulu" ungkap Pak Wijaya.
"Dia menang bisa saja membuat acara seperti ini Mas, padahal kan awalnya kita ingin pesta yang sederhana saja"'ujar Siti.
"Tak apa, aku suka apalagi rencana kalian untuk nanti malam" ucap Pak Wijaya sambil tersenyum nakal.
"Re.. rencana apa Mas?" tanya Siti gugup.
"Malam pertama kita" jawab Pak Wijaya.
__ADS_1
Aduh... kok berasa seperti pernikahan kami yang pertama dulu ya. Jantungku berdetak kencang seperti ini. Batin Siti.
"Ka.. kami tidak punya rencana apapun" elak Siti.
"Percuma donk aku kasih ATM ku untuk kalian kuras. Terus mubazir juga kan apa yang kalian beli kemarin. Sayang kalau lingerienya gak kepakai" ungkap Pak Wijaya.
"Da.. dari mana Mas tau kami belanja itu?" tanya Siti terkejut.
"Hahaha... aku dapat laporan kalian membelanjakan ATM aku untuk apa saja. Apapun yang kalian belanjakan aku dapat semua laporannya. Jadi kalian tidak akan bisa berbohong di belakangku" jawab Pak Wijaya sambil tersenyum bahagia.
Siti semakin menundukkan wajahnya karena malu.
"Aku tidak marah dan bukan ingin memata - matai apa yang kalian belanjakan. Laporannya memang selalu ada setiap transaksi. Dan aku sangat suka apa yang kamu belanjakan kemarin. Pasti semuanya akan kamu pakai untukku kan?" tanya Pak Wijaya.
Siti hanya bisa menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Pak Wijaya.
"Ayo sekarang foto keluarga" ucap sang fotografer di acara tersebut.
"Ayo berkumpul semua" ajak Bintang.
Bintang, Tiara, Tegar, Dewi dan Ali segera mendekat ke pelaminan. Mereka berdiri dengan teratur. Sang fotografer memberikan intruksi kepada mereka agar bergaya dan tersenyum dengan natural.
Cekreeeek...
Foto keluarga akhirnya terlaksana.
"Sebentar.. tolong ambil sekali lagi. Masih ada yang kurang. Bagaaaas siniii... " panggil Pak Wijaya.
Bagas langsung berdiri dan berjalan menuju pelaminan. Dia sengaja mengambil posisi di samping Dewi. Kemudian mereka berfoto lagi.
Cekreeeek...
Foto keluarga yang kedua telah berhasil diambil dengan baik dan lengkap. Walau Bagas belum sah menjadi anggota keluarga tapi tidak masalah. Karena sebentar lagi hanya hitungan bulan dia akan segera menikah dengan Dewi.
Semua tersenyum bahagia di hari yang indah ini. Tiara tersenyum dengan mata berkaca - kaca.
"Kamu sedih sayang?" tanya Bintang.
"Tidak Mas, aku tidak sedih malah sebaliknya. Aku sangat bahagia karena bisa menyaksikan kedua orangtuaku bisa bersatu kembali dan bahagia seperti ini. Dulu tak pernah ada dalam bayanganku semua ini akan terjadi tetapi ternyata Allah punya rahasia yang sangat besar. Ibu dan Bapak bisa bertemu lagi dan bersatu kembali seperti dulu. Lihatlah mereka tersenyum bahagia. Tak ada lagi kebahagiaan yang lebih indah dari semua ini" ucap Tiara sembari menghapus air mata yang menetes di pipinya.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG