Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
100. S2 - Kedatangan Nayla


__ADS_3

Saat tengah asyik membuat kue, ponsel Yasna berdering. Wanita itu segera mengangkatnya. Ternyata panggilan dari Nayla.


"Halo, assalamualaikum," ucap Yasna setelah menggeser tombol hijau.


"Waalaikumsalam," sahut Nayla yang berada di seberang telepon.


"Apa kabar, Nayla?"


"Baik, Tante. Maaf, saya mengganggu waktunya sebentar. Mengenai kerjasama kita kemarin, saya sudah ada tempat dan juga konsep nya. Apa Tante ada waktu untuk bertemu? Saya ingin menjelaskan tentang semua itu," ujar Nayla panjang lebar.


"Bagaimana kalau kamu datang saja ke rumah. Hari ini saya nggak kemana-mana."


"Apa tidak apa-apa, Tante? Apa saya tidak mengganggu keluarga Tante?"


"Tante tidak merasa terganggu. Kamu juga nggak ngapa-ngapain, kan? Kita cuma membahas masalah pekerjaan."


Nayla sebenarnya merasa tidak enak jika harus datang ke rumah Yasna. Dia ingin bertemu di luar saja, tapi menurutnya tidak sopan jika harus meminta bertemu di luar saat Yasna sendiri yang mengundangnya.


"Baiklah kalau begitu, saya akan datang ke sana."


Demi menghormati Yasna, apa salahnya jika dia datang, Nayla cuma ingin membahas pekerjaan saja.


"Saya akan kirim alamat rumah saya ke ponsel kamu."


"Iya, Tante. Saya tunggu, kalau begitu saya tutup dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Yasna segera menutup ponselnya.


Mudah-mudahan tidak ada masalah saat dia datang ke rumah Yasna nanti.


Yasna tersenyum. Dia membayangkan, bagaimana pertemuan Nayla dan Aydin. Wanita itu berharap gadis itu termasuk wanita impian Aydin. Yasna segera mengirim alamatnya pada Nayla dan melanjutkan pekerjaan membuat kue untuk keluarganya, juga tamu yang akan datang nanti.


"Bunda, senang banget?. Dari tadi senyum mulu," tegur Aydin yang baru saja keluar dari kamarnya, dia memakai pakaian santai.


"Bunda senang, dong. Semua orang hari ini ada di rumah jadi, Bunda nggak sendirian lagi," jawabnya sambil tersenyum semakin lebar.


"Kalau gitu, kenapa Bunda enggak nyuruh suami Bunda buat berhenti bekerja dan di rumah saja temenin Bunda."

__ADS_1


"Kalau kamu mau gantiin suami Bunda jadi, pemimpin perusahaan. Bunda akan minta suami Bunda di rumah saja, bagaimana?" tanya Yasna sambil menaik turunkan alisnya.


Wanita itu tahu bagaimana putranya yang berusaha keras, menolak menjadi pemimpin di perusahaan. Aydin masih ingin belajar, banyak yang belum dia pelajari tentang bisnis dan semua yang berkaitan dengan bisnis.


"Ogah," jawab Aydin melengos, dia pindah ke meja makan dan duduk di sana. Pria itu belum meresmikan hubungannya dengan Airin bagaimana Yasna bisa meminta hal itu? Dia akan mengambil alih semuanya nanti, saat Aydin sudah mengatakan semuanya pada Airin dan akan menikah dengan wanita itu.


"Kalau kamu sendiri nggak mau lalu, siapa yang akan memimpin perusahaan, kalau suami Bunda berhenti?" Aydin mengangkat bahunya Acuh. Dia tadi hanya asal berbicara. Tidak ada maksud atau tujuan apa pun.


"Ada apa ini? Kok sepertinya ada yang membicarakan Papa?" tanya Emran yang baru saja datang.


"Siapa yang bicarain papa? Bunda itu lagi ngobrol sama Aidin tentang pekerjaan," kilah Yasna sambil memasukkan kue ke dalam oven.


"Papa sudah dengar tadi, nggak usah bohong."


"Terserah Papa, Bunda mau lanjutin buat kue." Yasna segera melanjutkan pekerjaannya tanpa menatap sang suami.


****


Semua orang berkumpul di taman belakang. Mereka bercanda tawa bersama, tidak Berapa lama, Rani datang memberi kabar.


"Maaf, Bu. Di depan ada seorang wanita yang mencari Ibu. Namanya Nayla," ucap Rani dengan hormat.


"Kalau begitu, kamu suruh dia ke sini saja, Ran?"


"Iya, Bu. Sebentar saya panggilkan dulu." Rani masuk ke dalam rumah kembali.


"Siapa, sih, Sayang?" tanya Emran.


"Yang semalam aku ceritain sama Papa," jawab Yasna yang diangguki Emran.


"Nayla siapa, sih, Bunda? Kenapa dia ke sini?" tanya Afrin karena penasaran.


"Bunda mau kerjasama sama Nayla. Dia mau buka butik dan Bunda mau menanamkan saham sama dia.


"Bunda, sekarang sudah mulai ikut-ikutan kerja?" tanya Aydin kurang suka jika bundanya terlalu capek.


"Bunda tidak bekerja, hanya menanam saham saja. Bunda nggak ngapa-ngapain. Semuanya sudah diatur sama Nayla," sahut Yasna, dia sangat tahu jika Aydin tidak suka melihat dirinya bekerja. Pria itu takut jika Yasna terlalu capek atau perhatiannya teralihkan.

__ADS_1


Aydin menganggukkan kepala, meski wajah tersirat ketidaksukaannya. Tidak lama kemudian Rani datang bersama dengan seorang wanita yang tersenyum ke arah mereka.


"Assalamualaikum, selamat siang, Tante."


"Waalaikumsalam, Nayla. Sini duduk." Yasna menggeser tubuhnya dan meminta Nayla duduk di sampingnya. "Rani, tolong buatkan minuman, ya."


"Maaf, Tante. Saya merasa tidak enak sudah mengganggu waktu keluarga Tante."


"Tidak apa-apa, kamu jangan terlalu sungkan lagi pula, tante yang sudah menjanjikan pertemuan ini. kita di sini duduk-duduk saja dulu sambil menikmati kue. Nanti saja kita bahas pekerjaannya. Ayo! Ini dicicipin kuenya. Ini buatan Tante sendiri." Yasna meletakkan sepiring kue di depan Nayla.


Nayla merasa tidak enak. Dia datang untuk pekerjaan, tapi seolah-olah dia memang datang dengan tujuan tertentu. Gadis itu tidak ingin menyakiti hati Yasna yang sudah sangat baik padanya jadi, dia menerima saja.


"Oh, iya, Nay. Kenalin ini suami tante, namanya Om Emran dan ini anak-anak Tante yang ini namanya Afrin dan yang ini namanya Aydin."


"Hai, Kak Nayla. Kapan-kapan kita jalan-jalan bareng, ya? Aku dari dulu pengen banget punya saudara perempuan yang bisa diajak ke mana-mana, tapi sayang aku punya seorang kakak laki-laki, yang selalu ngomel saat aku ajak pergi ke mall."


Semua orang tertawa mendengar ucapan Afrin. Aydin hanya mendengus mendengarnya.


"Kenapa kamu nggak minta jalan-jalan berdua saja sama Bunda? Bunda juga sering jalan ke mall sendirian, nggak kamu temenin." Aydin mencoba mencari alasan.


"Kakak, tenang saja, mulai hari ini aku akan temenin Bunda, ke mana pun Bunda mau pergi. Asal Bunda bawa uang banyak dan nanti kita kuras uang Papa." Afrin tersenyum jahat yang dibuat-buat.


"Kamu ini masih kecil, tapi bicaranya sudah ngawur," sela Emran dengan mencubit hidung Afrin.


"Aku sudah besar, masih saja dibilang kecil."


"Sudah, sudah kalian ini nggak malu apa sama Nayla? Sudah, Nay. Ayo, makan! Kamu nggak usah mendengarkan ocehan mereka."


"Tidak apa-apa, Tante. Saya mengerti."


Mereka berbincang sambil bercanda, hanya Nayla yang terdiam dari tadi. Dia tidak tahu harus mengatakan apa di tengah keluarga mereka. Cukup lama mereka berbincang, hingga Yasna mengajak Nayla ke dalam rumah untuk, dia ingin mendengarkan penjelasan dari Nayla tentang pekerjaan. Sebenarnya dia senang dan ingin Nayla di sini sebentar lagi, tapi tidak mungkin wanita itu menahan Nayla terlalu lama.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2