Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
309. S2 - Berusaha baik-baik saja


__ADS_3

Khairi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali hampir saja menabrak pengguna jalan lainnya. Dalam perjalanan dia mencoba menghubungi Afrin. Sayang ponsel wanita itu sudah tidak aktif karena kehabisan baterai. Dia pun terpaksa menghubungi Emran.


Pria itu bertanya pada mertuanya tentang keadaan papanya dan Emran membenarkan berita itu. Khairi tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia bertanya di mana rumah sakitnya dan segera meluncur ke sana. Pria itu merutuki kebodohannya karena sudah meninggalkan ponsel di mobil.


Air mata Khairi semakin deras. Rasa bersalahnya begitu besar karena akhir-akhir ini dia tidak begitu memperhatikan kesehatan papanya. Pria itu mengingat pembicaraan dengan Afrin semalam. Seharusnya pagi ini Khairi meluangkan waktunya untuk Hamdan, tetapi—


Semua sudah lewat, menyesal pun tidak ada gunanya. Seharusnya dia mendengarkan peringatan dari sang istri. Andai saja waktu bisa diulang kembali.


Begitu sampai di rumah sakit, dia berlari mencari keberadaan keluarganya. Bahkan pria itu tidak memarkirkan mobilnya dengan benar. Khairi bertanya pada resepsionis dan beberapa perawat yang berpapasan dengannya di koridor. Hingga sampailah dia di depan sebuah ruangan tempat mamanya pingsan.


Seorang perawat mengatakan padanya jika Mama Merry pingsan beberapa kali. Pria itu semakin merasa bersalah karena disaat seperti ini Khairi tidak ada di samping keluarganya.


"Kenapa kamu berdiri di sini? Kenapa tidak masuk?" tegur Papa Emran. "Ayo!"


Mereka segera masuk. Ada Bunda Yasna di sana. Khairi melangkahkan kakinya dengan berat. Antara malu dan merasa bersalah. Mertuanya saja sudah datang, tetapi dia tidak ada di sana.


Mama Merry sudah sadar. Kini dia sudah tidak menangis lagi. Matanya masih sembab dan sedikit bengkak, tetapi bukan itu yang menjadi perhatian. Pandangan wanita itu kosong, dia selalu melihat ke depan seperti orang yang sedang melamun. Bahkan saat Khairi masuk Merry sama sekali tidak menoleh.


"Semua sudah selesai, sebentar lagi jenazah akan dibawa pulang. Apa Bu Merry mau ikut mobil jenazah? Atau mau naik mobil?" tanya Emran.


Hening ... semua orang menunggu jawaban dari wanita itu. Mereka bisa melihat betapa hancurnya wanita itu.


"Saya mau ikut suami saya," jawab Merry dengan suara seraknya tanpa menatap Emran.


Meski bukan jawaban seperti itu yang diinginkan Emran, terapi dia mengiyakan saja. Dia tidak ingin membahas hal itu disaat seperti ini. Pasti besannya itu belum sepenuhnya sadar.

__ADS_1


"Aku akan menemani mama, Pa," sela Afrin yang diangguki Emran.


"Ya sudah, ayo, kita keluar!"


Afrin pun membantu sang mertua untuk turun dari ranjang dan berjalan. Wanita itu tidak menyapa suaminya, bahkan melihat pun tidak. Dia masih sangat kesal, tapi ini bukan saatnya.


"Biar aku bantu," ucap Khairi. Namun, tidak ada yang menyahut sama sekali. Khairi tetap membantu memapah mamanya meski tidak ada respon.


Mobil sudah siap, jenazah pun sudah dimasukkan. Tinggal menunggu pihak keluarga yang ingin ikut. Mama Merry dan Afrin duduk di samping keranda ditemani seorang perawat. Sementara Khairi duduk di samping sopir setelah dilarang oleh petugas saat dia ingin ikut di belakang.


Sepanjang perjalanan Mama Merry hanya diam sambil tangannya mengusap keranda yang ada di depannya. Afrin mengusap kedua bahu mertuanya sambil sesekali memeluk dari samping. Dia merasa terluka melihat wanita paruh baya itu seperti ini. Lebih baik mendapat ucapan sinis dari Merry daripada melihatnya seperti ini.


Mobil pun akhirnya sampai juga di kediaman keluarga Hamdan. Sudah ada Ivan, Rani beserta kerabat lainnya. Ada juga beberapa pegawai yang datang. Karangan bunga ucapan bela sungkawa memenuhi halaman. Ada pula di pinggir jalan.


Setelah jenazah masuk ke dalam rumah, Merry duduk di sampingnya. Wanita itu tidak mau jauh dari sang suami. Afrin sudah meminta wanita itu untuk berganti baju, tetapi mertuanya menolak. Dia pun meminta Fatma untuk mengambilkan kerudung untuk Merry.


"Kamu tolong temani mama sebentar. Saya mau ganti baju dulu," perintah Afrin yang diangguki Fatma.


Wanita itu segera pergi ke kamarnya dan berganti baju dengan cepat. Dia juga mengambil air wudhu agar bisa mengaji di depan jenazah. Saat Afrin kembali, wanita itu tidak menemukan keberadaan mertuanya. Dia sangat khawatir terjadi sesuatu, hingga Afrin melihat Merry keluar dari kamar bersama dengan Fatma.


"Maaf, Mama membuatmu khawatir," ucap Merry seolah tahu apa yang menantunya rasakan. "Mama cuma ganti baju dan mengambil air wudhu biar bisa mengaji untuk papa," lanjutnya.


"Iya, Ma. Ayo, kita ngaji sama-sama."


*****

__ADS_1


"Bu, Kak Khairi kirim pesan, katanya papanya meninggal," ucap Laily dengan suara bergetar.


Sapu yang ada di tangan Bu Nur terhempas begitu saja. Dia sungguh terkejut mendengarnya. Baru kemarin pria itu datang ke sini dalam keadaan baik-baik saja, tetapi kenapa tiba-tiba sekarang meninggal?


Wanita itu teringat kata-kata terakhirnya yang melarang Hamdan untuk tidak terlalu sering datang ke sini. Ternyata kemarin memang terakhir kali pria itu datang. Rasa bersalah tiba-tiba datang di hatinya. Namun, sungguh tidak ada niat untuk melarang sepenuhnya.


"Bu, apa aku anak yang durhaka karena tidak memaafkan papa? Dia sudah datang meminta maaf, tapi aku malah mengabaikannya. Sekarang dia sudah meninggal. Aku tidak bisa lagi melihat dan bicara dengannya." Suara Laily terdengar serak. Dia ingin menangis. Namun, tertahan di tenggorokan.


Nur mengerti bagaimana perasaan putrinya. Dia juga tidak menyangka jika Hamdan akan pergi secepat ini. Wanita itu tahu jika mantan suami memiliki riwayat sakit, tetapi Nur tidak berpikir sejauh ini.


"Meskipun papa sudah meninggal, jika hatimu sudah memaafkannya, itu sudah cukup. Kita sekarang pergi melayat, kita juga perlu meminta maaf," ucap Merry.


"Apa Ibu tahu alamat rumahnya?" tanya Laily.


"Kamu tanyakan saja sama kakakmu dan kita ke sana naik taksi."


Laily pun mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Khairi untuk bertanya alamat rumahnya. Setelah mendapat balasan, kedua wanita itu segera bersiap untuk pergi ke rumah duka. Mereka menaiki taksi yang sudah dipesan sebelumnya.


Dalam hati, Nur berdoa agar kedatangannya tidak mengundang masalah. Dia hanya ingin takziah, tidak ada tujuan lain. Mudah-mudahan Merry juga tidak masalah dengan kedatangannya. Mengingat pertemuan terakhir mereka yang tidak baik.


Taksi sudah berhenti sedikit jauh dari rumah Hamdan. Laily dan ibunya turun dan berjalan menuju rumah yang dulu pernah menjadikan Nur menantu. Kini dia kembali lagi untuk urusan yang berbeda bersama Putri dari pemilik rumah ini.


Tiap langkah dari wanita itu, mengingatkannya akan masa lalu. Matanya mulai memanas, tetapi Nur berusaha untuk terlihat biasa-biasa saja. Hingga sampailah mereka di teras rumah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2