
"Aku lebih suka wanita yang yang menjaga harga diri dan kehormatannya. Aku juga suka wanita yang yang lemah lembut dan tidak mengobral keindahan tubuhnya, yang lebih penting dia mempunyai iman yang kuat. Dia akan menjadi Ibu dari anak-anakku jadi, dia harus memiliki segala yang dibutuhkan oleh anak-anakku kelak. Aku tidak butuh wanita seksi dan pintar dan selalu bergantung pada kedua orang tuanya. Aku lebih suka wanita yang tidak pintar tapi dia mau belajar dan semua itu aku lihat ada pada diri Nayla," ujar Aydin panjang lebar.
"Aku jadi penasaran, bagaimana rupa wanita yang membuat kamu menyanjungnya setinggi langit. Jangan sampai saat aku melihatnya, ternyata dia begitu rendah, jauh dari apa yang kamu katakan."
"Setiap orang punya pandangannya sendiri-sendiri. Tergantung cara kita memandangnya. Kalau dari awal kamu sudah berpikir jelek tentangnya, maka apa pun kebaikan yang fia lakukan akan tetap jelek di matamu."
"Aku harap memang dia gadis yang hebat, hingga membuat aku menundukkan kepala," ucap Vania. "Aku juga mengucapkan selamat untukmu. Maaf aku tidak mungkin bisa hadir dalam pernikahanmu nanti. Aku sudah memutuskan untuk tinggal di rumah nenek yang ada di luar kota. Berada di sini dan melihat pernikahanmu sungguh menyakitkan. Aku tidak sanggup melakukannya," lanjut Vania dengan nada yang mulai melunak.
Sungguh hatinya sangat sakit, saat melihat orang yang sudah dipujanya bertahun-tahun, harus menjadi milik orang lain. Padahal sebelumnya dia sangat percaya diri, bahwa dia bisa merebut hati Aydin.
"Kenapa harus ke luar kota? Kenapa tidak tinggal di sini saja?" tanya Aydin dengan menatap Vania.
"Kalau aku masih tinggal di sini, aku pasti akan sering melihatmu dan kebahagiaanmu bersama dengan istrimu, itu akan sangat menyakitkan tentunya. Lebih baik aku tinggal di rumah nenek. Di sana aku akan belajar melupakanmu dan membuka hati untuk pria lain," ucap Vania dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan tangis.
"Aku minta maaf jika selama kita saling mengenal aku sudah sangat menyakitimu, tapi sungguh aku tidak ada niat sampai ke sana. Aku hanya menganggapmu sebagai seorang saudara dan aku harap kamu mengerti akan hal itu," ujar Aydin yang mulai melunak.
Pria itu merasa bersalah dengan apa yang sudah dia lakukan pada Vania tanpa disengaja. Aydin tahu dia wanita yang baik. Hanya saja Vania terlalu dimanja oleh kedua orang tuanya. Hidup sebagai anak tunggal, pasti membuat apa pun keinginannya terpenuhi.
"Terima kasih sudah menganggapku sebagai saudara. Mungkin nanti saat aku sudah menyembuhkan luka di hati ini. Aku akan kembali tinggal di sini dan memanggilmu dengan sebutan kakak."
"Aku akan menunggu saat hari itu tiba." mereka sama-sama melempar senyum.
Vania merasa lega setelah mengatakan semua yang ada dalam hatinya. Dia tidak mungkin bisa memaksakan perasaannya pada Aydin karena itu, dia memilih mundur dan Mencoba membuka hati untuk orang lain.
Wanita itu berharap, kelak ada seorang pria yang akan membuatnya bahagia dan melupakan cinta pertamanya yang tidak terbalas. Siapa pun pria itu, mudah-mudahan bisa menerima semua kekurangannya.
"Maaf sudah mengganggu pekerjaanmu. Sepertinya aku harus pergi. Aku harus berpamitan juga pada teman-temanku yang lainnya," ucap Vania sambil berdiri dari duduknya dan merapikan penampilannya.
__ADS_1
"Jaga dirimu baik-baik dan jangan mudah percaya pada seorang pria. Mereka bisa saja memanfaatkan dirimu."
"Terima kasih nasehatnya dan jangan terlalu baik padaku. Aku takut semakin terjerat dalam pesonamu," ucap Vania dengan nada bercanda.
"Kamu terlalu berlebihan menyanjungku."
"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir?" pinta Vania
Aydin berpikir sejenak dan akhirnya terpaksa mengangguk. Dia menganggap pelukan ini seperti dia memeluk adiknya.
Vania pun berjalan kearah Aydin yang sudah berdiri dan segera memeluknya. Tanpa diketahui pria itu, Vania meneteskan air mata di belakang punggung Aydin. Segera gadis itu mengusapnya agar pria yang ada dalam pelukannya ini tidak mengetahuinya.
Sungguh sangat berat melepaskan perasaan yang tumbuh sejak lama, tetapi dia harus melakukannya untuk kedamaian hidup dan hatinya.
"Sudah, aku pergi dulu. Terima kasih waktunya," ucap Vania setelah mengurai pelukan mereka.
'Semoga kamu bisa menemukan pria yang lebih baik daripada aku. Kamu wanita yang baik, pasti banyak pria yang menunggumu,' batin Aydin.
*****
Hari pernikahan Aydin dan Nayla semakin dekat. Tiga hari lagi acara itu akan segera berlangsung dan hari ini, Yasna pergi ke sebuah gedung yang akan dijadikan tempat akad nikah dan juga resepsi pernikahan putra-putrinya.
Tampak gedung itu sudah mulai dibersihkan dan banyak juga pegawai yang sudah mulai mendekorasi ruangan. Semua pekerja terlihat sangat sibuk dengan pekerjaannya. Seorang wanita yang pemilik event organizer menghampirinya.
Wanita itu juga menjelaskan beberapa hal mengenai tema dan segala sesuatu tentang dekorasi ruangan, dari saat akad nikah hingga resepsi digelar.
"Bagaimana, Bu? Apa Ibu mau menambahkan sesuatu?" tanya pemilik event organizer yang sudah mengurus semua secara ini.
__ADS_1
"Saya tidak ingin menambahkan apa pun. Lagipula terlalu banyak dekorasi juga tidak bagus. Saya hanya ingin agar nanti para tamu merasa nyaman saat berada di acara anak saya,"
"Itu sudah pasti, Bu. Seperti yang Nona Nayla inginkan. Semuanya terlihat simple. Namun, tetap elegan. Warna yang kami pilih juga sudah sangat cocok."
"Baguslah, saya mau lihat-lihat yang lainnya."
"Mari, Bu. Saya antar."
Yasna berkeliling, melihat setiap sudut gedung. wanita itu sangat takjub dengan apa yang dikerjakan oleh event organizer yang dipilih sang suami. Pantas saja Emran sangat merekomendasikannya. Mereka sangat pandai membuat ruangan menjadi sangat cantik dan mudah-mudahan saat hari H, mereka tidak mengecewakan Yasna dan keluarga.
Sudah cukup Yasna berkeliling. Wanita itu memutuskan untuk pergi. Dia juga harus datang ke toko souvenir yang akan menjadi buah tangan saat resepsi pernikahan anaknya nanti.
Yasna begitu sangat sibuk akhir-akhir ini. Beberapa kali, baik Emran maupun Aydin melarang wanita itu ikut camput karena sudah ada orang suruhan Emran yang mengaturnya, tetapi dasar Yasna yang keras kepala. Dia tetap melakukan semuanya karena dia takut tidak sesuai dengan keinginan keluarga.
Semua keperluan pernikahan sudah siap. Yasna sangat senang sekaligus lega karena dia bisa turun tangan langsung mengurus semua keperluan pernikahan putranya. Meski semua ditangani oleh event organizer, setidaknya wanita itu melihat secara langsung semuanya sudah beres.
Tinggal menunggu hari itu tiba untuk dia menyaksikan putranya melepas masa lajang. Tiba-tiba Yasna merasa sedih mengingatnya. Tidak terasa semua terlewati begitu cepat, putranya akan menjadi milik wanita lain dan pasti akan meninggalkan dirinya. Yasna bukan orang tua yang kolot, mencegah putranya pergi ke mana pun mereka ingin tinggal.
Hanya saja sebagai orang tua, pasti ada keinginan agar anaknya tetap tinggal di rumah. Semua sudah Yasna serahkan pada Aydin. Apa pun pilihannya, dia akan selalu mendukung.
.
.
.
.
__ADS_1
.