
Ponsel Khairi yang berada di atas meja bergetar, tertera nama Ivan di sana. Segera pria itu mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum," ucap Khairi.
"Waalaikumsalam, saya sudah dapat detektif yang Anda inginkan, Tuan," ucap Ivan di seberang telepon.
"Ajak bertemu saat makan siang. Di tempat biasa."
"Baik, Tuan." Ivan pun menutup panggilan dan menghubungi orang yang akan diajaknya bertemu.
Khairi sudah menyiapkan semua data-data yang mungkin akan dibutuhkan oleh orang suruhannya. Dia ingin segera menemukan mamanya. Pria itu juga memikirkan bagaimana perasaan Mama Merry. Apakah wanita itu nanti akan terluka jika tahu Khairi membawa mamanya?
Mudah-mudahan saja Mama Merry mengerti jika pria itu juga membutuhkan mama kandungnya. Meskipun begitu, Khairi akan tetap menyayangi wanita itu seperti sebelumnya. Merry dan mama kandungnya memiliki kasih sayang tersendiri. Dia juga perlu menanyakan banyak hal pada wanita yang sudah melahirkannya.
Saat jam makan siang Khairi bersiap untuk pergi. Pekerjaannya dia serahkan pada orang kepercayaannya. Pria itu sudah menemukan orang yang bisa dipercaya dengan bantuan Ivan tentunya.
Khairi mengendarai mobilnya seorang diri menuju restoran, di mana dia membuat janji. Pria itu menuju ruangan privat yang sudah dipesan Ivan. Tampak asistennya duduk seorang diri dengan memainkan ponselnya. Sepertinya orang itu belum datang.
"Apa dia belum datang?" tanya Khairi begitu duduk di sofa di seberang.
"Belum, Tuan. Mungkin sebentar lagi," jawab Ivan.
Benar saja, tidak lama datanglah dua orang laki-laki. Mereka memakai pakaian santai. Tidak tampak jika mereka adalah seorang detektif, tetapi Khairi tidak mempermasalahkannya. Asal mamanya cepat ketemu, itu lebih baik. Pria itu berharap jika ibu kandungnya dalam keadaan baik.
"Selamat datang, perkenalkan ini atasan saya, beliau yang ingin meminta bantuan Anda," ucap Ivan.
Khairi pun menjabat dua orang yang ada di depannya sambil menyebutkan namanya.
"Khairi."
"Saya Bobi dan ini rekan saya, Marco."
"Silakan duduk!"
Khairi pun menjelaskan apa yang dia inginkan . Dia juga memperlihatkan foto, video dan buku diary yang ditemukannya. Pria itu mengatakan semuanya tanpa mengurangi sedikit pun. Beharap dengan begitu ibu kandungnya segera ditemukan.
__ADS_1
"Mungkin ini akan memakan waktu lama, Tuan. Mengingat waktunya sudah sangat lama sekali, tapi Anda jangan khawatir, kami akan mengusahakannya sebaik yang kami mampu."
"Saya akan sangat berterima kasih jika Anda mau mengusahakannya."
"Tentu, Tuan."
"Jika Anda membutuhkan sesuatu Anda bisa menghubungi saya atau sekretaris saya," ujar Khairi dengan harapan yang besar.
"Iya, Tuan."
Mereka membicarakan beberapa hal sambil menikmati makan siang.
*****
Di rumah sakit Afrin menunggu Papa Hamdan. Sementara Mama Merry tertidur.
"Mamamu semalam tidak tidur, makanya dia sampai tidur pulas begitu sekarang," ucap Papa Hamdan dengan pelan.
"Setiap istri pasti akan mengkhawatirkan suaminya yang sedang sakit," sahut Afrin yang sangat mengerti bagaimana keadaan mertuanya.
"Apa, Pa? Papa tadi bicara apa?" tanya Afrin memastikan pendengarannya. Dia mendengar tadi hanya ingin memastikan saja, tetapi sayangnya Papa Hamdan tidak mau mengaku.
"Tidak ada, Papa tidak bicara apa-apa."
Afrin mendesah kecewa, tetapi sepertinya dia harus memancingnya terlebih dahulu.
"Pa, sepertinya dari kemarin, Mas Khairi terlihat aneh, aku takut dia melakukan sesuatu," ucap Afrin pura-pura sedih.
"Aneh bagaimana?"
"Em ... kemarin sepulang dari rumah sakit, Mas Khairi sering melamun. Saat dia sendiri aku mergokinya sedang menatap sebuah foto saat SMA. Foto laki-laki dan perempuan. Apa itu kekasihnya Mas Khairi, ya, Pa?" tanya Afrin dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Foto SMA? Kamu lupa? Khairi, kan, home schooling jadi, tidak mungkin itu dia. Meskipun dia punya seragam SMA, tapi dia tidak pernah memakainya," ucap Hamdan. "Memangnya kamu lihat wajah yang ada di foto itu? Seperti apa fotonya?"
Afrin berpura-pura menerawang untuk mengingatnya. "Tidak jelas wajahnya, aku lihatnya, laki-laki dan perempuan berdiri di bawah pohon. Si laki-lakinya merangkul pinggang wanita itu dengan mesra."
__ADS_1
Tiba-tiba wajah Papa Hamdan menjadi pucat. Sepertinya dia mengingat sesuatu. Mendadak pria itu gelisah, tetapi Afrin pura-pura tidak mengerti.
"Papa kenapa? Apa ada yang sakit? Aku panggilkan dokter dulu." Afrin akan beranjak. Namun, dicegah oleh mertuanya.
"Tidak usah, Papa tidak pa-pa."
"Tapi, wajah Papa pucat begitu. Aku tahu Papa pasti menyembunyikan sakit yang Papa rasakan. Jangan begitu, Pa. Bukanya aku ini anak Papa jadi, jangan sungkan, katakan saja apa yang Papa rasakan. Mana yang sakit?"
Hamdan terlihat berpikir, apakah pria paruh baya itu harus mengatakan rahasia yang sudah disimpannya selama ini atau tidak? Khairi juga sepertinya sudah mengetahui sesuatu karena itu, putranya tidak datang. Dia menatap sang menantu, mencoba meyakinkan hatinya. Sebelum berbicara Hamdan melihat ke arah istrinya yang masih tertidur.
"Sebenarnya Papa melakukan suatu kesalahan," ucap Hamdan dengan pelan.
"Maksud Papa?" tanya Afrin yang semakin penasaran.
"Papa masih memikirkan wanita lain disaat Papa sudah bersama dengan Merry. Sudah beberapakali Papa mencoba melupakannya, tapi tidak bisa dan disaat hati Papa sudah mulai mencintai Merry, justru Papa mendengar sesuatu yang mengejutkan."
"Aku semakin nggak ngerti, Pa. Wanita lain siapa? Sesuatu yang mengejutkan apa?" tanya Afrin yang memang benar-benar tidak mengerti.
Papa Hamdan pun menceritakan tentang perjalanan hidupnya dengan wanita yang bernama Nur. Afrin mendengarkan saja, sesekali pura-pura terkejut seolah baru mengetahuinya. Sungguh wanita itu merasa sedih atas hidup papa mertuanya. Betapa besar cintanya pada wanita yang bernama Nur. Akan tetapi, karena kurang kepercayaan membuat rumah tangganya hancur
"Satu bulan yang lalu, Papa tidak sengaja bertemu dengan Adam di restoran saat Papa sedang ada di luar kota. Dia berkata jika dulu dia hanya disuruh oleh mamaku agar aku berpisah dengan Nur. Adam sudah mengatakan pada Nur tentang semua rencana dan yang menyuruhnya, tapi Nur sama sekali tidak mengatakan apa pun padaku. Justru dia menerima perceraian kami begitu saja," ujar Papa Hamdan dengan air mata yang menetes.
"Apa istri Papa tidak meninggalkan sesuatu barang atau apa untuk Papa?" tanya Afrin dengan menatap Papa Hamdan.
Dia bisa melihat kesedihan yang teramat sangat di mata pria itu. Apa mungkin Papa Hamdan sakit karena terlalu memikirkan masalah ini? Kenapa tidak mencoba mencari keberadaan Ibu Nur saja? Kenapa malah larut dalam kesedihan?
"Dulu dia meninggalkan sebuah kotak dan kuncinya. Dia bilang agar aku membukanya karena di dalamnya ada hadiah terakhir untukku, tapi aku tidak pernah membukanya. aku memasukkan semua barang-barangnya ke dalam gudang."
Afrin tidak tahu harus mengatakan apa. Pantas saja Papa Hamdan tidak menjemput Ibu Nur untuk kembali ke rumah. Keegoisan benar-benar menghancurkan segalanya. Mertuanya kehilangan istri, suaminya kehilangan ibu. Meskipun saat ini sudah ada Mama Merry yang menggantikan posisi itu, tetap saja berbeda.
Semua akan terasa baik-baik saja jika Papa Hamdan dan Ibu Nur berpisah baik-baik, tanpa adanya campur tangan orang lain, termasuk keluarganya dan tidak ada rahasia apa pun yang tertinggal.
.
.
__ADS_1
.