
"Kamu istirahatlah dulu. Aku mau cari sarapan buat kita berdua," ucap Aydin. "Kamu mau makan apa? Biar nanti aku carikan."
"Aku mau nasi pecel yang pedas, Mas," jawab Nayla dengan tersenyum sumringah.
"Kok pedes, Sayang? Kamu lagi sakit perut, jangan pedes dulu."
"Tapi aku pengen, Mas," rengek Nayla.
"Jangan dulu, bubur saja, ya? Nanti kalau perut kamu sudah enakan, baru makan pecel."
"Kok bubur, sih! Nggak mau, kayak anak kecil saja. Aku maunya pecel yang pedes. Ayolah, Mas."
Nayla berusaha merayu sang suami. Entah kenapa saat ini dia ingin sekali makan pedas. Sebenarnya wanita itu ingin makan baso, tetapi setelah dipikir-pikir, ini masih pagi. Pasti belum ada penjual baso.
"Baiklah, akan aku carikan, tapi kalau nanti tidak ada, terpaksa aku belikan bubur."
"Pokoknya harus ada. Aku maunya pecel." Nayla tetap kekeh dengan keinginannya.
"Iya, iya, nanti aku usahakan, aku pergi dulu. Kamu jangan ke mana-mana istirahat saja dulu."
"Iya, Mas."
Ayden segera pergi meninggalkan istrinya seorang diri. Pria itu mencari makanan yang diminta oleh Nayla. Dia menuju sebuah restoran masakan khas Indonesia yang tidak jauh dari tempatnya tinggal. Aydin memesan dua nasi pecel dan dua jus.
Sementara Nayla yang berada di apartemen seorang diri, merasa kebosanan setelah kepergian suaminya. Padahal baru 15 menit Ayden keluar dari apartemennya.
Wanita itu keluar dari apartemennya. Dia berjalan-jalan di sekitar tempatnya tinggal. Begitu sampai di tepi jalan, Nayla melihat seorang penjual kue basah. Segera wanita itu mendekatinya.
Dia melihat beberapa kue berjajar, entah kenapa Nayla sangat ingin membelinya, tetapi wanita itu teringat sesuatu, bahwa dia tidak membawa dompetnya. Kalau mengambil dulu, pasti akan lama, sedangkan Nayla ingin sekarang.
"Mari, Mbak. Kuenya enak-enak, manis juga," tawar penjual kue.
"Bu, maaf, apa boleh saya berhutang dulu. Saya lupa bawa dompet," ucap Nayla.
"Maaf, Mbak Bukannya saya tidak mau, tapi saya nggak kenal sama Mbaknya. Saya takut, Mbak, menipu saya. Memangnya, Mbak, tinggal di mana?"
"Saya tinggal di gedung apartement itu, Bu," jawab Nayla sambil menunjuk sebuah gedung tempatnya tinggal.
__ADS_1
"Kalau begitu, silakan diambil saja dompetnya, akan saya tunggu di sini kok, Mbak. Tempatnya, kan, nggah jauh."
"Tapi, itu akan lama. Tempat tinggal saya di lantai atas," jawab Nayla beralasan. Sebenarnya dia tidak sabar ingin memakan kue-kue itu.
"Tidak apa-apa, Mbak. Saya akan tunggu."
"Tapi, saya lagi pengen sekarang," jawab Nayla akhirnya tidak bisa menutupi keinginannya.
"Kalau begitu, minta keluarganya saja yang bawa ke sini. Pasti akan saya tungguin, kok, Mbak!" Penjual kue sangat geregetan dengan tingkah Nayla.
Wanita itu menunduk sedih. Padahal dia sangat ingin sekali makan kue itu, tapi dia harus menundanya untuk mengambil uang yang berada di kamar. Nayla masih menatap kue yang berjajar rapi, akhirnya terpaksa wanita itu harus kembali.
Aydin yang baru sampai, melihat keberadaan istrinya di seberang jalan, segera dia mendekati sang istri dan bertanya, "Sayang, kamu ada di sini? Kenapa keluar? Aku, kan, sudah bilang di dalam saja!"
Nayla yang melihat kedatangan Aydin seketika matanya berbinar. Dia sangat senang karena ada orang yang akan membelikannya kue. Wanita itu berjalan mendekati sang suami dan bergelayut manja di lengan pria itu.
"Mas, aku mau kue ini, tapi aku lupa tidak bawa uang."
"Kue apa, Sayang?"
Nayla menarik Aydin untuk mendekati seorang penjual didekatnya. Pria itu hanya menurut saja ke mana dia akan membawanya.
"Boleh, kamu mau apa?"
"Bu, ini suami saya, dia yang akan bayar kue yang saya beli," ucap Nayla pada penjual kue.
"Suaminya datang, Mbak? Ya sudah, silakan pilih kue mana yang mau dibeli."
Nayla pun menunjuk beberapa kue yang dia inginkan. Aydin hanya melihat saja, meski dalam hati dia bertanya, kenapa Nayla membeli begitu sangat banyak kue? Tidak mungkin istrinya bisa menghabiskan semuanya.
Usai Nayla memilih, Aydin pun membayar dan mereka kembali ke apartemennya.
"Sayang, apa kamu bisa menghabiskan semuanya? Itu banyak, loh! Belum lagi ini pecel yang kamu minta," tanya Aydin sambil menunjukkan makanan yang dia bawa.
"Kan ada kamu, Mas. Kamu nanti bantuin aku menghabiskannya," jawab Nayla tanpa rasa bersalah.
"Tapi, aku tidak suka, Sayang. Kamu kan tahu aku tidak suka yang manis-manis."
__ADS_1
"Ini nggak manis, kok, Mas. Ini biasa saja nanti kamu coba deh, pasti rasanya enak."
"Tapi aku tidak suka, Sayang. Lebih Baik nanti kamu bawa ke butik saja. Nanti kasih Fika sama Via."
"Nggak mau pokoknya, Mas, harus bantuin aku makan kue ini." Nayla tetap kekeh ingin suaminya yang makan.
"Baiklah, nanti aku bantu makan, tapi sedikit saja." Aydin akhirnya mengalah. Dia tidak ingin berdebat dengan istrinya. Baru kali ini Nayla meminta sesuatu jadi, pria itu berusaha untuk menurutinya. Meski itu adalah hal yang sangat sederhana. Sebisa mungkin dia akan membuat istrinya selalu tersenyum.
*****
Hari ini Aydin memimpin sebuah rapat dengan didampingi sekretarisnya yang baru bernama Sofi, keponakan Hendra. Tiba-tiba ponselnya bergetar, tertera nama Fika di sana. Pria itu tidak mungkin mengangkat ponselnya di tengah memimpin rapat.
Beberapa menit kemudian ada pesan masuk dari nomor yang sama yaitu Fika. Karena penasaran Aydin pun membukanya dan dia dibuat terkejut dengan isi pesan itu yang mengatakan jika Nayla pingsan. Saat ini Fika dan Via membawanya ke rumah sakit terdekat.
Pria itu segera meminta Sofi untuk menggantikannya memimpin rapat. Dia harus segera pergi melihat keadaan istrinya. Aydin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dalam perjalanan pria itu menghubungi Vika dan menanyakan keadaan istrinya, tetapi gadis itu bilang jika Nayla masih diperiksa oleh dokter.
Aydin sama sekali tidak bisa konsentrasi menyetir mobil. Beberapa kali, hampir saja dia menabrak pengemudi lainnya. Untung saja pria itu selamat sampai rumah sakit, yang sebelumnya sudah dia ketahui dari Fika. Segera Aydin berlari mencari keberadaan sang istri.
Di sebuah lorong, pria itu melihat Fika dan Via yang berada di luar ruangan. Terlihat mereka begitu sangat khawatir. Aydin segera berlari mendekati kedua gadis itu.
"Fika, bagaimana keadaan Nayla? Di mana dia?" tanya Aydin.
"Mbak Nayla ada di dalam, Mas. Dokter sedang memeriksanya," jawab Fika.
"Kenapa bisa sampai pingsan? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa dia melakukan pekerjaan yang berat?" tanya Aydin beruntun.
"Aku juga tidak tahu, Mas. Saat aku ingin memanggil Mbak Nayla karena ada pembeli yang ingin bertemu, Mbak Nayla sudah pingsan di ruangannya."
Aydin mengusp wajahnya kasar. Tadi pagi istrinya itu muntah-muntah dan sekarang pingsan. Sebenarnya apa yang terjadi pada Nayla? Apa wanita itu menyembunyikan sesuatu pada pria iti?
.
.
.
.
__ADS_1
.