Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
95. S2 - Nayla


__ADS_3

Hari ini Yasna sedang berbelanja di sebuah mall. Dia pergi bersama Rani, mereka berbelanja kebutuhan pokok. Akhir-akhir ini wanita itu memang sering pergi bersama asisten rumah tangganya. Seperti yang diketahui, Aydin dan Afrin tidak bisa menemani Yasna karena mereka sedang menutupi identitasnya.


"Saya mau ke toilet sebentar, ya, Bu," Pamit Rani di saat mereka sedang memilih bahan makanan.


"Iya, tidak apa-apa. Saya bisa sendiri, ini tinggal sedikit juga," sahut Yasna.


Rani sekarang meninggalkan majikannya dan mencari toilet terdekat. Karena terlalu fokus dengan belanjaannya, Yasna tidak sengaja menabrak seorang gadis yang sedang berjongkok dengan trolinya. Gadis itu ingin mengambil sesuatu.


"Aduh," rintih seorang gadis yang ditabrak oleh Yasna.


"Aduh, maaf, Mbak. Saya tidak sengaja," ucap Yasna dan segera membantu gadis tersebut.


"Oh, tidak apa-apa, Tante. Saya juga yang kurang hati-hati." Gadis itu mencoba berdiri dengan dibantu Yasna.


"Ya ampun, ini berdarah!" Yasna terkejut saat melihat kaki wanita itu yang mengeluarkan darah.


"Tidak apa-apa, Tante. Ini hanya sedikit, kok."


"Meskipun sedikit, tetap saja ini bisa infeksi. Ayo, kita ke klinik!" ajak Yasna, dia khawatir jika terjadi sesuatu dengan gadis itu. Bagaimanapun juga itu karena dirinya yang kurang hati-hati.


"Tidak apa-apa, Tante. Nanti dikasih plester saja."


"Kenalkan, nama saya Yasna," ucap Yasna dengan mengulurkan tangannya.


"Iya, Tante. Nama saya Nayla." Nayla menyambut uluran tangan Yasna dengan tersenyum.


"Nama yang cantik, seperti orangnya."


"Tante bisa saja, Tante juga cantik."


Yasna terkekeh mendengarnya. "Tante sudah berumur, mana ada cantik. Kamu bisa saja kalau memuji."


"Tidak, saya mengatakan yang sebenarnya," kilah gadis itu, Yasna memang terlihat cantik diusianya saat ini.


"Ada apa, Bu?" tanya Rani yang baru saja datang.


"Saya tadi nggak sengaja, Ran, Nabrak Nayla. Ayo, kita bawa dia ke klinik!"


"Tidak usah, Tante. Saya enggak apa-apa kok. Nanti dikasih plester saja." Nayla merasa tidak enak jika harus merepotkan orang lain. Kejadian itu juga karena kesalahannya yang tidak melihat sekitar.


"Benar, tidak apa-apa?" tanya Yasna meyakinkan.


"Iya, Tante."


"Baiklah untuk menebus rasa bersalah saya, bagaimana kalau kita makan siang bersama," ucap Yasna. "Saya tidak menerima penolakan," potong Yasna sebelum Naila menolaknya.


Yasna bisa melihat jika Nayla ingin menolak karena itu dia memotongnya sebelum gadis itu berbicara.


"Baiklah, Tante," jawab Nayla karena dia tidak enak jika harus menolak kembali permintaan Yasna.


"Apa kamu sudah selesai berbelanja?"


"Sudah, Tante."


"Ayo, kita pergi! Rani bawa ke kasir semua belanjaanya, ya."


"Iya, Bu."

__ADS_1


Mereka berjalan menuju kasir untuk membayar, kemudian mencari restoran di sekitar Mall. Di sepanjang jalan Yasna selalu menggandeng tangan Nayla. Dia merasa senang karena mendapat teman untuk berbelanja.


Rani sendiri, selalu sungkan jika bersama Yasna. Dia selalu menjaga jarak dengan majikannya itu jika berbelanja. Sedangkan saat ini Yasna senang bersama Nayla, yang mau diperlakukan seperti putrinya sendiri.


Mereka memasuki sebuah restoran khas makanan Indonesia. Nayla duduk di samping Yasna sementara Rani ada di depan mereka.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Yasna pada Nayla.


"Apa saja, Tan."


"Jangan begitu, dong. Masa apa saja. Tante, kan, nggak tahu kamu makan apa? Pesan saja makanan kesukaan kamu."


Nayla pun mengatakan pesanannya pada pelayan, begitupun dengan yasna dan Rani. Sambil menunggu makanan datang. Yasna mengajak Nayla berbincang-bincang.


"Kamu masih sekolah atau sudah bekerja, Nay?"


"Saya baru lulus kuliah, Tan."


"Sudah bekerja?"


"Belum, saya ingin membuka usaha sendiri."


"Hebat sekali, usaha apa?" Yasna senang melihat anak muda yang mau membuat usaha sendiri seperti Nayla ini.


"Saya mau buka butik."


"Kamu seorang desainer?"


"Bukan, Tan. Saya baru belajar dan saya sangat menyukai desain."


"Sudah mulai usahanya?"


"Bagaimana kalau, Tante yang meminjami kamu modal buat butik kamu."


"Tidak usah, Tante. Saya sudah mengajukan pinjaman ke bank, saat ini masih diproses."


"Daripada kamu pinjam ke bank nanti ada bungahnya lebih baik, Tante saja yang ngasih modal buat kamu, nanti hasilnya kita bagi. Saya ngasih pinjaman juga nggak gratis loh. Istilahnya itu penanam saham, bagaimana?"


Nayla tersenyum mendengarnya. Dia tidak menyangka akan ada orang sebaik Yasna. "Kalau seperti itu, saya mau, Tante."


"Mana nomor kamu, biar Tante simpan. Nanti kita bisa berkomunikasi tentang hal selanjutnya."


"Iya, tante." Nayla mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada Yasna.


Yasna mengetikkan nomornya dan menggeser tombol hijau hingga membuat ponselnya bergetar.


Makanan telah datang, mereka segera menikmati makan siang sambil membahas tentang kerjasama Yasna dan Nayla. Sementara Rani hanya sebagai pendengar saja. Yasna bisa melihat jika Nayla memiliki bakat yang luar biasa mengenai bisnis. Pemikirannya sangat matang, di usianya yang baru kepala dua.


"Kamu bawa kendaraan ke sini?" tanya Yasna setelah mereka menghabiskan makanannya.


"Saya bawa motor, Tante."


"Baiklah, Tante permisi dulu. Sebentar lagi anak Tante pulang sekolah. Pasti dia akan mencari Tante."


"Anak Tante, kelas berapa?"


"Kelas satu SMA."

__ADS_1


"Anak Tante, satu?"


"Ada dua, yang satunya sudah bekerja. Dia laki-laki, ganteng, loh. Kamu mau Tante kenalin sama dia?" Yasna mencoba menggoda Nayla.


"Tidak perlu," jawab Nayla malu-malu.


"Apa kamu menolak menjadi menantu, Tante?" Yasna semakin ingin menggoda Nayla.


Gadis itu menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia tidak tahu, harus menjawab apa karena memang saat ini Nayla belum memikirkan tentang calon suami ataupun tentang rumah tangganya kelak, yang dipikirkan saat ini hanyalah bekerja dan membuat usahanya sendiri.


"Tante hanya bercanda," ucap Yasna terkekeh. "Tapi, kamu harus memikirkan masa depanmu juga. Jangan terlalu larut dalam pekerjaan. Pikirkan dari sekarang agar kamu tidak menyesal di kemudian hari," nasehat Yasna.


"Terima kasih nasehatnya, Tante," jawab Nayla. Dia sangat senang ada seseorang yang memperhatikannya. Mereka baru saling mengenal, tetapi Yasna sangat baik padanya. Membuat Nayla berpikir, bahwa dia sangat beruntung bisa bertemu dengan wanita itu.


"Ya sudah, Tante, balik dulu."


"Iya, Tante. Saya juga mau balik sekalian."


"Ayo, sama-sama!"


Mereka berjalan keluar, meninggalkan Mall menuju tempat parkir.


"Tante, duluan, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati, Tante."


"Terima kasih, kamu juga hati-hati."Yasna pergi lebih dulu, diikuti Rani dibelakangnya.


"Saya duluan, Mbak Nayla. Assalamualaikum."


"Iya, Mbak Rani. Waalaikumsalam."


Nayla memandang kepergian Yasna dan Rani. "Kalau Umi masih ada, pasti dia akan sebaik Tante Yasna," gumam Nayla dengan setetes air mata jatuh dipipinya dan segera dia hapus.


Nayla menuju tempat di mana dia memarkirkan motornya. Gadis itu harus segera kembali, kalau tidak mamanya akan mengomel sepanjang rel kereta api.


*****


"Ran, bagaimana menurutmu tentang gadis tadi?" tanya Yasna pada Rani.


"Mbak Nayla, Bu?" tanya Rani meyakinkan yang dijawab Yasna dengan anggukan kepala. "Dia gadis yang baik dan sopan."


"Kalau sama Aydin, kira-kira cocok, nggak?"


"Ibu, mau jodohin Pak Aydin sama Mbak Nayla?" tanya Rani sedikit terkejut dengan keinginan majikannya itu.


"Saya hanya bertanya, Rani."


"Pak Aydin ganteng, Mbak Naylanya juga cantik. Mereka sangat cocok."


"Mudah-mudahan saja Aydin mau." gumam Yasna membayangkan jika Nayla bisa bersama Aydin.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2