Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
223. S2 - Bertemu Vira


__ADS_3

Disebuah restoran seorang gadis sedang menunggu seorang pria yang membuat janji dengannya. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Vira. Senyum terus terukir di bibirnya, entah apa yang dibayangkannya.


Sudah satu jam dia menunggu, tetapi tidak menyurutkan keinginanya untuk menemui pria yang sudah mengisi hatinya. Siapa lagi kalau bukan Khairi. Pria itu memang sengaja melakukannya. Sudah jelas-jelas dia ada meeting, tetapi malah meminta Vira datang.


Tiga puluh menit kemudian, Khairi datang bersama dengan Ivan tentunya. Dia tidak mungkin menemui Vira seorang diri. Itu bisa membuat gadis itu besar kepala. Bertemu dengan Afrin saja dia harus bersama seseorang, apalagi dengan dia?


Membayangkannya saja sudah membuat Khairi muak. Tanpa banyak kata, Khairi meminta pelayan untuk menghidangkan makanan yang sebelumnya sudah dipesan. Tidak ada satu pun makanan kesukaan Vira. Semuanya makanan Favorit Afrin, kecuali kepiting saus pedas, itu makanan kesukaan mereka.


"Apa tujuanmu?" tanya Khairi tanpa basa-basi.


"Tujuan apa?" tanya Vira balik. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Khairi. Pria itu baru datang, tetapi sudah mengajukan pertanyaan.


"Kamu pura-pura bodoh atau memang benar-benar bodoh?" tanya Khairi sekaligus mencibir.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud kamu?" Vira sudah mulai emosi.


Khairi mendengus, ternyata tingkat kesabaran gadis ini hanya sampai sini. Bagaimana bisa Vira menyamakan dirinya dengan Afrin yang tentunya sangat berbeda jauh. Jangankan dia, pria di luar sana sudah tentu akan lebih memilih Afrin dari pada gadis itu.


"Apa tujuanmu mengatakan pada Afrin kalau kita bertunangan? Sudah jelas-jelas kita tidak memiliki hubungan apa pun. Bahkan pertunangan itu masih dalam rencana dan itu pun orang tuamu yang meminta, bukan aku."


"Tapi aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin menjadikanmu suamiku. Aku berjanji akan selalu setia padamu dan melakukan apa pun sesuai keinginanmu, asal jangan tinggalkan aku," ucap Vira dengan meneteskan air mata.


Kedua tangannya ingin menggapai tangan Khairi. Namun, laki-laki itu dengan cepat menghindarinya. Pria itu tidak sudi bersentuhan dengan gadis seperti Vira.


"Jangan coba-coba menyentuhku atau aku akan patahkan tanganmu sekarang juga."


Vira merasa ketakutan dengan sorot mata Khairi yang begitu dingin dan menusuk, bahkan lebih menakutkan dari sebelumnya. Gadis itu berusaha untuk terlihat baik-baik saja, meski dalam hati, dia merasa ngeri.


"Apa hebatnya Afrin daripada aku? Aku bahkan lebih segalanya dari dia. Aku juga cantik."

__ADS_1


"Justru itu, aku tidak pernah berniat untuk mencari wanita yang cantik. Kalau aku mau, aku bisa memilih yang paling cantik di dunia ini. Siapa pun dia aku bisa memilikinya, tapi mereka tidak membuatku tertarik. Memandangnya pun aku malas, sama seperti saat aku memandangmu."


Perkataan Khairi benar-benar menyakiti hati Vira. Sungguh kata-kata yang begitu kejam.


"Kamu begitu tega mengucapkan kata-kata kasar itu kepadaku."


"Apakah kamu juga sadar, saat kamu menghina sahabat kamu? Yang bersahabat saja bisa, apalagi yang tidak memiliki hubungan apa pun dengan kamu."


"Jadi Afrin yang sudah melaporkannya padamu?" tanya Vira dengan sinis, membuat Khairi tertawa terbahak-bahak. Namun, terdengar mengerikan di telinga setiap orang yang mendengar.


"Apa kamu lupa siapa aku? Aku bisa dengan mudah mendapatkan rekaman video di kampus kalian," jawab Khairi. "Kamu sudah lama berteman dengan Afrin, seharusnya kamu juga tahu bagaimana kepribadiannya. Dia tidak akan pernah menghina orang lain, meskipun orang itu sudah menyakitinya. Kamu harusnya banyak belajar dari dia. Tapi aku tidak yakin kamu bisa melakukan itu dilihat dari perilaku sehari-hari saja itu sangat mustahil."


"Aku tidak punya urusan dengannya."


Khairy meminum minumannya tanpa menawarkan kepada Vira. "Lalu, apa yang kamu inginkan dariku?"


"Menikah sama kamu? Aku tidak pernah memikirkannya sama sekali. Bahkan dalam mimpi sekali pun. Selama ini saya berbuat baik sama kamu hanya karena kamu anak dari temen papa. Setelah itu tidak ada lagi. Aku tidak menganggap orang asing sebagai teman. Tidak ada dalam kamus Khairi untuk menjadikan wanita lain sebagai teman apalagi calon istri itu sangat-sangat jauh dari kriteria Khairi," ucap Khairi.


Vira merasa terluka, ternyata selama ini Khairi menganggapnya orang asing. Padahal mereka cukup dekat. Gadis itu mengakui jika selama ini pria itu selalu bersikap dingin, tetapi dia selalu mensugesti dirinya bahwa memang sikapnya seperti itu.


Bisa saja Khairi membalaskan dendam atas apa yang Vira lakukan pada calon istrinya, tetapi dia bukan orang yang seperti itu. Pria itu bukan seorang pengecut yang bisa menyakiti seorang wanita.


"Aku tidak akan pernah menikah dengan siapa pun kecuali Afrin jadi, jangan bermimpi kamu bisa menikah denganku."


"Bagaimana kalau Afrin tidak mau menikah denganmu? Aku sangat mengenalnya, dia tidak akan mengkhianati sahabatnya sendiri."


Khairi tertawa sumbang. "Itulah bedanya dia dengan kamu. Sampai di sini saja sudah terlihat bukan! Apa perbedaan kamu dengan dia? Kamu masih mau menikah denganku disaat aku lebih memilih Afrin, tapi Afrin menolakku karena alasan perjodohan yang tidak jelas itu."


Vira terdiam, 'Apa aku begitu jahat? Tidak, Khairi memang milikku dan tidak ada satu orang pun yang bisa memilikinya selain aku,' batinnya.

__ADS_1


"Satu hal yang perlu kamu ketahui, kalau memang benar Afrin menolak menikah denganku, aku tidak akan pernah menikah dengan siapa pun dan kapan pun," ucap Khairi mantap dengan menatap wajah Vira.


"Apa kamu yakin bisa melakukannya? Aku tidak yakin kamu sanggup."


"Kita lihat saja nanti," ucap Khairi dengan senyum devilnya. Vira merinding mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Khairi. Apalagi senyumnya yang seolah sanggup membunuh siapa pun. "Nikmati makanmu, aku tidak berselera makan bersama dengan wanita sepertimu. Aku takut memuntahkannya di sini."


Khairi segera berdiri dan meninggalkan Vira dengan hati yang hancur berkeping-keping. penghinaan yang luar biasa yang pernah dia terima. Sementara Khairi pergi meninggalkan restoran tanpa melihat ke belakang.


"Ivan, berikan kunci mobilnya. Kamu naik taxi saja," ucap Khairi dengan menadahkan tangannya tanpa melihat ke arah asistennya itu.


"Saya bisa menyetirnya, Tuan. Saya akan mengantar ke mana pun Anda pergi."


"Saya bisa sendiri berikan kuncinya."


"Keadaan Anda sedang tidak baik-baik saja. Saya takut An—"


"Kemarin kan kuncinya!" teriak Khairi dengan menatap tajam asistennya. Dia paling tidak suka ada orang yang menentangnya.


Ivan pun terpaksa menyerahkan kunci mobil kepada atasannya. Khairi segera meraih dan meninggalkan restoran. Pria itu mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sementara Ivan yang sangat khawatir meminta anak buahnya untuk mengikuti Khairi ke mana pun pria itu pergi.


"Ikuti ke mana pun bos pergi. Jangan sampai kehilangan jejak, kalau sampai sesuatu terjadi padanya, bersiaplah menyerahkan leher kalian," ucap Ivan dengan seseorang lewat sambungan telepon. Dia menutup panggilan begitu saja tanpa mendengar sahutan dari seberang.


'Semoga Anda bisa melewatinya dengan baik. Saya percaya Anda bisa.'


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2