
Hafidz meminta Reno menyerahkan semua harta miliknya. Pria itu pun melaksanakan tugas dari atasannya, ia memberikan beberapa berkas kepada Marissa.
"Ini yang Anda minta, Nyonya," ucap Reno.
Marisa memeriksanya dan ia dibuat kesal.
"Apa maksudnya ini? Kamu cuma memberiku satu mobil dan tabungan senilai dua ratus juta! Yang saya inginkan semua harta kamu!" Marissa berkata dengan nada tinggi, dia emosi karena merasa sudah ditipu.
"Anda meminta harta saya, bukan? Cuma itu yang saya miliki, saya tidak memiliki apapun lagi."
"Kamu bercanda? Lalu bagaimana dengan rumah dan perusahaan yang kamu miliki?"
"Kalau rumah dan perusahaan itu bukan milik saya, maaf, Nyonya."
"Kalau bukan milik kamu, milik siapa?"
"Itu semua milik Fazilah."
Kali ini mereka lebih terkejut mendengarnya, bahkan Fazilah sendiri juga dibuat terkejut, bentuk perusahaannya saja wanita itu tidak tahu, bagaimana bisa itu menjadi miliknya.
"Bagaimana mungkin itu milik Fazilah? Jelas-jelas itu milik kamu," sanggah Marissa.
Reno pun menunjukkan pada mereka tentang surat perusahaan dan memang tertera di sana perusahaan atas nama Fazilah.
"Kamu mau bermain-main dengan saya?"
"Maaf, Nyonya dari awal Anda meminta harta yang saya miliki dan saya sudah memberikan mobil dan tabungan itu, saat ini saya sudah tidak memiliki apapun lagi, mengenai perusahaan, rumah dan segalanya sudah saya atas namakan Fazilah sejak pertama kali saya membangunnya, saya tidak pernah mengalihkannya atau apapun karena dari awal itu semua aku persembahkan untuk Fazilah."
Fazilah sungguh terharu mendengarnya, dia tidak menyangka Hafidz akan melakukan semua itu untuknya. Memikirkannya saja Fazilah tidak pernah dan sekarang semua itu miliknya seolah dia sedang bermimpi.
"Sudah cukup, Ma. Apa Mama tidak malu melakukan semuanya?" sela Hisyam.
Marissa melihat kearah anak dan suaminya yang tertunduk lesu, saat ini mereka sudah cukup malu karena gagalnya pernikahan Hisyam, tapi Marissa malah semakin mempermalukan keluarga.
*****
"Yasna!" Emran terkejut saat membuka pintu dan istrinya ada di sana.
"Mas, marah-marah sama siapa, sih?" tanya Yasna dengan memicingkan matanya.
"Tadi ada pegawai yang melakukan kesalahan jadi, aku marah. Ayo, masuk dulu!"
Yasna menatap Erman, dalam hati dia bertanya, kenapa suaminya ini berbohong? Jelas-jelas tadi dia mendengar Emran menyebut nama Celina. Namun, dia pura-pura percaya perkataan Emran. Yasna kemudian masuk bersama kedua anaknya.
__ADS_1
"Adek sama Kakak mandi lalu ganti baju di sana, ya! Habis ini kita ke mal," ucap Emran sambil menunjuk ke arah ruangan pribadinya.
"Adek bisa 'kan mandi sendiri?" tanya yasna.
"Bisa, Bunda."
Anak-anak masuk ke dalam ruang pribadi Emran, sementara di ruang kerja masih ada Yasna dan Emran.
Yasna menunggu suaminya mengatakan yang sejujurnya, tapi Emran malah sibuk dengan ponselnya.
"Enggak mau cerita sama aku?" tanya Yasna.
"Cerita apa, Sayang?"
"Aku nggak mau ada rahasia yang akan jadi boomerang buat rumah tangga kita, sudah cukup pernikahan pertamaku yang dipenuhi dengan kebohongan."
Yasna berkata dengan menatap Emran, membuat pria itu mengerti, pasti istrinya mendengar percakapannya.
"Tadi Celina menghubungiku dan memintaku untuk menemuinya di restoran, aku sudah menolaknya, tapi dia tetap memaksa untuk bertemu karena itu aku marah."
"Cuma itu?"
"Ada lagi, tapi nanti malam saja ceritanya, nanti anak-anak denger," ucap Emran yang diangguki Yasna.
Setelah anak-anak siap, mereka pergi meninggalkan perusahaan menuju mal yang di tuju. Mereka begitu menikmati kebersamaan yang jarang terjadi akhir-akhir ini.
"Kalian ada di sini juga?" tanya Celina.
"Iya, Cel. Soalnya Mas Emran akhir-akhir ini sibuk dengan pekerjaan, mumpung senggang jadi, kami ingin menikmati waktu bersama," jawab Yasna. "Kamu sendirian? Anak-anak nggak ikut?"
"Anak-anak ada di rumah, kalau Revan ada sama ibu mertua."
Emran sibuk dengan makanannya, tanpa mempedulikan Yasna dan Celina berbicara. Yasna tahu dari tadi Celina melirik ke arah suaminya, tapi dia berusaha untuk biasa saja.
"Boleh aku gabung?"
"Maaf, Cel. Sepertinya kami sebentar lagi selesai jadi, tidak bisa menemani kamu, kalau kamu mau duduk di sini, silakan saja," sahut Emran.
Celina merasa Emran menjaga jarak dengannya, biasanya pria itu akan mempersilakannya duduk.
Celina yang mengerti jika emran tidak ingin waktunya diganggu, akhirnya memilih pergi. "Ya sudah, saya akan cari tempat duduk yang lain saja."
Yasna melihat ke arah suaminya, dia juga merasa aneh. Tidak biasanya Emran bersikap dingin seperti itu pada orang yang dikenalnya.
__ADS_1
"Sudah, Sayang. Nggak usah terlalu dipikirkan," ucap Emran, seolah mengerti apa yang Yasna pikirkan.
Yasna pun melanjutkan makan siangnya. Setelah itu mereka pergi ke tempat bermain, Aydin meminta Yasna menemaninya. Anak itu sekarang sangat manja pada ibu sambungnya itu, bahkan dia lebih menyayangi bundanya daripada papanya.
Sedangkan Afrin, gadis kecil itu ditemani sang papa, banyak permainan yang sudah dimainkan oleh mereka, hingga tidak terasa waktu sudah menjelang petang.
Mereka memutuskan untuk pulang. Sebenarnya Yasna masih ingin menikmati waktu bersama, tapi sepertinya anak-anak sudah sangat telah. Dia tidak mau mereka jatuh sakit.
Malam hari yasna menagih janji pada suaminya, yang mengatakan ingin menceritakan tentang Celina tadi siang.
"Mas, katanya mau cerita?"
"Cerita apa, Sayang?"
"Mengenai Celina tadi, yang di kantor."
Bukan maksud Emran untuk menutupinya, hanya saja dia tidak ingin Yasna kepikiran apalagi membuatnya sedih.
"Sebenarnya begini, Sayang. Tante Windi menghubungi Mama Karina, beliau mengatakan kalau kita dilarang terlalu dekat dengan Celina."
"Kenapa, Mas? Bukankah hubungan keluarga Celina dan Mama Karina baik-baik saja?"
"Karena saat ini rumah tangga Celina sedang tidak baik dan Celina masih berharap aku menjadi suaminya."
Yasna terkejut mendengarnya, dia memang merasakan kalau Celina memiliki perasaan pada suaminya, tapi dia tidak menyangka Celina bisa berpikir terlalu jauh, hingga berharap Emran menjadi suaminya di saat dia sudah memiliki suami.
"Jadi Celina masih menyukai kamu, Mas?"
"Aku sendiri juga tidak yakin, tapi Tante Windi sudah memperingatkan kita jadi, sebaiknya kita menjaga jarak dengannya."
"Kalau Mama merindukan cucunya, bagaimana, Mas?"
"Mama bisa datang ke sana tanpa mengundang Celina ke sini, dulu juga begitu."
Yasna mengangguk, dia sendiri tidak begitu mengenal keluarga Celina jadi, apapun keputusan suami dan mertuanya mungkin itu yang terbaik untuk keluarga mereka.
"Mas, sudah nggak ada perasaan apapun pada Celina, kan?"
"Nggak ada, Sayang. Aku sama sekali nggak ada perasaan apapun padanya, dia hanya mantan adik iparku, tidak lebih. Selama ini aku baik padanya hanya untuk menjaga silaturahmi itu saja dan aku juga merasa perlu memberikan kasih sayang pada ponakanku."
.
.
__ADS_1
.
.