Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
70. Bertemu saingan


__ADS_3

"Kalau buat Revan, takutnya nggak cocok, Mas. Revan 'kan masih satu tahun,sementara Afrin sudah empat tahun. Mending bawa ke rumah sakit saja," usul Yasna.


"Tapi ini masih larut malam."


"Nggak pa-pa, Mas. Kalau nunggu pagi juga terlalu lama."


"Baiklah, ayo! Kita bawa ke rumah sakit."


"Mbak Yasna juga ikut, Kak?"


"Iya, tidak baik laki-laki dan perempuan pergi berdua, akan lebih baik jika aku pergi bersama istriku."


Emran juga menghubungi Pak Hari karena kebetulan Pak Hari menginap di rumah Emran semalam.


"Kok aku di depan sendirian? Kalau anakku kenapa-napa gimana?"


"Bukannya kamu kalau di belakang suka muntah? Makanya aku minta kamu di depan saja, kalau kamu takut anakmu kenapa-napa, lebih baik anakmu di belakang bersamaku dan Yasna."


Mau tak mau akhirnya Celina duduk di depan bersama Pak Hari, mobil mereka melaju menuju rumah sakit terdekat. Begitu sampai mereka segera membawa Revan ke ruang UGD, ada dokter jaga yang segera memeriksanya.


"Tidak apa-apa, biasa anak kecil daya tahan tubuhnya melemah makanya demam. Nanti saya beri resep penurun panas mudah-mudahan cepat turun," ucap dokter.


Karena tidak terjadi apa-apa, Revan kembali dibawa pulang setelah menebus obat di apotek.


"Kak Emran, tolong temenin aku jagain Revan, aku takut nanti demamnya naik lagi," pinta Celina begitu mereka sampai di rumah.


"Bagaimana, Sayang? Apa tidak apa-apa, kita tidur di kamar tamu?" tanya Emran pada Yasna.


"Tidak apa-apa," jawab Yasna.


Celina ingin sekali menyela, tapi Ia pasti akan kalah dengan jawabannya Emran. Awalnya ia hanya ingin Emran saja yang menemaninya, mungkin itu cara Emran menolaknya, akhirnya ia hanya diam, membiarkan mereka berdua menemaninya.


*****


Hafidz pergi ke tempat di mana Hisyam bekerja, ia ingin bertemu dengan pria itu dan bicara dari hati ke hati.


"Maaf, Mbak. Bisa saya bertemu dengan Pak Hisyam?" tanya Hafidz pada resepsionis.


"Pak Hisyam, yang mana ya, Pak?" tanya resepsionis balik.


Hafidz melihat ke arah Reno seolah bertanya tentang Hafidz.


"Pak Hisyam Hermansyah, Mbak."

__ADS_1


"Oh, Pak Hisyam tidak ada di tempat, beliau sedang ada meeting di luar," ucap seorang resepsionis.


"Terima kasih, boleh saya menunggunya?" tanya Hafidz.


"Silakan, Bapak tunggu di sana." tunjuk resepsionis ke arah deretan kursi.


"Terima kasih saya akan menunggunya."


Satu jam Hafidz menunggu, tapi yang di tunggu tak kunjung datang.


"Tuan, ini sudah lama sekali, sebaiknya kita pergi saja. Nanti, biar saya yang menemui pria itu.


"Tidak, aku ingin bicara dengan dia sendiri."


"Tapi, ini sudah sangat lama."


"Tidak apa-apa, untuk Fazilah, apapun akan aku lakukan."


Reno sungguh tidak mengerti jalan pikiran majikan itu, terkadang sangat tegas, Terkadang juga lemah dan itu karena seorang wanita.


Tidak berapa lama yang ditunggu pun akhirnya tiba, bersama beberapa rekan kerjanya.


"Maaf, saudara Hisyam, bisa bicara sebentar," ucap Hafidz.


"Bicara apa, ya? Apa kita saling kenal?"


"Seseorang? Siapa?"


"Fazilah."


Hisyam terkejut, bagaimana pria ini mengenal tunangannya? tetapi, ia tetap berusaha biasa saja. Hisyam mengatakan pada rekannya agar kembali lebih dulu, ia ada urusan sebentar. Mereka menuju restoran di depan kantor pria itu.


"Mau bicara apa?" Hisyam memulai pembicaraan.


"Sebelumnya perkenalkan dulu, nama saya Hafidz, saya mantan kekasih Fazilah. Saya tidak ingin berbasa-basi, saya dan Fazilah masih saling mencintai, karena itu saya mohon kepada Anda untuk membatalkan pernikahan kalian dan melepaskan Fazilah."


"Apa Anda sedang bercanda? Pernikahan kami sudah direncanakan oleh kedua keluarga dan semua sudah berjalan. Aku tidak mungkin membatalkannya begitu saja, terlebih saya juga mencintai Fazilah."


"Tapi, Fazilah tidak mencintai Anda, dia masih mencintai saya."


"Cinta bisa datang seiring berjalannya waktu dan cinta juga bisa pergi seiring berjalannya waktu."


"Saya mohon, apapun akan saya lakukan asal Anda melepaskan Fazilah."

__ADS_1


"Maaf, saya tidak bisa melakukan itu, sepertinya tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, saya harus segera kembali, ada banyak pekerjaan yang harus segera saya selesaikan." Hisyam segera pergi, Reno ingin mencegahnya, tapi Hafidz melarang.


Hafidz menghela napas, ia tidak tahu harus berbuat apalagi, sepertinya Hisyam benar-benar sudah jatuh cinta pada Fazilah. Siapa yang tidak jatuh cinta pada wanita secantik dan sebaik Fazilah.


Di ruang kerjanya Hisyam tidak bisa konsentrasi dalam bekerja, ia masih kepikiran soal laki-laki tadi yang menemuinya.


'Apa Fazilah benar-benar masih mencintai pria itu? Kalau benar dia masih mencintainya, kenapa dia menerima lamaranku?' tanya Hisyam dalam hati.


Karena tidak bisa konsentrasi juga, akhirnya dia memutuskan pergi keluar, dia ingin bertemu dengan Fazilah untuk memastikan kebenarannya.


Hisyam pergi di kantor Fazilah, dia ingin bertanya pada tunangannya itu mengenai pria yang bernama Hafidz dan juga perasaannya. Saat sampai di tempat kerja Fazilah, dia melihat wanita itu sedang berbicara dengan seorang laki-laki, entah siapa lagi.


Hisyam hanya melihatnya dari dalam mobil, ia ingin tahu sejauh apa hubungan mereka, terlihat beberapa kali Fazilah menolak, ketika pria itu mengajaknya pergi.


"Fa, aku ingin bicara sebentar saja, aku mohon!" pinta David.


Pria yang bersama Fazilah yang dilihat Hisyam adalah David, sebenarnya ia ingin mengajak wanita itu makan siang sambil membicarakan pekerjaan, tapi Fazilah menolaknya karena ia tahu maksud David.


"Maaf, Pak David saya masih banyak pekerjaan, saya tidak enak sama Pak Emran," tolak Fazilah.


"Hanya sebentar saja, aku akan tetap di sini jika kamu menolaknya."


Fazilah yang tidak ingin menjadi pusat perhatian, akhirnya mengikuti David. Mereka pergi ke cafe terdekat.


"Fa, aku mohon kamu kembali bekerja di tempatku, aku tidak ingin kehilangan kamu, aku rela jika harus berpindah keyakinan yang sama sepertimu."


"Maaf, Pak, tapi kita tidak dalam hubungan apapun. Saya juga tidak ingin memaksa seseorang untuk berpindah keyakinan sama seperti saya."


"Tapi saya sangat mencintai kamu."


"Pak David, keyakinan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan, jika Pak David ingin berpindah keyakinan, saya harap itu tumbuh dari hati Pak David sendiri." fadzilah tidak ingin terlibat masalah lebih jauh lagi dengan keluarga David ataupun keluarga istrinya.


"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa bersamamu?"


"Sampai kapanpun kita tidak bisa bersama, Pak. Saya juga tidak pernah mencintai Anda, saya menganggap Anda sebagai atasan saya."


"Bohong, kamu jelas-jelas berbohong. Saya tahu kamu mencintai saya."


"Ya, dulu saya pernah tertarik pada Anda, tapi itu hanya sebatas tertarik. Saya tidak benar-benar mencintai Anda, karena saya tahu dimana status saya dan derajat saya. Kita jauh berbeda, tidak ada satu hal pun yang bisa membuat kita bersama. Maaf, Pak David. Saya harus kembali, masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan, permisi," pamit Fazilah.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2