Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
265. S2 - Vila


__ADS_3

Semua acara telah selesai, para tamu juga sudah meninggalkan tempat. Hanya tinggal keluarga besar Ivan dan Rani. Kedua pengantin juga bergabung bersama mereka.


"Mohon maaf, Bik Rahmi. Saya dan keluarga harus pergi, kami sudah memiliki rencana jadi, harus pulang hari ini juga," pamit Yasna.


"Bukannya masih nginap di sini satu hari lagi, Nyonya?" tanya Bik Rahmi.


"Maaf, sebelumnya memang begitu, tapi ternyata papanya anak-anak ada rencana sendiri jadi, kami harus ikut balik."


"Baiklah, Nyonya. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih sudah mau datang. Kami tidak bisa membalas apa-apa. Terima kasih juga hadiahnya."


"Tidak perlu bicara seperti itu. Rani sudah saya anggap seperti keluarga sendiri, begitu pun dengan, Bibi, jadi, jangan sungkan sama kami. Kalau ada apa-apa, kalian bisa minta bantuan sama kami."


"Terima kasih, Nyonya. Saya sangat beruntung bisa mengenal wanita sebaik Anda. Saya juga bersyukur Den Aydin dan Non Afrin bisa memiliki Ibu seperti Anda. Mudah-mudahan Tuhan memberikan kesehatan dan panjang umur," ucap Bik Rahmi dengan mata berkaca-kaca.


"Amin, asal jangan terlalu panjang saja, Bik. Ngeri juga kalau umur saya terlalu panjang," sahut Yasna membuat Bik Rahmi tertawa sambil mengusap sudut matanya yang berair. "Kami pamit dulu, ya, semuanya."


Keluarga Emran pun berpamitan pada keluarga Rani dan Ivan. Kedua keluarga mungkin ingin berbicara antar keluarga jadi, Emran memilih mengajak keluarganya pamit, dia tidak berhak mencampuri pembicaraan mereka.


"Kita mau ke mana, sih, Mas?" tanya Afrin saat mereka berada dalam perjalanan.


Mereka berpisah mobil dengan kedua orang tuanya. Afrin berdua dengan Khairi, sementara Emran dan Yasna di sopiri oleh Pak Hari.


"Katanya Papa mau ngajak kita liburan di Vila tidak jauh dari daerah ini."


"Benarkah? Aku sudah lama tidak ke villa di daerah ini," ucap Afrin dengan gembira.


"Kamu pernah ke daerah ini?" tanya Khairi.


"Pernah dulu waktu masih kecil, tapi saat masuk SMP sudah tidak pernah lagi ke sini. Aku kira sudah dijual papa, ternyata masih ada."


"Papa Tidak mungkin menjual Vila, kecuali memang dia sangat membutuhkan uang, tapi sejauh ini, aku lihat papa malah lebih."


"Amin, mudah-mudahan selalu seperti itu."


Selama perjalanan mereka diiringi dengan musik yang diputar di radio. Sesekali Afrin mengikuti penyanyi untuk menyanyikan lagunya. Khairi tersenyum melihat istrinya begitu bahagia. Begitulah Afrin, dia bahagia dengan hal-hal yang sederhana. Tidak seperti wanita yang di luaran sana. Mereka bahagia hanya karena materi.

__ADS_1


"Oh, iya, Sayang. Ada sesuatu yang belum aku ceritakan sama kamu."


"Apa?" tanya Afrin.


"Kemarin Vira datang ke perusahaan."


Afrin yang semula menatap ke depan pun langsung menolehkan kepala ke arah suaminya. Dia begitu terkejut mendengar kedatangan Vira, untuk apa gadis itu menemui Khairi? Ada urusan apa lagi? Melihat istrinya yang masih diam dan menatapnya, Khairi tahu jika Afrin menunggu kelanjutan ceritanya.


"Dia memintaku menikahinya hanya untuk menutupi aibnya," lanjut Khairi membuat istrinya melototkan matanya


"Maksudnya? Mas, aku bener-bener tidak mengerti?" tanya Afrin meminta kejelasan.


"Kamu tahu, kan, sayang! Mengenai video kemarin, ya, begitulah. Banyak yang menghujat dan menghina dia atau apalah terserah. Jadi, dia butuh status kalau dia sudah menikah atau janda karena itu, dia memintaku untuk menikahinya. Setelah gosip mereda dia akan meminta cerai, tapi aku sudah menolaknya. Aku tidak ingin bermain-main dengan sebuah perasaan."


Kali ini Afrin benar-benar sangat terkejut. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi mengenai mantan temannya itu. Entahlah bagaimana harus menggambarkan sosok wanita seperti itu. Bagaimana mungkin wanita itu meminta pria beristri menikahinya?


"Sayang, kok, diam sih?" tanya Khairi yang khawatir karena Afrin tidak menanggapi ceritanya.


"Aku hanya terkejut, Mas. Kenapa dia bisa berpikir seperti itu? Hanya untuk sebuah status, dia sampai mau mempermainkan sebuah ikatan pernikahan. Itu benar-benar bukan dirinya yang dulu. Dia sudah banyak berubah. Entah apa yang merasukinya kini. Padahal saat awal aku bertemu dengannya, dia itu orangnya baik. Memang dia suka seenaknya, tapi dia tidak suka mempermainkan sebuah ikatan."


*****


Dua mobil memasuki kawasan vila keluarga yang begitu indah dengan pemandangan pantai di depannya, membuat para penghuni vila merasa nyaman.


"Tempatnya semakin indah, Mas," ucap Yasna begitu turun dari mobil.


"Iya, Sayang. Aku juga sudah lama tidak mengajak kamu ke sini. Aku pikir kamu tidak mau."


"Papa nggak pernah bilang. Aku juga lupa kalau Papa punya villa di sini."


"Sama, aku juga lupa. Aku pikir sudah lama jual," sela Afrin yang baru saja datang bersama dengan suaminya.


"Papa nggak semiskin itu sampai jual villa ini," sahut Emran membuat Afrin terkekeh. Ternyata jawabannya sama seperti yang suaminya katakan.


"Aku cuma mengira-ngira saja, Pa. Barangkali Papa butuh uang terus jual vila ini."

__ADS_1


"Tidak," sahut Emran cepat. "Ayo, kita masuk!"


Emran mengajak Yasna memasuki vila diikuti Afrin dan Khairi dibelakangnya semua orang dibuat kagum dengan desain villa. Dekorasi dan perabotan semua terlihat unik membuat penghuninya merasa nyaman.


"Waktu kita terakhir ke sini tidak seperti ini, Pa. Apa, Papa, merubahnya?" tanya Yasna dengan mata yang masih memindai semua perabotan yang ada di vila itu.


Malam hari, dua pasang suami istri itu mengadakan acara barbeque dengan semilir angin pantai, membuat suasana begitu dingin. Namun, mereka semua menikmatinya. Mereka tidak sungkan memperlihatkan kemesraan.


"Bunda mau masuk dulu. Apa kalian masih ingin di sini? Bunda sudah tidak tahan, ini sangat dingin sekali," ucap Yasna.


"Iya, Bunda. Bunda duluan saja, kami masih mau di sini," sahut Afrin.


Emran dan Yasna memasuki vila terlebih dahulu, menyisakan Khairi dan putrinya yang duduk bersisian di tepi pantai. Sebenarnya wanita itu masih ingin menikmati semilir angin pantai di malam hari, tetapi tubuhnya tidak mampu menghadapi dinginnya angin malam.


"Kamu masih dingin, Sayang?" tanya Khairi pada istrinya yang sudah memakai jaketnya sendiri.


"Tidak, Mas."


"Kalau masih dingin, kamu pakai jaket aku saja."


"Tidak, ini sudah hangat."


"Sini aku peluk saja, biar makin hangat." Khairi duduk di belakang Afrin dan memeluk istrinya, sambil melihat pandangan pantai di malam hari.


"Sayang, jika Vira memintamu untuk mengikhlaskan aku menikahinya, apa kamu mau menurutinya?" tanya Khairi.


Afrin berpikir sejenak. Dia tidak ingin memberi jawaban yang akan disesalinya dikemudian hari.


"Mas, aku tidak pernah berpikir untuk berbagi cinta, apalagi berbagi suami. Aku hanya ingin menjadi istri satu-satunya. Memang dalam Islam laki-laki boleh beristri lebih dari satu, tapi aku bukan bagian dari wanita-wanita yang rela dimadu. Aku juga bukan wanita yang kuat saat melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain. Meskipun mereka sudah sah," jawab Afrin tanpa ragu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2