
"Pokoknya aku nggak mau kalau sampai, Mas, menerima tawaran dari Zahran," ucap Yasna yang masih dipenuhi emosi.
"Iya, Sayang. Pasti aku akan menolaknya," sahut Emran. "Kamu tenangkan dulu dirimu, jangan terbawa emosi. Biasanya aku yang mudah emosian, tapi sekarang kenapa kamu yang mudah terpancing emosinya."
Yasna berusaha menenangkan dirinya. Dia menarik napas dalam-dalam lalu, mengembuskannya secara perlahan.
"Apa pun yang mengenai anak-anakku, aku orang yang pertama maju ke depan," ucap Yasna dengan yakin.
"Beruntungnya mereka memiliki kamu."
"Justru aku yang beruntung memiliki mereka."
"Kita sama-sama beruntung karena saling memiliki." Emran membawa Yasna ke dalam pelukannya.
"Iya, Mas."
"Mengenai ayah bagimana? Apa keadaannya sudah membaik?"
"Kata ibu sampai hari ini baik-baik saja," jawab Yasna. "Besok aku mau antar ayah check up, ya, Mas. Aku mau tahu hasilnya."
"Iya, biar diantar Pak Hari. Jangan nyetir sendiri."
"Iya, Mas. Mudah-mudahan hasilnya semakin membaik."
"Amin, ayo kita tidur. Masih banyak pekerjaan yang menunggu besok." Emran dan Yasna pun tidur sambil berpelukan menikmati kehangatan di tengah dinginnya udara malam.
Sementara Afrin sedang menuju kamar kakaknya. Dia ingin mencari tahu bagaimana keadaan mantan kekasih dari kakaknya. Gadis itu mengetuk pintu kamar Aydin beberapa kali hingga kakaknya membukakan pintu.
"Ada apa, kamu malam-malam ke sini?" tanya Aydin.
"Mau ngobrol aja, sebentar," jawab Afrin lalu masuk ke dalam kamar kakaknya tanpa permisi.
"Siapa yang mengizinkanmu masuk? Aku mau tidur!"
"Aku mau ngobrol sebentar saja, Kak. Nanti aku balik ke kamar," jawab Afrin yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Mau ngobrol apa?"
"Aku mau tanya mengenai video yang beredar itu, Kak. Itu beneran mantan Kakak?"
"Iya, memangnya kenapa?" Sebenarnya Aydin malas membahasnya. Akan tetapi dia tahu kalau adiknya akan tetap mencari tahu semuanya.
"Bagaimana dia sekarang? Apa dia dipecat dari perusahaan?"
__ADS_1
"Iya, dia diberhentikan, Pak Sapto juga. Bagaimanapun mereka sudah membuat skandal. Nggak mungkin papa memperkerjakan mereka di sana. Meskipun kinerjanya baik."
"Aku juga menyayangkan, kenapa gadis yang terlihat baik seperti dia, bisa melakukan hal seperti itu."
"Kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi jadi, sebaiknya kita tidak perlu membahasnya. Biarlah itu menjadi urusannya sendiri."
Afrin menganggukan kepala dan merebahkan tubuhnya di ranjang Aydin. Memang setiap manusia punya kesusahannya sendiri, tapi tidak harus terjerumus juga, kan?
"Eh kok malah tidur, sih. Sana balik ke kamar kamu!" Seru Aydin dengan menarik lengan Afrin.
"Aku masih mau cerita sama Kakak."
"Mau cerita apa lagi?"
"Apa saja," jawab Afrin. "Menurut, kakak. Kak Nayla bagaimana?"
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan dia?"
"Cuma nanya saja."
Aydin menerawang sejenak, mengingat bagaimana kepribadian Nayla.
"Dia gadis yang baik dan juga sopan. Kita juga tahu, kan. Bagaimana almarhum ibunya. Mungkin itu juga yang buat bunda nyaman sama dia."
"Jujur rasa suka belum ada. Hanya saja Kakak kagum padanya. Di usianya yang masih muda. Dia kepikiran untuk membuka usaha untuk membantu sesama yang kesulitan mencari pekerjaan. Sementara Kakak saja nggak kepikiran sampai situ. Kakak hanya ingin meneruskan usaha papa, agar papa bisa di rumah saja nemenin bunda."
"Kenapa Kakak masih betah jadi anak buah kalau begitu. Kenapa nggak ambil alih sekarang saja?"
"Kakak masih perlu banyak belajar tentang bisnis. belajarnya mudah, prakteknya yang sulit. Kalau kamu sendiri, apa kamu nanti akan kerja di perusahaan."
"Belum tahu, aku maunya seperti Kak Nayla. Buka usaha sendiri, tapi aku masih belum tahu mau buka usaha apa. Aku masih mencari yang cocok."
"Kakak akan selalu berdoa. Apa pun keinginan kamu, mudah-mudahan bisa segera terkabul," ucap Aydin dengan tulus. Bagaimanapun sebagai seorang kakak, dia harus mendukung apa pun yang adiknya inginkan.
"Amin, terima kasih, Kak," ucap Afrin dengan senyum mengembang.
"Oh, ya, Kakak ada komik baru. Kamu mau lihat, nggak? Sebentar, Kakak carikan dulu." Aydin segera berdiri mencari komik yang baru saja dibelinya satu minggu yang lalu.
Aydin dan Afrin sama-sama menyukai komik. Hanya saja sang adik tidak terlalu fanatik seperti kakaknya. Gadis itu hanya suka membaca milik kakaknya, setelah itu, dia kembalikan lagi.
"Nah, ini dia ketemu!" seru Aydin sambil memegang komik yang baru dia beli.
Dia ingin memperlihatkannya pada Afrin. Namun, saat dia menolehkan kepalanya ternyata gadis iti sudah tertidur di atas ranjang, membuat Aydin menghela napas panjang.
__ADS_1
"Katanya tadi mau balik ke kamarnya, sekarang malah tidur di sini," gerutu Aydin yang kemudian menyelimuti adiknya.
Pria itu memilih tidur di sofa. Meski mereka saudara kandung tetap saja mereka sudah dewasa. Aydin merasa aneh tidur satu ranjang dengan adiknya.
Saat akan memejamkan matanya, ponsel Aydin berdering ada sebuah panggilan masuk dari Airin. Pria itu segera mengangkatnya. Meski sebenarnya dia sudah sangat malas.
"Halo, assalamualaikum," ucap Aydin.
"Waalaikumsalam, maaf, Mas. Tadi aku ada keperluan mendadak jadi, tidak bisa menunggu. Sekali lagi, maaf, Mas."
"Tidak apa-apa, aku juga tadi buru-buru mau pulang."
"Bagaimana kalau besok saja, Mas. Aku ingin bertemu dengan kamu."
"Apa tidak bisa dikatakan sekarang saja?"
"Tidak bisa, Mas. Kita harus bertemu."
"Baiklah, kita ketemu besok saja. Kamu maunya jam berapa?"
"Jam pulang kerja saja, Mas. Agar bisa leluasa ngobrolnya. Kalau makan siang takutnya Mas nanti buru-buru mau kembali ke kantor."
"Iya, kamu atur saja tempatnya, nanti kirim alamatnya."
"Iya, Mas. Kalau begitu saya tutup dulu, Mas. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Aydin tidak bisa tidur kembali. Dia memutuskan untuk pergi ke balkon menikmati udara dingin di malam hari, sambil menatap gemerlap bintang di langit.
Ayden teringat masa kecilnya saat masih bersama dengan almarhum mamanya. Rasa rindu tiba-tiba datang menghampirinya.
'Ma, apa Mama merindukan Aydin? Aku sangat merindukan mama, tapi mama tenang saja aku di sini baik-baik saja, kok. Adek juga baik, dia sekarang jadi seorang gadis yang cerewet. Dia juga sekarang sudah mau belajar memasak. Padahal sebelumnya dia sangat pemalas dan sangat takut kotor. Mama tahu, masakannya sangat enak. Sama seperti masakan Bunda Yasna, hanya saja aku suka mengejeknya dan aku pura-pura bilang kalau masakannya tidak enak. Padahal sangat enak. Mama baik-baik di surga. Mudah-mudahan kita bisa bertemu nanti, amin,' gumam Aydin dalam hati
Angin malam semakin menusuk kulit. Aydin memutuskan untuk memasuki kamarnya dan kembali tidur. Besok masih banyak yang harus dia lakukan, termasuk mendengar bualan yang entah seperti apa. Mudah-mudahan Aydin tahan.
.
.
.
.
__ADS_1
.