Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
179. S2 - Menyembunyikan sesuatu


__ADS_3

Hari ini Nayla melakukan pemeriksaan kandungannya dengan diantar oleh Aydin. Menurut dokter semua baik-baik saja. Ibu dan bayinya sehat. Hanya saja berat badan Nayla sedikit turun. Dokter menyarankan agar lebih banyak memakan makanan sehat. Tidur juga lebih teratur.


Aydin sempat menawarkan pada Nayla untuk melakukan tes kesehatan lainnya. Itu bertujuan agar wanita itu mau jujur padanya. Namun, dengan tegas Nayla menolak. Bahkan sempat terjadi perdebatan di depan dokter.


Dokter itu menyela perdebatan mereka dan mengatakan agar ibu hamil tidak boleh terlalu stress. Akhirnya Aydin mengalah dan menuruti keinginan Nayla. Meski dalam hatinya pria itu, ingin sekali marah pada sang istri, tetapi dia tahu itu percuma.


Usai pemeriksaan, mereka memutuskan untuk ke rumah orang tua Aydin. Nayla pun menurutinya, karena memang sudah beberapa hari mereka tidak berkunjung. Wanita itu hanya berkomunikasi lewat sambungan telepon dengan mertuanya.


Selama perjalanan tidak ada pembicaraan apa pun. Baik Nayla maupun Aydin hanya diam saja. Satu tangan pria itu menggenggam telapak tangan istrinya dengan erat. Seolah takut wanita itu akan pergi jika dia melepaskan genggamannya.


Nayla merasa aneh. Dia merasa ada sesuatu yang dipikirkan oleh suaminya, tetapi entah itu apa, dia tidak tahu. Tidak Berapa lama mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai di kediaman keluarga Emran. tampak Rani sedang menyapu di halaman, sedangkan Yasna menyiram tanamannya.


Mereka berdua turun dan segera berjalan mendekati sang Bunda. mencium punggung tangan wanita itu bergantian.


"Assalamualaikum, Bunda."


"Waalaikumsalam, kalian ke sini nggak bilang-bilang? Dan kamu Aydin, nggak kerja?"


"Tidak, Bunda. Tadi Habis nganterin Nayla periksa. Kerjaan juga udah aku serahin sama sekretarisku."


"Ya sudah, ayo, masuk!"


Mereka duduk di ruang tamu. Nayla duduk diapit suami dan mertuanya. Yasna sangat senang melihat menantunya perutnya membesar. Dulu, dia juga pernah merasakan hamil, meski tidak pernah tahu rasanya melahirkan.


"Bagaimana periksanya tadi? Semua baik-baik saja, kan?" tanya Yasna.


"Alhamdulillah, semua baik, Bunda," jawab Nayla.


"Iya, hanya saja berat badan Nayla turun."


"Benarkah?"


"Tidak apa-apa, Bunda. Hanya setengah kilo, kok!"


"Tetap saja itu turun, Sayang. Kamu harus makan yang banyak, makanan yang sehat. Nanti Bunda tiap hari kirim makanan ke apartemen, ya! Biar Rani yang antar."


"Enggak perlu, Bunda. Malah ngerepotin Bunda."


"Mana ada ngerepotin! Bunda malah senang kalau kamu sehat, bayinya juga sehat."

__ADS_1


Nayla merasa tertampar dengan kata-kata Yasna. Bagaimana nanti jika mertuanya ini tahu tentang keadaannya? Pasti akan sangat sedih. Wanita itu tahu bagaimana Yasna menyayanginya, seperti putri sendiri. Aydin yang melihat istrinya terdiam mengertinya jika Nayla merasa bersalah pada sang bunda.


"Bunda, ada kue nggak? Aku lagi laper nih, pengen nyemil," ucap Aydin mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Tadi pagi, kan, Mas, udah makan? Ini juga masih pagi, kenapa sudah lapar?"


"Lapar enggak peduli pagi atau malam, Sayang."


"Tapi kan Mas, sudah makan tadi."


"Ya, laper lagi," jawab Aydin sekenanya. Padahal dia hanya mencari alasan saja, agar Bunda tidak bertanya lagi.


"Sudah jangan berdebat. Sebentar, Bunda ambilin. Kemarin Bunda buat banyak, semoga saja masih ada." Yasna segera menuju ke dapur mengambilkan kue untuk putranya. "Masih ada ternyata. Kalian makanlah, Bunda juga udah buatin minuman."


"Bunda, maaf ngerepotin."


Nayla merasa tidak enak pada mertuanya. Dia ke sini untuk berkunjung. Bukan tamu yang harus diperlakukan seperti ini. Dia lebih suka menganggap rumah ini, rumahnya.


"Sudah, tidak apa-apa. Ayo, dimakan."


Aydin pun memakan kue tersebut. Padahal saat ini dia masih kenyang, tapi agar kebohongannya tidak terbongkar, dia terpaksa memakannya.


"Nanti malam kalian nginap di sini, ya! Sudah lama kalian nggak nginap!" pinta Yasna.


Aydin dan Nayla sama saling pandang. Seolah bertanya pendapat mereka masing-masing. Hingga akhirnya wanita itu mengangguk kepada suaminya.


"Baiklah, cuma malam ini saja," Jawab Aydin pasrah.


"Kamu sepertinya terpaksa sekali, Kak, menginap di rumah?" tanya Yasna dengan menatap putranya.


"Bukan begitu, Bunda--"


"Iya, iya, Bunda tahu. Kalian ingin berduaan saja. Enggak mau ada yang gangguin," sela Yasna sebelum putranya mengatakan sesuatu.


"Itu tahu," sahut Aydin cepat membuat Yasna mendengus.


Sebelumnya Aydin tidak pernah terbuka tentang rumah tangganya, Menurut pria itu, keluarga hanya urusan suami dan istri. Dia juga merasa malu jika memperlihatkan kemesraan di depan umum, tetapi kini, semua seolah tidak ada batasannya. Bahkan dia seringkali bermesraan di depan orang tuanya


*****

__ADS_1


Sore hari Emran pulang dari kantor. Dia melihat ada mobil Aydin. Pasti anak dan menantunya ada di dalam. Pria itu berharap semuanya baik-baik saja. Emran juga penasaran, apakah mereka mengatakan rahasia itu pada Yasna?


Sementara Afrin mengajak Nayla ke taman samping rumah. Dia bercerita banyak hal dengan kakak iparnya. Sudah lama gadis itu menginginkan saudara perempuan dan hari ini dia sangat senang, karena punya ipar yang bisa diperlakukan seperti kakaknya sendiri.


"Aydin dan istrinya sudah lama, Bunda?" tanya Emran begitu dia sudah berada di kamar bersama Yasna.


"Sudah dari siang. Mereka dari periksa kandungan langsung ke sini," jawab Yasna sambil mengembalikan sepatu dan tas Emran ke tempatnya.


"Apa mereka mengatakan sesuatu?"


"Iya, mereka bilang kalo Nayla dan bayinya sehat, tapi turun berat badan Nayla."


"Apa hanya itu?" tanya Emran lagi.


Dalam hati pria itu bertanya, apa Aydin tidak mengatakan pada Nayla jika dia sudah mengetahui semuanya? Atau memang mereka tidak ingin mengatakan hal itu pada Yasna?


"Iya, memangnya ada apa lagi? Apa, Mas, tahu sesuatu yang aku tidak ketahui?" tanya Yasna yang merasa aneh dengan pertanyaan suaminya.


Tidak biasanya Emran banyak bertanya. Pria itu selalu mengatai dirinya cerewet jika banyak bertanya, tetapi kenapa justru sekarang berbalik?


"Tahu apa, Sayang? Aku 'kan baru pulang."


"Mas tidak berbohong, kan? Aku yakin Mas pasti menyembunyikan sesuatu. Aku tahu bagaimana kehebatan kamu, Mas!"


Emran gelagapan ditanyai seperti itu. Dia memang tidak pandai berbohong di depan Yasna.


"Aku tidak tahu apa pun, Sayang. Kamu itu terlalu parno," sahut Emran. "Ya sudah, aku mau mandi dulu, aku juga capek banget."


Emran berlalu menuju kamar mandi. Dia sengaja lari dari pertanyaan istrinya. Pria itu merutuki dirinya sendiri karena sudah membuat Yasna curiga. Sudah pasti istrinya itu akan mencari tahu semuanya.


Sementara Yasna yang duduk di atas ranjang, memikirkan suatu kemungkinan yang disembunyikan oleh suami dan anak-anaknya. Pasti itu hal yang sangat besar karena jika itu hal yang sepele. pasti mereka akan mengatakannya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2