
"Bunda, kok, bisa sama Nayla? Apa ada pekerjaan yang penting?" tanya Aydin sambil mendudukkan dirinya di samping Nayla.
"Tidak juga, Bunda hanya membahas acara pembukaan butik saja sama Nayla. Daripada di rumah sendirian. Habis ini juga Bunda mau jemput Afrin di sekolah. Tadi dia bilang ada pelajaran tambahan jadi, mungkin agak sorean. Bunda mau ke tempat Nayla dulu," jawab Yasna yang hanya di jawab dengan sebuah anggukan oleh Aydin.
"Tumben kamu ikutan meeting, sekarang? Biasanya hanya di kantor saja."
"Sekarang aku sudah mulai ambil alih beberapa pekerjaan papa, sedikit demi sedikit, Bunda. Kalau langsung jadi, pemimpin mah takutnya aku takabbur nanti."
"Iya, lebih baik seperti itu. Orang-orang kantor memangnya sudah tahu, kalau kamu anak dari papa?"
"Ada beberapa yang tahu, ada juga yang tidak. Biarin saja lah, mereka juga nggak ngapa-ngapain."
"Ya sudah, ayo, makan dulu!" ucap Yasna setelah makanan mereka datang.
"Bunda, pesan udang? Bunda, kan, alergi," tanya Aydin saat ada hidangan udang di sana.
"Bukan, ini punya Nayla."
"Saya tadi nggak pesan, kok, Tante." Nayla heran karena dia tadi tidak memesannya, tapi sekarang kenapa ada udang? Gadis itu masih ingat Yasna pernah mengatakan jika dia alergi udang. Maka dari itu, Nayla tidak memesannya.
"Tapi, kamu suka, kan? Makanya Tante pesenin. Nggak usah pake nggak enak, pesan saja apa yang kamu suka. Jangan karena Tante alergi kamu jadi ikut-ikutan nggak pesan."
Yasna memang sengaja memesankannya untyk Nayla. Dia ingat jika Nayla sangat suka udang, waktu makan siang dengan Bu Sarah waktu itu.
"Saya, kan, nggak enak makan sendiri."
"Tante nggak pa-pa. Tante lebih senang kalau kamu bersikap apa adanya, tanpa ada sesuatu yang dibuat-buat."
"Iya, Tante, maaf."
"Tidak apa-apa. Ayo, kita makan!"
Mereka makan sambil sesekali berbincang. Nayla dan Aydin juga sudah mulai akrab. Tidak seperti biasanya yang saling diam.
"Mas Aydin mau coba udangnya? Ini enak lho."
"Boleh," sahut Aydin. "Kamu sering makan di sini?"
"Nggak juga, sih. Beberapa kali saja. Waktu itu juga pernah ke sini sama Tante Yasna."
"Kalau kamu tahu restoran ini, boleh dong rekomendasi makanan apa saja yang paling enak di sini."
"Kalau aku sukanya kepiting sama udang, tapi pecelnya juga enak."
"Iya, Bunda sukanya nasi pecel kalau di restoran atau warung nasi. tapi kan itu kalau pagi sama siang Kalau malam gak ada."
__ADS_1
"Pecel memang paling enak dimakan pagi atau siang. Malam biasanya nasi goreng," sahut Nayla. "Kalau, Mas, sukanya makanan apa?"
"Aku suka tumis sama ayam goreng trus ada sambalnya. Hmm ... ngebayangin aja udah nikmat," jawab Aydin. "Kamu sendiri, biasanya suka masak apa di rumah?"
"Sekarang, kan, aku sendiri jadi, aku sih masaknya simpel saja, nasi goreng saja. Kalau lagi males cuma mie instan sama telur."
"Jangan kebanyakan mie instan tidak baik juga untuk kesehatan."
"Tapi aku sudah terlanjur malas. Makan sendiri juga rasanya tidak enak."
"Makanya, cari pasangan biar makan ada yang nemenin," sela Yasna.
Sedari tadi Wanita itu merasa seperti makhluk yang tidak tampak, karena mereka berdua terlihat asyik berbincang tanpa melihatnya.
"Belum ada yang mau, Tante," sahut Nayla.
"Masa, sih, nggak ada! Yang kemarin itu gimana? Aduh siapa, ya, namanya? Itu loh anaknya Bu Sarah."
"Kak Rizki?"
"Iya, Rizki." Yasna sengaja ingin tahu bagaimana reaksi putranya, saat mendengar nama pria lain yang dekat dengan Nayla.
"Aku sama Kak Rizki nggak ada hubungan apa-apa, Tante. Aku sudah menganggapnya sebagai kakak saja, tidak lebih. Kak Rizki itu orangnya terlalu baik untuk saya."
"Bagus, dong, kalau dia baik, berarti bisa jadi suami yang baik juga. Memang kamu mau dapet suami yang jahat? Yang setiap hari harus galak sama kamu atau dingin seperti kulkas?" tanya Yasna sambil menyindir putranya.
"Tidak begitu juga, Tante. Hanya saja, saya ingin punya suami yang biasa saja. Ya, setidaknya kita sederajat. Tante tahu, kan? Saya bukan orang yang kaya."
"Kaya atau tidak, itu bukan suatu halangan untuk mencari jodoh. Baik kaya, miskin atau yang biasa saja. Asalkan dia baik kenapa tidak? Meskipun pasangan kita sederajat, belum tentu dia juga baik terutama agamanya. Carilah yang seagama dan beragama. Kamu ngerti, kan, masksud, Tante? Bukan maksud Tante untuk menggurui kamu. Hanya mengingatkan saja, agar kamu tidak salah memilih suatu hari nanti."
"Iya, Tante, saya mengerti maksud tante. Saya juga senang Tante mau menasehati saya. Jujur saya juga merindukan nasehat seorang ibu."
"Kamu juga bisa manggil Tante dengan panggilan Bunda. Anggap Tante ini, ibu kamu."
"Terima kasih, Tante."
"Bunda," sela Yasna.
"Iya, terima kasih, Bunda."
Yasna senang karena Nayla mau terbuka dengannya. Dia juga sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri. Apalagi wanita itu merasa harus menjaga Nayla karena kebaikan almarhum ibunya. Meskipun mereka tidak memintanya, tapi Yasna merasa harus bertanggung jawab.
Aydin yang melihat pemandangan itu juga ikut tersenyum. Jujur dia juga terharu, Bundanya selalu baik pada siapapun. Padahal mereka belum lama saling mengenal.
"Ayo, cepat habiskan makanannya," ucap Yasna. "Kamu aydin, bukannya kamu harus kembali ke kantor?"
__ADS_1
"Iya, Bunda. Habis ini aku mau langsung balik ke kantor. Bunda pergi sama Pak Hari, kan?"
"Enggak, Bunda tadi sama Nayla. Pak Hari masih menunggu di butik. nanti ke sekolahnya sama Pak Hari."
Aydin mengangguk dan melanjutkan makannya. Pria itu tidak lagi marah dengan kesibukan Yasna. Dia mengerti jika Yasna juga butuh refreshing untuk menghilangkan kejenuhannya.
Setelah menghabiskan makanannya. Aydin pamit untuk kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus segera dia selesaikan.
"Aku balik ke kantor dulu, Bunda." Aydin mencium punggung tangan Yasna.
"Iya, hati-hati. Jangan ngebut."
"Iya, Bunda," jawab Aydin. "Mari, Nay! Assalamualaikum."
"Iya, Mas."
"Waalaikumsalam," ucap Yasna dan Nayla bersamaan.
Setelah kepergian Aydin. Yasna dan Nayla pun juga akan pergi. Mereka masih harus kembali ke butik gadis itu.
"Kamu sudah selesai, Nay?"
"Sudah, Bunda."
"Ayo, kita kembali. Kamu juga masih ada pekerjaan, bukan? Kalau saya, sih, pengangguran. Ke mana-mana juga oke saja."
"Bisa saja, Bunda. Mana ada ibu rumah tangga yang pengangguran. Justru ibu rumah tangga itu kerjaannya banyak."
"Kamu nggak tahu saja, kalau di rumah itu semua dikerjakan oleh Rani. Saya sama sekali tidak diberi pekerjaan."
"Tapi, saya ngelihatnya nggak gitu, Bunda. Justru Bundah selalu ada saja yang kerjain. Sampai-sampai Om Emran protes sama Bunda."
"Itu mah suami tante saja yang terlalu berlebihan. Sudah jangan ghibahin orang. Ayo, kita pergi!"
Mereka pun pergi meninggalkan restoran bersama.
.
.
.
.
.
__ADS_1