
Afrin sedang berada di kamarnya. Sejak bertemu dengan Khairi kemarin, dia jarang keluar. Gadis itu hanya menghabiskan waktu di kampus dan di rumah. Afrin memikirkan tentang pilihannya apa sudah benar atau tidak? Bagaimanapun dia tidak ingin salah memilih.
Pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Sebenarnya Afrin masih ingin sendiri, tetapi tidak mungkin dia membiarkan orang itu menunggu. Pasti nanti semua akan heboh.
"Iya, masuk," ucap afrin sambil berpura-pura membaca buku. Pintu terbuka tampak Yasna di sana. Wanita itu memasuki kamar putranya.
"Bunda, aku kira Mbak Rani."
"Kenapa anak Bunda sekarang suka sekali menyendiri? Apa tidak mau cerita sama Bunda lagi, nih?" Yasna duduk di samping putrinya dengan bersandar di kepala ranjang. Afrin meletakkan bukunya di atas meja kemudian, membaringkan kepalanya di pangkuan sang Bunda.
"Apa aku salah, Bunda, kalau lebih memilih membatalkan rencana pernikahan?" tanya Afrin dengan suara pelan.
"Kalau menurut kamu sendiri bagaimana?"
"Entahlah, aku juga bingung."
"Kamu sendiri bingung, bagaimana dengan Bunda! Tanyakan pada hati kecilmu, bagaimana perasaanmu pada Khairi. Mengenai Vira kamu bisa cari jalan yang lain. Entah itu meminta maaf padanya dan menjelaskan semuanya atau bersikap masa bodoh saja. Jangan kamu kira Bunda juga nggak tahu tentang sikapnya selama ini sama kamu. Seorang teman yang suka semena-mena seperti dia tidak seharusnya kita pertahankan. Kamu sudah terlalu baik sama dia, tapi bunda tidak bisa memaksa kamu. Bunda senang memiliki putri yang baik hati, tapi kamu jangan lupa dengan kebahagiaan kamu juga," ucap Yasna sambil mengusap kepala Afrin.
"Sejak hari itu juga aku sudah tidak ketemu lagi sama dia, Bunda. Aku juga sudah memutuskan untuk tidak dekat lagi sama Vira. Temanku cukup Zahra juga nggak pa-pa, tapi mengenai Khairi, aku tetap pada keputusanku untuk membatalkan rencana pernikahan ini.
"Apa pun yang menurutmu baik, Bunda pasti akan dukung, tapi saran dari Bunda bicaralah dari hati ke hati. Bunda Lihat Khairi orangnya keras kepala, sama seperti kamu. Bunda jadi ragu kalau kamu bisa membatalkan pernikahan ini."
"Bunda dukung siapa, sih! Aku atau Khairi?" Afrin merajuk.
"Bunda mendukung yang terbaik untuk anak-anak Bunda. Seperti yang papa bilang kemarin, perbanyaklah berdoa, minta petunjuk sama Allah. Yakinkan hatimu jangan sampai membuat keputusan yang salah dan membuatmu menyesal ketika semuanya sudah terlambat."
"Iya, Bunda. Terima kasih nasehatnya."
Afrin memikirkan kata-kata Yasna. Dia juga ingin yang terbaik untuk masa depannya. Gadis itu tidak mau menyesal nantinya karena itu dia harus hati-hati dalam mengambil keputusan.
"Ya sudah, sekarang kita makan siang dulu. Kamu belum makan siang, kan?" tanya Yasna membuat Afrin menggeleng sebagai jawaban. "Ya sudah, ayo!"
Mereka keluar bersama-sama. Yasna sengaja belum makan siang agar bisa makan bersama dengan putrinya.
__ADS_1
*****
Khairi terus saja melajukan mobilnya tanpa tentu arah. Tanpa sadar dia sudah berada di luar kota. Hingga tiba-tiba mobilnya berhenti di tengah jalan. Pria itu kesal, ternyata bahan bakarnya habis.
"Sial! Benar-benar kurang ajar, Ivan. Dia sengaja tidak mengisi bahan bakar!" gerutu Khairi dengan memukul setir mobil. Padahal dia sendiri yang salah karena terlalu emosi sampai lupa sudah berapa lama dia mengemudi.
Pria itu turun dari mobil dan memilih berjalan kaki meninggalkan mobil itu. Jalanan begitu ramai, banyak kendaraan motor berlalu lalang. Banyak juga pejalan kaki yang sedang asik menikmati udara sore.
Tidak berapa lama, dia sampai di sebuah taman. Di sana tampak beberapa orang sedang menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya. Ada pula anak-anak yang sedang bermain gelembung. Pria itu teringat dulu dia marah pada sang papa karena melarangnya bermain bersama dengan anak yang lainnya. Khairi mendekati beberapa anak yang bermain gelembung.
"Anak-anak, boleh Om bermain dengan kalian?" tanya Khairi.
"Boleh, Om." Seorang anak kecil memberikan air gelembung yang dia miliki pada Khairi.
Mereka semua begitu senang bisa bermain bersama. Pria itu berpikir, andai saja dia segera menikah dan memiliki anak, pasti akan sangat menyenangkan bisa bermain dengannya. Cukup lama Khairi bermain hingga air gelembung yang mereka miliki tinggal sedikit.
"Punya kamu hampir habis, Om, belikan lagi, ya! Sebentar." Khairi membeli beberapa air gelembung dan memberikannya pada anak-anak. Tidak lupa juga dia membeli es krim untuk mereka.
"Sama-sama, rumah kalian di mana?"
"Kampung sana," tunjuk salah satu anak yang lebih besar. Aydin mengangguk menatap perkampungan yang ditunjuk anak tadi.
"Kalau main jangan jauh-jauh, ya! Ya sudah, Om mau pulang dulu. Kalian hati-hati."
"Iya, Om. Terima kasih."
Khairi meninggalkan mereka dan kembali menuju jalan raya. Dia ingin mencari taksi untuk kembali pulang. Namun, dari kejauhan pria itu bisa melihat ada mobil yang sepertinya dia kenal. Khairi mencoba mengingat siapa pemilik kendaraan itu dan akhirnya pria itu tahu jika itu adalah mobil anak buahnya.
"Sejak kapan mereka ada di sana? Pasti mereka mengikutiku," gumam Khairi
Khairi melambaikan tangan ke arah mobil itu. Si pengemudi yang mengerti pun mendekat ke arah atasannya. Tanpa banyak bertanya, Khairi memasuki mobil bagian belakang. Pria itu menghela napas beberapa kali.
Melihat senyum anak-anak, membuatnya sedikit melupakan masalahnya. Meski tidak mampu menyelesaikan masalah, setidaknya mereka bisa menghilangkan stres.
__ADS_1
"Antar saya pulang," ucap Khairi dengan bersandar dan memejamkan matanya. Tanpa banyak bertanya si pengemudi pun melajukan mobilnya.
"Siapa yang memerintah kalian mengikutiku?" tanya Khairi pada kedua pria yang ada di depannya itu.
"Tuan Ivan," jawab salah satu dari mereka.
Khairi mengangguk. Asisten itu memang selalu peduli. Padahal sebelumnya dia sudah memerintahkan untuk meninggalkan dirinya. Ivan baru bekerja dengannya dua tahun, tetapi dia sangat tahu yang dibutuhkan atasannya.
"Bagaimana mobil saya? Apa kalian sudah mengurusnya?"
"Sudah, Tuan. Tadi salah satu teman kami sudah membawanya ke apartemen Tuan Ivan."
"Kalian sepertinya sangat menuruti perintahnya," ucap Khairi sekaligus mencibir.
"Tuan Ivan yang membayar kami, Tuan. Jadi kami harus menurutinya."
"Bukan dia yang bayar kalian, tapi saya," sela Khairi dengan kesal. Bisa-bisanya mereka memuji Ivan padahal dirinya yang mengeluarkan banyak uang.
Mungkin inilah nasib seorang atasan yang semuanya dikerjakan oleh asistennya. Orang-orang itu mengira jika asistennya itulah yang mengeluarkan banyak uang, padahal uang itu berasal dari dirinya, tetapi pria itu berpikir kalaupun Khairi sendiri yang mengurus semuanya juga belum tentu berjalan dengan baik jadi, dia membiarkan saja apa kata orang.
"Kalian siapkan acara pernikahan yang akan dilangsungkan dua minggu lagi. Acaranya harus sangat meriah, kalau perlu disiarkan secara live di televisi nasional," perintah Khairi.
"Siap, Tuan."
Khairi akan tetap menyiapkan acara pernikahan itu. Terserah jika Afrin menolaknya, dia akan berusaha untuk meyakinkan gadis itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
.
__ADS_1