
"Bukannya Ibu tidak mau ke kota. Hanya saja, Ibu sudah nyaman tinggal di sini," ucap Bu Nur.
"Bu, lihatlah Laily. Apa Ibu tega membiarkannya bekerja keras di sini? Apa Ibu tidak ingin melihatnya sukses? Di kota dia bisa kuliah di Universitas ternama. Dia bisa meraih cita-citanya. Bukan maksudku untuk menghina keadaan Ibu di sini, tetapi apa yang bisa diharapkan untuk tinggal di sini? Masa depan Laily masih panjang. Tolong pikirkan kembali, Bu," ujar Khairi.
Semua orang terdiam. Benar apa yang dikatakan Khairi. Laily masih memiliki masa depan yang panjang. Nur tidak ingin egois dengan menahan gadis itu disisinya. Wanita itu berpikir sejenak, apa yang akan dilakukannya.
"Kalau begitu, biar Laily saja yang ikut denganmu. Ibu bisa bisa tinggal di sini sendiri," ucap Nur.
"Bu, mana bisa seperti itu!" seru Khairi.
"Tidak apa-apa, Ibu sudah nyaman tinggal di sini."
"Aku tidak mau meninggalkan Ibu, aku di sini saja. Aku tidak kuliah juga tidak apa-apa," sahut Laily berbohong.
Dari dulu dia sangat ingin kuliah. Bahkan diam-diam gadis itu sering mengerjakan tugas temannya. Disaat seperti itu Laily gunakan waktu untuk sekalian membaca buku mereka. Dia tahu diri untuk tidak meminta sang ibu menguliahkannya.
Bisa saja gadis itu mendaftar kuliah jalur bea siswa, tetapi dari mana mereka makan jika tidak bekerja? Sementara anak-anak sekarang banyak yang pindah mengaji ke yayasan yang baru dibangun. Hingga akhirnya setahun yang lalu Nur terpaksa berhenti mengajar karena terjatuh saat mandi dan kesulitan berjalan. Semua kebutuhan pun menjadi tanggung jawab Laily.
Khairi menghela napas. Sepertinya akan sulit untuk membujuk mereka. Meski dia tahu jika adiknya pasti ingin kuliah, mengingat apa yang diceritakan Wulan kemarin.
"Kamu jangan begitu, Laily. Kamu harus kuliah biar bisa buat Ibu bangga," ujar Nur.
"Aku nggak mau jauh dari Ibu, apalagi harus meninggalkan Ibu sendiri di sini. Aku nggak kuliah nggak papa, kok. Sudah biasa," sahut Laily.
Sejak kecil gadis itu tidak pernah jauh dari ibunya. Kalau dia ikut Khairi, pasti di kota pun Laily tidak akan tenang. Jika memang diharuskan memilih, lebih baik dia tidak kuliah daripada harus jauh dengan ibunya.
"Baiklah, kalau kalian memang tidak mau ikut. Aku juga tidak akan memaksa," ucap Khairi. "Aku keluar dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Pak Hari."
Khairi pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari semua orang. Dia kecewa dengan pilihan ibu dan adiknya. Afrin tahu bagaimana perasaan sang suami, tetapi, tidak mungkin mereka memaksa.
"Nak, apa Khairi marah sama Ibu?" tanya Nur sambil melihat punggung putranya yang semakin menjauh.
"Tidak, Bu. Mas Khairi, kan, tadi sudah bilang mau bicara dengan Pak Hari sebentar. Pasti ada sesuatu yang penting," sahut Afrin dengan tersenyum.
__ADS_1
Meski Afrin mengatakan tidak, tetapi Nur tahu jika putranya sedang marah. Hanya saja dia tidak ingin ke kota karena tidak mau bertemu dengan Hamdan. Wanita itu memang sudah berusaha melupakan sakit hatinya. Namun, jika harus bertemu kembali, rasa sakit pasti akan kembali hadir.
Mengenai masa depan Laily, Nur juga memikirkannya. Dia ingin melihatnya sukses. Tidak ada yang tahu umur manusia. Wanita itu takut jika sudah saatnya dirinya kembali pada sang pencipta, putrinya akan sendiri tanpa memiliki pegangan.
*****
Sementara Khairi memilih jalan-jalan di desa itu. Tadi dia berbohong saat mengatakan ingin bicara dengan Pak Hari karena sopir mertuanya sudah pergi, sesuai perintah Khairi yang untuk mencari hotel. Hingga langkahnya berhenti tepat di depan masjid.
Tidak ada seorang pun di sana. Khairi memutuskan untuk duduk di teras saja. Dia tidak tahu harus ke mana untuk menenangkan pikiran. Pria itu memang sengaja pergi karena tidak ingin marah dengan ibu dan adiknya.
Khairi berniat baik untuk masa depan adiknya. Dia juga ingin berbakti pada ibunya, tetapi sepertinya semua terasa sangat sulit.
"Assalamualaikum," ucap seorang pria membuyarkan lamunan Khairi.
"Waalaikumsalam," sahut Khairi sambil bersalaman dengan pria itu.
"Jangan suka melamun di rumah Allah. Lebih baik perbanyak dzikir, itu lebih bermanfaat."
"Iya, Pak."
"Iya, Anda mengenal ibu saya?"
"Tentu, siapa yang tidak mengenal beliau. Orangnya cantik, ramah, tetapi selalu saja ada yang mencibirnya."
"Sebenarnya saya ingin mengajak ibu ke kota, tetapi beliau menolak dengan alasan sudah sangat betah tinggal di desa ini. Padahal semua orang tahu di sini ibu hidup serba kekurangan."
"Kekurangan dan kelebihan tidak menjamin hidup nyaman. Ibumu memang hidup serba kekurangan, tetapi dia nyaman di sini. Sebaliknya, di kota memang semua terpenuhi, tetapi bagi ibumu itu tidak nyaman. Mau bagaimana lagi jika seperti itu? Jangan memaksanya. Dia pasti tahu mana yang baik untuk dirinya."
Khairi memikirkan kata-kata pria itu. Mungkin kali ini memang dia harus mengalah. Ini hari pertamanya bertemu sang ibu. Khairi tidak ingin membuat kenangan buruk.
*****
"Khairi ke mana, Nak? Kenapa lama sekali?" tanya Bu Nur pada menantunya.
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi, Bu," jawab Afrin mencoba menenangkan mertuanya yang sedang gelisah. Padahal dirinya juga tidak tenang memikirkan ke mana perginya sang suami.
"Apa perlu Laily susul, Bu? Siapa tahu kakak nyasar," ujar Laily.
"Iya, kamu benar. Sebaiknya kamu susul kakakmu mungkin salah jalan," sahut Nur.
Laily pun melangkahkan kakinya berniat mencari Khairi, takut jika pria itu tersesat. Rasanya tidak mungkin mengingat desa itu yang kecil. Jarak rumah itu dan rumah Wulan pun tidak terlalu jauh.
Baru beberapa langkah, gadis itu kembali masuk ke rumah. Tentu saja hal itu membuat Nur dan Afrin menatapnya. Keduanya mengira jika Laily menolak mencari kakaknya.
"Kenapa kembali, Ly? Kamu nggak mau cari kakakmu?" tanya Nur.
"Bukan tidak mau, Bu. Tuh, kakak sudah pulang," sahut Laily sambil menunjuk Khairi dengan dagunya.
"Alhamdulillah, syukurlah dia pulang," ucap Nur dengan mengusap dadanya. Sementara Afrin hanya tersenyum.
"Assalamualaikum," ucap Khairi begitu memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, kamu dari mana saja, Nak? Kenapa lama sekali? Ibu pikir kamu nyasar," tanya Nur.
"Tadi jalan-jalan sebentar, Bu. Lihat pemandangan desa, ternyata sangat menyejukkan mata," jawab Khairi.
"Menyejukkan mata? Menyejukkan mata dalam artian sebenarnya atau apa nih?" tanya Afrin dengan memicingkan matanya ke arah sang suami.
Khairi dibuat heran dengan tingkah istrinya. Dia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapan Afrin. Memang apa salahnya jika pria itu melihat pemandangan?
"Arti sebenarnya apa, sih, Sayang? Aku nggak ngerti."
"Maksudnya, kakak tadi beneran lihat pemandangan berupa alam dan sejenisnya atau pemandangan berupa gadis cantik," ujar Laily membuat Khairi melongo.
Pria itu segera mendekati sang istri dan menjelaskan jika dia benar-benar melihat pemandangan. Khairi juga tidak berminat pada gadis desa atau gadis lainnya. Tanpa malu pria itu merayu Afrin, sesekali mencium pipi istrinya. Justru itu membuat Nur dan Laily tersenyum sekaligus malu.
.
__ADS_1
.
.