
"Selamat pagi," sapa seorang wanita yang baru saja datang.
Semua orang menoleh ke arah sumber suara, mereka terkejut, kenapa wanita ini masih datang ke sini?
"Tisya ... Pagi sekali kamu datang, ada apa?" tanya Karina.
Orang yang baru saja datang memanglah Tisya, ia masih akan berusaha merebut kembali Emran, karena baginya pria itu adalah miliknya jadi, ia akan berusaha merebutnya dengan berbagai cara.
"Biasanya juga aku datang ke sini pagi Tante, kenapa baru tanya sekarang?"
"Dulu dan sekarang itu berbeda, dulu kamu datang dengan tujuan ingin mengambil hati Emran, tapi sekarang dia sudah punya istri jadi, apa tujuanmu sekarang?"
"Aku masih dengan tujuan yang sama, yaitu mengambil hati Emran. Bukankah, pria bisa menikahi wanita lebih dari satu? Mantan suaminya juga memiliki istri kedua, tidak masalah bukan, kalau Emran menikah lagi?" ucap Tisya sambil menunjuk Yasna.
Yasna mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja, kenapa ada wanita tidak tahu malu seperti dia dan bagaimana wanita ini bisa mengetahui tentang masa lalunya?
"Tapi sayangnya aku tidak berniat menikah lagi, istriku cukup satu dan itu adalah Yasna bukan lainnya." Emran menggenggam tangan istrinya.
"Apa tidak ada lagi celah di hatimu untukku?"
"Tidak."
"Aku sangat mencintaimu, Ran! Beri aku Kesempatan, aku akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku."
"Maaf, Sya, aku tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu, jangan kau sia-siakan waktumu hanya untuk hal yang tidak mungkin."
"Maafkan aku." Tisya menangis mendengar penolakan Emran.
"Mungkin kalian memang tidak berjodoh, semoga tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dari Emran," ucap Karina.
"Aku masih boleh datang ke sini kan, Tante?"
"Itu--
"Terima kasih Tante, aku janji tidak akan membuat masalah." Tisya memeluk Karina sambil menangis.
Karina menatap Emran seolah bertanya, bagaimana? Emran hanya mengangkat bahunya acuh.
"Pa, aku sudah selesai. Ayo, berangkat!" seru Aydin.
"Makanan kamu belum habis, Aydin," sahut Yasna.
"Aku kenyang lihat drama pagi-pagi," ucap Aydin. "Yang antar hari ini siapa? Papa atau Pak Hari?"
"Hari ini Papa sama Bunda yang antar," jawab Emran.
"Aku boleh ikut? Aku nggak bawa mobil soalnya," sela Tisya.
"Sekolah anak-anak sama kantor kamu beda arah, kami nggak ke arah sana," ucap Emran.
"Memangnya kamu nggak ke kantor? Kan searah sama perusahaan kamu."
__ADS_1
"Tidak, aku masih cuti."
"Pa, ayo! Malah ngobrol!" tegur Aydin.
"Iya, Afrin sudah selesai?"
"Sudah, Pa," jawab Afrin.
"Ayo, Sayang! kita antar anak-anak," ajak Emran.
Sebenarnya Yasna malu mendengar panggilan baru untuknya. Namun, ia juga ingin menunjukkan pada semua orang jika hanya dia, satu-satunya istri Emran.
"Iya, Mas," sahut Yasna. "Ma, kami berangkat dulu, assalamualaikum."
Yasna mencium punggung tangan Karina diikuti yang lain.
"Waalaikumsalam."
Emran dan Yasna pergi mengantar anak-anak ke sekolah, meninggalkan Tisya dan Karina.
"Kamu sudah sarapan, Sya? Kalau belum, ayo, Sama Tante sini!"
"Tidak usah Tante, saya mau berangkat kerja, saya pergi dulu." Tisya pergi dan segera memesan taksi.
****
Setelah mengantar anak-anak Emran mengajak Yasna ke sebuah pantai, di sana nampak sedikit pengunjung, karena sekarang bukan hari libur. Mereka duduk di tepi pantai, Yasna bersandar pada pundak Emran.
"Mas, sering ke sini?"
"Kalau sama almarhum mamanya anak-anak, Apa pernah ke sini?"
"Kenapa tiba-tiba nanya tentang dia?"
"Aku hanya ingin tahu, Mas sudah tahu semua tentangku, tapi aku sama sekali tidak tahu apapun tentang Mas."
Emran diam sejenak sebelum menjawab. "Dulu, aku sama almarhum pernah ke sini sekali, dia tidak begitu suka dengan laut, dia lebih suka datang ke tempat hiburan, dengan berbagai wahana yang menantang. Aku jarang menemani dia pergi ke tempat seperti itu, kalau pun aku harus menemaninya, hanya sebagai penonton. Aku tidak pernah naik wahana, aku tidak suka."
"Mas, tidak suka atau takut?"
"Dua-duanya lah."
"Bilang aja takut, pake bilang tidak suka," cibir Yasna.
Emran diam tidak menanggapi, ia menatap lurus ke arah pantai.
"Kalau kamu sendiri, sering pergi kemana saja sama dia?"
"Dia siapa?"
"Ck, pura-pura tidak tahu, ya, mantan"
__ADS_1
"Aku bahkan tidak bisa keluar rumah."
"Maksudnya?"
"Kak Zahran selalu melarangku pergi kemana pun, jika ingin pergi, aku harus selalu bersamanya. Saat itu aku berpikir bahwa dia sangat perhatian padaku, tapi pada akhirnya aku tahu jika itu hanya untuk menutupi rahasia, kalau dia sudah memiliki istri yang lain." Yasna menegakkan tubuhnya dan menatap Emran. "Mas tidak akan mengkhianatiku, kan? Mas tidak akan menikah lagi, kan?"
Emran juga menatap Yasna dan menggenggam tangan istrinya itu dan berkata, "Aku tidak akan mengkhianatimu, apalagi sampai menikah. Bagiku hanya kamu istriku dan ibu dari anak-anakku."
Yasna memeluk Emran dengan sangat erat, ia sangat takut kejadian lalu terulang kembali, apalagi tadi ia mendengar, seorang wanita dengan suka rela, ingin menjadi istri kedua untuk Emran.
Emran juga tahu ketakutan Yasna, karena istrinya itu pernah merasakan sakitnya dikhianati dan ia berjanji, akan selalu bersama istrinya dalam keadaan apapun.
"Kita ke rumah ibu, yuk! Ambil baju-baju kamu,"
"Aku telepon ibu dulu, nanyain di rumah apa sudah pergi ke toko."
Yasna menghubungi Ibunya dan menanyakan keberadaannya saat ini, ternyata hari ini toko masih tutup.
"Ibu di rumah, Mas. Ayo, ke sana!"
*****
"Sorry telat," ucap Zahran.
"Lo yang buat janji, lo juga yang telat," ucap Reno, teman Zahran.
"Ngapain lo, ngajakin kita ketemu di sini? Lagi enak cari teman kencan lo gangguin," gerutu Arif.
"Yasna sudah menikah," ucap Zahran.
"Memang kenapa kalau dia menikah? Lo udah ceraiin dia jadi, itu bukan urusan lo lagi," sahut Arif.
"Udahlah Bro, sebaiknya lo move on, Yasna juga berhak bahagia, dulu kita sudah sering ngingetin lo, tapi lo nggak pernah mau dengerin kita, lo malah kurung si Yasna di rumah, dengan berbagai alasan demi kebaikannya, padahal itu cuma buat nutupin kesalahan lo," ujar Reno.
"Gue cuma nggak mau kehilangan dia."
"Pada akhirnya lo kehilangan dia juga, kan? Gue berani bertaruh, jika yang nggak bisa punya keturunan itu lo, Yasna tidak akan pernah berpaling, apalagi ninggalin lo," ujar Reno.
"Gue juga sependapat sama Reno, karena Yasna tulus mencintai lo," sahut Arif.
"Gue juga tulus mencintai Yasna."
"Tulus dari mana? Lo nikah lagi tanpa izin dari dia dan itu berarti lo mengkhianatinya," sahut Reno.
"Sebaiknya lo bangun rumah tangga lo saat ini dengan baik, gue rasa Avi bisa jadi istri yang baik," ucap Arif.
"Iya, kasihan juga anak-anak lo, kalau kalian pisah," sela Reno.
.
.
__ADS_1
.
.