Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
175. S2 - Kanker


__ADS_3

Nayla memasuki ruangan dokter. Di sana tampak seorang dokter laki-laki sedang mencatat sesuatu di bukunya, dengan di sampingnya ada seorang suster yang membantu.


"Silakan duduk, Bu," ucap suster tersebut.


"Terima kasih," sahut Nayla dengan tersenyum. Meski kini dirinya sedang tidak baik-baik saja.


Tubuh wanita itu terasa dingin. Bajunya sudah basah oleh keringat. Kedua tangannya saling bertautan, mencoba menyalurkan kegelisahan yang dia rasakan.


"Dengan Bu Nayla?" tanya dokter yang bernama Jefri.


"Iya, benar, Dokter."


"Mari, ikut saya ke ruangan sebelah! Kita harus melakukan beberapa pemeriksaan."


Dokter dengan dibantu seorang suster melakukan beberapa pemeriksaan. Nayla sempat menolak saat dia harus membuka pakaian atasnya, untuk melakukan USG, tetapi suster mencoba memberi pengertian jika ini untuk kebaikan dan kesehatannya jadi, tidak apa-apa.


Meski berat, wanita itu akhirnya mau melakukan permintaan dokter. Setelah selesai Nayla kembali ke tempat duduknya semula. Menunggu dokter memeriksa hasil pemeriksaannya.


"Maaf, di mana keluarga Anda?" tanya Dokter setelah kembali dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


"Bekerja, Dokter."


"Apa tidak ada yang mengantar Anda?"


Nayla hanya menggeleng. Dokter beberapa kali menarik nafas dan menghembuskannya secara perlahan. Dia bingung harus mengatakan apa pada pasiennya.


"Dokter katakan saja, saya sudah siap mendengarkannya?" ucap Nayla seolah tahu keraguan dokter itu.


"Begini, Bu. Setelah tadi kita melakukan beberapa pemeriksaan terhadap tubuh Anda, ternyata benar seperti yang saya diperkirakan sebelumnya, ibu terkena kanker payudara dan sudah menyebar ke kelenjar getah bening dan juga tulang."


Dunia Nayla runtuh seketika. Meski sebelumnya dia sudah memperkirakan ini semua, tetap saja mendengar dokter mengatakan hal itu secara langsung membuat semangat hidupnya hancur.


"Apa Anda sebelumnya tidak pernah merasa sakit atau sesuatu yang lainnya?"


"Tidak, Dokter. Saya tidak merasakan apa pun sebelumnya," jawab Nayla. "Lalu apa saya masih bisa sembuh, Dokter."


"Melihat keadaan Anda yang saat ini sedang hamil, kemoterapi tidak disarankan untuk pengobatan, jadi untuk saat ini mungkin hanya obat penghilang rasa sakit saja yang bisa saya berikan. Saran saya nanti kita terpaksa harus mengeluarkan bayi Anda sebelum waktunya dan berlanjut dengan pengobatan Anda."


"Maksud Anda apa, Dokter?"


"Maksud saya, bayi Anda terpaksa harus dilahirkan saat usia tujuh bulan atau istilahnya bayi lahir prematur. Jadi nanti di usia tujuh bulan atau dua bulan lagi kita terpaksa mengeluarkannya dan ibu bisa menjalani kemoterapi."

__ADS_1


Mendengar penjelasan dokter semakin membuat kepala Nayla pecah. Terlalu mengerikan di setiap jalan yang akan diambil, tetapi dia tidak mungkin hanya berdiam diri saja.


"Apa tidak apa-apa, untuk anak saya?" tanya Nayla dengan menatap Dokter Jefri. Berharap ini memang jalan terbaik untuk dia dan babynya.


"Tidak apa-apa, Bu. Banyak bayi yang lahir di usia tujuh bulan dan mereka sehat-sehat saja. Nanti kita bisa berkonsultasikan dulu dengan dokter kandungan dan memeriksa keadaan bayi Ibu Nayla. Jika memungkinkan maka kita akan melakukan operasi sesegera mungkin."


Dalam hati wanita itu sedikit ragu. Dia takut terjadi sesuatu pada anaknya. Apalagi Nayla juga banyak tahu tentang bayi prematur. Wanita itu sering membaca artikel semacam itu semenjak kehamilannya.


Setelah ini Nayla akan mencari tahu sendiri tentang bayi prematur dan juga tentang penyakitnya. Dia yakin pasti ada sesuatu yang tidak dikatakan dokter padanya.


*****


Sore hari Aydin pulang dari kerja. Tadi Nayla sudah mengirim pesan, jika dia sudah pulang lebih dulu dengan alasan bosan berada di butik. Padahal wanita itu sama sekali tidak pergi ke sana.


"Assalamualaikum," ucap Aydin saat memasuki unit apartementnya.


"Waalaikumsalam, Mas sudah pulang?" sambut Nayla dengan tersenyum.


"Sudah, Sayang."


Nayla mencium punggung tangan Aydin yang dibalas pria itu dengan mengecup kening wanita itu. Dirangkulnya tubuh sang istri untuk duduk di ruang tamu.


"Kamu kenapa tadi pulang sendiri? 'Kan aku sudah bilang, jangan kemana-mana sendiri."


"Bagus, kalau mereka memang melakukan hal itu, jadi aku bisa tenang saat kamu pergi ke sana."


Nayla mendengus kesal mendengar perkataan suaminya. Aydin hanya tersenyum melihatnya.


"Oh, iya, Sayang. Kapan jadwal pemeriksaan baby?" tanya Aydin.


"Masih satu minggu lagi, Mas."


"Aku tidak sabar ingin melihat bagaimana perkembangannya."


"Aku juga tidak sabar." Nayla melihat senyum di wajah Aydin. Bagaimana bisa dia mengatakan tentang keadaannya di saat wajah sang suami terlihat begitu ceria. Itu pasti akan sangat menyakiti hati pria itu, tetapi jika Nayla tidak mengatakannya, Aydin juga pasti akan tetap terluka nanti, saat mengetahuinya dari orang lain.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu, Sayang?" tanya Aydin dengan menyernyitkan keningnya.


"Tidak apa-apa, aku hanya senang saja. Kamu terlihat sangat bahagia."


"Tidak ada yang lebih membahagiakan dengan kehadiran baby. Dia adalah anugerah terindah dalam hidupku, tapi kamu lebih dari segalanya."

__ADS_1


"Kalau kamu diharuskan memilih. Mas, pilih siapa? Aku atau baby?"


"Kamu ngomong apa, sih, Sayang? Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tidak mungkin bisa memilih diantara kalian, karena kalian adalah hidupku. Aku tidak tahu bagaimana kehidupanku tanpa kalian," jawab Aydin. "Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?"


Aydin menatap istrinya dengan saksama. Dia merasa ada yang aneh dengan pertanyaan Nayla. Pria itu curiga terjadi sesuatu pada wanita itu.


Nayla jadi salah tingkah. Dia tidak ingin suaminya curiga, wanita itu sudah berusaha menutupi segalanya dari Aydin. Akan ada waktunya nanti Nayla menceritakan semuanya, tetapi tidak sekarang.


"Kamu dan baby tidak apa-apa, kan?"


"Tidak apa-apa, Mas. Aku hanya bertanya saja."


"Benar kalian tidak apa-apa?"


"Iya, nanti 'kan ketemu dokter tanyakan saja sama dokter kandungannya, saat kita periksa nanti." Aydin mengangguk, membenarkan kata Nayla. Semoga saja firasatnya tidak benar mengenai keadaan Nayla.


"Ya sudah, Mas mau mandi atau makan dulu?" tanya Nayla.


"Mandi dulu, dong, Sayang."


"Aku siapin air hangat dulu, ya." Nayla akan beranjak. Namun, Aydin mencegahnya.


"Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri." Aydin segera berlalu memasuki kamarnya untuk membersihkan diri.


Sementara Nayla memandang punggung sang suami yang menghilang dibalik pintu. Setetes air mata kembali membasahi pipinya, dengan segera wanita itu menghapus agar sang suami tak melihat.


'Mudah-mudahan apa yang sudah aku putuskan ini adalah yang terbaik. Aku tidak ingin kamu dalam kesulitan, memilih antara aku dan baby. Ini sudah menjadi keputusanku dan semoga kamu juga mengerti pilihanku.'


Nayla akan beranjak menuju meja makan untuk menyiapkan makanan untuk suaminya. Tiba-tiba punggungnya terasa sakit hingga membuat dia kembali duduk. Wanita itu menahan kesakitannya, dia menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.


Keadaan ini benar-benar membuatnya tersiksa. Rasanya lebih menyakitkan dari bayangannya selama ini, dengan langkah tertatih Nayla berjalan menuju kamar tamu dan masuk ke toilet agar sang suami tidak melihatnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Mohon maaf jika ada penjelasan mengenai penyakit kanker yang tidak sesuai. Saya hanya menceritakan apa yang saya ketahui.


.


__ADS_2