Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
152. S2 - Rencana pernikahan


__ADS_3

"Bunda adalah panutanku. Terima kasih sudah mau menjadi orang tuaku. Aku sangat senang memiliki bunda," ucap Nayla dengan memeluk Yasna.


"Bunda juga senang memiliki kamu. Kamu harus tunjukkan pada semua orang jika kamu wanita yang kuat dan hebat."


"Iya, Bunda. Aku akan berusaha menjadi wanita yang kuat dan hebat agar Bunda kagum padaku."


Dalam hati, Nayla bertekad akan berusaha menjadi wanita yang kuat. Pasti tidak akan mudah menjadi seorang istri dari Aydin Al Husayn. Jalan yang dia tempuh masih sangat panjang karena itu Nayla tidak boleh goyah.


"Gini dong, ini baru anak bunda," ucap Yasna sambil mempererat pelukannya pada Nayla.


Dia sangat senang bisa mengenal gadis sepertinya, yang mau berjuang untuk dirinya sendiri dan membantu sesama. Tidak banyak orang yang seperti Nayla. Apakagi dia seorang gadis.


"Bunda, aku harus kembali ke butik, takutnya ada sesuatu yang tidak bisa dikerjakan oleh Fika dan Via," ucap Nayla setelah mengurai pelukannya.


"Iya, hati-hati jangan ngebut."


"Iya, Bunda. Assalamualaikum." Nayla mencium punggung tangan Yasna dan berlalu meninggalkan rumah itu.


Dalam perjalanan Nayla berpikir, betapa beruntungnya dia, memiliki calon suami seperti Aydin dan keluarga mertua seperti Emran dan Yasna. Mereka baik pada siapa pun tanpa pandang bulu.


Gadis itu banyak mendengar dari teman-temannya jika mertua mereka tidak sebaik yang mereka pikir. Bahkan tak jarang dari mereka sering berdebat dengan ibu mertuanya. Mudah-mudahan itu tidak terjadi padanya. Nayla berharap Yasna akan selalu baik dan menyayanginya layaknya anak sendiri.


*****


"Bagaimana Bunda tadi urusan dengan event organizernya?" tanya Aydin saat mereka sedang berkumpul di ruang keluarga, sambil menonton acara televisi.


Ada Emran dan juga Afrin di sana. Namun, mereka diam, menyimak obrolan Yasna dan Aydin dengan sesekali melihat ke layar kaca di depannya.


"Ya, begitulah, karena semua acara mendadak dan Nayla juga, tidak punya gambaran tentang acara resepsinya jadi, semuanya kita serahkan sama EOnya. Bunda juga bingung mau acara seperti apa."


Aydin menganggukkan kepala. Dia sendiri juga tidak memiliki rencana apa pun mengenai acara pernikahannya, yang penting baginya semua berjalan lancar dan sakral.


Setiap pasangan pengantin pasti menginginkan hal itu. Restu ayah dan ibu dari kedua belah pihak, sangat penting bagi mereka agar kelak rumah tangga yang dijalaninya, lebih mudah dan berkah.


"Apa Nayla tidak mengatakan sesuatu? Mungkin keinginannya, Bunda?" tanya Aydin.


"Iya, dia mengatakan jika dia ingin nuansanya berwarna putih dan ungu muda. Dia juga tadi nambahin ingin ada bunga anggrek berwarna ungu."


"Ungu muda? Kenapa harus ungu? Bukankah ungu itu melambangkan seorang janda?"

__ADS_1


"Hush ..., kamu itu jangan bicara seperti itu. Tidak baik mempercayai hal seperti itu. Sekarang banyak juga pernikahan yang dekorasinya berwarna ungu. Kamu jangan terlalu percaya pada mitos-mitos seperti itu."


"Iya, Bunda. Aku cuma dengar saja dari temen-temen yang lain. Katanya ungu itu melambangkan seorang janda."


"Kamu sekarang suka bergosip, ya, Kak!" cibir Yasna dengan memicingkan matanya.


"Cuma denger, Bunda. Masa ada temen ngobrol saya cuekin. Nggak sopan dong namanya," kilah Aydin dengan tersenyum.


Pria itu tahu bundanya tidak suka dia berbicara seperti itu. Apalagi percaya dengan hal yang tidak diketahui kebenarannya.


"Bilang saja kalau kakak itu suka bergosip. Banyak juga laki-laki zaman sekarang yang suka bergosip," sela Afrin yang sengaja ingin membuat bundanya memberi ocehan pada Aydin.


"Kamu ikut-ikutan saja. Sana lihat acara televisi saja. Kalau kamu enggak mau nonton, sini biar kakak nonton sepak bola saja," sahut Aydin dengan berusaha merebut remote control di tangan adiknya. Namun, Afrin berusaha berkilah dan menyembunyikannya.


"Nggak boleh, enak saja, lagi asyik juga. Iya, kan, Bunda," ucap Afrin dengan bergelayut di lengan Yasna dengan manja.


Aydin tidak bisa lagi berkutik jika Afrin sudah bergelayut pada bundanya. Sudah pasti akan ada ceramah panjang malam ini. Pria itu memilih kembali duduk kembali.


"Terus, apalagi Bunda, yang diinginkan Nayla?" tanya Aydin lagi.


"Tidak ada, hanya itu saja. Kalau kamu sendiri tidak ingin menambahkan sesuatu? Nanti Bunda sampaikan pada event organizernya," tanya Yasna.


Setiap manusia pasti menginginkan pernikahan hanya sekali seumur hidup karena itu, Yasna tidak ingin putranya nanti menyesal karena tidak mengutarakan keinginannya.


"Kakak nikah kenapa nggak punya keinginan sesuatu, sih! Masa semuanya di serahin sama EO-nya, nggak kreatif," cibir Afrin.


"Biarin saja, Kakak juga nggak ada keinginan sama sekali."


"Kalau mengenai keinginan Nayla, kamu setuju, kan?" tanya Yasna lagi.


"Setuju saja, sih, Bunda. Tidak ada masalah warna apa dekorasinya. Sebenarnya kemarin aku sempat takut, kalau Nayla kayak istrinya temenku yang aneh-aneh."


"Aneh-aneh bagaimana?" Yasna memicingkan matanya, dia merasa heran dengan maksud Aydin.


"Calon istri temenku itu ingin nuansanya seperti boneka pink, ada yang pengen jadi ratu sehari kayak Cinderella. Aku, kan jadi ngeri juga kalau Nayla seperti itu mungkin lucu buat para wanita, nah aku!"


Yasna dan Afrin tertawa terpingkal-pingkal. Mereka tidak menyangka jika Aydin bisa berpikir seperti itu. Sebagai wanita, mereka saja tidak pernah memikirkannya.


Tawa mereka tidak juga berhenti membuat sudut mata Yasna berair, begitu pun dengan Afrin. Mereka tidak menyangka jika Aydin bisa memikirkan apa yang diucapkan temannya. Padahal selama ini pria itu dikenal masa bodo pada apa pun.

__ADS_1


Aydin melirik malas pada kedua wanita yang dia sangat sayangi itu. Dia tahu apa yang dikatakannya memang sungguh menggelikan, tetapi ditertawakan seperti itu juga membuat pria itu merasa malu. Bahkan Emran pun ikut tertawa meski hanya tawa kecil.


"Ya ampun, kenapa Kakak bisa berpikir seperti itu? Aku saja nggak pernah kepikiran ke sana. Apalagi Kak Nayla yang sudah berpikiran dewasa. Mana mau dia buat acara seperti itu."


"Calon istri temanku ada yang seperti itu jadi, aku sedikit ngeri juga."


"Tapi, mereka pasti sudah mengidolakannya. Sedangkan Kak Nayla, nggak ada tuh kode menyukai sesuatu seperti yang Kakak bilang tadi," ucap Afrin yang masih dengan tawanya.


"Sudah-sudah, kalian ini, tidak baik seperti itu," tegur Emran.


"Habisnya Kakak lucu banget."


"Kalau tahu begini, lebih baik aku tadi nggak cerita," sahut Aydin dengan suara pelan. "Aku mau ke kamar, mau teleponan sama calon istri."


Aydin pergi menuju kamarnya. Yasna mengusap sudut matanya yang berair dan masih berusaha meredakan tawanya.


"Sayang, sudah, nggak usah berlebihan ketawanya," tegur Emran.


"Iya, Mas. Ini juga sudah mencoba nahan dari tadi."


"Afrin, sudah nggak ada tugas sekolah? Dari tadi nonton sinetron terus," tanya Emran pada putrinya


"Sudah selesai, Pa, tadi sore dibantu juga sama Bunda."


"Sekarang waktunya tidur. Sudah malam."


"Masih juga Jam sembilan, Pa."


"Memang mau tidur jam berapa? Cepat sana tidur! Besok sekolah terlambat."


"Iya, Pa," sahut Afrin dengan cemberut.


Gadis itu berdiri dan pergi menuju kamarnya. Sementara di ruang keluarga masih ada Yasna dan Emran yang masih berbincang. Banyak hal yang harus mereka persiapkan untuk pernikahan Aydin.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2