Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
231. S2 - Hari pertama


__ADS_3

"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Khairi begitu memasuki kamar dia langsung merebahkan tubuhnya, tanpa berganti pakaian.


"Mas, ganti baju dulu, nanti ketiduran. Mas juga belum salat isya." tegur Afrin


"Iya, sebentar lagi, Sayang. Aku masih capek," sahut Khairi dengan memejamkan matanya.


Afrin pun membiarkan sang suami. Dia sendiri juga sangat lelah, tetapi gadis itu lebih memilih pergi ke kamar mandi karena kalau sudah merebahkan tubuhnya di atas kasur, Afrin paling malas untuk beranjak. Dia membersihkan diri dan berganti pakaian.


Selesai mandi, gadis itu mendekati Khairi dan segera membangunkan sang suami. Benar, seperti perkiraannya kalau pria itu pasti tertidur.


"Mas, bangun! Mandi dulu lalu salat," ucap Afrin sambil mengguncang tubuh Khairi.


"Hmm." Khairi berjalan ke kamar mandi dengan mata yang masih terpejam. Afrin menggelengkan kepala, bisa-bisanya dia memiliki suami seperti itu yang bertingkah seperti anak kecil.


"Sayang, kamu sudah salat isya? Ayo, aku imami!" ucap Khairi setelah mandi.


"Aku lagi halangan, Mas."


"Astaghfirullahaladzim."


"Ada apa, Mas?" tanya Afrin khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya.


"Hilang, dong, malam pertamaku!" ucap Khairi berlalu mengambil wudhu membuat Afrin menahan tawanya. Dia mengerti arti dari ucapan suaminya. **** gadis itu belum pernah merasakannya.


*****


"Ma, sepertinya Mama tidak suka sama Afrin. Kemarin Mama sayang banget sama dia, ada apa?" tanya Hamdan pada istrinya.


"Mama cuma nggak suka aja dengan sikapnya kemarin, yang sudah menjadikan Khairi seperti budak. Aku nggak suka anakku dijadikan seperti itu."


"Tapi, Ma, Afrin juga memiliki alasan kenapa dia sampai melakukan hal itu. Ini semua juga kesalahan Papa. Seandainya saja Papa memikirkan tentang perasaan Khairi saat itu, pasti semua tidak akan terjadi seperti ini. Kalau Mama mau marah, Mama marah saja sama Papa. Kasihan Afrin."


"Mama juga nggak akan selamanya marah sama Afrin. Mama masih kesal saja, mungkin nanti ada saatnya semua akan baik-baik saja."


Hamdan hanya mengangguk tak berbicara lagi. Dia sangat mengerti bagaimana sikap istrinya yang tidak suka dipaksa.


*****


"Sekarang kita ngapain, Sayang? Malam pertama sudah hancur," tanya Khairi dengan memeluk istrinya sambil bersandar di kepala ranjang.


Afrin bersandar di dada suaminya. Tempat baru yang terasa nyaman untuknya. Mulai hari ini dialah yang menjadi tempatnya berkeluh kesah. Bukan berarti wanita itu melupakan kedua orang tuanya, tetapi sudah cukup baginya berkeluh kesah pada mereka. Kini dia hanya akan berbagi kebahagiaan pada papa dan bundanya. Pria yang sedang memeluknya ini yang akan menggantikan tanggung jawab orang tuanya.

__ADS_1


"Kita ngobrol-ngobrol sebentar saja, Mas. Sampai kita merasa ngantuk."


"Ngobrol apa?"


"Apa saja," jawab Afrin. "Aku belum meminta maaf sama kamu soal kejadian kemarin. Aku minta maaf sudah meragukan kamu dan hampir saja kita gagal menikah. Kalau bukan karena keteguhanmu mungkin kita sudah berpisah."


"Sudahlah, itu sudah lewat. Aku juga sudah memaafkanmu."


"Apa Mama marah sama aku gara-gara itu? Aku tahu, meskipun kamu berusaha menutupinya, tapi aku bisa merasakan kalau Mama Merry tidak suka padaku. Padahal sebelumnya biasa saja. Aku tahu kemarin aku sudah melakukan kesalahan yang sangat besar."


"Memang benar, Sayang, tapi itu hanya rasa kecewa mama saja. Lama-kelamaan juga semuanya baik-baik saja. Aku sangat mengenal Mama Merry. Dia hanya ingin meluapkan apa yang ada dalam hatinya saja. Kalau dia memang tidak menyukai kamu. Dia tidak mungkin merestui aku sama kamu."


Khairi tidak menyangka jika Afrin tahu akan hal itu. Sikap Mama Merry kemarin memang sangat terlihat sekali. Tidak heran jika Afrin bisa melihat itu. Dia jadi berpikir, apa mertuanya juga melihat hal itu? Jika iya, pria itu merasa sangat bersalah.


"Aku akan berusaha meyakinkan mama dan meminta maaf padanya," ucap Afrin.


"Aku akan selalu bersama kamu. Kita sama-sama minta maaf sama Mama. Nanti dia pasti akan luluh. Aku sangat mengenalnya."


"Iya, Mas. Mengenai tempat tinggal, kita mau tinggal di mana? Sama orang tua kamu, orang tuaku atau kita tinggal sendiri?"


"Aku juga bingung, belum memikirkan hal itu."


"Begini saja, ini hanya sementara dalam satu bulan ini. Bagaimana kalau tiga hari di rumah orang tuaku, tiga hari di rumah orang tua kamu, satu harinya kita tinggal di apartemenku."


"Boleh, aku juga belum terbiasa berpisah dengan Bunda. Kalau seperti itu, perlahan aku pasti tidak merasa kehilangan."


*****


Paginya, seperti yang mereka bicarakan semalam. Hari ini mereka akan tinggal di rumah keluarga Khairi. Saat akan memasuki rumah, tubuh Afrin bergetar. Entahlah, tiba-tiba saja dia merasa takut. Khairi yang mengerti pun segera menggenggam tangan istrinya dan membawanya masuk. Sementara koper mereka dibawakan oleh pak satpam.


"Tidak apa-apa, ada aku di sini," ucap Khairi sambil tersenyum ke arah istrinya yang kemudian diangguki oleh Afrin.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, kalian sudah datang? Sini, duduk dulu!" ucap Papa Hamdan.


"Papa nggak kerja?" tanya Khairi saat baru duduk.


"Enggak, Papa masih cuti. Apa kalian tidak memiliki rencana untuk berbulan madu? Kalian bilang saja mau ke mana? Nanti tiketnya Papa siapin."


"Enggak perlu, Pa. Afrin, kan, sedang kuliah. Mungkin nanti setelah dia lulus atau mungkin, saat ada malaikat kecil diantara kita yang semakin membuat acara kita menyenangkan."

__ADS_1


"Terserah kalian saja."


"Maaf, Tuan. Makanan sudah siap," sela Bik Asih.


"Iya, Bi," sahut Hamdan. "Kalian belum sarapan, kan? Ayo, kita sarapan!"


"Tunggu sebentar, Pa," sela Afrin.


Dia mendekat ke arah mama mertuanya. Gadis itu ingin meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya. Afrin duduk di samping Mama Merry dan menggenggam tangan wanita paruh baya itu.


"Maafin Afrin, Ma. Sudah mengecewakan Mama. Aku tahu kesalahanku sangat besar, yang bisa kulakukan kini hanya meminta maaf pada Mama sekeluarga atas kesalahanku waktu itu."


Sebenarnya Merry belum bisa memaafkan Afrin, tapi dia tidak mungkin mengatakan hal itu di sini. Apalagi ada suaminya dan Khairi. Bisa-bisa mereka menyalahkan dirinya.


"Sudahlah, lupakan saja. Semuanya juga sudah berlalu. Ayo, kita sarapan! Nanti keburu dingin." Merry mengajak suaminya ke ruang makan.


Afrin merasa Mama Meri belum sepenuhnya memaafkan dia. Dilihat dari cara berbicara dan tingkah lakunya, gadis itu sudah tahu.


"Ayo, Sayang! Kenapa masih diam di sini?"


"Tidak apa-apa, Mas, ayo!" Afrin dan Khairi mengikuti orang tuanya ke ruang makan.


Semua menikmati sarapan sambil berbincang. Sedari tadi, Merry hanya mengajak bicara Hamdan dan Khairi. Afrin sama sekali tidak mengeluarkan satu kata pun. Kalaupun dia berbicara, Merry yang akan diam jadi, lebih baik dia saja yang tidak bicara dan memilih menikmati hidangan.


"Fatma mana, Bik? Enggak kelihatan?" tanya Merry pada ART-nya.


"Ada, Nyonya, di belakang, sedang bersiap-siap pergi sekolah," jawab Bik Asih yang diangguki Merry.


Sarapan telah selesai, Afrin ingin membantu untuk membersihkan meja makan, tetapi Merry segera melarangnya.


"Tidak usah, Afrin. Kamu istirahat saja, pasti masih capek kemarin habis resepsi."


"Tidak apa-apa, Ma."


"Sudah kamu ke sana saja," ucap Merry dengan merebut paksa piring yang ada di tangan menantunya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2