
Yasna merasa bosan, ia memutuskan membuat kue kesukaan Afrin, ia tidak tahu kue kesukaan Aydin, mungkin lain kali jika ada waktu berbicara, akan ia tanyakan.
"Tante, lagi buat apa?" tanya Aydin, ia melihat Yasna sibuk di dapur saat ia mengambil minum.
"Buat kue lumpur kesukaan Afrin, Aydin sukanya kue apa? Biar Bunda buatin."
"Brownies."
"Yaahh, coklatnya habis."
"Nggak pa-pa ini saja, aku juga suka kue lumpur."
"Maaf, ya. Lain kali Bunda buatin."
Aydin menganggukkan kepalanya dan berkata, "Boleh aku bantu?"
"Boleh, kamu isi cetakan ini dengan adonan kue, ya!"
"Heemm," gumam Aydin sebagai jawaban.
Sementara Karina dari kejauhan tersenyum melihatnya, akhirnya Aydin mau berinteraksi dengan Yasna. Kehadiran Yasna memang membawa dampak yang luar biasa bagi keluarganya, ia berharap kebahagiaan seperti ini akan bertahan selamanya.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, sebentar lagi adek pulang, kita jemput, yuk! Sekalian kita bawa kue ini, Bunda mau ajak kalian ke suatu tempat, mau?" tanya Yasna yang di jawab Aydin dengan anggukan kepala.
"Sekarang kamu mandi dulu, nanti tunggu Bunda di mobil."
Aydin segera pergi menuju Kamarnya. Sedangkan Yasna memasukkan kue yang ia buat tadi ke dalam kotak, ia juga harus membersihkan diri dulu.
Hari ini Yasna ingin bersenang-senang bersama anak-anaknya, sekaligus saling mendekatkan diri, semoga mereka tidak bosan.
*****
Hari ini Emran ada meeting bersama David di sebuah restoran.
"Saya dengar mantan asisten saya bekerja dengan Pak Emran?" tanya David.
"Benar, Pak," jawab Emran.
"Apa Pak Emran juga merekrut karyawan melalui koneksi?"
"Selama pekerjaannya bagus kenapa tidak! Semua hasil kerjanya bagus, sayang kalau saya harus melewatkannya."
"Kenapa Anda tidak menjadikannya sekretaris, dia juga ahli dalam bidang itu."
"Sebelumnya sudah pernah saya katakan, kalau saya tidak nyaman bekerja dengan seorang wanita, Fazilah juga melamar di bagian lain."
"Apa Pak Emran tahu kenapa dia berhenti dari perusahaan saya secara tiba-tiba?"
"Saya kurang tahu mengenai hal itu, Pak David. Silakan dinikmati hidangannya." Emran mencoba mengalihkan pembicaraan, ia merasa tidak nyaman membicarakan orang lain.
Setelah menikmati makanannya, Emran pamit undur diri, ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
__ADS_1
"Pak David sepertinya ada hati dengan Fazilah," ucap Hendra dalam perjalanan menuju kantor.
"Kamu mau bergosip juga?"
Hubungan Emran dan Hendra memang seperti teman jika diluar jam kerja, bahkan mereka tak sungkan saling mengejek.
"Gue penasaran aja, kenapa Fazilah melepaskan ikan besar di hadapannya begitu saja."
"Kita tidak tahu apa yang terjadi pada mereka, satu hal penting yang tidak bisa membuat mereka bersatu adalah keyakinan dan itu satu hal yang tidak bisa dibuat main-main."
Hendra menganggukkan kepalanya mengerti, ia juga bukan orang yang ahli ibadah, tapi ia tidak akan mau mengorbankan keyakinannya.
"Pak David sudah menikah, rasanya aneh dia menanyakan wanita lain, dia juga tidak pernah membawa istrinya keluar, apa istrinya jelek hingga membuat dia malu?"
"Husss, lo kalau ngomong suka asal, dia pasti punya alasan sendiri, istrinya juga cantik. Sekarang kamu fokus ke depan jangan ngomongin orang lain."
"Cantikan mana istrinya Pak David sama Yasna?"
"Hendra!"
"Gue cuma nanya, karena lo muji istri orang, kali aja dia lebih cantik dari Yasna."
"Yasna yang paling cantik, nggak ada yang bisa ngalahin dia, oke! Sekarang fokus."
Hendra menahan tawanya, sejak Emran menikah tidak ada hari tanpa menyebut nama Yasna, hingga membuat Hendra merasa iri, suatu hari nanti ia juga ingin mempunyai istri sebaik Yasna.
*****
"Bunda, Kakak!" teriak Afrin.
"Mau, memang ke mana Bunda?"
"Ayo, masuk mobil! Nanti Bunda tunjukkan tempatnya."
Mobil yang mereka tumpangi meninggalkan sekolah Afrin, menuju tempat yang ditunjukkan Yasna yaitu danau, tempat yang selalu Yasna datangi dikala senang maupun sedih.
"Kita duduk di sini," tunjuk Yasna pada sebuah kursi panjang di bawah pohon besar.
Afrin dan Aydin hanya mengikutinya, Yasna duduk diantara anak-anak. Mereka menikmati udara siang yang tidak begitu terik sambil berbincang, meski hanya didominasi Yasna dan Afrin, Aydin hanya bicara jika ditanya saja.
"Wah, Papa nggak diajak nih," ucap seseorang yang baru datang, siapa lagi kalau bukan Emran.
Saat dalam perjalanan menuju kantor, Emran mendapat pesan dari Yasna jika saat ini ia mengajak anak-anak keluar, Emran pun meminta Yasna mengirimkan lokasi mereka berada.
"Papa! Papa ada di sini? Nggak kerja?" tanya Afrin.
"Papa sudah selesai kerja." Emran duduk di samping Afrin.
Aydin menundukkan kepalanya, ia masih merasa takut pada Emran, meski selama ini ia suka jahil, tapi ia paling takut jika Emran marah.
Yasna yang melihatnya segera merangkul pundak Aydin, seolah berkata semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
Mereka bercanda sambil menikmati kue yang dibawa Yasna tadi, kali ini Aydin mulai sedikit berbicara, ia senang bisa menghabiskan waktu bersama Papa dan adiknya, ditambah sekarang ada ibu sambung yang begitu menyayanginya.
"Sudah sore, ayo, pulang!" Yasna membereskan kotak kue dan botol minuman yang ia bawa.
"Besok kita ke sini lagi ya, Bunda?" pinta Afrin.
"Iya, kapan-kapan saja, besok Afrin harus sekolah."
*****
Malam harinya Emran berbincang dengan Yasna di kamar.
"Mas aku tadi beli ini." Yasna menunjukkan CCTV yang berbentuk bolpoin pada Emran.
"Apa ini yang kamu maksud kemarin?"
"Iya, Mas. Aku tidak mungkin membiarkan Aydin disalahkan atas apa yang tidak dia lakukan."
"Aku percaya padamu, apapun yang kamu lakukan pasti demi kebaikan anak-anak," ucap Emran. "Aku lihat Aydin sudah mulai lunak sekarang."
"Maksudnya?"
"Kamu pasti mengerti maksudku."
"Mungkin ini yang namanya hikmah dari sebuah masalah, setelah Aydin mendapat masalah membuat hubungan kami semakin dekat."
"Oh ya, tadi aku bertemu dengan Pak David, dia bertanya tentang Fazilah, apa mereka pernah ada hubungan?"
"Begitulah, mungkin mereka sama-sama saling suka, tapi terpisah oleh keyakinan dan status sosial."
"Apa Fazilah berhenti kerja karena pernikahan Pak David?"
"Bisa dikatakan seperti itu, eh, kok Mas jadi suka bergosip, sih!"
"Aku penasaran saja, sepertinya Pak David masih berharap pada Fazilah."
"Terlalu banyak perbedaan mereka, lagi pula Pak David sekarang sudah menikah, Fazilah tidak mungkin mau jadi istri kedua, apalagi sampai menghancurkan pernikahan orang lain, terlepas pernikahan mereka terjadi karena bisnis atau paksaan."
"Kamu tahu banyak tentang Pak David."
"Hanya sedikit mendengar dari Fazilah."
"Sudahlah, tidak usah membicarakan orang lain."
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Yasna, segera ia membukanya ternyata sebuah pesan dari nomor baru dan ia terkejut saat melihat foto profil si pengirim.
'Dari mana dia tahu nomorku?' tanya Yasna dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
.