Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
86. Bersama hanya berdua


__ADS_3

Begitu sampai di rumah ponsel Yasna berbunyi, ternyata Emran yang menghubunginya.


"Halo, Assalamualaikum," ucap Yasna setelah mengangkatnya.


"Waalaikumsalam, kamu di mana, Sayang? Kenapa kamu nemuin Celina? Kan, aku sudah bilang, kamu nggak usah nemuin dia." tanya Emran beruntun dengan nada khawatir.


Dia takut Celina melakukan sesuatu pada Yasna. Wanita itu pun menenangkan suaminya dan mengatakan bahwa dirinya saat ini baik-baik saja.


"Aku nggak papa, Mas. Celine nggak ngapa-ngapain, kok. Kita cuma ngobrol-ngobrol sebentar," bohong Yasna. Dia tidak ingin suaminya khawatir, dia juga takut Emran tahu tentang Celina dan almarhum adik iparnya.


"Benar, dia enggak melakukan apa pun sama kamu?"


"Iya, Mas."


Ada kelegaan dalam nafas Emran yang terdengar di balik telepon.


"Ya sudah kalau begitu, aku tutup teleponnya, ya? Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."


"Iya, Mas. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Yasna mematikan sambungan telepon.


"Yasna ... kamu baru pulang?" tanya Mama Karina yang berada di ruang keluarga.


"Iya, Ma. Tadi ada urusan," Jawab Yasna sedikit berbohong karena dia tidak tahu, harus mengatakan apa, tentang pertemuannya dengan Celina. "Aku masuk dulu ya, Ma."


"Iya."


*****


Satu minggu telah berlalu. Pagi ini Emran mendapat pesan dari Celina Jika dia meminta maaf atas apa yang sudah dilakukannya. Wanita itu juga mengatakan, kalau akan mengikuti suaminya ke luar negeri dan memulai hidup yang baru di sana.


"Ada apa sih, Mas. Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Yasna yang baru saja selesai mandi.


"Celina sudah memutuskan untuk ikut suaminya ke luar negeri. Aku senang karena sudah tidak ada lagi yang mengganggu rumah tangga kita," jawab Emran tersenyum.


"Alhamdulillah kalau gitu, tapi kok, kirim pesan ke Mas, sih! Bukan ke Mama Karina?"


"Dia juga ingin meminta maaf, Sayang karena selama ini dia sudah mengganggu rumah tangga kita. Coba lihat pesannya," ucap Emran dengan memberikan ponselnya kepada Yasna.


"Sudahlah tidak perlu. Ayo! Semuanya sudah menunggu di ruang makan," ajak Yasna.


Mereka menuju ruang makan dengan beriringan. Di sana sudah ada Mama Karina, Afrin dan Aydin.


"Selamat pagi, semuanya." sapa Yasna.


"Pagi, Bunda."


"Ayo, baca doa dulu!" ucap Yasna setelah duduk.

__ADS_1


Dengan semangat Afrin menadahkan tangannya dan berdoa. Mereka makan dengan tenang. Setelah itu anak-anak pergi ke sekolah dengan diantar Emran dan Yasna.


"Papa, nggak kerja?" tanya Afrin saat mereka masih dalam perjalanan ke sekolah.


"Tidak, Papa libur hari ini.


"Pulang nanti, Papa, yang jemput?"


"Tidak, Papa ada pekerjaan nanti siang, Pak Hari yang jemput kalian," jawab Emran yang diangguki Afrin.


Hari ini pria itu tidak ada pekerjaan. Dia memutuskan untuk mengambil cuti seminggu karena ingin jalan-jalan bersama dengan Yasna, hanya berdua saja.


Usai mengantar anak-anak Emran mengajak Yasna pergi. Mereka menaiki mobil yang dikemudikan Emran sendiri.


Melihat arah perjalanan Yasna tahu jika ini menuju luar kota, tapi mau kemana? Karena penasaran Yasna pun bertanya, "Kita mau kemana, Mas? Kenapa ke luar kota?"


"Aku ingin pacaran sama kamu. Sudah lama kita tidak kencan."


"Kamu ini ada-ada saja, Mas. Kita ini sudah tua."


"Memangnya kenapa kalau sudah tua? Banyak yang lebih tua dari kita, tapi mereka masih terlihat mesra di tempat umum. Aku juga merasa masih sangat muda. aku masih kuat melakukan apapun."


Yasna mendengus seolah mencibir kata-kata Emran.


"Kok gitu sih, Sayang. Aku berkata apa adanya loh."


Hingga mereka sampai lah di sebuah villa di dekat pantai. Yasna merasa sangat senang karena dia memang menyukai pantai.


"Mas, yang menyewa Villa ini?"


"Iya, spesial buat kamu."


"Bagaimana dengan Afrin dan Aydin? Pasti mereka akan mencariku." Yasna merasa senang sekaligus khawatir pada anak-anaknya.


"Kalau Aydin sudah tahu mungkin Afrin yang bakal cariin kamu, tapi kamu tenang saja Mama pasti bisa menenangkannya. Setelah tiga hari, mereka bakal nyusulin kita ke sini. Kita liburan bareng," ujar Emran yang diangguki Yasna.


Emran membawa Yasna masuk ke villa yang cukup besar untuk dihuni 2 orang.


"Apa ini tidak terlalu besar, Mas? Kita cuma berdua, tapi ini cukup untuk 10 orang."


"Tidak apa-apa lagi pula, vila di sini memang semuanya besar-besar. Ada sih yang kecil tapi jauh dari pantai, kamu pasti kurang suka karena itu, aku memilih yang ini."


Yasna menganggukkan kepala. Mereka memasuki salah satu kamar yang menghadap pantai. Wanita itu membuka tirai jendela dan dapat dia lihat pemandangan pantai dengan gelombang yang bergemuruh.


Emran memeluk Yasna dari belakang, membuat istrinya itu menyandarkan kepalanya di dada pria itu.


"Kamu suka nggak, Sayang? tanya Emran.


"Suka banget, Mas. Aku sudah lama nggak pacaran sama kamu. Biasanya kalau liburan kita selalu rame-rame, sama anak-anak. Maksudnya--."

__ADS_1


"Aku ngerti kok. Terkadang kita juga perlu waktu untuk berdua. Aku tahu maksud kamu jadi, tidak perlu merasa bersalah karena aku juga merasakannya."


Yasna tersenyum mendengarnya, sementara Emran semakin mempererat pelukannya. Menyalurkan betapa besar rasa sayang dan cinta untuk istrinya itu.


Sore hari Yasna dan Emran pergi ke pantai. Mereka ingin menikmati pemandangan sunset di tepi pantai. Banyak pasangan suami istri yang menghabiskan waktu di sana mungkin mereka penghuni villa di sekitar pantai.


Karena masih terlalu siang Emran Dan Yasna menelusuri tepi pantai, sebelum sunset tiba. Emran berjongkok di depan Yasna membuat wanita itu bingung.


"Kenapa, Mas?"


"Ayo, aku gendong! Kamu pasti capek."


"Aku nggak capek, kok, Mas."


"Nggak pa-pa, ayo! Mumpung aku lagi mau romantis sama kamu."


"Bener nggak papa nih? Nanti kalau encok bagaimana?" ejek Yasna.


"Apa sih, Sayang. Aku masih kuat, tulang aku juga masih kokoh, masih kuat gendong kamu."


Yasna senang mendengarnya. Dia melingkarkan tangannya di leher Emran dan segera naik ke punggung suaminya. Meski sedikit berat Emran berusaha berdiri dan berjalan dengan pelan.


"Apa tidak berat, Mas?"


"Tidak."


Yasna meletakkan dagunya di pundak Emran. Pria itu melanjutkan langkahnyanya, menelusuri tepi pantai dengan menggendong istrinya. Mereka berbincang sambil bercanda dan tertawa.


"Mas, kita duduk di sini saja. Sebentar lagi sunset, aku nggak mau kelewatan." Yasna mengajak Emran duduk.


Pakaian mereka sudah basah, karena ketika ombak datang tubuh mereka terkena ujung gelombang dan akhirnya membuat tubuh suami istri itu sedikit basah.


"Pemandangannya indah sekali, Mas," ucap Yasna tanpa mengalihkan pandangan matanya dari tempat tenggelamnya matahari.


"Heem," gumam Emran dengan merangkul pundak Yasna, membuat wanita itu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


"Semoga kebersamaan kita seperti ini, akan terjalin selamanya."


.


.


.


.


.


END

__ADS_1


__ADS_2