Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
78. Menitipkan anak


__ADS_3

Yasna masih memandangi suaminya dengan lekat, membuat Emran merasa risih.


"Kenapa sih, Sayang? Mandangnya seperti itu?" tanya Emran dengan membalas tatapan Yasna.


"Mas, nggak lagi bohong, kan?


"Kamu meragukanku?"


"Bukan maksudku meragukanmu. Hanya saja, Mas dan Celina sudah cukup lama saling mengenal. Aku tidak tahu apa pun tentang hubungan kalian," Jawab Yasna dengan menundukkan kepala.


Yasna sendiri bingung, bagaimana menumbuhkan rasa percaya dirinya agar tidak lagi cemburu, pada wanita-wanita yang mendekati suaminya.


Emran menggenggam kedua telapak tangan Yasna dan berkata, "Aku tidak tahu, apa yang membuatmu ragu padaku. Aku hanya bisa mengatakan. Percayalah pada ikatan pernikahan kita, jangan pernah dengarkan kata orang lain. Cukup yakinkan hatimu untuk mempercayaiku, kita sama-sama sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah rumah tangga."


"Aku percaya padamu. Aku hanya tidak percaya diri. Kamu tahu, kan, apa saja kekurangan ku sebagai wanita dan juga sebagai istri?"


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan pernah membahas hal itu lagi. Kamu istriku dan ibu dari anak-anakku, itu sudah cukup. Jangan berpikir yang macam-macam, itu akan semakin membuatmu tidak tenang."


Yasna memeluk Emran, dia senang suaminya peduli padanya. Anak-anak dan ibu mertuanya pun sangat menyayanginya.


Kebaikan yang seperti ini selalu membuat Yasna teringat keluarganya, sudah hampir sebulan dia tidak menjenguk orang tuanya. Kemarin dalam acara Fazilah juga orang tuanya tidak datang.


"Sayang, tadi kata Hendra, ada yang membuat masalah dengan kamu di perusahaan?" tanya Emran setelah mengurai pelukannya.


"Nggak papa, Mas. Masalah biasa saja, dia hanya menjalankan pekerjaannya."


"Benar? Dia nggak buat masalah sama kamu?"


"Tidak, sudah nggak apa-apa, kok," jawab Yasna. "Mas, besok setelah aku mengantar anak-anak, aku ke toko ibu, ya?"


"Iya, kamu ke sana diantar Pak Hari, nggak pa-pa, kan?"


"Nggak pa-pa, Mas."


"Maaf, ya, aku nggak bisa nganterin kamu."


"Iya, nggak papa kok, Mas. Aku kangen aja sama ibu."


"Ya udah, yuk! Tidur." Mereka tidur dengan berpelukan saling menyalurkan rasa cinta dan kasih.


Hingga hari ini Yasna tak hentinya bersyukur, ditengah banyaknya cobaan yang menimpanya. Tuhan menghadirkan keluarga yang sangat baik dan menyayanginya. Sungguh nikmat yang luar biasa bagi Yasna.


*****


"Fa, Mama nggak lagi mimpi, kan? Ini beneran perusahaan jadi milik kamu?" tanya Mama Mirna dengan membolak-balikkan dokumen yang ada di tangannya.


"Aku juga nggak tahu, Ma. Lagi mimpi apa tidak? Hafidz juga belum mau cerita. Entah, nanti malam bisa tidur, apa nggak ini."


"Mama jadi ngeri lihatnya. Padahal sebelumnya Mama ingin kamu jadi orang kaya, tapi sekarang, saat semuanya ada di depan mata, Mama malah jadi takut."

__ADS_1


"Itu berarti doa Mama terkabul."


"Tapi, nggak secepat ini juga. Mama takut lihatnya."


"Besok Hafidz akan ke sini, lebih baik Mama tanyakan saja pada orangnya."


Mama Mirna terdiam, dia tidak tahu apa keputusannya kali ini tepat atau tidak.


"Kamu sungguh-sungguh mencintainya, Fa? Mama ingin mendengar kepastian jawaban kamu." Mirna tidak ingin putrinya salah memilih, dia ingin memastikannya terlebih dahulu.


"Iya, Ma."


"Apapun yang membuatmu bahagia, pasti Mama akan bahagia juga. Mama hanya ingin mengingatkan, kamu harus jadi istri yang patuh pada suami apapun perintahnya, selama masih di jalan yang benar. Kemanapun suamimu melangkah, kamu harus mengikutinya."


"Ma, jika nanti aku sudah menikah dengan Hafiz. Mama juga harus ikut dengan kami."


"Mana bisa seperti itu. Mama tidak ingin terlalu ikut campur dengan rumah tangga kalian."


"Aku tidak akan pernah tenang kalau meninggalkan Mama sendirian, Hafidz juga tidak akan keberatan dengan hal itu."


"Apa kamu sudah mengatakan padanya?"


"Belum, tapi aku yakin Hafidz akan mengizinkan Mama tinggal bersama kami dan Mama harus berhenti bekerja. Sudah waktunya Mama pensiun. Lihatlah, sekarang aku sudah memiliki perusahaan jadi, Mama tidak perlu bekerja lagi, Mama cukup menikmatinya saja."


"Mama tidak enak pada Hafidz jika seperti itu."


"Kamu jangan semena-mena sama dia. Hafidz itu calon menantu Mama."


"Kenapa Mama jadi belain dia?"


"Siapa yang belain? Kamu ini sensian sekali." Mirna pergi meninggalkan putrinya.


Sementara Fazilah hanya bengong melihat kepergian Mamanya.


*****


Pagi-pagi sekali Celina sudah datang ke rumah Emran dengan keadaan acak-acakan. Kedua putranya juga ikut.


"Ada apa dengan kamu, Cel? Kenapa wajah kamu merah? Ini seperti memar, siapa yang memukulmu?" tanya Mama Karina dengan nada khawatir.


"Ma, boleh aku titip anak-anak di sini?" tanya Celina tanpa menjawab pertanyaan Karina.


"Memangnya ada apa? Kamu mau ke mana?"


"Mas Ferdi marah-marah dan dia tidak mengizinkan Vino dan Vico tinggal di rumah."


Usia Vino dan Vico selisih satu tahun, banyak yang mengira mereka kembar karena mereka terlihat sama.


"Apa kamu juga dipukul suamimu?"

__ADS_1


Celina hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Lalu di mana Revan?"


"Ada di rumah, Ma. Sama Mas Ferdi."


Karina memandang Celina dengan rasa iba. Dia tidak tega melihat wanita itu disakiti seperti ini. Meskipun Revan bukan cucunya, tapi Karina juga menyayanginya, sama seperti Vino dan Vico.


Sebenarnya Karina tidak masalah jika Celina menitipkan cucunya di sini, tapi bagaimana dengan peringatan dari Windi? Bukankah mantan besannya itu sudah menceritakan semuanya.


Akan tetapi, melihat keadaan Celina seperti ini. bagaimana Karina bisa menolaknya?


"Sebentar, Mama panggil Emran dulu." Karina memanggil Emran yang saat ini masih berada di dalam kamarnya. Dia mengetuk pintu kebetulan Emran yang membukakannya


"Ada apa, Ma?" tanya Emran.


"Ada Celina di depan."


"Kenapa lagi dia?"


"Celina ingin menitipkan anak-anaknya di sini, bagaimana?"


"Kenapa harus menitipkan anak-anak di sini, Ma?" Emran heran, bukankah dia juga punya orang tua? kenapa dititipkan di sini?


"Sepertinya mereka habis bertengkar dan suaminya menolak keberadaan Vino dan Vico. Mama sih sebenarnya senang-senang saja dengan keberadaan Vino dan Vico, tapi mama juga nggak enak sama tante Windi."


"Mama turun dulu, aku mau bicara sama Yasna. Aku nggak mau ambil keputusan tanpa bertanya padanya. Bagaimanapun aku juga harus menjaga perasaannya."


"Iya, mama tunggu di bawah."


Emran menghela nafas berkali-kali, Dia berpikir bagaimana caranya berbicara dengan Yasna tanpa membuatnya khawatir apalagi sedih.


"Ada apa, Mas. Kenapa berdiri di situ?" tanya Yasna saat melihat suaminya, hanya berdiam diri di samping pintu.


Emran berjalan mendekati Yasna dan membawanya duduk di tepi ranjang.


"Begini, Sayang. Di depan ada Celina bersama kedua anaknya, dia berniat untuk menitipkan mereka di sini. Bagaimana menurutmu?"


"Kenapa dititipkan di sini, Mas?"


"Sepertinya Celina bertengkar dengan Ferdi. Alasannya apa, aku tidak tahu. suaminya tidak mau ada Vino dan Vico di rumahnya."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2