
"Assalamualaikum," ucap Aydin begitu memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang bersamaan. Di sana ada Emran, Yasna dan Afrin sedang menonton acara televisi.
"Bagaimana, Kak? Sudah bertemu dengan ayahnya Nayla?" tanya Yasna saat Aydin sudah mendekat ke arah mereka.
"Sudah, Bunda dan alhamdulillah ayah Nayla merestui kami."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Bunda dari tadi tidak bisa tenang."
"Ini semua juga berkat doa Bunda. Terima kasih, Bunda," ucap Aydin sambil memeluk Yasna.
Walaupun bukan ibu kandung, tapi Aydin yakin, doa Yasna tidak pernah putus untuk dia dan adiknya. Hal itu membuat Aydin dan Afrin semakin menyayangi Nayla dan tidak ingin kehilangan wanita itu.
"Aku juga ikut senang, kalau Kakak jadi nikah sama Kak Nayla," sahut Afrin dengan ikut memeluk Yasna.
"Apa Nayla sudah tahu, Kak? Kalau kamu sudah mendapat restu?" tanya Yasna.
"Sudah, Bunda, aku sudah memghubunginya tadi."
"Jadi, dia sudah menerima kamu?"
"Tentu, Bunda. Dia kan sudah janji sebelumnya."
"Jadi kapan Kakak nikahnya?" tanya Afrin. Dia tidak sabar melihat kakaknya menikah.
"Belum, Dhek. Besok kita lamaran dulu, baru menentukan harinya," sahut Yasna. Dia juga sama seperti Afrin yang ingin segera melihat putranya menikah. Wanita itu juga ingin menggelar acara yang meriah.
"Apa ayah Nayla akan datang?" tanya Emran.
"Aku tidak tahu, Pa. Tadi aku sudah memberi nomor Nayla pada Om Roni. Tidak tahu beliau menghubungi Nayla apa tidak."
"Ayahnya Nayla tidak mempersulit kamu, kan?" tanya Yasna dengan menatap Aydin.
"Tidak, Bunda. Sebenarnya dia orang yang baik, hanya saja mungkin karena hidupnya dulu sangat tertekan jadi, dia meninggalkan Nayla dan juga ibunya. Dia juga masih menanyakan kabar Nayla. Kalau orang lain sudah pasti tidak peduli."
Emran dan Yasna mengangguk. Sebagai seorang ayah, Emran juga mengerti, seburuk apa pun kita, pasti masih mengingat bagaimana keadaan anak kita dan berharap mereka baik-baik saja.
Begitu pun dengan Roni meskipun dia seorang b****gan, tapi di matanya Nayla tetaplah seorang putri yang harus dilindungi. Selama ini pria itu berpikir jika Asih pasti akan melakukan segalanya untuk Putrinya, tanpa Roni tahu jika mantan istrinya itu sudah meninggal.
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dan istirahat. Besok harus mempersiapkan buat acara lamaran yang lebih resmi," ucap Yasna.
"Iya, Bun." Aydin masuk ke kamarnya, begitupun dengan Afrin. Gadis itu masih memiliki pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan.
__ADS_1
"Apa perlu besok Papa suruh Pak Hari buat jemput ibu biar bisa bantuin kamu di rumah. Kamu pasti akan sangat sibuk dengan segala hal."
"Tidak usah, Mas. Besok aku ke tempat ibu saja, aku juga sekalian buat kue di sana. Bahan-bahannya lebih lengkap di sana."
"Kamu cari bahan yang lengkap atau cari yang gratisan," cibir Emran.
"Mas tahu sendirilah bagaimana aku." Mereka tertawa secara bersamaan. Emran dan Yasna sama-sama tahu, itu hanya candaan semata karena pria itu tahu jika sang istri selalu membeli bahan-bahan kue dan dikirim ke toko kue ibunya.
Kalau Yasna memberi uang sudah pasti Alina akan menolaknya, tapi jika itu berupa bahan-bahan kue, wanita paruh baya itu tidak dapat mengembalikannya.
*****
"Kamu butuh berapa kue? Kenapa banyak sekali? Memang kamu bawa apa? Jangan kue aja. Bawa juga makanan lainnya. Masa sebanyak ini kamu mau bawa," gerutu Alina saat melihat Yasna yang membuat kue yang terlalu banyak.
Wanita paruh baya itu juga kesal karena dapurnya sudah dibuat berantakan oleh Yasna. Sementara wanita itu hanya tersenyum seolah tidak melakukan apa pun.
"Tidak, Bu, aku cuma bawa yang di sana saja. Ini buat jualan," jawab Yasna dengan menunjuk kue yang disisihkan.
"Kamu ini harusnya mempersiapkan semua yang akan dibawa lamaran. Bukan malah sibuk buat kue di sini. Cepat, pulang, sudah sore!" usir Alina.
Kalau Yasna dibiarkan di sini lebih lama, dapurnya sudah pasti akan hancur, lebih baik dia mengusir putrinya. Bukankah di rumah Yasna semua orang sedang sibuk?
"Di rumah persiapan sudah selesai, Bu. Semuanya tinggal kring-kring sudah selesai," sahut Yasna dengan memperagakan menelpon seseorang.
"Ibu senang Aydin bisa menikah sama Nayla. Ibu jadi bisa menyayanginya seperti cucu sendiri," ucap Alina.
"Memangnya sebelumnya ibu tidak bisa menyayanginya?"
"Ya, beda, kemarin masih ada rasa sungkan. Nayla juga orangnya lebih pendiam. Kalau sekarang ibu sudah lebih berani."
Yasna menganggukkan kepala. Memang benar Nayla, gadis yang pendiam, tapi jika sudah saling mengenal, dia orang yang sangat asyik untuk diajak berbicara.
"Nanti malam Ibu ikut, ya, sama ayah."
"Tentu, masa mau ketemu calon cucu mantu nggak ikut."
"Habis ini langsung ikut aku ke rumah, ya, Bu. Masalah toko biar yang lain saja yang tutup."
"Iya, Ibu juga mau lihat persiapan lamaran Aydin, sudah sampai mana. Siapa tahu ada yang kurang. Ibu, kan, lebih pengalaman daripada kamu," ucap Alina menyombongkan diri membuat Yasna mendengus.
"Iya, Bu," sahut Yasna malas.
*****
__ADS_1
Setelah makan siang Yasna mengajak Alina dan Hilman ke rumahnya. Dia akan memeriksa apa saja yang masih kurang untuk acara lamaran nanti malam. Mereka dijemput oleh Hari, setelah pria itu menjemput Afrin tadi.
"Pak Hari, tadi masuk ke dalam rumah?" tanya Yasna saat mereka masih dalam perjalanan.
"Tidak, Bu. Memangnya ada apa?"
"Mungkin Pak Hari tahu, mereka sudah menyiapkan apa saja."
"Saya kurang tahu, tadi saya hanya mengantar Non Afrin sampai pintu depan saja, Bu."
Yasna hanya mengangguk dan tidak bertanya lagi. Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Semua orang turun dan masuk ke dalam rumah. Terlihat Afrin sedang membantu seorang wanita yang sedang menata beberapa parsel. Gadis itu sangat senang dengan pekerjaan barunya.
"Assalamualaikum," ucap Yasna dan orang tuanya.
"Waalaikumsalam, Bunda, Nenek, kakek! Kalian datang?" Afrin segera berlari dan memeluk Alina. "Apa kabar, Nek?"
"Baik," jawab Alina. "Kamu sendiri bagaimana?"
"Baik," jawab Afrin. "Kakek gimana keadaannya? Sudah sehat?"
Afrin beralih memeluk Hilman. Sudah lama mereka tidak bertemu. Hanya lewat sambungan telepon yang dilakukan mereka.
"Kakek sehat. Kenapa cucu Kakek ini tidak pernah datang ke rumah? Apa sudah lupa sama Kakek?" tanya Hilman dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Maaf, Kek. Pelajaran sekolah makin hari makin banyak, aku jadi bingung. Aku juga bosan, nggak bisa main ke mana-mana."
"Tidak boleh seperti itu. Harus rajin, biar pandai. Nanti buat kakek bangga."
"Tentu, aku akan buat bangga Kakek sama Nenek," jawab Afrin. "Kakek sama Nenek, nanti malam ikut ke rumah Kak Nayla?"
"Iya, Kakek juga mau ketemu sama calon cucu mantu."
"Bukannya Kakek sudah pernah bertemu?" tanya Afrin heran.
"Itu beda."
.
.
.
.
__ADS_1
.