
Pria itu berpikir sejenak, tapi tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya.
"Aduh, kepala saya sakit," ucap pria itu.
"Jangan dipaksakan, sebaiknya Mas istirahat dan tenangkan pikiran dulu," ucap Dokter.
Pria itu memejamkan matanya sejenak lalu membukanya, ia menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Kenapa saya ada di sini? Kamu siapa? Saya siapa?"
Fazilah terkejut mendengar pertanyaan dari pria itu, bagaimana mungkin dia tidak ingat tentang dirinya sendiri? Sekarang Fazilah harus bagaimana?
"Dok, kenapa dia tidak ingat siapa dirinya?"
"Mas, istirahat saja dulu, nanti kita bicarakan lagi," ucap dokter. "Mari, Nona, kita bicara di luar."
Fazilah mengangguk, ia mengikuti dokter keluar ruangan, dengan semua pertanyaan yang mengganjal di hati.
"Begini, Nona. Sepertinya dia mengalami amnesia, tapi Anda tenang saja, karena ini sifatnya sementara, ia akan ingat semuanya seiring berjalannya waktu."
"Kira-kira berapa lama, Dok. Dia akan sembuh?"
"Saya tidak bisa memperkirakan hal itu Nona, tapi saya sarankan jangan terlalu memaksanya, biarkan semuanya berjalan dengan sendirinya."
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama, saya permisi."
"Iya, Dok."
Fazilah menghela nafas panjang, bagaimana sekarang? Apa yang harus ia lakukan? Keluarga pria itu pasti saat ini sedang khawatir.
Fazilah kembali masuk ke ruangan, terlihat pria itu bersandar di kepala ranjang dengan mata tertutup.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu masih sakit?" tanya Fazilah.
"Sudah lebih baik."
"Aku mau keluar sebentar, cari makan siang, mau nitip sesuatu?"
"Tidak usah."
Fazilah mengangguk. "Aku keluar dulu."
Fazilah pergi meninggalkan pria itu seorang diri, ia sebenarnya tidak lapar, ia hanya ingin menjernihkan pikiran saja.
Setelah kepergian Fazilah, pintu ruangan tempat pria yang menolong Fazilah diketuk dan masuklah seorang pria gagah dengan memakai pakain formal.
"Maafkan saya, Tuan. Saya telah lalai menjaga Anda, bagaimana keadaan Anda?"
"Aku tidak apa-apa, asal dia baik-baik saja. Apa kalian sudah menemukan pelakunya?"
"Sudah, Tuan. Saya sudah mengirim mereka beseta buktinya ke kantor polisi, kebetulan mereka sedang mencari bukti itu."
"Polisi mencarinya? Apa dia yang melaporkan?"
"Yang melapor memang Nona Fazilah, tapi semua diurus Pak Emran."
"Emran? Siapa dia?"
"Suami dari Ibu Yasna, Ibu Yasna adalah--
"Saya tahu ... sebaiknya kamu segera pergi sebelum dia kembali."
__ADS_1
"Baik, Tuan ... emm saya harap ini yang terakhir membuat kami khawatir."
"Pergilah!"
"Baik, Tuan."
Pria itu meninggalkan atasannya seorang diri.
'Aku akan melakukan apapun untukmu, asal kamu baik-baik saja'
*****
Ponsel Yasna bergetar, ada panggilan dari sekolah, segera Yasna mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, maaf, Bu. Saya Guru BK di sekolah Aydin, mohon kedatangannya ke sekolah sekarang, apa Ibu bisa?" tanya seorang guru di seberang telepon.
"Bisa, Pak. Saya akan ke sana sekarang."
"Baik, Bu, saya tunggu kedatangannya."
"Iya, Pak." Yasna menutup panggilan dan segera bersiap untuk pergi.
Yasna pergi bersama Hari menuju sekolah Aydin, sebelumnya ia juga menghubungi seseorang yang bisa memutar CCTV yang dibawa oleh Aydin.
Tidak berapa lama mobil yang mereka tumpangi telah sampai di sekolah. Yasna segera turun, ia menuju ruang guru yang pernah ia datangi sebelumnya dan ternyata orang yang sama seperti waktu itu ada di sana, Emran juga sudah datang.
"Assalamualikum," ucap Yasna.
"Waalaikumsalam."
"Kenapa kamu ke sini juga? Aku bisa atasi masalah ini," ucap Emran.
"Ehmm, begini, Tuan Emran. Anak Anda bukan hanya sekali ini saja membuat masalah dengan anak saya ... saya tidak bisa menerimanya, kali ini Anda harus mengganti rugi lebih besar." Mama Dave berbicara dengan gaya angkuhnya.
"Tolong tenang sebentar, Nyonya. Biar saya yang berbicara," sela guru.
"Bagaimana saya bisa tenang melihat anak saya seperti ini!"
"Ma, tenang sebentar," ucap papanya Dave tegas membuat Mama Dave diam.
"Begini, seperti yang diketahui, Aydin kembali membuat masalah dan lagi-lagi dia berkelahi dengan--
"Mohon maaf, Pak. Tahu dari mana Anda, kalau anak saya yang membuat masalah?" tanya Yasna.
"Semua siswa berkata demikian, Bu."
"Kalau saya punya bukti kalau anak saya tidak bersalah bagaimana?"
"Bukti apa, Bu? Karena tidak ada bukti apapun yang kami temukan."
"Aydin, mana?" Yasna menadahkan tangannya pada Aydin, tapi Aydin hanya diam saja.
"Aydin, mana?" Yasna kembali mengulang kata-katanya.
"Maaf, tapi ini sudah rusak." Aydin menyerahkan bolpoin yang sudah retak kepada Yasna.
"Kenapa bisa seperti ini?"
"Mereka yang menghancurkannya." Aydin menundukkan kepalanya, ia merasa bersalah karena sudah menghancurkan usaha Yasna.
Yasna menghela nafas panjang, kalau sudah seperti ini bagaimana? Aydin sudah pasti berada dipihak yang bersalah.
__ADS_1
*****
Fazilah sudah kembali ke ruangan pria yang menolongnya.
"Aku bawain beberapa camilan buat kamu, aku takut kamu bosan, emm ...." Fazilah bingung menyampaikannya.
"Ada apa?"
"Aku harus memanggilmu siapa? Kamu tidak ingat namamu, aku juga tidak tahu apapun jadi, aku panggil siapa?"
"Kamu carikan saja nama yang pas buatku."
"Siapa? Alex, Anton, Roni, Vano, Haris, siapa ya?" Fazilah memikirkan nama yang cocok.
"Haris atau Hafidz saja," sahut pria itu.
"Hafidz?"
"Iya, kenapa? Apa kamu ada kenangan dengan nama itu?"
"Tidak, baiklah mulai hari ini aku akan memanggilmu Hafidz."
'Ternyata kamu sudah melupakannya. Tidak masalah, aku akan membuat kenangan baru,' batin Hafidz.
Pintu ruangan diketuk, masuklah dua orang yang sudah Fazilah anggap orang tua sendiri, siapa lagi kalau bukan Alina dan Hilman.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Ibu, Ayah, kenapa repot-repot kesini?" tanya Fazilah.
"Kami tidak repot, justru kami khawatir kamu sendirian di rumah sakit. Ibu bawa makanan, kamu sudah makan?" Alina bertanya sambil menyerahkan dua kotak nasi.
"Aku sudah, Hafidz yang belum makan."
"Hafidz? Kamu sudah ingat namamu?"
"Belum, Bu," jawab Hafidz.
"Tadi kami cari nama buat dia, rasanya nggak enak aja ngobrol, tapi nggak tahu namanya, masa tiap hari harus panggil hei hei."
"Iya, Hafidz nama yang bagus."
"Terima kasih, Bu," ucap Hafidz.
"Kapan Hafidz boleh pulang, Fa?" tanya Alina.
"Semuanya sudah baik, terserah kita mau bawa dia pulang kapan? Masalahnya saya bingung mau bawa dia ke mana? Kalau aku bawa ke rumah, para tetangga akan mengira kami pasangan mesum."
"Pulang ke rumah kami saja, di rumah juga tidak ada siapa-siapa, cuma kami berdua."
"Tidak usah, Bu. Saya bisa cari tempat tinggal lain," ucap Hafidz.
"Jangan begitu, bagaimana pun kamu masih tanggung jawab kami, sampai kamu sembuh."
"Apa tidak apa-apa, Bu, Yah?" tanya Fazilah.
"Tidsk apa-apa, kami senang ada orang di rumah, selama ini rumah selalu sepi," jawab Hilman.
Hilman dan Alina hanya berdua, berkali-kali mereka meminta Gibran untukbpulang dan tinggal bersama mereka saja, tapi Gibran selalu menolak, karena surat pengajuan pindah cabang selalu ditolak.
.
.
__ADS_1
.