Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
200. S2 - Alhamdulillah, baik


__ADS_3

Aydin mengendarai mobilnya dengan pelan. Dia masih mengantuk, lebih baik berhati-hati. Sebenarnya dia juga khawatir pada putrinya. Pria itu takut Nuri tidak bisa menyesuaikan keadaan.


Gadis kecil itu terbiasa dengan fasilitas di rumahnya dan sekarang, harus tinggal di rumah Rini yang sudah pasti tidak ada AC. Hanya kipas angin sebagai pendingin ruangan. Aydin takut Nuri masuk angin.


Tidak berapa lama, akhirnya sampai juga di rumah Bibi Rini. Pria itu turun dari mobil. Begitu dia di depan pintu, terdengar suara anak kecil sedang menangis dan Aydin tahu itu suara putrinya dengan panik pria itu mengetuk pintu hingga beberapa kali. Pintu terbuka tampaklah Rini yang membukanya.


"Kenapa Nuri menangis, Bik?" tanya Aydin dengan segera masuk tanpa dipersilakan.


Rini diam tidak menjawab. Lidahnya kelu untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Tadi siang dia yang meminta pada Aydin agar membiarkan Nayla dan Nuri di sini, tetapi sekarang keadaannya malah seperti ini. Pria itu mencoba mencari sumber suara hingga dia masuk ke kamar di samping ruang tamu.


"Nuri kenapa? Kenapa nangis?" tanya Aydin.


"Mas Aydin!" seru Nayla saat melihat suaminya datang di tengah malam.


"Ada apa, Sayang?" Aydin segera mengambil Nuri dari gendongan Nayla.


"Bangun, Sayang. Ini Papa," ucap Aydin pada Nuri. "Kenapa panasnya tinggi sekali?" tanya pria itu dengan menatap istrinya. Namun, wanita itu hanya diam membeku tidak tahu harus menjawab apa.


Tiidak mendapat jawaban dari Nayla, Aydin kembali beralih melihat putrinya. dia mengusap pipi Nuri yang sudah basah dengan air mata.


"Sayang, lihat ini Papa."


"Papa," ucap Nuri dengan suara sesenggukan.


Hati Aydin terasa teriris melihat Nuri yang seperti itu. Di rumahnya tidak ada seorangpun yang membiarkan Nuri menangis, tetapi kini gadis kecil itu sesenggukan.


"Iya, ini Papa. Kita ke rumah sakit, ya!" tanya Aydin dengan menggendong putrinya berjalan keluar. Nayla mengikutinya dari belakang.


"Biar aku yang gendong, Mas. Kamu 'kan nyetir!" pinta Nayla.


Mau tidak mau Aydin menyerahkan Nuri pada Nayla. Terlalu bahaya nyetir dengan menggendong. Apalagi dalam keadaan khawatir seperti sekarang.


Banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan pada Nayla, tetapi ini bukan saatnya. Nuri lebih penting. Gadis kecil itu harus segera mendapat pertolongan. Nanti akan ada waktu untuk mendengarkan penjelasan dari istrinya.


Mereka pergi ke rumah sakit. Doni dan Rini juga ikut bersama mereka. Dalam perjalanan Aydin teringat dengan bundanya. Pasti saat ini wanita itu masih menunggu kabar darinya. Segera dia mengambil ponsel dan menghubungi Yasna.

__ADS_1


"Halo, assalamualaikum," ucap bundanya.


"Waalaikumsalam, Bunda, Nuri demam, saat ini aku dalam perjalanan ke rumah sakit."


"Apa! Bagaimana bisa? Bunda akan ke sana."


Percakapan diputuskan sepihak oleh Yasna. Pasti wanita itu khawatir.


"Astaghfirullah, Nuri!" teriak Nayla, membuat semua orang menatapnya dan mereka terkejut saat melihat gadis kecil itu kejang.


"Sayang, sadarlah. Jangan seperti ini," ucap Nayla.


Aydin menambah kecepatan mobilnya. Saat ini yang ada dipikirannya hanya bagaimana caranya agar cepat sampai di rumah sakit. Nayla dan Rini terus saja menangis. Mereka takut terjadi sesuatu pada Nuri.


Akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Tanpa memarkirkan mobilnya Aydin turun dan membuka pintu disamping Nayla. Pria itu merebut Nuri yang ada dipangkuan istrinya dan berlari menuju ruang UGD.


"Dokter! Suster! Tolong anak saya!" teriak Aydin berkali-kali disepanjang lorong.


"Silakan ditidurkan di sini, Pak," pinta seorang perawat laki-laki pada Aydin.


"Bapak tunggu di luar saja, biar dokter yang menangani," ucap perawat lainnya.


Terpaksa Aydin mengalah dan menunggu di luar dengan perasaan yang bercampur aduk. Khawatir, cemas, takut dan masih banyak lagi. Dia berjalan kekiri dan kekanan untuk mengurangi kecemasannya. Namun, tidak juga berkurang.


Nayla, Doni dan Rini juga sama khawatirnya, terutama istri dari Aydin itu. Ada penyesalan dalam hatinya, andai saja dia tidak membawa Nuri dan memaksanya, ini semua tidak akan terjadi.


"Sejak kapan Nuri demam?" Aydin bertanya tanpa melihat ke arah ketiga orang yang masih berdiri itu.


"Da-dari jam sepuluh," jawab Nayla pelan.


Wanita itu tahu saat ini suaminya sedang marah. Dia tidak pernah melihat Aydin seperti ini sebelumnya. Pancaran mata yang siap menerkam mangsanya dan raut wajah yang penuh dengan amarah.


"Jam sepuluh dan ini sudah jam satu. Tiga jam, kalian hanya membiarkannya begitu saja? Apa ini yang dinamakan seorang ibu tidak akan mencelakai anaknya?" tanya Aydin sekaligus menyindir Rini yang sebelumnya mengatakan hal itu.


Mereka terdiam. Tidak ada yang berani mengatakan satu kata pun. Ingin membela diri bahwa Nuri sudah diberi penurun panas, tetapi rasanya tidak ada yang dibenarkan dari perbuatan mereka. Nyatanya gadis kecil itu masih demam. Doni yag sebenarnya tidak tahu apa pun juga ikut diam.

__ADS_1


"Aku tidak akan memaafkan kalian jika terjadi sesuatu pada Nuri," ucap Aydin. Dia menatap Nayla dengan penuh amarah.


Dari jauh terlihat Yasna berlari diikuti Emran dibelakangnya. Terlihat wajah wanita itu sembab, pasti dia menangis disepanjang perjalanan. Siapa yang tidak sedih saat mendengar orang yang kita cintai masuk ke rumah sakit.


"Aydin, bagaimana keadaan Nuri?" tanya Yasna setelah mendekat.


"Masih diperiksa, Bunda. Aku belum tahu apa-apa," jawab Aydin dengan menunduk.


Emran mendekati Yasna dan merangkul pundak istrinya itu. Dia juga sama khawatirnya. Nuri adalah kebahagiaan bagi keluarga itu. Tidak ada yang mampu membayangkan jika terjadi sesuatu padanya.


"Bunda yang sabar. Kita tunggu dokter saja," ucap Emran mencoba menenangkan istrinya.


Semua orang menunggu dengan cemas. Tatapan mereka tidak lepas dari pintu berwarna putih itu. Lorong yang sepi membuat keadaan semakin menegangkan. Ini masih dini hari, tentu saja hanya dokter dan perawat yang tampak.


Akhirnya pintu terbuka, tampaklah dokter diikuti seorang suster dengan membawa alat tulisnya. Keduanya tersenyum sambil berjalan keluar.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Afrin.


"Alhamdulillah, baik. Untung saja dia cepat dibawa ke sini jadi, bisa mendapat penanganan dengan cepat. Sebelumnya sudah saya sarankan, untuk tidak membuatnya tertekan, bukan! Tapi masih terjadi. Untuk selanjutnya diharapkan lebih berhati-hati lagi," ucap dokter. "Jika masih terjadi, saya tidak tahu apa yang akan terjadi," lanjutnya.


"Maafkan kami yang sudah lalai, Dok. Apa saya boleh menemui cucu saya?" tanya Yasna.


"Sebentar lagi perawat akan memindahkannya. Anda bisa mengikutinya."


Yasna mengangguk. Dia merasa lega setelah mendengar keadaan cucunya baik-baik saja. Meski harus dirawat tidak apa-apa , asal tubuhnya dalam keadaan baik.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2