Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
312. S2 - Pamit pergi


__ADS_3

Tujuh hari sudah acara tahlilan terlaksana. Banyak yang datang mendoakan Papa Hamdan. Selama itu juga Bu Nur dan Laily selalu datang, tetapi sama sekali belum menyapa Merry. karena wanita itu selalu memasuki kamarnya setelah acara tahlilan selesai.


Pagi sekali Merry memasukkan pakaian ke dalam koper. Dia ingin pergi dari rumah ini. Wanita itu sudah memikirkan semua secara matang. Merry tahu statusnya yang hanya ibu sambung. Sekarang sudah tidak ada lagi alasan untuk menahannya untuk tetap di sini.


Hamdan telah tiada. Banyak sekali yang ingin wanita itu lupakan, kesedihan, sakit hatinya, dan masih banyak lagi. Dia ingin menenangkan hatinya di sana.


Pintu kamar diketuk oleh seseorang dari luar, Merry pun membukanya. Ternyata Fatma, dia mengatakan jika sarapan sudah siap dan meminta wanita itu segera turun. Saat Merry sampai di ruang makan, Khairi sudah menunggu di sana. Sementara Afrin masih menata semua hidangan.


"Selamat pagi," sapa Merry dengan tersenyum.


"Pagi, Ma," sahut Khairi dan Afrin bersamaan.


Afrin pun mengambilkan makanan untuk suami dan mertuanya. Merry hanya diam saja. Dia membiarkan sang menantu melayaninya untuk terakhir kali, sebelum wanita itu pergi.


"Silakan, Ma."


"Terima kasih," ucap Merry. "Setelah makan, ada yang ingin Mama katakan."


"Apa, Ma?" tanya Khairi yang penasaran.


"Nanti saja setelah makan."


Mereka pun melanjutkan makan siang dengan tenang. Merry sesekali menghela napas. Bertahun-tahun dia tinggal di rumah ini. Namun, hari ini wanita itu harus melepas status nyonya yang disandangnya itu. Sudut hatinya tidak rela, tetapi dia harus melakukannya.


Setelah selesai makan, mereka masih duduk di ruang makan karena menunggu Mama Merry berbicara. Hingga beberapa menit, belum juga ada kata yang terucap.


"Ma, tadi katanya mau bicara?" tanya Khairi yang sudah tidak sabar.


"Iya," jawab Merry. "Begini, Mama sudah memutuskan untuk tinggal di rumah nenek yang ada di luar kota. Mama harap kalian tidak keberatan."

__ADS_1


Khairi dan Afrin sama-sama terkejut mendengarnya. Nenek yang dimaksud Merry adalah ibunya yang sudah meninggal. Namun, rumahnya kosong tidak ada yang menempati. Adiknya lebih memilih merantau bersama sang suami dari pada tinggal di desa.


"Kenapa harus tinggal di rumah nenek? Kenapa tidak di sini? Aku pasti akan kesepian. Kalau ada Mama, kita bisa bercerita banyak hal," ujar Afrin dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, Ma. Kenapa tidak tinggal di sini saja? Apa ini semua karena sikapku kemarin? Aku janji akan berubah, tapi aku mohon, Mama jangan pergi," sahut Khairi.


Merry menatap anak dan menantunya dengan tersenyum. Dia senang mereka masih perhatian, tetapi tekadnya sudah bulat. Wanita itu akan tetap pergi. Merry juga perlu menenangkan hati dan pikirannya. Wanita itu belum sepenuhnya ikhlas dengan takdir yang menimpanya.


"Kepergian Mama tidak ada hubungannya denganmu. Mama hanya ingin hidup tenang. Jika masih di sini, pasti akan selalu teringat kenangan bersama papamu. Puluhan tahun Mama bersamanya, tidak mudah melupakan semua kenangan kami. Apalagi setiap sudut rumah ini selalu ada bayangannya," ucap Merry tanpa sadar sudah meneteskan air mata karena teringat kenangan masa lalunya.


Khairi dan Afrin saling pandang. Kini mereka mengerti alasan kepergian Mama Merry. Memang tidak mudah melupakan kenangan bersama dengan orang yang kita cintai. Mau tidak mau keduanya harus ikhlas melepas wanita paruh baya itu untuk pergi.


"Kalau Mama memang sudah yakin untuk pergi, aku tidak akan mencegah lagi. Asal setiap hari Mama memberi kabar pada kami. Mama juga bisa kembali ke rumah ini jika sudah siap," ujar Afrin dengan tersenyum sekaligus meneteskan air mata.


"Kamu bisa meminta Nur untuk tinggal di sini menemani kalian. Dia pasti tidak keberatan."


"Terserah kalian saja ... Khairi, Mama ingin bertemu dengan Nur. Boleh Mama bertemu dengannya sebentar saja."


Khairi bingung harus menjawab apa. Dia tidak keberatan akan hal itu, tetapi dia takut jika Mama Merry mengatakan sesuatu yang akan menyakiti hati ibunya. Namun, pria itu tidak mungkin melarang mamanya. Hanya ingin bertemu, sepertinya tidak ada masalah.


"Iya, Ma. Mama mau diantar kapan?"


"Sekarang saja. Setelah ini, dua jam lagi pesawat Mama take off."


"Jadi Mama berangkat hari ini juga? Kenapa mendadak sekali? Kenapa tidak besok?" tanya Afrin.


"Mama sudah kangen kampung halaman. Sudah lama tidak ke sana."


"Biar aku kirim orang ke sana dulu, Ma, buat bersihin rumah nenek. Rumah itu sudah sangat lama tidak di huni pasti kotor," sela Khairi.

__ADS_1


"Tidak perlu, Mama bisa bersihin sendiri."


Khairi tidak peduli dengan penolakan Merry. Dia tetap menghubungi anak buahnya dan meminta seseorang untuk membersihkan rumah neneknya yang berada di luar kota. Pria itu juga mengizinkan anak buahnya membawa tukang kunci agar bisa membuka rumah.


Khairi dan Afrin mengantar mamanya ke apartemen tempat tinggal Bu Nur dan Laily. Merry juga sekalian membawa koper dan beberapa dokumen yang sekiranya dibutuhkan nanti. Afrin meminta izin pada Khairi untuk duduk di belakang bersama mertuanya. Pria itu pun mengizinkannya.


Selama perjalanan kedua wanita itu berbicara banyak hal. Merry juga memberi nasehat pada anak dan menantunya untuk saling mengerti dan memahami. Wanita itu juga mendoakan agar keduanya akan selalu bersama hingga maut memisahkan. Khairi dan Afrin mengiyakan semua nasehat yang diberikan Merry.


Akhirnya mereka sampai juga di apartemen. Khairi memimpin jalan, kedua wanita itu berjalan di belakangnya. Pria itu mengetuk pintu yang akhirnya terbuka oleh Laily.


"Kakak, silakan masuk," ucap Laily.


Semua orang pun masuk dan duduk di ruang tamu menunggu Laily memanggil ibunya. Tidak lama Nur keluar dan menyalami besannya. Khairi dan Afrin pun mencium punggung tangan wanita itu.


Hening ... tidak ada yang bersuara. Tiba-tiba suasana menjadi dingin. Tidak tahu harus berkata apa. Mereka sama-sana bingung memulai pembicaraan.


"Kedatanganku ke sini untuk minta maaf padamu. Atas nama almarhum suamiku dan aku sendiri. Kami sudah melakukan kesalahan padamu dan juga putrimu. Maaf juga untuk pembicaraan terakhir kita. Aku berkata seperti itu karena aku adalah seorang istri yang ingin mempertahankan suami," ucap Merry pada Nur.


"Mbak, tidak perlu minta maaf. Saya juga salah. Seharusnya saya juga berusaha membantu Hamdan untuk dekat dengan Laily, bukan malah melarangnya untuk datang," sahut Nur.


"Aku tahu kenapa kamu bicara seperti itu. Hamdan juga mengerti keadaanmu jadi, tidak perlu merasa bersalah. Aku juga ingin pamit, aku akan tinggal di rumah orang tuaku dulu. Aku ingin hidup tenang di sana tanpa masa lalu."


Sebagai sesama wanita Nur sangat mengerti perasaan Merry. Dulu juga dia melakukan hal yang sama saat berpisah dengan Hamdan. Bedanya sekarang mereka berpisah karena kematian, tidak seperti dirinya yang karena fitnah.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2