
Setelah selesai meeting Khairi segera kembali ke perusahaan. Dia juga perlu mencari sesuatu yang cocok dengan kunci yang di dalam tas papanya. Pria itu mencari ke segala tempat di ruangan papanya. Namun, tak kunjung menemukan petunjuk.
Saat Khairi membuka sebuah laci yang ada di meja paling bawah. Dia menemukan sebuah foto papanya sewaktu masih muda dengan seorang wanita. Keduanya memakai seragam SMA. Pria itu penasaran, siapa perempuan itu? Apa itu kekasih papanya sewaktu muda? Akan tetapi kenapa Hamdan masih menyimpannya?
Apakah mungkin jika perempuan itu mama Khairi? Sepertinya tidak mungkin. Dari yang dia dengar jika dulu papa dan mama kandungnya dijodohkan. Keduanya tidak saling mengenal, sudah pasti mereka tidak saling mengenal saat SMA?
Mengenai foto itu lebih baik dia nanti saja dipikirkan. Sekarang ada yang lebih penting yaitu, mencari tahu tentang kunci yang ada di tangannya. Khairi pun melanjutkan pencariannya. Foto itu dimasukkan ke dalam sakunya.
Terlalu larut dalam pencariannya, hingga dia lupa waktu. Ponselnya yang berada di atas meja berdering, tertera nama sang istri di sana. Segera pria itu mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum," ucap Khairi.
"Waalaikumsalam, Mas sudah pulang?' tanya Afrin. Khairi pun melihat jam yang berada di pergelangan tangannya. Pria itu menepuk keningnya karena tidak sadar sudah menghabiskan banyak waktu.
"Belum, Sayang. Ini masih ada pekerjaan," jawab Khairi berbohong. Dia tidak sepenuhnya berbohong, memang dirinya sedang ada pekerjaan. Hanya saja pekerjaannya sedang menyelidiki sesuatu.
"Apa masih lama, Mas?" tanya Afrin.
"Sebentar lagi pulang, Sayang. Memang ada apa?"
"Kalau bisa nanti di perjalanan beliin makanan buat Mama, ya, Mas!"
"Kamu enggak?"
"Kalau kamu tega melihatku kelaparan, ya, tidak usah," sahut Afrin dengan sedikit ketus membuat Khairi tertawa.
"Aku jadi pengen cepet pulang terus datangin kamu, deh."
"Emang kenapa?"
"Gemas saja melihat istriku yang lagi jutek," jawab Khairi terkekeh membuat Afrin mendengus. "Ya sudah, aku tutup teleponnya. titip orang tuaku, ya. Sebentar lagi aku pulang."
"Mereka juga orang tuaku, Mas. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
__ADS_1
Khairi menutup ponselnya. tidak hentinya dia bersyukur memiliki istri seperti Afrin. Pria itu menghela napas. Lebih baik sekarang pulang dulu, besok dilanjutkan lagi pencariannya.
*****
"Khairi belum pulang, Frin?" tanya Merry setelah menantunya menutup ponsel. Dia tadi mendengar Afrin memanggil mas pada orang di seberang, pasti itu putranya.
"Belum, Ma. Katanya masih ada yang harus diselesaikan," jawab Afrin.
"Papa sudah beberapa hari tidak ke kantor pasti banyak kerjaan yang terbengkalai. Sekarang Khairi sangat kesusahan."
"Kita berdoa saja agar Mas Khairi bisa menyelesaikannya dengan cepat."
"Mudah-mudahan saja," sahut Merry.
Mereka mulai berbincang. Awalnya Mama Merry agak kaku karena dia memang tidak begitu dekat dengan Afrin, tetapi menantunya lebih dulu membangun komunikasi jadi, wanita paruh baya itu mulai melunak. Bahkan beberapa kali Merry tertawa mendengar cerita Afrin sewaktu kecil.
Usai maghrib Khairi sampai. Dia datang dengan Bik Asih dan Fatma membuat Afrin menatapnya. Namun, pria itu tidak peduli, nanti saja Khairi jelaskan. Dia juga membawa makanan yang dipesan istrinya.
"Ma, makan dulu," ucap Khairi dengan menyerahkan satu bungkus makanan.
"Itu, kan, tadi siang, Ma. Itu juga cuma makan separoh," sahut Afrin yang sedang menyiapkan makanan untuk yang lainnya. "Mama, mau disuapi?"
"Kalian ini selalu saja memaksa Mama," gerutu Merry sambil menerima sekotak nasi dari Khairi.
Mereka makan dengan lahap, begitu pun dengan Bik Asih dan Fatma. Kedua wanita itu memang sengaja dibawa Khairi ke rumah sakit untuk menemani Mama Mery. Dia ingin melancarkan aksi yang sudah disusunnya. Semua harus seperti rencananya.
Pria itu tidak ingin rencananya gagal. Bisa saja Bik Asih tahu sesuatu dan sengaja menutupinya atas permintaan papa. Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Namun, jika rencananya malam ini tidak membuahkan hasil. Terpaksa dia harus merayu wanita paruh baya itu agar menceritakan sesuatu yang diketahuinya.
Saat sedang asyik makan Khairi membisikkan sesuatu pada istrinya. Meski wanita itu belum mengerti sepenuhnya, tapi dia mengangguk. Afrin menangkap seperti ada sesuatu yang sangat penting, hingga membuat suaminya meminta orang lain untuk menunggu papanya. Padahal sebelumnya pria itu mengatakan ingin berbakti pada orang tua.
"Ma, malam ini aku dan Afrin pulang dulu, ya! Besok kami menginap lagi. Untuk malam ini biar Bik Asih dan Fatma yang menemani, Mama," ucap Khairi.
"Iya, tidak apa-apa. Kalian pasti sangat lelah."
Sebenarnya wanita itu merasa berat untuk ditinggal anak dan menantunya. Apalagi kini hubungannya dengan Afrin sudah lebih dekat, tetapi dia juga tahu, pasti mereka juga butuh istirahat. Keduanya punya kegiatan, terutama Khairi yang sekarang mengurus dua perusahaan.
__ADS_1
"Kami pamit dulu, Ma, Pa. Assalamualaikum," pamit Khairi dengan mencium punggung tangan Merry dan Hamdan bergantian.
"Waalaikumsalam," sahut Merry sementara Hamdan hanya mengangguk.
Khairi dan Afrin meninggalkan rumah sakit dengan menggunakan mobil. Dalam perjalanan pria itu hanya diam, membuat sang istri sudah tidak sabar ingin tahu mengenai apa yang suaminya katakan tadi.
"Mas, maksudnya tadi apa?" tanya Afrin.
"Tadi apa?" tanya Khairi pura-pura tidak mengerti.
Afrin tidak menjawab. Dia hanya menatap sang suami dengan tajam. Khairi pun mengerti jika saat ini sang suami sedang tidak ingin bercanda. Pria itu Menghela napas sebelum mengatakan sesuatu.
Khairi mengeluarkan sebuah kunci yang tadi ditemukannya beserta foto papanya dengan seorang gadis SMA. Diberikannya dua benda itu pada sang istri. Afrin mengerutkan kening saat melihat apa yang ada di telapak tangannya.
"Apa ini, Mas?" tanya Afrin sambil melihat dua benda itu. "Ini papa sewaktu SMA, kan?"
"Iya, karena itu aku ngajak kamu pulang dan meminta Bik Asih dan Fatma agar kamu bisa membantuku mencari sesuatu tentang dua benda itu."
"Maksudnya, Mas?"
Afrin sudah mengerti maksud suaminya, tetapi dia perlu meyakinkan pemahamannya.
"Kita cari di semua tempat di rumah yang kiranya menjadi tempat menyimpan rahasia. Kamu mau, kan, bantu aku?"
"Tentu, Mas, tapi apa kamu siap dengan apa yang akan kita temukan nanti? Kita tidak tahu apa yang kita cari. Bisa jadi itu sesuatu yang menyakitkan atau menyenangkan karena sepertinya ini berhubungan dengan masa lalu. Bisa jadi ini juga berhubungan dengan mama kamu. Bukannya aku mau ngasih harapan palsu, tapi kita juga perlu mempersiapkan segala kemungkinannya," ujar Afrin dengan melihat ke arah suaminya yang menatap jalanan.
"Setiap kemungkinan pasti ada dan aku akan menerima itu. Aku sudah sejauh ini, tidak mungkin aku membatalkan niatku. Semenyakitkan apa pun, aku akan terima," jawab Khairi dengan tetap menatap jalanan yang ada di depannya.
.
.
.
.
__ADS_1