
Pukul 10.00 malam, Khairi dan afrin kembali ke rumah keluarga Emran. Pak Hari pun tampak duduk di teras, padahal Yasna sudah memintanya untuk menunggu di dalam. Namun, pria itu menolaknya dengan alasan di luar lebih sejuk. Padahal sebenarnya dia merasa sungkan.
"Pak Hari, maaf, sudah nunggu lama," tegur Afrin yang baru datang.
"Tidak, Non. Saya baru saja datang, kok!" sahut Hari.
"Ayo, kita masuk dulu! Kita ngobrol di dalam."
Hari pun terpaksa mengikuti Afrin, barangkali ada sesuatu yang ingin dibicarakan oleh anak majikan itu. Dia juga tidak tahu akan pergi ke mana. Pria itu hanya tahu akan ke luar kota dan diminta untuk bergantian menyetir mobil.
"Pak Hari, duduk dulu. Saya buatin kopi, biar nanti di jalan nggak ngantuk."
"Tidak perlu, Non. Malah ngerepotin," sahut Hari yang merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, ini juga masih jam sepuluh. Kita berangkat jam sebelas, masih ada waktu satu jam lagi."
Afrin pun masuk ke dalam untuk membuat kopi. Emran dan Yasna masih belum tidur, mereka ada di ruang keluarga sambil menonton televisi. Keduanya memang sengaja menunggu anak dan menantunya berangkat.
"Afrin, kamu sudah datang?" tanya Yasna.
"Sudah, Bunda, baru saja."
"Tadi di luar ada Pak Hari. Sudah Bunda suruh masuk nggak mau."
"Sekarang sudah masuk, kok, Bunda. Ada di ruang tamu sama Mas Khairi. Mereka lagi ngobrol."
"Kalau begitu Papa keluar dulu, ngobrol sebentar sama mereka," sahut Emran sambil berjalan menuju ruang tamu.
"Papa mau teh atau kopi, biar aku buatin sekalian?" tanya Afrin dengan nada sedikit tinggi.
"Tidak perlu, Papa sudah dibuatin Bunda tadi. Kebanyakan minum kopi juga nanti nggak bisa tidur."
Afrin pun meneruskan langkahnya menuju dapur dan membuatkan minuman untuk suaminya dan Pak Hari. Yasna mengikuti putrinya. Dia masih penasaran, siapa wanita yang bernama Nur Aini itu? Setidaknya Yasna ingin tahu sedikit mengenai jati diri wanita itu, hingga membuatnya tidak banyak berpikir lagi nanti.
"Sayang, sebenarnya siapa, sih, wanita yang bernama Nur Aini itu?" tanya Yasna sambil berbisik. Sesekali wanita itu menengok ke arah depan, takut jika menantunya masuk ke dapur.
__ADS_1
"Bunda, sekarang suka gosip, ya?"
"Habisnya, Bunda penasaran, siapa wanita yang bernama Nur Aini itu? Sampai-sampai suami kamu pengen cepet-cepet ketemu sama dia. Tidak ada yang kamu sembunyikan, kan?"
Sebagai seorang wanita, Yasna khawatir pada putrinya. Apalagi dia punya masa lalu pahit mengenai wanita lain. Yasna tidak ingin ada sesuatu yang mengusik rumah tangga anaknya.
"Sebenarnya, dia ibu kandung Mas Khairi," jawab Afrin dengan pelan.
"Apa!" pekik Yasna terkejut.
Wanita itu menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya malam ini. Sekarang memang sudah larut, tetapi pendengarannya masih berfungsi dengan baik, kok! Dia sampai berburuk sangka, ternyata semuanya hanya salah sangka.
"Terus Nyonya Merry .... dia bukannya mama kandung Khairi?"
"Bukan, Bunda. Mama Merry itu ibu sambungnya. Bu Nur Aini itulah ibu kandungnya karena itu dia ingin cepat bertemu. Sudah pilihan tahun mereka terpisah," sahut Afrin. "Ya sudah, Bunda. Begitu saja, kapan-kapan kita bergosip," lanjut Afrin.
"Bisa-bisa papamu melototkan matanya karena tahu bunda bergosip. Sudahlah, apa pun itu, Bunda akan selalu mendukung kalian. Mudah-mudahan saja kalian segera dipertemukan dengan ibu Nuraini itu."
"Amin, terima kasih, Bunda, atas doanya. Mudah-mudahan semuanya lancar dan keadaan baik-baik saja," ucap Afrin. "Aku keluar dulu, Bunda.
"Iya, Bunda panggilkan Wulan."
"Eh, Ibu, ada apa, Bu?" tanya Wulan dengan sopan.
"Afrin sudah datang, dia menunggu kamu di luar."
"Iya, Bu. Saya masih menyiapkan barang-barang saya."
"Jangan terburu-buru, masih ada waktu."
"Oh, ya, Wulan. Ini ada sedikit untuk keluarga kamu di kampung," ucap Yasna sambil menyerahkan sebuah amplop berisi uang yang cukup tebal kepada Wulan.
"Ibu kasih gaji saya sekarang?" tanya Wulan dengan wajah berbinar.
Sebenarnya tadi wanita itu ingin memintanya, tetapi dia tidak berani, mengingat dirinya masih dalam tahap uji coba. Daripada nanti dirinya kehilangan pekerjaan, lebih baik nanti ditransfer saja. Akan tetapi, Yasna seperti mengerti kesusahan yang dialaminya.
__ADS_1
"Bukan, gaji kamu masih dua hari lagi. Ini dari saya buat keluarga kamu."
"Tidak usah, Bu. Saya tidak enak jadinya. Sudah numpang pulang, sekarang dikasih uang sama ibu," ucap Wulan dengan ragu.
"Tidak apa-apa, ambil saja. Ini rezeki buat anak dan ibu kamu. Bukankah kamu sudah tiga bulan libur kerja? Pasti mereka membutuhkannya."
Memang benar apa yang dikatakan Yasna. Keluarganya sangat membutuhkan uang saat ini, tetapi menerima uang cuma-cuma dari majikan barunya, itu bukanlah hal baik. Ada rasa takut jika suatu hari nanti dia diminta menggantinya.
"Kalau begitu, Ibu, potong saja gaji saya nanti," usul Wulan yang masih merasa tidak enak.
"Tidak perlu, ini rezeki buat keluargamu. Jangan ditolak, itu akan menghambat rezeki yang lain. Bawa saja."
Akhirnya dengan terpaksa, Wulan pun menerimanya. Wanita itu senang, setidaknya dia pulang tidak dengan tangan kosong. Sebelumnya Wulan sudah menyiapkan alasan untuk ibunya karena dia tidak membawa uang, tetapi sekarang itu tidak diperlukan lagi.
"Terima kasih, Bu. Ibu sangat baik sama saya. Dulu, saat saya di rumah majikan yang lama Setiap kasbon saja tidak boleh, tapi Ibu malah memberi saya tanpa mau memotong gaji. Terima kasih, Bu. Anda orang baik. Betapa beruntungnya saya bisa bekerja dengan Ibu."
"Kamu terlalu berlebihan. Ya sudah, kamu siap-siap, Afrin dan suaminya sudah menunggu di depan."
"Iya, Bu. Saya ambil tas saya." Wulan pun kembali ke dalam dan mengambil tasnya. Dia tidak membawa barang banyak karena tahu majikannya pasti tidak akan lama di sana. Mengingat bagaimana keadaan desanya, sudah pasti membuat orang kaya seperti Khairi dan Afrin tidak betah.
"Sudah siap, Mbak Wulan?" tanya Afrin yang melihat Wulan keluar bersama Yasna.
"Sudah, Non," jawab Wulan dengan tersenyum.
"Ya sudah, ayo, kita berangka!" ajak Afrin kemudian beralih pada orang tuanya. "Papa, Bunda, kami berangkat dulu."
"Iya, kalian hati-hati."
Mereka semua keluar dan pergi meninggalkan rumah keluarga Emran. Pak Hari mengambil kemudi, di sampingnya ada Khairi. Sementara Afrin duduk di belakang bersama Wulan. Waktu menuju tengah malam membuat suhu begitu dingin, ditambah bekas hujan tadi sore membuat hawa semakin dingin.
Perjalanan masih panjang, itu dipergunakan Afrin untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang mertuanya yang hilang itu.
"Mbak Wulan, apa Bu Nur Aini masih memiliki suami?" tanya Afrin membuat Khairi yang ada di depan segera menoleh. Dia juga ingin tahu kehidupan ibu kandungnya.
.
__ADS_1
.
.