Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
147. S2 - Acara berjalan lancar


__ADS_3

"Sebenarnya aku sudah tahu mengenai hal itu," ucap Nayla.


Yasna dan Aydin sama-sama terkejut. Darimana Nayla tahu tentang hal itu? Siapa yang mengatakan? Akan tetapi itu tidak penting sekarang, jika gadis itu sudah tahu, kenapa diam saja?


"Ayah sudah menceritakan semuanya tentang pertemuan kalian. Dia juga mengatakan kalau dia meminta mobil dari Mas, yang saya tidak mengerti, kenapa mas membelikan ayah mobil yang bagus? Padahal ayah minta mobil biar dia bisa pergi kemana-mana. Mas bisa memberikan dia mobil bekas."


Aydin terbengong, dia seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. Memang Roni tidak mengatakan tentang mobil seperti apa yang diinginkannya. Aydin sendiri yang berinisiatif membelikan mobil mewah.


Aydin dan Yasna sama-sama berpikir. Siapa yang sebenarnya bermasalah di sini. Roni yang terlalu pintar memanfaatkan situasi atau Aydin yang mudah dibodohi.


"Jujur saat itu, aku ingin sekali marah pada, Mas, juga ayah, tapi ayah menjelaskan jika dia membutuhkan itu untuk bisa pergi ke mana pun. Ayah juga sudah pulang ke rumah. Dia tidak tinggal lagi bersama Pak Arya," lanjut Nayla.


"Jadi, kamu tidak marah lagi padaku karena sudah berbohong padamu?"


"Siapa bilang aku tidak marah pada, Mas? Aku masih marah karena aku tidak suka kebohongan. Aku juga ingin kamu menarik kembali mobil yang sudah kamu belikan. Aku bisa membelikan motor untuk dia bepergian."


"Apa kamu akan membatalkan pertunangan ini?" tanya Aydin dengan nada suara yang sulit diutarakan.


"Aku tidak berkata seperti itu. Aku memang tidak menyukai kebohongan, tapi bukan berarti aku membatalkan lamaran ini."


"Aku tidak mengerti maksudmu?" tanya Aydin yang masih bingung.


"Aku akan menerima lamaran ini dan melakukan pertunangan. Mengenai masalah kebohongan yang Mas lakukan. Akan ada waktunya untuk membayar."


Terdengar menyenangkan di indera pendengaran Aydin. Namun, membuat bulu kuduk berdiri. Entah apa yang akan gadis itu lakukan padanya nanti. Pria itu menatap takut pada Nayla.


Yasna lega mendengarnya. Mengenai hukuman untuk putranya, biarlah itu menjadi urusan mereka. Saat ini yang penting acara lamaran berjalan dengan lancar.


"Jadi, kamu akan meneruskan pertunangan ini, kan, Nay?" tanya Yasna.


"Iya, Bunda," jawab Nayla dengan menatap Yasna.


"Karena pertunangan ini akan dilanjutkan, sebaiknya kita keluar dan melanjutkan acara. Mengenai hukuman yang akan kamu berikan pada pria ini, kalian lanjutkan nanti saja, setelah acara selesai. Tidak enak jika membuat semua orang menunggu dan Bunda juga mendukung kamu memberi hukuman padanya," ucap Yasna sambil melihat ke arah Aydin.


"Bunda, kenapa tidak membelaku? Kenapa malah membuat Nayla semakin bersemangat menghukunku?" protes Aydin pada bundanya.

__ADS_1


"Itu salahmu sendiri karena tidak jujur sama Bunda dan Nayla jadi, nikmati saja hukumanmu," sahut Yasna. "Ayo, sekatang kita keluar!"


Yasna menarik lengan Nayla pelan dan berjalan keluar, menuju ruang tamu yang akan dijadikan tempat acara. Aydin berjalan dengan lesu. Dia mengikuti dua wanita yang pergi lebih dulu, entah apa yang dilakukan mereka nanti. Biarlah waktu yang menjawab.


Saat ini yang terpenting dia bisa bertunangan dengan Nayla dan dia berharap tidak akan ada kendala dalam hubungan mereka hingga menikah bahkan hingga rambut mereka memutih. Semua orang tampak lega melihat ketiga orang tersebut sudah keluar dari kamar dan kembali duduk dengan tenang.


Acara pun dimulai dengan hikmat. Doa-doa juga tak lupa di baca oleh seorang ustaz yang memang sengaja Rini datangkan agar perjalanan kedua calon pengantin dari sekarang hingga menikah bahkan sampai tua selalu diberkahi oleh Allah.


Nayla diam-diam menangis. Dia terharu melihat semua orang begitu menyayanginya, meski tidak ada kedua orang tuanya di sini. Gadis itu tidak merasa kesepian. Ada Doni dan Rini yang menggantikan peran kedua orang tuanya. Walaupun tidak bisa menggantikan posisi di hati Nayla.


Begitu juga dengan kedua orang tua Aydin yang begitu menyayanginya. Emran memang orang yang sangat cuek, tapi Nayla tahu. Dia seorang ayah yang sangat perhatian kepada anak-anaknya.


*****


"Alhamdulillah, ya, Mbak. Semua acaranya berjalan dengan lancar," ucap Rini.


Acara telah usai. Semua tetangga juga sudah pulang. Kini hanya tinggal keluarga Doni dan juga keluarga Emran. Mereka masih berbincang, menikmati kebersamaan yang mungkin akan jarang terjadi karena kesibukan masing-masing.


"Iya, Mbak. Saya juga senang," sahut Yasna.


"Mbak Rini, ngundang Bu Sarah?" tanya Yasna. Dia sudah tidak pernah bertemu dengan wanita itu sejak pertunangan putranya dan Nayla gagal. Yasna juga enggan bertanya pada calon menantunya itu. Pastinya tidak akan nyaman untuk mereka berdua.


"Iya, kemarin saya dan Nayla menghubunginya, tapi dia bilang tidak bisa datang. Katanya ada urusan, padahal saya sangat berharap dia bisa datang. Bagaimanapun juga, dia sudah sering membantu Nayla dan Mbak Asih dulu."


"Iya, Mbak. Mungkin urusan Bu Sarah sangat penting, sehingga tidak bisa datang."


"Mbak Yasna, apa ini ada kaitannya dengan pembatalan perjodohan Nayla dan Rizki, ya?" ucap Rini mengira-ngira.


Yasna juga berpikir demikian, tapi dia tidak mau mengutarakannya. Lebih baik diam saja. Wanita itu takut jika menyinggung orang lain.


"Saya tidak tahu, saya tidak begitu mengenal Bu Sarah. Saya bertemu dengan beliau juga hanya beberapa kali," sahut Yasna.


"Saya juga sama. Saya dengar katanya Rizki sudah menikah, tapi pernikahannya dilaksanakan secara diam-diam. Mereka juga tidak menggelar acara resepsi."


"Mbak, dengar dari siapa?" tanya Yasna.

__ADS_1


"Saya dengar dari teman saya. Dia juga teman Bu Sarah, sama seperti Mbak Asih. Mereka hanya melakukan ijab kabul saja. Bu Sarah tidak menyukai menantunya. Kalau seperti itu saya jadi sedih. Saya teringat dengan mertua saya dulu yang tidak menyukai saya. Eh, saya malah curhat sama Mbak Yasna," ucap Rini dengan menutup mulutnya diakhir kalimat.


"Tidak apa-apa, Mbak. Saya mengerti."


"Apa, Mbak Yasna, juga dulu begitu? Apa mertua Mbak, tidak suka sama, Mbak?" tanya Rini dengan berbisik.


"Tidak juga, Mbak. Mertua saya sangat baik," jawab Yasna berbohong.


Memang benar mertua Yasna sangat baik. Namun, jangan lupakan jika wanita itu pernah memiliki mertua yang bernama Faida. Semua orang tahu bagaimana wanita paruh baya itu memperlakukan Yasna dulu.


Kejadian itu juga yang membuat Yasna selalu menanamkan dalam diri jika apa pun keadaan menantunya nanti, dia tidak akan memperlakukannya seperti yang dia rasakan dulu.


"Mbak, sangat beruntung sekali memiliki suami yang tampan anak-anak yang baik dan mertua yang baik juga."


"Alhamdulillah, Bu. Tuhan masih sayang sama saya, tapi setiap orang juga pasti pernah mengalami kesulitan. Mungkin orang melihat saya saat ini sangat bahagia, tapi mereka tidak pernah tahu apa yang saya pernah alami sebelumnya," ujar Yasna.


"Mungkin itu makna dari kata orang Jawa, sawang sinawang mereka hanya tahu apa yang dilihat tanpa tahu apa yang sudah kita alami."


"Iya, Mbak. Mereka hanya tahu kita bahagia."


Senyum memang bisa menutupi kesedihan dan kesakitan yang dirasakan. Bukan hanya untuk menunjukkan kalau baik-baik saja, tetapi membuktikan kalau diri ini kuat.


"Mbak, jika suatu hari nanti, Roni membuat masalah. Mbak jangan pernah membenci Nayla, ya! Jika sudah tidak menginginkannya menjadi menantu, Mbak bisa mengembalikannya pada kami," ujar Rini dengan mata berkaca-kaca.


"Mbak ini bicara apa? Saya tidak mungkin melakukannya," sahut Yasna. Dia tahu rasanya tidak dihargai sebagai menantu dan tidak mungkin wanita itu melakukannya pada sang menantu kelak.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2