Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
272. S2 - Papa Hamdan sakit


__ADS_3

Ivan dan Rani memenuhi permintaan Yasna untuk makan malam di rumah keluarga Emran. Pria itu tidak mungkin menolak undangan dari mertua atasannya. Aydin dan Nayla pun ikut bergabung.


"Mbak Rani beneran mau berhenti kerja?" tanya Nayla.


"Iya, Non. Maafkan saya jika selama bekerja, saya melakukan kesalahan," sahut Rani.


"Saya juga minta maaf, ya, Mbak, jika pernah berbuat salah."


"Iya, Non, sama-sama."


"Bunda sudah dapat pengganti Mbak Rani?" tanya Aydin.


"Belum, masih nyari-nyari. Bunda nggak mau terburu-buru. Lagi pula Bunda juga masih bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Beberapa hari ini, nggak ada arisan juga."


"Aku juga bisa bantu nanti. Nuri juga nggak rewel," sahut Nayla yang diangguki Aydin.


"Kalau Ibu mau, saya ada rekomendasi orang, Bu! Dulu orang itu bekerja di tetangga sebelah, tapi karena majikannya pergi ke luar negeri jadi, dia berhenti bekerja," ujar Rani.


"Apa dia orang yang bisa dipercaya, Ran?"


"Selama saya mengenalnya, dia orang baik dan bisa dipercaya. Kalau kurang yakin, Ibu, bisa mengujinya."


"Kamu punya nomornya?"


"Punya, Bu," jawab Rani.


"Tolong bilang sama dia, kalau mau bekerja di sini, boleh datang, tapi saya harus uji coba dulu selama satu bulan. Kalau saya suka dengan kerjanya, saya terima. Kalau tidak, saya terpaksa harus memberhentikannya."


"Iya, Bu, nanti saya akan bilang padanya. Dia juga pasti akan senang bisa bekerja sama ibu."


Yasna mengangguk mendengar ucapan Rani. Dia juga tidak begitu mengenal orang-orang di sekitar tempat tinggalnya, tapi dia percaya jika yang direkomendasikan Rani adalah orang baik.


"Afrin nggak ikut ke sini, Bunda?" tanya Nayla.

__ADS_1


"Tadi, Bunda, sudah kirim pesan. Katanya Om Hamdan lagi sakit. Afrin sama suaminya pergi ke sana buat jenguk jadi, nggak bisa ke sini."


"Sakit apa, Sayang?" tanya Emran.


"Aku juga belum tahu, tadi juga aku sudah memberitahu Afrin, kalau sudah sampai rumah mertuanya, suruh kabari kita bagaimana keadaannya. Mungkin kita bisa menjenguknya nanti," jawab Yasna yang diangguki oleh Emran.


Hubungan kedua keluarga ini memang tidak begitu dekat. Mereka hanya bertemu beberapa kali saja selama anak-anak menikah. Berbeda dengan keluarga Bibi Rini, bibinya Nayla. Meski jarang bertemu, tetapi komunikasi tetap lancar. Hubungan Yasna dan Rini pun sangat dekat.


Mereka pun melanjutkan makan malam dengan sesekali berbincang dan bercanda. Hingga tanpa terasa semua hidangan habis begitu saja.


*****


"Kita periksa ke rumah sakit saja, ya, Pa? Papa badannya lemes begini," bujuk Khairi.


"Papa tidak apa-apa, nanti juga sembuh. Papa cuma lagi capek saja," jawab Hamdan.


"Kenapa Papa nggak pernah bilang, sih, kalau Papa sakit! Bisa sampai kayak gini!" seru Afrin.


"Pa ... Papa itu sudah tidak muda lagi, apa pun yang Papa rasakan, Papa harus bilang agar kita semua tidak bingung dengan keadaan Papa," ujar Khairi.


"Makanya Khairi, lebih baik kalian tinggal di sini jadi, ada yang bisa mengawasi Papa juga. Papa kamu itu orangnya keras kepala kalau ada kamu pasti papa menurut," sahut Mama Merry membuat Khairi terdiam.


Pria itu memikirkan perkataan mamanya, apa dia harus mengikuti kata wanita itu? Mengingat bagaimana keadaan Papa Hamdan saat ini, tetapi bagaimana dengan Afrin? Dia sangat tahu jika istrinya tidak nyaman berada di rumah ini. Wanita itu bisa belajar menyesuaikan diri, kan!


Sementara Afrin juga ikut terdiam, pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan mertuanya. Wanita itu sudah menyerahkan semua keputusan pada sang suami. Jika memang Khairi mengajaknya tinggal di sini, dia akan ikut. Meski dengan segala resiko yang harus dihadapi kedepannya.


"Jangan memaksa mereka, Ma. Mereka juga berhak menentukan kehidupan mereka," tegur Pada Hamdan.


"Mama cuma ingin yang terbaik untuk Papa. Kalau ada Khairi di sini, ada yang negur Papa. Lagian Papa tidak pernah mendengar kata-kata Mama," kilah Mama Merry. Dia senang ada alasan untuk mencegah Khairi tinggal di rumah.


"Iya, Papa akan mendengarkan kata-kata Mama. Sudah tidak usah dibahas lagi, Papa baik-baik saja, nanti setelah minum obat juga akan sembuh. Kalian makan malam lah dulu, Papa mau istirahat."


"Iya, Pa."

__ADS_1


"Kalian malam ini menginap di sini atau pulang?" tanya Hamdan.


"Kami menginap, Pa," jawab Khairi tanpa meminta persetujuan dari istrinya karena dia tidak ingin mengecewakan sang Papa.


"Baguslah kalau begitu, kamu ajak istrimu makan malam dulu sana! Mama juga harus makan."


"Iya, Papa istirahat dulu saja."


Khairi mengajak mama dan istrinya makan malam. Semua hidangan sudah tertata di meja dengan rapi. Ketiganya menikmati makan malam dengan tenang, tanpa mengucapkan satu kata pun. Bukan maksud Afrin untuk diam, hanya saja dia tidak tahu harus membahas apa. Entah kenapa dia merasa kaku saat berada di rumah mertuanya.


Usai makan malam Afrin pergi ke kamar untuk istirahat. Sementara Khairi kembali ke kamar Papanya sebentar, dia ingin melihat apa pria itu bisa beristirahat dengan baik. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Papanya.


"Kamu harus pikirkan apa yang Mama katakan tadi. Papa benar-benar membutuhkan kehadiran kamu di sini. Sebagai seorang anak, tentu kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Mama tidak akan memaksamu jika kamu tidak ingin tinggal di sini," ucap Mama Merry yang justru semakin memojokkan Khairi.


"Aku ke kamar dulu, Ma. Mungkin Afrin sudah menunggu," pamit Khairi yang diangguki oleh mamanya.


Bukannya masuk ke dalam kamarnya, Khairi memilih pergi ke taman. Dia ingin menenangkan pikirannya dulu. Sejujurnya pria itu ingin tinggal di sini dan merawat papanya. Hanya sang papa yang dia miliki. Meski ada mama, tapi Merry bukan mama kandungnya, hanya Papa Hamdan yang memiliki darah yang sama.


Khairi tidak mungkin membiarkan papanya begitu saja dalam keadaan sakit. Dia mengingat semua kenangan kebersamaan dirinya dengan sang papa. Semuanya terlihat jelas, bagaimana perjuangan Papa Hamdan selama ini. Bagaimana Pria itu merawatnya dari kecil hingga saat ini.


Mungkin untuk saat ini Khairi harus mengesampingkan perasaan istrinya. Lagipula tidak ada salahnya, kan, tinggal bersama dengan mertua? Hubungan Afrin dan Mama Merry juga sudah baik.


Di dalam kamar Afrin menunggu sang suami untuk tidur. Namun, hingga jarum jam menunjuk angka sebelas, Khairi belum juga kelihatan. Padahal tadi suaminya mengatakan hanya ingin melihat Papanya sebentar. Dia merasa pria itu ingin menghindarinya, entah karena alasan apa.


Afrin tidak masalah jika harus tinggal di rumah ini. Dia akan mengikuti ke mana pun suaminya pergi, begitulah yang wanita itu pelajari tentang kewajiban istri. Asalkan Khairi berbicara dengannya secara baik-baik.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2