
"Aku menemukan sebuah kotak dan isinya adalah sebuah buku diary dan sebuah DVD. Aku sudah memutarnya. Isi rekaman itu adalah pengakuan Mama Nur mengenai apa yang terjadi hari itu dan juga mengenai kehamilannya. Dia berharap, Papa, menemuinya dan membawa pulang. Dia menunggu di tempat pertama kali kalian bertemu. Dia bilang akan menunggu selama satu minggu di sana. Setelah itu dia akan pergi jika memang Papa tidak datang, itu berarti Papa tidak menginginkannya lagi. Akhirnya Papa tidak pernah datang karena memang Papa tidak lihat DVD itu."
Hamdan terkejut, dia benar-benar tidak tahu jika semuanya akan jadi serumit ini. Dulu menurutnya, masalah akan cepat selesai jika dia lebih dulu mengakhiri. Siapa sangka jika berakhir menyedihkan seperti ini. Bagaimana pria itu akan bertemu Nur dan memohon maaf? Menampakkan wajahnya saja dia tidak memiliki keberanian.
Mengenai anaknya yang tidak pernah Hamdan ketahui, bagaimana nanti pria itu bisa menghadapinya? Rasa malu dan tidak pantas, kini datang menghampirinya. sungguh penyesalan memang datangnya terlambat. Akan tetapi, tidak ada gunanya meratapi semuanya.
Semua sudah terjadi. Kini hanya tinggal bagaimana caranya menemukan mereka dan meminta maaf. Entah Nur dan anaknya mau memaafkannya atau tidak.
"Papa ingin lihat video itu," ucap Hamdan.
Tanpa membuang waktu, Khairi pun membuka ponselnya. Dia memang sudah memprediksi jika Papa Hamdan akan meminta rekaman video itu. Pria itu sudah menyalin sebelum memberikan pada orang suruhannya.
Khairi memutar video dan memberikannya pada Papa Hamdan. Pria paruh baya itu tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi. Seandainya saja dulu tidak menuruti keinginan mamanya, semua ini tidak akan terjadi. Akan tetapi, bagaimana dengan Merry?
Bagaimana Hamdan menjelaskan pada Merry, mengenai Nur dan anaknya yang lain? Selama ini dia tidak pernah sekali pun menceritakan tentang masa lalunya. Setiap kali Merry bertanya tentang itu, pria itu selalu banyak beralasan. Sekarang tiba-tiba saja Hamdan memiliki anak lainnya.
"Apa yang akan Papa lakukan sekarang?" tanya Khairi.
"Papa serahkan semua sama kamu. Papa sudah tidak bisa apa-apa lagi. Hanya satu keinginan Papa," ucap Hamdan menjeda sejenak. "Jika kamu sudah menemukannya, Papa ingin bertemu dengan mereka dan memohon pengampunannya."
"Apa Papa yakin mereka mau bertemu Papa?" tanya Khairi mengejek.
"Apa pun yang akan terjadi nanti, setidaknya Papa sudah berusaha meminta maaf. Mengenai hasilnya nanti biarlah mereka yang memutuskan."
"Meminta maaf itu ternyata sangat mudah, ya! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan mereka, terutama adikku. Dia pasti merasa terbuang oleh ayahnya sendiri."
"Jika kamu ingin menghukum Papa, lakukan saja. Apa pun itu Papa akan terima."
"Kenapa harus aku? Kita tunggu saja, apa Mama Nur bisa ditemukan atau tidak!" jawab Khairi dengan nada datar.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menyewa orang untuk mencarinya?" tanya Hamdan yang diangguki oleh Khairi.
"Apa, Papa, tahu tempat yang kira-kira didatanginya? Mungkin saudara atau sepupu?"
"Tidak ada, mamamu seorang yatim piatu jadi, tidak memiliki saudara sama sekali. Kecuali teman sesama panti, itu pun Papa tidak begitu kenal."
Keduanya terdiam, bergelut dengan pikiran masing-masing. Harapan mereka sama, semoga Nur dan anaknya segera ditemukan.
Khairi pun mengirim pesan pada istrinya agar membawa mamanya kembali. Dia juga merasa bersalah dengan keadaan yang seperti ini. Mama Merry selama ini baik padanya, meski tidak begitu intens menjaganya, tetapi wanita itu selalu bertanya tentang keadaannya.
"Aku sudah meminta Afrin untuk membawa Mama kembali jadi, pembahasan ini cukup sampai di sini saja," ucap Khairi yang diangguki oleh Hamdan.
Tidak berapa lama Afrin memasuki ruangan bersama Mama Merry dengan membawa beberapa cemilan.
"Loh, kalian bukannya tadi bilang mau pergi ke butik? Kenapa sekarang malah bawa makanan? Apa sekarang butik juga jualan makanan?" tanya Khairi sekaligus membuat candaan agar suasana tidak canggung.
Afrin terkekeh mendengarnya. Dia tahu sang suami ingin suasana menjadi hangat makanya pria itu mengatakan hal demikian.
Mama Merry tidak ingin menunjukkan kesedihannya. Biarlah dia sendiri yang tahu betapa terlukanya hati ini. Mungkin ini juga yang dirasakan mantan suaminya saat mengajak rujuk, tetapi wanita itu malah memilih Hamdan.
"Ma, aku sama Afrin pulang sebentar, ya! Nanti ke sini lagi, kami tidak membawa baju tadi," ujar Khairi.
"Iya, hati-hati."
Khairi dan Afrin pun pergi meninggalkan orang tuanya.
"Ma, Papa haus," pinta Hamdan.
Merry pun segera mengambilkan air minum untuk suaminya. Hamdan bisa melihat jika ada kesedihan di mata istrinya. Apa Afrin mengatakan sesuatu pada wanita itu tadi? Dia juga tidak ingin ada rahasia antara dirinya dan wanita itu.
__ADS_1
"Ma, duduklah dulu, ada yang ingin Papa katakan," ucap Papa Hamdan.
Mery pun menuruti perintah suaminya dan duduk di dekat ranjang Hamdan. Wanita itu sudah mendengar semuanya, tetapi tetep saja dia merasa gugup saat suaminya ingin berbicara.Tidak selamanya Merry bisa berpura-pura bodoh.
"Ma, sebenarnya mamanya Khairi masih hidup," ucap Hamdan. Pria itu menunggu reaksi dari istrinya, tetapi Merry hanya diam mendengarkan, tidak ada ekspresi terkejut yang diharapkan Hamdan. "Apa Mama sudah mengetahuinya?"
"Hah, tidak," sahut Merry dengan cepat dan gugup.
"Mama tidak pandai berbohong. Apa Afrin yang cerita tadi?"
Merry menghela napas. Suaminya memang selalu bisa menebak apa yang dia pikirkan, tetapi dia tidak ingin menantunya disalahkan.
"Bukan, Mama mendengarnya sendiri saat Papa bicara dengan Afrin tadi. Mama tadi tidak tidur."
Hamdan terkejut mendengarnya. Dia merasa bersalah karena seolah dia sedang ketahuan selingkuh, tetapi sungguh tidak ada niatan sedikit pun untuk pria itu, kembali dengan masa lalunya.
"Ada satu hal lagi yang pasti tidak kamu ketahui," ucap Hamdan. Merry hanya menatap suaminya menunggu kalimat selanjutnya yang akan pria itu katakan. "Nur hamil sebelum pergi dariku. Itu artinya aku memiliki anak selain Khairi."
"Apa?" Merry menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Dia sungguh terkejut mendengarnya. Ada mamanya Khairi saja dia merasa rendah diri, sekarang malah ada anak lain. Rasa tidak percaya dirinya kini makin bertambah.
"Aku juga baru mengetahui tadi, saat Khairi menunjukkan video yang dibuat Nur sebelum pergi. Video itu dibuat untukku, tapi aku tidak pernah melihatnya. Maaf aku sudah berbohong padamu."
Setetes air mata yang sudah ditahan Merry sejak tadi, akhirnya jatuh juga. Dia berusaha untuk terlihat kuat di depan suaminya. Nyatanya pertahanan dirinya tidak sekuat keinginannya.
"Apa Papa akan kembali padanya setelah dia ditemukan? Bukankah Papa masih mencintainya? Dari cerita yang aku dengar, dia sepertinya wanita yang baik," ujar Merry dengan air mata yang masih mengalir.
.
__ADS_1
.
.