Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
52. Ragu lagi


__ADS_3

Jam sudah menunjuk ke angka sepuluh malam. Namun, Emran tak kunjung datang, beberapa kali Yasna menghubungi ponselnya, tapi nomor yang dituju tidak aktif. Tidak berapa lama akhirnya terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, Mas kok pulang malam?"


"Iya, banyak kerjaan."


"Aku siapin makan malam, ya?"


"Tidak usah, aku sudah makan." Emran memasuki kamar.


Yasna pergi ke dapur membuatkan teh hangat untuk suaminya, ia juga membawakan kue yang ia buat tadi siang. Saat memasuki kamar Emran masih berada di kamar mandi, Yasna memutuskan menunggu di tepi ranjang.


Tidak berapa lama, Emran keluar dari kamar mandi dan segera merebahkan tubuhnya di ranjang, ia menutup mata dengan lengannya tanpa mengatakan apapun.


"Mas, tehnya diminum dulu, nanti dingin."


"Nanti saja." Emran menjawab tanpa membuka matanya.


Yasna melihat Emran sepertinya kelelahan, ia pun tidak mau mengganggu, ia merebahkan tubuhnya disamping Emran dan tertidur.


Emran membuka matanya saat merasa Yasna sudah tidur, ia menatap wajah cantik istrinya itu, teringat kejadian tadi siang, saat istrinya bertemu Avi.


****


Saat di kantor Emran tidak tenang, ia terus mengirim pesan pada Yasna, sampai setengah jam kemudian ia tidak mendapat balasan dari istrinya, ia pun mencoba menghubunginya dan langsung terangkat karena Yasna tanpa sengaja menggesernya.


Emran mendengar semua percakapan mereka termasuk pertanyaan dari Avi, yang menanyakan perasaan Yasna terhadapnya dan itu membuat Emran tidak tenang.


Ia merasa cinta Zahran pada Yasna begitu besar dan pasti kebersamaan mereka selama tujuh tahun sangat membekas di hati dan pikiran Yasna, tapi dia juga tidak mau kehilangan Yasna, karena hati Emran sudah sepenuhnya milik Yasna.


*****


Hari ini Aydin kembali sekolah, Yasna sudah memberikan bolpoinnya pada Aydin, ia juga sudah mengajari Aydin cara penggunaannya.


Yasna memasak pagi-pagi sekali, ia tidak ingin suami dan anak-anaknya terlambat.


"Aku bangunin Mas Emran sama anak-anak dulu ya, Ma!"


"Iya, ini biar Mama yang lanjutin, tinggal menata saja, kan?"


"iya." Yasna pergi menuju kamarnya, ternyata Emran sudah ada di kamar mandi, ia menyiapkan pakaian yang akan dipakai suaminya bekerja.


Yasna beralih ke kamar Aydin yang ternyata juga sudah siap, tinggal Afrin dan Yasna harus membantunya hari ini, entah kenapa pagi ini anak itu tiba-tiba manja.


"Putri Bunda cantik sekali hari ini!"

__ADS_1


Afrin tersenyum malu mendengar pujian dari Bundanya, membuat Yasna gemas dan memberikan ciuman pada pipinya yang tembam.


"Ayo, kita keluar! Papa sama lainnya pasti sudah menunggu."


"Ayo!"


Yasna menggandeng tangan Afrin menuju meja makan, tapi langkahnya terhenti saat melihat kedatangan Tisya di sana.


"Ayo, Bunda!" Afrin menarik tangan Yasna hingga membuat Bundanya tersadar dari lamunannya.


Yasna sungguh kesal dengan kedatangan wanita itu, apalagi dia duduk di samping Emran, tempat yang biasa Yasna tempati.


"Maaf, ini--


"Ran, aku masakin kamu ayam goreng sama sambal, kamu pasti suka." Tisya memotong ucapan Yasna.


"Maaf, Mbak. Ini tempat--


"Enak kan, Ran? Ini khusus aku buatin buat kamu."


Yasna ingin sekali marah, tapi di sini ada anak-anak tidak mungkin dia marah-marah di sini. Ia juga melihat bagaimana Emran sangat menikmati makanan yang di bawa Tisya daripada makanan yang ia siapkan, padahal Yasna sudah susah payah membuatnya.


Yasna memilih duduk di samping Aydin dan Afrin.


"Afrin mau disuapi atau makan sendiri?"


Yasna menyuapi Afrin dengan tenang dengan menahan sesak di dadanya, melihat bagaimana suaminya menanggapi Tisya.


"Sudah habis, Bunda!" seru Afrin.


"Eh, iya, minum dulu baru kita berangkat sekolah." Yasna memberikan minuman pada Afrin. "Aydin sudah selesai makannya?"


"Sudah."


"Ayo, Bunda antar."


"Kamu nggak sarapan dulu, Na?" tanya Karina.


"Sudah terlambat, Ma. Nanti saja setelah mengantar anak-anak." Yasna berkata sambil melihat jam dipergelangan tangannya.


Yasna mencium punggung tangan Karina dan Emran diikuti anak-anak lalu pergi ke sekolah bersama Pak Hari. Dalam perjalanan Yasna banyak melamun, hingga membuat Afrin cemberut karena Yasna tidak menanggapi ucapannya.


"Maafin Bunda, ya? Bunda lapar jadi kurang fokus, nanti setelah pulang sekolah, Bunda temenin Afrin main, oke?"


"Oke."


Setelah mengantar anak-anak Yasna tidak langsung pulang, ia pergi ke danau.

__ADS_1


Yasna duduk di tepi danau, mengingat kejadian pagi ini, yang membuat ia kecewa, ia bangun pagi-pagi sekali untuk memasak makanan untuk suami dan anak-anaknya, tapi sang suami lebih memilih masakan wanita lain, air mata tiba-tiba menetes di pipinya.


Dulu Zahran tak pernah sekalipun melewatkan masakan Yasna, bahkan saat Zahran usai makan malam dengan koleganya, saat sampai di rumah jika Yasna menghidangkan makanan, pasti ia makan.


'Apa Mas juga akan sama seperti dia? Apa Mas juga akan menikahi wanita yang lebih sempurna daripada aku?' tanya Yasna dalam hati.


Sementara di rumah, Karina khawatir pada Yasna karena belum pulang juga, padahal dia belum sarapan.


Karina menghubungi Hari dan ternyata mereka ada di sebuah danau, Karina meminta Hari agar membawa Yasna pulang atau mencari restoran karena Yasna belum sarapan.


Karina kesal ia pun menghubungi Emran.


"Assalamualaikum, Ma."


"Waalaikumsalam, kamu ada masalah apa sama Yasna?" Karina tidak ingin basa-basi, ia sudah menahan kekesalannya sejak kedatangan Tisya, apalagi sikap Emran yang seperti menerima kehadirannya.


"Tidak ada, kenapa Mama bertanya seperti itu?"


"Mama bukan anak kecil, yang tidak bisa melihat bagaimana kamu bersikap pada Yasna dan Tisya."


Akhirnya Emran menceritakan semua yang ia dengar kemarin pada Karina, tanpa mengurangi atau melebihkan.


"Apa kamu sudah bertanya pada Yasna?"


"Tanya apa, Ma?"


"Kalian sudah berumur, bukan massanya lagi saling diam dan saling sindir, bicarakan semuanya secara baik-baik, Mama takut kamu akan menyesal saat kamu sudah kehilangan dia, assalamualikum." Karina menutup panggilannya dengan menggerutu dalam hati, bagaimana dia bisa memiliki anak seb*doh Emran.


Sementara Emran memikirkan apa yang tadi Mamanya katakan lalu mengingat apa yang dilakukannya tadi pagi dan semalam terhadap Yasna.


Emran mengusap wajahnya kasar, ia memang sudah keterlaluan, ia selalu marah saat Yasna dekat dengan mantannya atau pria lain, tapi pagi ini dia sendiri yang dekat dengn wanita lain. Tiba-tiba teringat ucapan Yasna dulu sebelum menikah.


Jika Mas ragu, maka jangan melanjutkan hubungan ini.


Emran segera menghubungi Yasna, tapi ponsel Yasna tengah sibuk, ia pun beralih menghubungi Pak Hari dan ternyata mereka sedang menuju rumah sakit karena Fazilah kecelakaan, ia meminta Pak Hari mengirim alamat rumah sakitnya.


"Hendra, kamu katakan sama atasan Fazilah, kalau dia tidak masuk hari ini, karena kecelakaan. Saya mau ke sana."


"Baik, Pak," sahut Hendra.


Emran segera pergi menuju Rumah sakit.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2