Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
266. S2 - Pengantin baru


__ADS_3

"Aku senang mendengar jawabanmu," ucap Khairi sambil tersenyum.


"Kamu tidak marah, aku melarang kamu menikah lagi?" tanya Afrin.


Sebagai seorang wanita, tentu ada rasa takut dalam hatinya jika sang suami menduakannya. Mengingat Khairi juga termasuk dalam kategori pria mapan dan sukses. Tentu saja banyak wanita yang mendekatinya. Afrin sering melihat para wanita berusaha mendekati papanya, padahal sudah jelas jika pria itu sudah beristri. Wanita itu juga seumuran dengannya.


"Kenapa harus marah? Justru aku senang dengan begitu aku jadi tahu, kalau kamu benar-benar mencintaiku karena kamu tidak ingin melihat aku bermesraan dengan wanita lain. Begitupun denganku, aku juga tidak rela jika kamu bermesraan dengan pria lain."


"Jadi, kamu tidak akan menikah lagi, kan?"


"Tentu tidak, Sayang. Hanya kamu satu-satunya wanita yang ada dalam hatiku selain mama."


Afrin tersenyum, dia senang jika suaminya tidak memiliki pemikiran untuk menikah lagi. Itu berarti hanya wanita itu yang ada dalam hatinya. Afrin berharap itu benar-benar tulus dari dalam hati Khairi. Sekarang banyak sekali pria bermulut manis. Namun, nyatanya dibelakang mereka punya selingkuhan. Dia berharap sang suami tidak termasuk diantara mereka.


"Mas, apa kamu tidak memiliki keinginan untuk mempunyai anak?" tanya Afrin.


Sebagai seorang wanita, tentu saja dia khawatir karena Khairi sama sekali tidak pernah membicarakannya. Berbagai pemikiran buruk seringkali datang ke kepala wanita itu.


Khairi terdiam sejenak, tentu dia terkejut mendengar pertanyaan dari istrinya. Pria mana yang tidak ingin memiliki anak, tetapi dia juga tidak ingin memaksa Afrin karena itu selama ini dia hanya diam saja. Khairi tahu istrinya masih memiliki cita-cita yang tinggi.


"Mas, Kenapa diam?" tanya Afrin lagi, membuat pria itu menghela napas sebelum menjawab.


"Semua orang pasti menginginkan anak, Sayang. Hanya saja aku tahu kamu masih ingin menggapai cita-citamu. Masa depan kamu juga masih panjang jadi, aku tidak ingin memaksamu, kapan pun kamu siap aku dengan senang hati akan menerima. Kalau perlu kita program hamil saja.


"Bolehkan aku Hamil setelah selesai kuliah? Aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang sesungguhnya. Jika aku punya anak, aku ingin merawatnya sendiri, aku tidak ingin melewatkan tumbuh kembang anakku nanti. Boleh, kan, Mas?" tanya Afrin pada suaminya.


Khairi tersenyum pada sang istri. Dia mengeratkan pelukannya. Pria itu ingin memberikan ketenangan pada Afrin dan menyampaikan jika semuanya akan baik-baik saja.


"Aku tidak pernah memaksamu, Sayang. Aku sudah bilang sebelumnya, semuanya terserah padamu. Keputusan ada di tanganmu. Jika kamu maunya seperti itu, tidak apa-apa," jawab Khairi dengan tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas," ucal Afrin. "Udaranya semakin dingin. Ayo, kita ke dalam!"


"Ayo!" Khairi membantu Afrin bangun dari duduknya. Mereka memasuki villa dengan beriringan. Keduanya berharap bisa seperti ini selamanya."


*****


Ivan memasuki kamar Rani. Dibandingkan dengan apartemennya, sudah pasti sangat jauh berbeda. Sempit dan tidak ber-AC hanya menggunakan kipas angin yang tertancap di dinding. Namun, Ivan tidak begitu terkejut karena situasi seperti ini sama seperti yang di rumah mamanya.


Dia juga bukan berasal dari keluarga kaya. Pria itu juga berasal dari kampung juga. Hanya saja dia beruntung bisa bekerja dengan Khairi dan menjadi sekretarisnya, hingga membuat dia seperti sekarang ini. Pria itu duduk di tepi ranjang, menunggu sang istri di kamar cukup lama.


Hingga terdengar pintu terbuka, tampak Rani masuk kamar dengan masih menggunakan kebaya. Wanita itu memasuki kamar dengan malu-malu. Dia membuka pintu lemari untuk mencari pakaiannya. Namun, suara Ivan menghentikan aktifitasnya.


"Ran, aku mau ke kamar mandi. Di mana kamar mandinya?" tanya Ivan.


"Mari, Mas! Saya antar," sahut Rani yang kemudian keluar, diikuti oleh Ivan dibelakangnya.


Ternyata kamar mandinya berada di dekat dapur. Di sana banyak sekali ibu-ibu yang masih repot, padahal acara sudah selesai. Rani ingin berbalik ke kamar karena sudah pasti mereka akan jadi bahan olokan nanti. Akan tetapi, dia tidak mungkin membiarkan Ivan pergi sendiri.


"Ini, Mas, kamar mandinya," tunjuk Rani pada pintu yang tertutup. "Sepertinya masih ada orang. Tunggu sebentar, ya, Mas!"


Ivan mengangguk, tidak berapa lama, keluarlah seorang wanita yang ternyata sepupunya Rani. Wanita itu tersenyum pada Ivan yang hanya ditanggapi dengan sebuah anggukan saja oleh pria itu.


"Silakan, Mas. Sudah kosong kamar mandinya. Saya tinggal ke kamar, tidak apa-apa, kan?" pamit Rani.


"Iya, tidak apa-apa. Aku bisa sendiri," sahut Ivan.


"Aduh, pengantin baru nggak mau terpisah. Ke kamar mandi saja di antar, takut suaminya di gondol orang, ya!" goda salah satu ibu yang berada di sana.


"Bukan begitu, Bu. Mas Ivan tidak tahu di mana kamar mandinya jadi, saya antar," kilah Rani sambil tersenyum paksa.

__ADS_1


"Oh, begitu, saya kira karena takut diambil sama orang lain."


Rani hanya tersenyum menanggapinya dan berlalu dari sana, meninggalkan Ivan yang berada di kamar mandi seorang diri. Menghadapi ibu-ibu tidak akan ada habisnya. Akan ada saja omongan dari mereka.


'Semoga Mas Ivan tidak diisengin sama mereka. Aku tidak bisa membayangkan jika itu benar terjadi,' gumam Rani dalam hati.


Sementara Ivan di dalam kamar mandi, ingin sekali membersihkan diri. Namun, saat menyentuh airnya, terasa begitu dingin hingga sampai ke tulang, membuat dia merinding dan membatalkan keinginannya untuk mandi. Ivan memilih untuk cuci muka saja.


Jika di rumah ibunya, saat ingin mandi air hangat pasti harus masak air dulu. Sedangkan di sini banyak orang, tidak mungkin dia memasak air, pasti akan menjadi bahan perbincangan para ibu-ibu. Sepertinya aku harus


Setelah selesai dengan kegiatannya Ivan kembali. Saat Ivan memasuki kamar, ternyata Rani sudah ada di sana dan sudah berganti pakaian. Seketika suasana menjadi kaku, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan


"Mas, mau makan?" tanya Rani.


"Tidak usah, ini sudah makan, masih kenyang," jawab Ivan dengan berjalan perlahan, dia duduk di tepi ranjang di sebelah Rani. Pria itu tahu jika istrinya saat ini sedang gugup dan takut.


"A–ku ... aku, aku ...,"ucap Rani tergagap.


"Katakan saja tidak apa-apa," sahut Rani.


"Itu, mengenai ... aku ngantuk," ucap Rani akhirnya, padahal bukan itu yang ingin dikatakannya.


"Tidur saja, tidak apa-apa. Aku juga tidak akan melakukannya malam ini. Aku akan menunggumu sampai kamu siap. Aku tidak akan memaksamu," ucap Ivan setelah tahu apa yang dipikirkan oleh istrinya.


Sejujurnya dia juga sama gugupnya. Sebelumnya Ivan memang telah menonton video seperti itu, tetapi untuk melakukannya, pria itu benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2