
Usai membuat laporan, Aydin berniat kembali ke ruangannya. Namun, saat dia berjalan dia melihat gadis yang tadi menabraknya, sedang dimarahi oleh seseorang. Sepertinya dia membuat kesalahan, dari yang Aydin dengar gadis itu telah menumpahkan kopi di atas dokumen penting.
"Kamu lihat ini, berkas saya terkena kopi. Apa kamu bisa membuatnya seperti sedia kala? Tidak bisa, kan. Dasar tidak berguna, saya harus mengulang pekerjaan saya karena kamu. Padahal ini harus segera diselesaikan saat ini juga!" teriak seorang pria, membuat gadis itu semakin menunduk.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja," sahut gadis itu dengan suara lirih dan hampir menangis.
Aydin berjalan ke depan dia ingin membantunya, tapi tiba-tiba suara Pak Romi memanggilnya. Membuat Dia segera mendekati Pak Romi dan tidak jadi, membantu gadis tadi.
"Ada apa, Pak?" tanya Aydin.
"Tidak ada apa-apa. Saya hanya ingin mengundang kamu makan malam di rumah," jawab Pak Romi.
"Terima kasih, Pak, tapi saya tidak bisa. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan papa dan Bunda. Kami ingin merayakannya secara kecil-kecilan, biasa makan malam keluarga, Pak," jawab Aydin berbohong.
Aydin sengaja melakukan itu karena tidak mau terjebak dalam rencana pria paruh baya di depannya ini. Laki-laki itu tahu betul, apa maksud Pak Romi dengan mengundangnya makan malam. Itu bukan hanya makan malam biasa, semuanya dilakukan untuk menjodohkan Aydin dengan putrinya.
Emran sendiri, tidak pernah memaksa putranya untuk menerima Perjodohan itu. Dia juga tidak menolak jika Aydin memang menyukai putri Pak Romi. Gadis itu juga orang yang baik dan sopan. Namun, semuanya diserahkan kembali kepada anaknya.
"Oh, maaf, saya lupa kalau hari ini hari ulang tahun pernikahan Pak emran dan Bu Yasna. Baiklah kalau begitu, saya tidak bisa memaksa kamu untuk datang. Saya pergi dulu mau bertemu dengan Pak Emran untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya." Pak Romi meninggalkan Aydin seorang diri.
Aydin mengembuskan nafas, akhirnya dia bisa lepas dari Pak Romi. Segera dia kembali ke ruangannya dan melupakan tentang nasib gadis tadi.
Saat makan siang Aydin memilih pergi ke kantin perusahaan. Setelah mengambil makanan dia melihat, tidak ada satu meja pun yang kosong. pria itu mengedarkan pandangannya dan tertuju pada gadis tadi pagi, yang sedang makan sendirian. Aydin memutuskan untuk mendekatinya.
"Permisi, Mbak. Maaf, tidak ada meja yang kosong. Bolehkah saya bergabung?" tanya Aydin.
"Silakan, Mas yang tadi pagi saya dorong, kan? Maaf sekali lagi, ya, Mas."
"Tidak apa-apa, lupakan saja."
Aydin duduk di depan gadis itu, dia segera menikmati makannya. pria itu melihat ke arah piring didepannya, ternyata gadis itu hanya memakan nasi dan telur. Tidak ingin bertanya, dia melanjutkan memakan makanannya, sambil sesekali melirik ke arah gadis itu.
"Maaf, Mbak. Kita belum kenalan. Mbak namanya siapa?" tanya Aydin.
"Nama saya Airin," jawab gadis itu dengan menyodorkan tangannya.
"Nama yang cantik," gumam Aydin tanpa sadar.
"Hah, apa, Mas?" Airin melongo mendengarnya.
"Tidak apa-apa, nama kita hampir mirip, saya Aydin," jawab Aydin dengan menyambut tangan Airin
"Iya, Mas Aydin."
__ADS_1
"Panggil Aydin saja. Kamu baru bekerja di sini?"
"Iya, Mas. Ini hari pertama saya, tapi sudah membuat kekacauan," jawab Airin dengan nada sedih.
"Kekacauan apa?"
"Saya tidak sengaja tadi menumpahkan kopi di atas map, katanya sih dokumen penting."
"Sudah, tidak apa-apa. Lain kali lebih berhati-hati saja saat bekerja." Aydin mencoba menenangkan gadis itu, dia tahu Airin merasa sangat bersalah.
"Iya, Mas," sahut Airin. Mereka berbincang-bincang cukup lama, hingga waktu makan siang hampir habis.
"Sebentar lagi waktu makan siang habis. Aku kembali kerja dulu," ucap Aydin.
"Iya, Mas. Saya juga mau kembali kerja."
Aydin pergi lebih dulu, diikuti Airin setelahnya.
*****
Waktu pulang kerja tiba, Aydin berjalan menuju tempat parkir dan saat akan melajukan motornya. Dia melihat Airin di pinggir jalan, seperti sedang menunggu seseorang. Aydin pun mendekatinya.
"Hai, Rin. Kamu lagi nungguin siapa?" tanya Aydin.
"Mau aku anterin?"
"Tidak usah, Mas. Saya nunggu angkot saja."
"Jam segini angkot susah, kamu mau nunggu sampai jam berapa? Ini sudah hampir senja." Airin melihat sekelilingnya, memang sudah mulai sepi. Setelah beberapa kali berpikir, dia pun menerima tawaran Aydin.
"Baiklah, Mas. Saya mau, tapi rumah saya ada di gang sempit memangnya, tidak apa-apa, Mas?" tanya Airin, dia takut nanti Aydin merasa tidak nyaman.
"Tidak apa-apa. Ayo, naik!"
Airin naik ke atas motor Aydin. Pria itu pun melajukan motornya mengikuti arah yang ditunjuk gadis itu. Cukup jauh rumah Airin, hingga sampailah mereka di sebuah rumah kecil yang terbuat dari anyaman bambu. Terlihat di sana seorang wanita paruh baya duduk di teras. Ia memang sengaja menunggu kedatangan Airin.
"Assalamualaikum, Bu," sapa Airin. Ternyata wanita itu adalah ibunya.
"Waalaikumsalam," sahut wanita itu, Airin segera mencium punggung tangan ibunya.
Aydin turun dan menyapa ibu Airin. "Assalamualaikum, Bu." Dia juga menyalami Ibu Airin.
"Masuk dulu, Mas. Biar aku buatkan minuman."
__ADS_1
"Tidak usah, bunda pasti nungguin aku di rumah. Terima kasih tawarannya."
"Sekali lagi terima kasih, sudah mengantarkan aku."
"Iya, sama-sama. Permisi, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Airin dan ibunya.
Aydin menaiki motor dan melajukannya menuju rumahnya. Cukup lama pria itu berkendara, hingga dia sampai di rumah saat maghrib tiba.
"Assalamualaikum," ucap Aydin begitu dia memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, Kakak ke mana saja? Sampai pulang jam segini? kenapa tidak kirim pesan?" tanya Yasna beruntun.
"Biarkan saja, Bunda. Kakak sudah besar, dia lagi cari menantu buat bunda," sahut Afrin yang berada di samping bundanya.
"Setidaknya dia kirim pesan sama Bunda, bilang kalau dia lagi pergi kencan jadi, Bunda tidak khawatir."
Aydin mendengus mendengar bunda dan adiknya menyindir. Dia merasa akhir-akhir ini semua orang menyebalkan.
"Kenapa diam? Benar, ya, lagi kencan sama cewek?" tanya Afrin memastikan karena dia melihat kakaknya diam saja.
"Apa, sih, nggak ada kencan-kencan."
"Berarti Bunda harus mengubur keinginan Bunda buat dapat mantu."
"Sepertinya Bunda memang harus selalu sendiri," ucap Yasna dengan nada sedih yang dibuat-buat.
"Bunda ngomong apa, masih ada kami yang akan selalu ada buat Bunda," sahut Aydin dengan memeluk Yasna.
"Iya, Bunda jangan bicara seperti itu. Kalau Bunda mau temenin, aku bakal temenin, kok." Afrin ikut memeluk Yasna.
Sejak anak-anaknya memutuskan untuk menutupi identitas mereka. Yasna tidak bisa lagi jalan dengan mereka. Alasan takut ketahuan membuat mereka enggan pergi bersama kedua orang tuanya dan membuat wanita itu merasa sendiri.
"Tidak apa-apa, Bunda hanya lagi sensitif saja. Biasanya juga Bunda pergi sama Rani," ucap Yasna tersenyum, dia tidak ingin membuat anak-anaknya sedih. Bagaimanapun juga dia akan mendukung apa pun keputusan yang diambil kedua anaknya.
.
.
.
.
__ADS_1
.