
"Sudah, Fa. Kamu harus kuat, mudah-mudahan ini adalah pilihan yang terbaik yang diberikan Tuhan kepadamu," ucap Yasna.
Cukup lama Fazilah menangis dan itu membuat riasan Fazilah berantakan, Yasna membantu memperbaiki make up nya. meskipun sudah diperbaiki tetap saja tidak bisa menutupi wajah Fazilah yang sembab dan matanya yang merah.
Ketukan pintu dari luar kamar, diikuti suara panggilan meminta sang pengantin untuk keluar, siapa lagi yang memanggil kalau bukan Mama Mirna.
"Fazilah, apa semuanya sudah siap?"
"Sudah, Tante," sahut Yasna sambil membuka pintu.
"Ayo, keluar! Semua orang sudah menunggu, pak penghulu juga sudah datang."
"Iya, Ma. Kami sudah siap kok."
Fazilah keluar dari kamar diikuti Yasna, meski wanita itu tersenyum, Mirna dapat melihat wajah Putrinya yang sembab, tapi dia tidak ingin bertanya sekarang. Setelah acara selesai akan ia tanyakan.
Saat keluar, mereka dapat melihat para tamu yang sudah memenuhi rumahnya. Fazilah memang sengaja meminta akad nikah dilaksanakan di rumah saja, mengenai resepsi ia sebenarnya tidak menginginkannya, tapi keluarga Hisyam memaksa melaksanakan resepsi di gedung mewah.
Fazilah menuruni tangga diikuti Yasna dan Tante Mirna. Sang pengantin wanita hanya menundukkan kepala, ia tidak berani menatap para tamu, karena saat ini matanya sudah memerah karena habis menangis. Fazilah tidak ingin semua orang berpikir yang tidak-tidak.
Fazila duduk di samping hisyam yang berada di depan seorang penghulu. Mama Mirna memasang kain panjang berwarna putih yang sebelumnya dipakai Fazilah sebagai penutup kepalanya.
Acara sudah dimulai dengan doa-doa dari seorang Ustaz, Fazilah menghela nafas saat mencium aroma parfum yang tidak lain, pemiliknya adalah Hafidz. Wanita itu memejamkan matanya sejenak, untuk mengusir kegundahan hatinya.
Padahal saat ini, Hisyam yang berada di sampingnya, tapi ia tidak bisa mencium aroma parfumnya, justru yang berada jauh darinya yang tercium.
"Apa bisa kita mulai?" tanya penghulu.
"Bisa, Pak," jawab para tamu.
"Pengantin pria, sudah siap?" tanya penghulu.
"Siap, Pak."
"Pengantin wanita, sudah siap?"
"Siap," jawab Fazilah dengan suara serak.
Hisyam menjabat tangan penghulu.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, saudara Ahmad Hisyam bin Hartono dengan saudari Nur Fazilah binti Ali Rahmad, yang walinya telah mewakilkan kepada saya untuk menikahkannya dengan Anda, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar dua juta rupiah dibayar tunai."
__ADS_1
Air mata Fazilah menetes, ia tidak bisa menahan lagi kesedihannya, sebentar lagi ia akan menjadi seorang istri dan ia harus patuh pada suaminya.
Begitupun dengan Hafidz, ia memilih segera pergi meninggalkan acara sebelum semuanya selesai, ia tidak sanggup melihat orang yang dicintainya menjadi istri orang lain.
Sedangkan Hisyam hanya diam, ia tidak bisa menjawab, tidak tahu kenapa tiba-tiba lidahnya terasa kelu untuk menjawab.
"Saudara Hisyam, tolong jawab--"
"Pergilah."
Semua orang heran dengan apa yang Hisyam katakan.
"Hisyam, apa maksudmu?" tanya Marissa, mamanya Hisyam.
"Pergilah, Fa." akhirnya kata itu terucap dari bibir Hisyam.
"Apa maksudmu?" tanya Fazilah.
"Maaf, Pak. Sepertinya acara ini tidak bisa dilanjutkan," ucap Hisyam pada penghulu. "Pergilah, sebelum aku berubah pikiran." Hisyam menatap lekat ke arah Fazilah.
Meski belum mengerti sepenuhnya alasan Hisyam memintanya pergi, tapi ia segera pergi untuk menyusul Hafidz, ia baru sadar jika Hafidz sudah tidak ada di tempat karena ia akan segera pergi, Fazila melihat arah jam dan saat ini menunjukkan pukul 9.30 berarti tiga puluh menit lagi pesawat akan lepas landas.
Fazilah pergi menyusul Hafidz dengan menggunakan motor, ia tidak memperdulikan sama sekali tampilannya kini yang masih menggunakan kebaya.
"Maaf, Ma, aku tidak bisa memaksakan Fazilah untuk menikah denganku, dia tidak pernah mencintaiku. Aku tidak mungkin hidup dengan wanita yang tidak pernah mencintaiku, mau jadi apa rumah tanggaku nanti?"
"Lalu bagaimana dengan keluarga kita? Kamu hanya memikirkan tentang wanita itu tanpa memikirkan nama baik keluarga kita, bagaimana kita menjelaskan semuanya pada para tamu yang akan datang di resepsi nanti?"
"Biar aku nanti yang bicara pada mereka."
Marissa kesal pada putranya yang bertidak seenaknya saja, padahal sebelumnya ia sangat senang Hisyam mau menikah.
Beberapa kali marissa memperkenalkan Hisyam dengan anak temannya, tapi tidak satu pun yang bisa membuat Hisyam tertarik dan disaat putranya menyetujuinya justru sang wanita yang tidak mau.
*****
Fazailah mengemudikan motornya dengan kecepatan tinggi. Setelah sampai di bandara dia berkeliling mencari Hafidz, banyak pasang mata yang menatapnya aneh karena Fazilah memakai kebaya, tapi wanita itu tidak peduli, yang penting baginya saat ini adalah menemukan pria yang mengisi hatinya.
Saat pandangan matanya terhenti pada sebuah jam yang menunjukkan angka sepuluh lebih lima belas menit, dia menjadi lesu. Berarti Hafidz sudah pergi, sekarang bagaimana caranya untuk menemui Hafidz, dia sendiri tidak tahu kemana pria itu pergi.
Fazilah duduk di kursi, tiba-tiba seorang pria bertanya padanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa duduk di sini?"
Fazilah mendongakkan kepalanya. Air mata wanita itu tidak bisa ditahan lagi, kali ini ia menangis bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Ternyata kekasih hatinya masih di sini.
Pria itu adalah Hafiz, dia masih berada di bandara, Fazilah segera memeluknya, menumpahkan tangis di dada pria itu. Bukan cuma Fazila yang bahagia, Hafiz juga bahagia karena bisa bersatu dengan wanita yang dicintainya.
Cukup lama mereka berpelukan, tapi tidak ada satu pun orang yang berani menatapnya karena sudah pasti anak buah Hafiz yang mengusirnya.
Mereka mengurai pelukan, Hafidz segera melepas jasnya dan memakaikan di tubuh Fazilah.
"Kenapa kamu ke sini memakai kebaya? Kamu seperti pengantin wanita yang kabur di acara pernikahan."
Fazilah memukul dada Hafidz membuat pria itu meringis, meskipun tidak sakit sama sekali.
"Aku 'kan memang kabur, semuanya juga karena kamu," jawab Fazilah cemberut, membuat Hafidz terkekeh.
"Ayo, kita pulang! Lagian kamu itu b*doh sekali, kenapa tidak telepon saja? Kenapa harus jauh-jauh ke sini?"
Fazila merutuki dirinya sendiri, tiba-tiba dia menjadi linglung.
"Tadi Hisyam menghubungiku, dia bilang, pernikahan kalian batal dan dia sendiri yang membatalkannya. Dia juga mengatakan kalau kamu datang ke sini."
"Jadi kamu udah tahu sebelumnya dan itu yang membuat kamu tidak jadi berangkat?" tanya Fazilah.
"Iya, dong. Masa ada pengantin yang kabur gara-gara aku, malah aku tinggal berangkat, sih!" ledek Hafidz.
"Kalau gitu aku pulang aja." Fazilah pergi meninggalkan Hafidz, pria itu pun mengikutinya.
"Kok ngambek sih, sayang."
"Jangan ikutin aku."
"Bener nih? Ya udah, aku berangkat ke luar negeri saja."
"Kalau kamu berani berangkat akan aku acak-acak pesawatnya," ancam Fazilah.
.
.
.
__ADS_1
.