
"saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, saudara Aydin Al Husayn, dengan putri saya yang bernama Nayla Nur Aini Binti Roni Kurniawan dengan mas kawin, seperangkat alat sholat dan uang sebesar satu miliar satu juta seribu satu rupiah dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya saudari Nayla Nur Aini Binti Roni Kurniawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi? Sah?" tanya penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Barakallah."
Doa kembali dipanjatkan. Aydin merasa lega, kegugupan yang sempat menguasai diri, hingga membuatnya hampir melupakan, kalimat ijab kabul yang sudah dia hafalkan sejak seminggu lalu. Kini berganti menjadi rasa syukur dan bahagia.
Sementara Nayla yang sedari tadi menunduk, tampak tersenyum meski setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Statusnya kini telah berubah menjadi seorang istri, baktinya pun kini berganti pada sang suami.
Nayla berharap ini pernikahan pertama dan terakhirnya. Dia ingin selalu bahagia bersama sang suami dalam keadaan apa pun. Wanita itu berharap Aydin juga mempunyai keinginan sama sepertinya.
Yasna tidak bisa lagi menahan rasa harunya. Dia menangis terisak dalam pelukan ibunya. Alina mengerti perasaan sang putri, dia membiarkan Yasna meluapkan semua yang dirasakannya. Menangis adalah hal yang bisa membuat perasaan menjadi lega.
Bukan hanya Yasna yang merasa terharu. Emran juga sama, meski dia seorang pria, tetapi melihat putranya menikah, sudah pasti ada perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya air mata yang mewakili semua.
Air mata yang mereka keluarkan bukan karena kesedihan, melainkan kebahagiaan yang tengah datang. Kehadiran anggota keluarga baru, tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka.
Afrin yang melihatnya juga meneteskan air mata. Gadis itu teringat semua kebersamaannya bersama sang kakak yang mungkin tidak akan terjadi lagi. Kini ada seorang wanita yang akan menjadi prioritas sang kakak. Dia mengerti akan hal itu dan tidak sedikit pun dia merasa tersaingi karena Afrin yakin dirinya dan kaksk ipar memiliki tempat tersendiri di hati Aydin.
Usai doa, Nayla mencium punggung tangan Aydin. Dibalas dengan pria itu mencium kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Senyum mengembang dari semua orang yang menyaksikan acara pagi ini.
Setelah ijab kabul selesai, acara dilanjut dengan sungkeman. Tangis kembali pecah saat kedua pengantin meminta restu pada Emran dan Yasna. Wanita yang selama ini dipanggil dengan panggilan bunda itu memeluk Aydin dengan erat. Berbagai wejangan mereka berikan pada pasangan pengantin baru.
Pasangan pengantin juga meminta restu pada Roni yang duduk seorang diri.
__ADS_1
Rini dan Doni juga tidak kalah terharunya. Hubungan mereka hanya sebatas keponakan, tetapi mereka sudah sangat menyayangi Nayla. Doa tidak lupa diperuntukkan untuk pasangan pengantin baru agar selalu bahagia.
Rangkaian acara telah selesai. Kedua pengantin baru memasuki sebuah kamar yang memang sudah disediakan untuk mereka istirahat, sebelum dirias untuk acara resepsi nanti malam.
"Mau aku bantu melepaskannya?" tanya Aydin saat melihat Nayla kesusahan melepaskan singer dan berbagai aksesoris di kepalanya.
Nayla mengangguk malu. Ini bukan pertama kalinya dia berada dalam satu ruangan dengan Aydin, tetapi rasanya berbeda saat status mereka telah berubah. Ada rasa canggung, lebih tepatnya Nayla salah tingkah saat suaminya mendekat.
Pengantin wanita itu sangat lelah dengan rangkaian acara tadi, tetapi akan tidak sopan jika harus tidur dan membiarkan suaminya terjaga sendiri.
Aydin mulai membantu istrinya melepaskan semua aksesoris yang ada di kepala. Nayla hanya diam dan menunduk sekali melihat pantulan sang suami dari cermin, yang ada di depannya. Sesaat pandangan mereka bertemu, wanita itu menundukkan kepalanya kembali. Dia terlalu malu, padahal mereka sudah sering bersama sebelumnya.
"Kenapa harus malu? Kan sudah sah," ucap Aydin mencoba menggoda sang istri.
"Tidak apa-apa," jawab Nayla singkat.
"Ya ampun, kamu itu kaya anak SMA yang lagi jatuh cinta tahu nggak! Malu-malu gitu," ujar Aydin, padahal jantungnya sendiri terus berdetak lebih cepat dari tadi. Hanya saja dia berusaha untuk tetap biasa saja.
Hiasan di kepala Nayla sudah terlepas semua. Wanita itu kini duduk di depan cermin riasnya, Dia masih menggunakan kebaya dengan rambutnya yang tergerai panjang. Aydin sangat menyukainya.
"Kamu sangat cantik. Apa lagi dengan rambut yang panjang ini," bisik Aydin tepat di telinga sang istri.
Jangan tanya bagaimana kondisi Nayla, terutama jantungnya. Wanita itu tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya berdiri membeku membelakangi sang suami yang tengah memeluk dari belakang.
Bulu kuduknya meremang merasakan embusan napas Aydin tepat di lehernya. Udara disekitar wanita itu terasa panas hingga membuat keningnya berpeluh. Nayla pun sulit bernapas, dia takut pergerakannya sedikit saja akan membuat suaminya tahu keadaan jantungnya.
"Mas, aku ingin mengganti pakaianku dulu. Rasanya tidak nyaman menggunakan kebaya seperti ini," ucap Nayla.
Dia ingin segera pergi dari situasi saat ini, sangat tidak nyaman dan membuat jantungnya tidak sehat.
Sebenarnya Aydin enggan untuk melepaskannya, tetapi dia tahu, Nayla saat ini sedang tidak nyaman. Wanita itu mungkin belum bisa membiasakan diri. Dia akan memberikannya waktu.
__ADS_1
"Bergantilah, setelah itu kamu harus istirahat. Nanti malam pasti akan sangat melelahkan untukmu. Aku mau keluar sebentar, mau cari minuman dulu," ucap Aydin dengan melepaskan pelukannya.
"Biar aku saja, Mas, yang mencarikan."
"Tidak perlu, bukannya kamu mau ganti baju? Apa kamu mau keluar dengan memakai kebaya seperti ini?" tanya Aydin.
Nayla melihat tubuhnya. Dia mendengarkan apa yang dikatakan sanh suami. Benar, tidak mungkin wanita itu keluar dengan kebaya yang dia pakai. Meski semua orang sudah tahu kalau dia seorang pengantin, tetap saja akan malu memakai kebaya saat keluar kamar.
"Bergantilah, biar aku yang cari minum." Aydin mencium kening Nayla dan segera keluar meninggalkan sang istri seorang diri.
Sementara Nayla mematung. Dia tidak menyangka Aydin akan mencium keningnya untuk yang kedua setelah akad tadi. Namun, wanita itu tidak menyangkal jika ada rasa bahagia yang masuk ke dalam hatinya. Dia tersenyum saat mengingatnya kembali.
Nayla pun segera memasuki kamar mandi dan mengganti pakaiannya. Setelah itu dia menunggu sang suami dengan duduk di atas ranjang, karena terlalu lelah wanita itu membaringkan tubuhnya dan tidak sengaja tertidur.
*****
"Kamu keluar, Kak? Nayla ditinggal sendiri?" tanya Yasna saat melihat sang putra sedang menuju ke arah mereka.
Semua orang sedang berkumpul bersama keluarga yang lainnya. Termasuk Roni, Doni dan Rini.
"Nayla sedang ganti baju, Bunda. Dia malu ada aku di sana, karena itu aku keluar saja dengan alasan cari minum," jawab Aydin pelan agar tidak didengar oleh keluarga lain.
"Namanya juga masih baru jadi, dia masih malu-malu. Lama-lama juga terbiasa," ucap Yasna dengan pelan juga.
"Iya, Bunda."
.
.
.
__ADS_1
.
.