Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
190. S2 - Bisa melihat


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Rani saat memasuki ruangan Aydin.


"Waalaikumsalam. Mbak Rani! Bunda mana? Kok, Mbak Rani yang ke sini sendiri. Siapa yang jagain baby?" tanya Afrin beruntun.


"Ada perawat, Non. Kalau ibu, ikut sama bapak ke Singapura mengantar Mbak Nayla."


"Bunda ikut papa nggak bilang!"


"Semuanya dadakan. Pak Emran yang minta."


Afrin mengangguk. Meski dalam hati dia kesal dengan kepergian bundanya. Akan tetapi, gadis itu tahu jika semua ini untuk kebaikan semua orang.


"Kita ngobrol di luar, yuk!" ajak Afrin.


"Mari, Non."


Mereka berjalan keluar dan duduk di depan ruang rawat Aydin. Terlihat beberapa perawat yang lalu lalang. Keduanya terdiam beberapa saat sambil menyandarkan punggung di kursi dan memejamkan mata.


"Pak Aydin bagaimana keadaannya, Non?" tanya Rani membuat Afrin membuka matanya.


"Alhamdulillah, semuanya sudah baik, Mbak."


"Apa, Pak Aydin, sudah tahu mengenai Mbak Nuri?" tanya Rani pelan takut ada orang yang mendengar.


"Belum. Jujur, aku takut jika mengatakannya. Mbak Rani tahu 'kan kalau uminya Nuri sangat marah pada Kak Aydin. Meskipun beliau sudah setuju saat Nuri ingin mendonorkan matanya, tetap saja umi marah karena Kakak yang sudah membuat Nuri kehilangan nyawanya."


Orang tua mana yang rela kehilangan nyawa putrinya. Bahkan tidak itu saja, umi juga harus merelakan salah satu anggota tubuh Nuri untuk penyebab kematian gadis itu. Bagaimana wanita itu bisa berhadapan dengannya nanti.


"Tapi bukannya Abi Mbak Nuri sudah menerima Pak Emran kemarin?" tanya Rani dengan menatap Afrin.


"Abi dari awal juga sudah menerima, hanya Umi yang belum ikhlas."


"Jadi, yang donorin matanya buat aku itu Nuri?" tanya Aydin yang ternyata sedari tadi tidak tidur dan menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.


Pria itu tadi hendak ke kamar mandi. Namun, Aydin mendengar samar namanya disebut jadi, dia mencoba menelusuri sumber suara. Ternyata adiknya dan Rani memang sedang membicarakannya. Pria itu sangat terkejut mendengar kebenaran yang dikatakan Afrin.

__ADS_1


"Kak Adin!"


"Pak Aydin!" seru Rani dan Afrin bersamaan.


Rani teringat jika tadi dia tidak menutup pintu dengan benar. Mungkin masih terbuka. hingga membuat Aydin mendengar mereka berbicara.


"Jawab Afrin ... jadi yang mendonorkan mata ke Kakak itu Nuri? Dan dia sudah meninggal?"


Baik Rani maupun Afrin hanya diam. Mereka tidak menyangka jika Aydin sudah bangun atau memang tidak tidur dan mendengar pembicaraan keduanya.


"Afrin, jawab?" tanya Aydin lagi dengan suara yang lebih keras.


"Iya, Kak. Saat kecelakaan kemarin, dia tidak selamat. Pembuluh darahnya pecah dan sebelum meninggal, dia tahu kalau kornea mata Kakak rusak dan butuh donor mata. Nuri pun mendoanorkan matanya. Umi sempat menolak, tapi dengan bujukan Nuri dan abi, akhirnya umi mengikhlaskannya. Meski sampai saat ini umi tidak mau bertemu dengan siapa pun dari keluarga kita," jawab Afrin dengan sesekali melihat ekspresi Aydin


Aydin tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia diam memikirkan kejadian hari itu. Rasa bersalahnya pada Nuri semakin besar. Pria itu tidak hanya menghilangkan nyawa Nuri, tetapi juga mengambil penglihatannya. Dia merasa menjafi seorang pria yang tidak tahu diri.


Sebelumnya dia pernah berbicara kasar kepada gadis itu, tetapi Nuri masih tetap saja baik padanya, hingga di saat akhir hidupnya.


"Kak, semuanya sudah takdir. Nuri juga sudah ikhlas," ucap Afrin berusaha menghibur kakaknya.


"Kakak tidak membunuhnya. Itu semua kecelakaan dan sudah takdir. Kita semua tidak bisa menyalahkan takdir, bukan?"


"Apa umi pernah datang ke sini, saat aku belum sadar? Meskipun cuma sekali?"


"Tidak pernah sekali pun umi datang ke sini."


Aydin menghela napas mencoba mencari pegangan. Semua memang sudah takdir. Dia juga sudah mensugesti dirinya seperti itu, tetapi tetap saja rasa bersalah itu ada dalam hatinya.


"Sekarang, Nuri sudah meninggal. Setelah perban ini dibuka. Kakak ingin bertemu dengan abi dan umi. Kakak ingin minta maaf sama orang tua Nuri," ucap Aydin.


"Tapi itu akan sulit, Kak. Umi belum bisa memaafkan Kakak. Bunda sama papa saja ditolak kedatangannya sama umi, apalagi melihat kakak, yang pasti akan lebih menyakitkan."


Afrin pun terpaksa menceritakan semua keadaan yang terjadi saat itu. Dia tidak mungkin lagi menutupi kejadian sebenarnya. Bagaimanapun Aydin juga berhak tahu. Pria itu sudah menduga kejadiannya seperti itu. Akan menjadi aneh jika orang tua Nuri terlihat biasa saja.


"Umi mau menerima atau tidak, setidaknya aku harus berusaha. Mudah-mudahan Umi mau memaafkanku saat melihat mata Nuri. Aku juga ingin pergi ke makam Nuri. Kamu tahu, kan, di mana makamnya, Frin?"

__ADS_1


Aydin bertekad, apa pun nanti yang dikatakan dan dilakukan umi padanya, dia akan menerima. Bahkan jika umi meminta kembali mata ini, akan dikembalikannya.


"Iya, Kak. Aku tahu di mana makamnya. Aku dan bunda sempat ke sana saat pemakaman," jawab Afrin. "Sebaiknya Kakak kembali istirahat, Kakak masih belum pulih benar. Ayo, kita masuk!"


Aydin menurut saja. Dia mengikuti ajakan adiknya untuk kembali istirahat.


*****


"Dia sangat cantik, ya, Frin," ucap Aydin pada adiknya.


Saat ini mereka sedang mengunjungi Putri Aydin. Pria itu sudah dibuka perbannya dan semua hasil pemeriksaan baik. Dia bisa melihat kembali.


Hari ini adalah hari pertama dia diperbolehkan pulang. Namun, masih harus menjalani pemeriksaan kembali nanti setelah beberapa hari. Aydin sangat bahagia bisa melihat malaikat kecilnya yang sungguh sangat manis dan menggemaskan. Sayang pria itu hanya bisa melihat dari luar ruangan.


"Dia memang sangat cantik sama seperti aku," jawab Afrin yang memang disengaja ingin bercanda dengan kakaknya.


"Anakku lebih cantik daripada kamu," kilah Aydin denhan sinis.


"Kakak lihat saja, wajahnya mirip sekali dengan aku. Nanti kalau besar juga pasti kita mirip."


Aydin hanya mendengus tanpa menanggapi.Terserah adiknya mau bicara apa, yang penting dia bahagia hari ini bisa melihat untuk pertama kalinya.


"Ayo, Afrin, kita pergi!" ajak Aydin.


"Kakak sudah yakin, akan pergi ke rumah Umi?" tanya Afrin.


"Yakinlah, Kakak sudah siap begini," jawab Aydin dengan berpura-pura merapikan bajunya.


"Tapi, bagaimana nanti kalau kita diusir sama umi, Kak?


"Setidaknya kita mencoba dulu. Kalau kamu nanti tidak mau masuk, kamu tunggu di mobil saja. Biar kakak sendiri."


"Iya, baiklah aku akan temani. Mana tega aku ngebiarin kakakku dihajar sama umi. Kalau perlu nanti aku bantuin umi buat hajar kakak."


"Aku kira kamu bantuin aku. Ternyata ya sudah, ayo!" Afrin mengangguk dan mengikuti kakaknya menuju tempat dimana mobil mereka berada.

__ADS_1


__ADS_2