
"Kamu sudah bekerja, Van?" tanya Yasna.
"Belum, Tan. Masih menunggu wisuda dulu."
"Ada rencana mau bekerja di mana? Atau mungkin kamu mau buat usaha?"
"Enggak, Tante. Aku maunya kerja di perusahaan Om Emran saja. Aku ingin mengabdikan diri pada Om Emran, sama seperti papa," ucap Vania.
Gadis itu mencoba mengambil hati Yasna. Namun, sayang, Yasna sama sekali tidak tertarik. Dia lebih suka dengan seorang wanita yang mandiri dan tidak bergantung pada orang tuanya. Sudah dipastikan Vania akan memanfaatkan nama orang tuanya, untuk masuk di perusahaan suaminya.
"Kenapa tidak membuat usaha saja, Kak?" tanya Afrin. Meski dia masih SMA. Gadis itu sama sekali tidak tertarik dengan perusahaan papanya, kenapa Vania malah ngotot ingin kerja di sana.
"Nggak deh, aku maunya kerja di perusahaan Om Emran saja."
Afrin mengangguk mendengar jawaban Vania. Setiap orang memang memiliki keinginan sendiri dan tidak bisa dipaksakan.
"Afrin, ajak Kak Vania ke taman belakang dulu. Bunda mau beresin meja, nanti Bunda nyusul," ucap Yasna setelah mereka menyelesaikan makannya.
"Iya, Bunda. Ayo, Kak! Kita ke belakang."
"Iya, ayo!"
Vania dan Afrin pergi ke taman belakang. Sementara Yasna dan Rani membersihkan meja makan. Setelah Vania tidak terlihat Rani menggerutu karena sikap gadis itu.
"Kok, Mbak Vania nggak mau bantuin Ibu?" tanya Rani.
"Kamu itu ada-ada saja dia, kan, tamu. Mana ada tamu bantu-bantu tuan rumah."
"Ya, kan, dia mau jadi istrinya Tuan Aydin. Seharusnya kan dia ambil hatinya Ibu dengan membantu di sini, tapi ini malah pergi begitu saja. Bagaimana mau direstuin? Kalau di kampung pasti sudah di usir kalau ada calon mantu kayak gitu," gerutu Rani.
"Sudah tidak usah diperpanjang," potong Yasna.
Sejujurnya Yasna juga berpikir seperti itu. Setidaknya Vania bisa basa-basi, menawarkan diri untuk membantunya, tapi ini tidak ada sama sekali niat untuk membantu. Malah dia pergi begitu saja dengan Afrin.
"Ibu terlalu baik sama orang. Nanti kalau punya mantu, Ibu harus lebih tegas."
"Ayo, cepat! Kerjakan saja, nggak usah menggerutu. Nggak selesai-selesai pekerjaannya ini."
Usai menyelesaikan pekerjaannya. Yasna ke ruangan kerja suaminya dengan membawa secangkir teh. Wanita itu lebih suka membuatkan suaminya teh dari pada kopi. Jika Emran meminta minuman itu, Yasna pasti akan mengomel sepanjang rel kereta api.
"Ini diminum dulu, Mas," ucap Yasna sambil meletakkan secangkir teh di atas meja.
"Kamu itu selalu saja seperti ini. Aku bisa suruh Rani yang buat jika aku haus. Kamu jangan terlalu capek, sudah berapa kali aku bilang," ujar Emran.
"Aku enggak capek, Mas. Ini cuma segelas doang."
"Sini dulu." Emran menarik tangan Yasna pelan. Wanita itu menurut saja, hingga dia terduduk di pangkuan pria itu.
Emran memeluk Yasna, sementara wanita itu dengan nyaman bersandar di dada suaminya.
"Vania sudah pulang, belum?"
__ADS_1
"Belum, dia masih ada di belakang sama Afrin."
"Aydin sepertinya juga tidak mau sama Vania."
"Aku juga enggak tahu, Mas. Dia itu kriterianya seperti apa."
"Sudah, kita tidak usah terlalu ikut campur biar saja dia sendiri yang memilih," ucap Emran yang diangguki oleh Yasna.
"Oh, ya, Mas. Besok aku mau ke tempat ibu, ya? Semalam ibu bilang kalau ayah nggak enak badan."
"Kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Kan kita bisa kesana sama-sama."
"Aku berpikir kalau Mas ada meeting jadi, aku nggak bilang."
"Bagaimanapun ayah juga orang tuaku. Beliau lebih penting daripada pekerjaan."
Bagi Emran keluarga Yasna juga keluarganya, tapi kenapa istrinya itu masih menutupi hal seperti ini?
"Kemarin juga aku mau bilang, tapi ayah melarang. Ayah tidak mau merepotkan Mas terus."
"Bagaimana kalau sekarang saja. Kita ajak anak-anak sekalian," usul Emran.
"Vania gimana, Mas?"
"Kita usir saja."
"Kenapa Mas bisa sekejam itu?"
"Mas saja yang ngomong. Aku mana bisa bicara seperti itu."
Yasna bukan orang yang seperti itu. Sudah pasti apa yang dikatakan Emran akan menyakiti hati Vania dan Yasna tidak akan tega melihatnya.
"Kamu ini, kalau ada yang jelek-jelek saja aku yang disuruh maju."
"Mas, kan, kepala keluarga jadi, harus melindungi semua keluarganya." Yasna menaik turunkan alisnya, seolah mengatakan jika itu memang tugas Emran.
"Baiklah istriku. Ayo, kita keluar! Biar aku yang ngomong sama Vania, kamu bilang sama Aydin yang ada di kamar saja, kalau kita mau ke rumah neneknya."
"Iya, Mas."
Mereka keluar dari ruang kerja Emran dengan beriringan. Yasna pergi ke kamar Aydin, sementara Emran ke taman belakang di mana Afrin dan Vania sedang berbincang.
"Papa! Bunda mana?" tanya Afrin saat melihat Emran mendekati mereka.
"Ada, di dalam," jawab Emran. "Maaf, sebelumnya, Vania. Kami sekeluarga mau pergi. Tidak apakan, kalau kamu pulang sekarang?"
"Memang mau ke mana, Om? Apa saya tidak boleh ikut?"
"Kami mau menjenguk kakeknya anak-anak jadi, hanya keluarga saja yang pergi. Tidak apa-apa, kan? Karena saya tidak ingin membuat mertua saya tidak nyaman dengan adanya orang lain. Saya juga tidak ingin acara keluarga saya terganggu," ucap Emran panjang lebar.
"Tidak apa-apa, Om. Saya permisi kalau begitu."
__ADS_1
Sebenarnya Vania ingin sekali ikut, tapi sepertinya Emran tidak mau acaranya diganggu jadi, dia memilih untuk pulang.
"Iya, hati-hati."
"Aku pamit, ya, Frin. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Vania segera berlalu meninggalkan rumah itu. Sementara di dalam rumah Yasna mencoba mengetuk pintu kamar Aydin. Hingga pemilik kamar membukanya.
"Ada apa, Bunda?" tanya Aydin setelah membuka pintu.
"Papa sama Bunda mau ke rumah kakek. Kamu mau ikut?"
"Apa ada sesuatu? Kenapa mendadak?"
"Kakek sedang nggak enak badan. Bunda sama papa mau jenguk ke sana. Kamu mau ikut nggak?"
"Ikut, Bunda. Sudah lama aku nggak ke sana. Aku kangen sama nenek dan kakek."
"Ya sudah kamu siap-siap dulu. Bunda juga mau ganti baju."
"Iya, Bunda."
Yasna segera pergi meninggalkan kamar Aydin. Pria itu juga segera bersiap untuk pergi.
*****
Keluarga Emran dalam perjalanan menuju ke rumah Ayah Hilman. Mereka menggunakan satu mobil saja dengan Aydin yang mengemudi. Begitu sampai, mereka semua turun. Terlihat rumah begitu sepi seperti tidak berpenghuni. Yasna mengetuk pintu beberapa kali. Namun, tak juga ada sahutan dari dalam.
Yasna semakin kencang mengetuk pintunya. Dia merasa seperti telah terjadi sesuatu.
"Yasna!" panggil seorang tetangga. "Ayah kamu baru saja dibawa ke rumah sakit."
Yasna terkejut mendengarnya. Kenapa tidak ada yang memberitahukannya? Memang ayahnya sakit apa?
"Nggak ada yang bilang sama saya, Bu. Ke rumah sakit mana? Apa Ibu tahu?"
"Yang terdekat mungkin. Saya juga lupa nggak nanya. Sebaiknya kamu hubungi ibu kamu saja."
"Iya, Bu. Terima kasih."
Yasna segera mencari ponsel dan menghubungi ibunya. Panggilan tersambung. Namun, sayang ibu tak juga mengangkatnya. Wanita itu semakin khawatir. Dia takut terjadi sesuatu pada ayahnya, hingga tanpa sadar air matanya menetes.
.
.
.
.
__ADS_1
.