
Siang hari Emran dan Yasna datang bersama dengan Aydin. Pria itu sempat khawatir pada adiknya, dia sangat berterima kasih pada Khairi karena sudah menolong Afrin. Aydin juga ingin berkenalan dengan orang yang sudah menolong keluarganya. Meski mereka pernah berpapasan saat menghadiri sebuah pesta, tetapi mereka belum saling mengenal satu sama lain.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Yasna.
"Sudah lebih baik, Tante."
"Kenalin aku Kakaknya si bandel itu. Namaku Aydin," ucap Aydin sambil mengulurkan tangan.
"Sudah deh, Kak. Enggak usah cari masalah, ini tuh rumah sakit," sahut Afrin.
"Dari dulu juga ini rumah sakit," kilah Aydin.
"Nama saya Khairi. Senang bisa berkenalan dengan Anda," sahut Khairi dengan menyambut uluran tangan Aydin.
"Tidak usah terlalu formal. Panggil saja Aydin."
"Itu terkesan sangat tidak sopan. Bukankah Afrin adik Anda? Kalau aku panggil kakak saja, bagaimana Kakak ipar?"
Aydin tertawa mendengarnya. Ternyata benar seperti yang diceritakan oleh Nayla. Pria ini punya rasa percaya diri yang sangat tinggi, tetapi dia suka.
"Boleh saja adik ipar," sahut Aydin membuat keduanya tertawa bersama.
"Apa-apaan sih kalian? Geli tau nggak sih dengernya?" ucap Afrin.
"Memangnya kenapa? Enggak ada urusannya sama kamu." Aydin pun berbincang beberapa hal, dari urusan bisnis sampai urusan pribadi. Hingga membuat Afrin bosan mendengarnya.
Gadis itu memilih keluar dari ruangan mencari angin karena sedari kemarin dia selalu saja dalam ruangan, seperti seorang tawanan.
Sementara Emran dan Yasna memilih pergi ke ruangan dokter untuk memastikan keadaan Khairi baik-baik saja. Ada beberapa hal juga yang perlu mereka tanyakan.
"Tolong maklumi sikapnya. Dia memang terkadang ngeselin, tapi aslinya baik, kok!" ucap Aydin setelah kepergian Afrin.
"Saya tahu, Kak, karena itu saya jatuh cinta padanya."
"Apa kamu sudah bisa memenuhi syarat dari papa?" tanya Aydin mengingatkan pria itu akan syarat yang diajukan oleh calon mertuanya.
"Masih belum, Kak."
"Apa begitu sulit? Sampai kamu harus menunggu lama untuk memenuhinya?"
"Aku baru bisa salat saja. Untuk mengaji masih belum lancar, hanya sampai iqro," jawab Khairi dengan lesu.
__ADS_1
Belajar mengaji tidak semudah yang dia kira. Apalagi pria itu tidak tahu sama sekali huruf Hijaiyah.
"Semangat, kamu pasti bisa. Buat perusahaan maju saja kamu bisa, masa mengaji saja tidak bisa. Itu sangat mudah,"
"Bagi Kakak itu mudah, tapi tidak untukku. Aku saja tidak pernah tahu huruf hijaiyah, baru kali ini aku melihatnya," ucap Khairi yang semakin frustrasi.
"Maaf, nih kalau aku menyinggung. Aku heran sama kamu, nama kamu itu sudah menunjukkan orang Islam, tetapi kenapa kamu tidak tahu apa pun tentang tentang Islam?"
"Mungkin karena orang tuaku tidak mengajarkan hal itu. Mengenai namaku, itu pemberian kakek dari papa, tapi sayangnya mereka sudah meninggal waktu aku masih sangat kecil."
Khairi sangat ingat, Jika orang tuanya selalu sibuk bahkan hingga kini. Hal itu juga yang membuat hubungan keluarga itu seperti orang asing. Pria itu lebih terbuka dengan orang lain dari pada dengan kedua orang tuanya.
"Memangnya guru kamu tidak mengajari tentang agama semasa sekolah dulu?"
"Aku sekolah home schooling. Aku hanya diajari tentang hal-hal yang penting saja secara umum. Termasuk bahasa umum juga."
Aydin hanya mengangguk, ternyata ada yang hidupnya lebih rumit daripada dirinya. Sedari dulu dia penuh dengan kekangan karena takut akan saingan bisnis papanya.
"Apakah kamu mau mengajariku mengaji?" tanya Khairi pada Aydin.
"Kamu cari saja guru yang lebih bisa bersabar. Kamu tahulah sebagai sesama laki-laki, aku orang yang mudah emosi," tolak Aydin.
"Tidak apa-apa, saya mengerti. Lagi pula kakak sudah sibuk."
Setiap orang pasti berbeda-beda, begitu pun dengan kliennya. Selesai meeting ada yang mengajaknya shalat ada pula yang mengajaknya ke club. Mengingat tempat itu membuatku merasa menjadi manusia yang penuh dengan dosa.
"Orang tua kamu masih di luar negeri?" tanya Aydin karena tidak melihat orang tua Khairi di rumah sakit ini.
"Iya, Kak. Mereka belum tahu aku ada di sini Aku melarang Ivan untuk memberi kabar pada mereka. Kalau aku mengatakannya, sudah pasti mama akan mengoceh sepanjang rel kereta api," jawab Khairi terkekeh.
"Setiap orangtua pasti akan sangat mengkhawatirkan anaknya karena aku pun begitu, meski aku tidak seperti para wanita aku juga akan sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada putriku."
"Kakak sudah memiliki seorang putri?"
"Iya dan dia sangat cantik," jawab Aydin sambil tersenyum mengingatnya.
"Pasti sangat menyenangkan memiliki seorang putri."
"Iya, aku semakin bersemangat untuk pulang saat bekerja. Dia juga sebagai penghibur di saat tubuh ini terasa lelah," jawab Aydin. "Kamu jangan menghayal untuk menikahi adikku, sebelum memenuhi syarat dari papa," lanjut Aydin saat melihat Khairi tersenyum sambil membayangkan sesuatu.
Khairi mendesah dengan berat. Sekarang dirinya berada di rumah sakit. Waktu belajarnya jadi berkurang dan sudah pasti untuk mendapatkan Afrin pun, akan semakin lama padahal dia sudah tidak sabar ingin menikahi gadis itu.
__ADS_1
Dulu pernikahan tidak pernah ada dalam kamus pria itu. Dalam pikirannya hanya ada cara bagaimana bersenang-senang. Akan tetapi, setelah bertemu dengan Afrin, jalan hidupnya mulai berubah.
Khairi mulai memiliki tujuan hidup, tentunya tujuan yang lebih baik.
"Makanya cepat keluar dan banyak belajar, biar cepet bisa dapetin adikku," ucap Aydin sambil menahan tawa.
"Ternyata benar apa yang dikatakan Afrin, Kakak ipar suka sekali mengejek orang."
"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kenapa malah dibilang mengejek?" tanya Aydin yang tidak ditanggapi Khairi.
Pintu ruangan terbuka, tampak Emran dan Yasna yang datang. Keduanya merasa lega karena Khairi baik-baik saja dan bisa segera pulang jika ada perubahan yang baik.
"Om, Tante," sapa Khairi sambil berusaha bangun.
"Sudah, tidak usah bangun, tidur saja. Kamu harus banyak istirahat," cegah Yasna. " Kata dokter kamu sudah mulai membaik. Mudah-mudahan kamu bisa segera pulang."
"Iya, Tante. Terima kasih sudah mau repot mengurusku."
"Tidak apa-apa, kamu seperti ini juga karena menolong putri kami."
"Mana Afrin, Kak?" tanya Emran.
"Baru saja keluar, katanya mau cari sesuatu."
"Ada apa mencariku, Pa?" tanya Afrin yang baru saja datang. Dia mendengar pertanyaan papanya tadi.
"Ayo, kita pulang! Besok ke sini lagi," ajak Emran.
"Kok, pulang!" seru Khairi yang mengira Afrin akan tetap di sini sampai dia sembuh, tetapi kini orang tua gadis itu mengajaknya pulang.
"Kamu, kan, sudah baik-baik saja. Apa kamu tidak kasihan pada Afrin? Dia juga butuh istirahat dengan tenang. Semalam tidurnya pasti tidak nyenyak."
Bukannya Emran tidak memiliki perasaan, tetapi Khairi sudah ada anak buahnya. Dia juga kasihan pada putrinya yang sudah pasti tidak bisa tidur semalaman.
Khairi berpikir, benar apa yang dikatakan calon mertuanya itu, kalau memang Afrin juga butuh istirahat. Terlihat dari mata gadis itu yang tampak kelelehan.
.
.
.
__ADS_1
.