Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
218. S2 - Ke rumah Khairi


__ADS_3

"Hari ini jadi, Dhek, ke rumah Khairi? Ketemu sama mamanya?" tanya Yasna.


"Jadi, Bun, tapi nanti, saat makan siang. Aku ada kelas, lagipula mamanya Khairi juga sedang bekerja."


"Ingat, ya! Di rumah orang harus sopan."


"Iya, Bunda. Aku di mana-mana juga selalu sopan, kok!"


Yasna mengangguk sambil tersenyum. Dia senang melihat anak-anaknya selalu menuruti perkataannya. Meski Afrin terlihat ketus dan jutek, tetapi gadis itu selalu mendengarkan kata-katanya.


"Hari ini aku berangkatnya sama kakak, ya?"


"Kenapa sama aku?" tanya Aydin.


"Nanti siang, aku mau dijemput sama Khairi. Kalau aku bawa mobil ribet, nanti mobilnya taruh di kampus terus pulangnya balik lagi ke kampus. Kalau berangkat sama Kakak, enak, nanti pulang langsung ke rumah," jawab Afrin sambil memperlihatkan deretan giginya.


"Ya sudah, nanti Kakak antar ke kampus."


Afrin bersorak senang. Mereka pun melanjutkan sarapan dengan tenang. Hanya Nuri yang berceloteh kata-kata yang belum jelas.


"Ya sudah, Bunda. Papa mau berangkat dulu," ucap Emran setelah menyelesaikan sarapannya.


"Iya, Pa."


"Kamu nggak mau bareng Papa saja, Dhek?" tanya Emran pada putrinya


"Enggak usah, Pa. Aku sama kakak saja."


"Ya sudah, Papa berangkat dulu."


"Iya, Pa."


Setelah kepergian Emran. Aydin dan Afrin juga berangkat. Pria itu melajukan mobilnya menuju kampus sang adik terlebih dahulu kemudian ke kantor. Sementara di rumah, Nayla masih menyuapi putrinya.


"Belum selesai juga makannya, Sayang?" tanya Yasna pada Nuri yang sedang disuapi Nayla.


"Mamam," celoteh Nuri.


"Nay, sini biar Bunda saja yang suapin. Kamu, kan, belum makan."


"Tidak apa-apa, Bunda. Tinggal sedikit lagi, kok!"


"Setelah selesai suapin Nuri kamu langsung makan, ya? Jangan main sama Nuri dulu, nanti kamu sakit."


"Iya, Bunda."


Bukan tanpa alasan Yasna bicara seperti itu. Nayla jarang sarapan. Setelah menyuapi Nuri, pasti gadis kecil itu mengajak mamanya bermain hingga melupakan sarapannya.


*****


"Kamu nggak pulang, Frin?" tanya Zahra yang melihat sahabatnya belum pulang juga. Malah asyik membaca buku. Biasanya gadis itu setelah kelas selesai, langsung pergi.


"Belum, nunggu jemputan," jawab Afrin.

__ADS_1


"Kamu nggak bawa mobil? Tumben?"


"Ada urusan sebentar."


"Urusan apa?"


"Mau ketemu sama calon mertua," jawab Afrin dengan tersenyum.


"Calon mertua? Kamu akan nikah? Sama siapa? Kapan pernikahannya?" tanya Zahra beruntun.


"Iya, mudah-mudahan saja. Aku akan menikah sama Khairi, doain, ya!"


"Jadi beneran kamu akan menikah sama dia?"


Afrin mengangguk tanda mengiyakan. Dia pun menceritakan semuanya pada Zahra, tentang apa yang terjadi padanya dan akhirnya memutuskan untuk menuju jenjang yang lebih serius.


Dalam hati Zahra senang mendengarnya, tetapi juga khawatir pada sahabatnya itu karena dia juga tahu jika Vira menyukai Khairi. Namun, gadis itu tidak mau membuat Afrin sedih. Zahra diam saja, tidak mau mempertanyakannya. Dia hanya bisa memberi support untuk sahabatnya.


"Selamat, ya, Frin! Aku ikut senang mendengarnya. Semoga hubungan kalian baik-baik saja hingga menikah dan pernikahan kalian sakinah mawaddah warahmah sampai maut memisahkan."


"Amin, terima kasih doanya. Kamu memang sahabatku yang terbaik. Meski kita baru kenal."


"Kamu lebay," ucap Zahra dengan tersenyum.


Ponsel yang ada di dalam tas Afrin berdering, tertera nama Khairi di sana, membuat gadis itu tersenyum.


"Cie yang sudah dijemput, nih!" goda Zahra. "Aku jadi iri melihatnya."


"Kamu ini, bisa saja," sahut Afrin. "Sebentar, ya!"


"Halo, assalamualaikum," ucap Afrin.


"Waalaikumsalam," ucap pria yang berada di seberang telepon. "Aku sudah di depan, Sayang. Kamu ada di mana?"


"Aku masih ada di kelas, tunggu sebentar aku akan keluar."


"Oke, hati-hati, Sayang."


Afrin segera mematikan panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia harus segera keluar. Gadis itu tidak mau membuat Khairi menunggu terlalu lama.


"Aku pulang dulu, kamu nggak keluar sekalian?"


"Iya, aku juga mau ke tempat kerja. Sebentar lagi mau mulai."


Mereka berdua keluar dari kelas bersama-sama. Meski baru saling mengenal, tetapi Afrin lebih nyaman berteman dengan Zahra daripada Vira dan Sisca.


Sampai di parkiran keduanya berpisah. Zahra pergi ke tempat kerjanya, sementara Afrin menuju mobil Khairi yang terparkir di halaman kampus. Pria itu melihat Afrin mendekat segera membukakan pintu mobil bagian belakang Khairi segera memutari mobil dan berniat untuk duduk di samping pujaan hatinya. Namun, sebelum pria itu masuk, Afrin melarangnya.


"Stop! Kenapa masuk sini? Kamu duduk di depan saja!" seru Afrin.


"Kok, di depan sih, Sayang?"


"Kita belum sah jadi, di depan saja."

__ADS_1


"Kemarin kita di belakang berdua!"


"Itu beda, kemaren darurat sekarang nggak. Pokoknya kamu di depan atau kita nggak jadi ke rumah kamu!"


"Iya, iya, aku di depan." Terpaksa Khairi duduk di depan, di samping Ivan.


Sang asisten yang mendengarnya pun hanya berusaha menahan tawa. Baru kali ini ada seseorang yang berani memerintah atasannya itu dan Khairi pun menurutinya.


"Ivan, Kamu mau saya pecat?" tanya Khairi, dia tahu jika asistennya itu menertawakannya.


"Tidak, Tuan," sahut Ivan.


Sementara Afrin yang ada di belakang, lebih memilih memainkan ponselnya. Ivan melajukan mobil menuju rumah keluarga atasannya. Semua terdiam dengan pikirannya masing-masing, hanya keheningan yang mengiringi perjalanan mereka.


"Boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Afrin memulai pembicaraan.


"Iya, tanya saja," jawab Khairi dengan melihat ke arah kaca yang berada di depannya, hingga bisa melihat Afrin.


"Apa mama kamu galak?"


Khairi mengulum senyum dan menjawab, "Kamu lihat saja nanti, memangnya kenapa? kamu takut, ya?"


Ternyata bukan dia saja yang gugup saat menghadapi calon mertuanya. Khairi tahu bagaimana rasanya karena pria itu pernah merasakannya dua kali.


"Ya iyalah, siapa yang nggak takut mau ketemu sama calon mertua," jawab Afrin tanpa sadar.


"Kamu sudah mengakui mama sebagai calon mertua, berarti aku sudah jadi calon suami kamu, dong? Tapi aku nggak pernah dengar kamu manggil aku dengan sebutan apa, gitu! Bahkan kamu juga tidak pernah memanggil namaku," ucap Khairi.


Benar apa yang dikatakannya Khairi, Afrin sama sekali tidak pernah memanggil nama pria itu karena dia terlalu malu untuk memanggilnya. Gadis itu juga tidak tahu harus memanggil apa pada Khairi. Kalau memanggil nama, rasanya tidak akan sopan. Kalau memanggil, sayang, itu terlalu memalukan. Panggilan Mas sepertinya lebih cocok, tetapi tetap saja dia malu untuk saat ini.


"Sayang, ditanya kok diam saja?"


"Sudah, lihat ke depan saja! Jangan banyak bicara!" seru Afrin.


Dia tidak ingin membahas hal itu. Suatu saat nanti gadis itu juga akan memanggilnya, entah dengan panggilan apa.


Tidak berapa lama mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di depan rumah Khairi. Pria itu membukakan pintu untuk calon istrinya. Ivan juga ikut turun, dia sudah seperti keluarga jika di rumah ini


"Ayo, masuk!" ajak Khairi.


Pria itu berjalan lebih dulu diikuti Afrin disampingnya sedikit ke belakang. Gadis itu sudah tidak tahu berapa kecepatan jantungnya. Dia hanya bisa berdoa agar jantungnya baik-baik saja.


"Assalamualaikum," ucap keduanya saat memasuki rumah.


"Kamu duduk di sini dulu, ya. Aku panggilkan mama," ucap Khairi yang diangguki Afrin.


Khairi masuk ke rumah untuk mencari mamanya. Afrin tidak bisa menutupi kegugupannya saat ini. Dia benar-benar takut jika mamanya Khairi tidak mau menerimanya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2