
Pagi-pagi sekali Afrin memuntahkan isi perutnya padahal dia belum makan apa-apa. Dia hanya mengeluarkan air saja. Khairi yang sedang tertidur pun terbangun saat mendengar suara orang muntah. Pria itu segera pergi ke kamar mandi untuk melihat keadaan istrinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Khairi begitu mendekat ke arah istrinya.
Afrin tidak menjawab karena masih sibuk dengan rasa mualnya. Khairi semakin khawatir, dia membantu sang istri dengan memijat tengkuknya. Setelah dirasa cukup lega, Afrin membasuh mulutnya. Dia merasa tubuhnya lemas setelah mengeluarkan cairan tadi.
Khairi yang berada di sampingnya dengan sigap menggendong sang istri dan membawanya ke tempat tidur. Pria itu mengambil tisu dan mengusap mulut Afrin.
"Kamu di sini saja, biar aku buatin teh," ucap Khairi yang segera berlalu ke dapur. Di sana sudah ada Bik Asih dan Fatma yang sedang memasak.
"Bik, tolong buatin teh hangat buat Afrin. Baru saja dia muntah-muntah," pinta Khairi pada ART-nya.
"Iya, Tuan. Akan saya buatkan sebaiknya Tuan temanin Non Afrin saja nanti kalau sudah selesai saya antar ke sana."
"Iya, Bik."
Khairi segera kembali ke kamarnya. Dia juga merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada sang istri. Ini baru pertama kalinya pria itu melihat seorang wanita hamil muntah-muntah. Apalagi melihat sang istri yang pucat dan tidak bertenaga semakin menambah ke khawatirannya.
Dulu dia pernah menonton sinetron di televisi dan berkata lebay pada artis yang sedang akting muntah, tapi kini saat melihat istrinya yang mengalami, pria itu menjadi tidak tega. Seandainya saja khairi bisa menggantikan posisi istrinya yang ngidam, pasti dia itu tidak harus melihat wajah istrinya terlihat lelah.
Pria itu pernah mendengar jika ada laki-laki yang mengidam dan mengalami morning sickness. Seandainya itu terjadi padanya saja.
"Kamu mau ke mana? Duduk di sini saja, kamu pasti masih lemas."
"Tidak apa-apa, Mas. Aku memang sudah terbiasa seperti ini.
Khairy jadi merasa bersalah karena dirinya tidak ada saat sang istri mengalami kesusahan. Dirinya malah sibuk memikirkan perasaannya sendiri.
"Maafkan aku, ya, Sayang. Kamu jadi susah begini karena aku."
"Apa, sih, Mas. Aku kan sudah bilang tidak perlu ada kata maaf-maaf lagi. Kita sudah memulainya dari awal jadi tidak perlu ada kata minta maaf."
Pintu diketuk seseorang dari luar, siapa lagi kalau bukan Bi Asih. Wanita itu membawa pesanan Khairi untuk Afrin. Setelah itu wanita paruh baya itu kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dia juga memberi saran agar mengusap perut dan punggungnya dengan minyak kayu putih.
__ADS_1
"Ini diminum dulu, Sayang. Biar nanti ada tenaga."
"Iya, Mas, terima kasih." Afrin pun segera minum teh hangat buatan Bik Asih. Namun, wanita itu kembali berlari ke kamar mandi dan memuntahkan teh yang diminumnya. Wanita itu merasa minuman itu tidak enak, tidak seperti biasanya.
"Mas, teh itu rasanya nggak enak. Aku mau susu buatan kamu kayak kemarin."
"Baiklah, kamu tunggu di sini, akan aku buatkan susu buat kamu." Khairi segera berlalu menuju dapur.
Pria itu akan membuatkan istrinya susu ibu hamil. Dia senang Afrin menyukai buatannya padahal pria itu sama sekali tidak tahu menahu tentang cara membuatnya. dia hanya mengikuti paduan yang ada di kemasan.
"Ada apa lagi, Tuan? Kenapa tehnya dibawa? Apa tidak enak?" tanya Bik Asih saat melihat Khairi ke dapur dengan membawa teh yang hanya berkurang sedikit.
"Enak, kok, Bik, tapi Bibi tahulah wanita hamil memang suka begitu. Dia mau aku buatkan susu kayak kemarin."
"Iya, Tuan, wanita hamil memang seperti itu. Apalagi sekarang Non Afrin sudah kembali sama Tuan pasti bayi itu ingin bermanja-manja dengan ayahnya."
"Sepertinya begitu, Bik, tapi aku senang karena merasa aku dibutuhkan di sini. Afrin itu wanita yang mandiri, semua bisa dilakukannya sendiri. Sekarang hanya bergantung padaku, aku jadi senang karena merasa diperlukan."
"Tuan ini ada-ada saja. Biasanya para pria senang istrinya mandiri, kenapa Tuan tidak? Malah suka dengan wanita yang manja."
"Iya, benar, Tuan. Wanita mandiri itu tidak baik. Terlalu manja juga tidak baik."
Khairi menyeduh susu ibu hamil untuk istrinya, sesuai takaran yang dia gunakan kemarin. Setelah itu dia membawanya ke kamar dan diberikan pada sang istri yang begitu suka, hingga meminumnya sampai habis begitu saja tanpa bersisa.
"Ini enak sekali, Mas. Aku suka."
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu. Setelah itu kita sarapan."
"Kamu saja yang mandi duluan, Mas. Aku lagi males," ucap Afrin yang kembali merebahkan tubuhnya, membuat Khairi menggelengkan kepala.
"Ibu hamil nggak boleh malas, ayo, mandi! Mau aku mandiin?" tanya Khairi yang sengaja ingin menggoda.
"Tapi, aku ngantuk, mas," rengek Afrin.
__ADS_1
"Ya sudah, sebentar saja. Setelah aku selesai mandi, kamu harus mandi."
"Hemm."
Khairi pun segera ke kamar mandi, meninggalkan sang istri yang masih bergelung dalam selimut.
*****
"Bu, tadi Kak Khairi kirim pesan katanya kita diundang untuk datang ke acara di rumah Bunda Yasna," ucap Laily yang baru keluar dari kamarnya.
Sementara Bu Nur sedang menonton acara televisi. Mereka memang tidak punya pekerjaan apa pun. Adakalanya rasa bosan datang, kalau seperti itu biasanya Laily mengajak ibunya jalan-jalan atau makan di luar.
Khairi membelikan motor matic untuk adiknya karena gadis itu bisa menggunakannya. Sebenarnya pria itu ingin membelikan mobil, tetapi Laily menolak. Dia tidak bisa menggunakannya jadi gadis itu meminta belikan motor saja. Kakaknya pun mengiyakan.
"Ada acara apa?" tanya Bu Nur.
"Katanya Nuri ulang tahun, Bu. Bunda Yasna juga sekalian mau buat acara barbeque," jawab Nuri.
"Kalau begitu, ayo, kita beli kado! Tapi kado apa? Kita tidak tahu apa yang dia sukai. Mereka juga orang kaya, apa masih mau menerima hadiah dari kita? Apa pun yang gadis kecil itu inginkan, sudah pasti orang tuanya sangat mampu untuk memenuhinya."
"Mereka orang baik, Bu. Selalu menghargai pemberian orang lain asalkan kita tulus memberinya," ujar Laily yang diangguki Bu Nur. "Kita beli boneka saja, Bu. Nuri belum sekolah kita juga tidak tahu apa kesukaannya."
"Ya sudah, itu saja."
"Aku siap-siap dulu. Ibu, nggak ganti baju?"
"Tidak, Ibu pakai baju ini saja."
Laily mengangguk dan berlalu meninggalkan ibunya yang masih menikmati acara televisi. Tidak berapa lama Laily keluar dengan memakai tunik dan celana bahan kain longgar. Mereka pergi menggunakan motor menuju tempat penjual mainan.
.
.
__ADS_1
.