
Afrin masih duduk di ruang tamu, menunggu Khairi yang sedang memanggil mamanya. Mata gadis itu mengamati sekeliling ruangan. Ada beberapa foto Khairi bersama dengan orang tua dan juga keluarga besarnya.
Tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki, membuat gadis itu melihat ke arah sumber suara. Tampak Khairi berjalan bersama dengan seorang wanita yang terlihat masih muda di usianya. Afrin berdiri dan mengulas senyum pada mama Khairi.
"Assalamualaikum, Tante," ucap Afrin dengan mencium punggung tangan wanita itu.
"Waalaikumsalam, nama kamu siapa?"
"Nama saya Afrin, Tante," jawab gadis itu dengan gugup.
Merry yang menyadarinya hanya tersenyum. "Saya Merry, mamanya Khairi. Ayo, duduk sini!"
Afrin pun duduk di samping mamanya Khairi. Gadis itu semakin gugup karena Merry sedari tadi menatapnya.
"Kenapa kamu mau nikah sama anak tante ini?" tanya Mama Merry.
"Dia ngejar-ngejar saya terus,Tante, akhirnya saya terima dia," jawab Afrin seadanya membuat Merry tertawa.
"Dia memang orang yang suka memaksa jadi, nanti kamu harus banyak sabar dalam menghadapinya."
"Apa, sih, Ma? Kenapa malah jelek-jelekin aku?" sela Khairi.
"Kamu diam saja. Sebaiknya kamu ke dalam sana! Panggil Bik Asih biar buatin minum buat Afrin."
"Iya mah." Meski kesal, Khairi tetap melaksanakan perintah mamanya.
Dia ke belakang dan meninggalkan sang mama bersama Afrin. Pria itu tahu, jika mamanya ingin bicara berdua dengan gadis itu. Khairi percaya pada jika Mama Merry tidak akan mempersulit Afrin karena gadis itu baik,. seperti keinginannya.
"Boleh Tante tanya sesuatu dan Tante harap kamu menjawabnya dengan jujur," ucap Merry dengan wajah serius.
"Iya, Tante," jawab Afrin.
"Jangan takut, jawab saja apa yang ada dalam hati kamu," ucap Merry. "Apa kamu benar-benar mencintai anak Tante? Dia banyak sekali kekurangan. Kami begitu sibuk dengan pekerjaan, sehingga tidak begitu memperhatikan apa yang dia butuhkan dan apa yang dia pelajari. Semua kami serahkan pada orang kepercayaan kami. Dari yang Tante lihat dari keluargamu, kalian begitu bahagia dan sempurna. Tante takut Khairi tidak memenuhi kriteria suami idaman, seperti apa yang kamu inginkan."
"Mungkin tante benar, keluarga kami sangat bahagia, tapi kami juga memiliki kekurangan. Bahkan mungkin banyak sekali kekurangan kami. Hanya saja kami sekeluarga, saling mengerti satu sama lain. Kami juga berusaha untuk saling membahagiakan dan mengenai Khairi, saya sungguh mencintainya dan saya akan berusaha menjadi istri yang baik. Mudah-mudahan keluarga kami juga bisa bahagia selamanya, hingga ajal menjemput."
Baru kali ini Afrin mengakui perasaannya di depan orang lain selain keluarganya. Dia tahu saat ini Mama Merry sedang khawatir dan dia mengatakan hal itu memang jujur dari dalam hatinya, bukan karena terpaksa. Gadis itu benar-benar sudah jatuh cinta pada Khairi.
__ADS_1
Sikap pria itu yang hangat padanya dan dingin pada orang lain membuat dia merasa spesial. Afrin berharap sikap itu akan ada dalam diri Khairi selamanya.
"Terima kasih sudah menerimanya. Dia juga bercerita semua tentang kamu, tentang keluargamu, dan apa yang dia pelajari setelah mengenal kalian. Tante merasa bersyukur akan hal itu," ucap Merry dengan tersenyum. "Satu hal yang perlu kamu tahu. Anak tante juga orang yang sangat setia, sama seperti papanya."
"Pasti, Tante, sangat bahagia memiliki suami seperti om."
"Iya, meskipun dia sudah tua, tapi masih romantis," jawab Merry sambil tersenyum. "Oh, ya, jangan panggil Tante lagi. Panggil Mama, sama seperti Khairi."
"Iya, Ma."
Tanpa keduanya sadari, Khairi sedari tadi mendengar pembicaraan mereka dari balik tembok. Pria itu tadi meminta Bik Asih untuk membuatkan minum. Saat ingin kembali dia mendengar pembicaraan mamanya, sepertinya serius. Khairi pun memilih bersembunyi.
Tidak berapa lama suara mobil masuk ke halaman rumah, saat Afrin dan Mama Merry tengah asyik berbincang. Gadis itu bersyukur mamanya Khairi bukan orang yang berpikiran kuno.
"Ada tamu rupanya," tegur Hamdan saat memasuki rumah
"Papa sudah pulang?' tanya Merry yang segera memeluk sang suami.
Hamdan pun mencium kening sang istri. Suasana romantis yang biasa Afrin lihat juga di rumahnya. Gadis itu berharap kelak rumah tangganya juga seperti para orang tua, yang selalu bahagia.
"Ayo, Pa! Kenalin Ini calon istrinya Khairi, namanya Afrin dan Afrin, ini Papanya Khairi, namanya Hamdan. Kamu bisa panggil Papa juga, sama seperti Khairi."
"Hamdan, Papanya Khairi," sahut Hamdan dengan membalas uluran tangan Afrin. "Papa juga sudah mendengar tentangmu. Tadi ngobrol apa saja, sama Tante?"
"Namanya juga perempuan, Pa," sahut Merry.
"Tapi, jangan suka banyak bergosip."
"Mama nggak gosip," kilah Merry dengan cemberut karena tidak suka dengan tuduhan suaminya.
"Iya, Papa percaya," ucap Hamdan kemudian, beralih menatap Afrin. "Papa tinggal dulu, mau membersihkan diri."
"Iya, Pa. Tidak apa-apa."
"Kamu tunggu di sini dulu, biar Mama panggilkan Khairi." Merry segera menyusul suaminya memasuki kamar setelah memanggil Khairi.
"Kamu kayaknya tegang banget!" seru Khairi yang baru saja datang.
__ADS_1
"Enggak usah ngejek, sudah tahu aku aku lagi deg-degan," sahut Afrin jutek.
"Aduh, mana nih Afrin yang jutek dan galak, tiba-tiba jadi melempem," ejek Khairi membuat Afrin mendengus.
Cukup lama Afrin menunggu, hingga akhirnya Mama Merry mengajak mereka semua makan siang. Afrin memasuki dapur terlihat seorang asisten rumah tangga yang usianya lebih tua bersama dengan gadis. Dia hanya tersenyum dengan sedikit mengangguk pada mereka. Namun, gadis itu memalingkan wajahnya seolah tidak suka dengan kehadiran kekasih majikannya.
Afrin tidak ambil pusing, dia duduk di samping Mama Merry karena wanita itu yang memintanya. Fatma sedari tadi terus melirik gadis yang duduk di samping majikannya. Semua itu tidak luput dari pandangan Khairi. Namun, pria itu tidak ambil pusing selama Fatma tidak membuat masalah.
"Afrin, kenalin ini Bik Asih, dia sudah kerja sama kita dari Khairi kecil. Kalau ini putrinya yang paling kecil namanya Fatma."
"Salam kenal, Bik Asih, Fatma. Nama saya Afrin," ucap Afrin sambil mengulurkan tangannya.
"Jangan, Non. Tangan Bibi kotor," ucap Asih dengan menyatukan telapak tangannya di depan dada.
"Iya, tidak usah, tangan kami kotor," sahut Fatma yang ada di samping ibunya. Afrin pun terpaksa mengikuti mereka dengan menyatukan telapak tangannya di depan dada.
"Ya sudah, ayo, Sayang! Ambil yang kamu suka."
Mereka makan bersama sambil berbincang mengenai hubungan Khairi dan Afrin. Juga tentang keluarga masing-masing.
"Jadi kapan kami bisa bertemu dengan keluarga kamu?" tanya Hamdan pada Afrin.
"Papa Emran terserah, Papa Hamdan, punya waktunya kapan."
"Justru Papa yang harusnya nanya, Papa kamu kan orang sibuk. Takut mengganggu waktunya."
"Tidak, kok! Papa kapan pun bisa."
"Bagaimana kalau Sabtu atau Minggu? Terserah kalian saja, atur senyaman kalian."
"Iya, Pa. Nanti aku tanyain sama Om Emran," sahut Khairi membuat Hamdan mengangguk. Mereka pun melanjutkan makan siang.
.
.
.
__ADS_1
.