Bukan Istri Yang Sempurna

Bukan Istri Yang Sempurna
217. S2 - Dijodohkan dengan Vira


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Khairi saat memasuki rumahnya. Kedua orang tua pria itu merasa heran karena mendengar putranya mengucap salam.


"Kamu dari mana saja, Sayang? Tidak pernah pulang sejak Mama sama Papa pulang dari luar negeri?" tanya Merry, mama Khairi.


"Aku, kan, mau liburan juga, bukan Papa dan Mama saja."


"Tapi kamu enggak ada kabar. Ponsel pun mati."


"Kalau ponselku aktif, sudah pasti Mama akan memintaku pulang, kan!" Khairi mencoba mencari alasan.


"Kamu itu selalu saja ngeles kalau diajak bicara."


"Pa, Ma, Khairi ingin menikah," ucap Khairi membuat kedua orang tuanya senang karena selama ini mereka selalu meminta hal itu, tetapi pria itu selalu menolak dengan berbagai alasan.


"Syukurlah kalau kamu mau menikah. Mama senang dengarnya. Dari kemarin Mama selalu memintamu untuk menikah, tapi kamu selalu saja menolak," komentar Merry.


"Apa kamu sudah membicarakan hal ini dengan kedua orangtua Vira?" tanya Hamdan, papa Khairi.


"Kenapa harus berbicara dengan kedua orangtua Vira?" tanya Khairi yang merasa heran.


"Bukannya kamu mau menikah dengan Vira?" tanya Hamdan.


"Siapa yang mau nikah sama dia?"


"Lalu kamu menikahnya sama siapa, kalau bukan sama Vira?" tanya Merry.


"Sama Afrin, Ma. Gadis yang aku sukai."


"Tidak bisa Khairi, papa dan orangtuanya Vira sudah sepakat untuk menjodohkan kalian. Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain?" tolak Hamdan.


"Aku tidak mau, Pa. Aku hanya akan menikah dengan Afrin."


"Jika kamu ingin menikah sama dia lalu, bagaimana dengan Vira? Seharusnya kamu mengatakannya dari dulu jadi, Papa tidak menjodohkan kamu dengan Vira. Kalau sudah seperti ini, bagaimana?"


"Pokoknya Khairi tidak mau. Sampai kapan pun aku hanya akan menikah dengan Afrin tidak ada wanita mana pun yang bisa menggantikannya."


Hamdan dan Merry dibuat bingung dengan keputusan Khairi. Mereka tahu jika putranya tidak akan mau dipaksa. Jika Khairi bilang tidak, maka dia tidak akan pernah mau melakukannya.


Sebagai seorang ibu, tentu Merry ingin yang terbaik untuk anaknya. Sebenarnya dia juga tidak begitu menyukai Vira. Perjodohan itu atas usul dari ayah gadis itu dan membuat Hamdan dan Merry terpaksa mengiyakannya.


Hamdan dan ayah Vira memiliki kerjasama dalam bisnis. Mereka ingin bisnis itu nantinya akan menjadi milik Khairi dan Vira jika menikah, tetapi kini putranya menolak.


"Mama ingin bertemu dengan dia dulu. Mama ingin tahu, bagaimana gadis itu sebelum merestui kamu. Mama nggak mau kamu asal-asalan mencari gadis untuk dijadikan istri."

__ADS_1


"Dia itu gadis baik-baik, Ma. Mana mungkin Om Emran mendidik putrinya dengan asal-asalan."


"Emran? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu?" tanya Hamdan sambil berpikir.


"Pastilah, Emran Al Husayn. Papa, pasti mengenalnya," jawab Khairi.


"Jadi pacar kamu itu putrinya Emran, pengusaha terkenal itu?"


Semua pengusaha pasti mengenal keluarga Al Husayn, usaha mereka terkenal di mana-mana. Apalagi sejak putranya ikut bergabung. perusahaan mereka semakin besar.


"Iya, dia anaknya Om Emran dan Tante Yasna dan dia bukan pacarku, dia calon istriku."


"Mama juga pernah bertemu dengan Bu Yasna. Dia orang yang sangat ramah pada siapa pun."


"Jadi, bagaimana, Ma? Apa Mama ngerestuin kami?"


"Sudah Mama bilang, Mama mau bertemu dengan dia dulu!"


"Aku nggak yakin, sih! Kalau Afrin mau diajak ke sini, tapi nanti aku akan coba dulu?"


"Kenapa nggak mau?"


"Kita belum halal, Ma. Dia nggak mau kalau berduaan saja," jawab Khairi yang diangguki mamanya.


"Bagaimana kamu bisa mengenal keluarga Emran?" tanya papa akhirnya.


"Bisalah, Khairi gitu loh," ucap Khairi dengan menepuk dadanya membuat sang papa mendengus. "Ya sudah, aku mau ke kamar dulu, mau menghubungi Afrin dan bertanya apa dia mau ke sini apa tidak."


Khairi segera berlalu meninggalkan kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga. Hamdan kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh putranya, tapi dia bersyukur karena Khairi tidak salah dalam memilih gadis.


"Pa, bagaimana nanti kita bicara sama keluarga Vira?" tanya Mama Merry setelah putranya menghilang.


"Aku juga nggak tahu, tapi daripada dengan Vira, Papa sih lebih setuju sama putrinya Pak Emran. Semua orang tahu bagaimana keluarganya. Daripada dengan keluarga Vira, Mama tahulah bagaimana papa dan mamanya. Mereka sama-sama punya selingkuhan, sebenarnya Papa juga khawatir jika Vira sama seperti kedua orang tuanya, tapi Papa tidak punya pilihan lain waktu itu dan menyetujuinya begitu saja. Sekarang Khairi sudah memiliki pilihan dan pilihannya juga sangat bagus. Nanti papa coba bicara sama keluarga Vira. Mengenai nanti bagaimana mereka, itu urusan belakangan."


"Jadi intinya, Papa setuju Khairi sama anak Pak Emran?"


"Iya, Ma. Semua orang tahu kalau Pak Emran dan Bu Yasna mendidik anaknya dengan sangat baik. Tadi Mama dengar, kan, Khairi mengucap salam? Selama ini kita tidak pernah mengajarinya tentang agama bahkan untuk salam sekali pun, tapi hari ini dia sangat berubah."


"Kalau papa bicara seperti itu, Mama ikut saja asal demi kebaikan Khairi."


"Iya, Ma."


Sebagai orangtua mereka hanya menginginkan yang terbaik untuk putranya. Apa pun akan mereka lakukan agar masa depan Khairi terjamin dan hidup bahagia bersama istrinya kelak. Apalagi Merry, wanita yang sudah membesarkannya. Dia tidak akan pernah rela jika Khairi tersakiti.

__ADS_1


*****


Di dalam kamarnya, Khairi membuka ponselnya dan mencoba mencari nomor Afrin, segera dia menggeser tombol hijau, tidak menunggu waktu lama dari seberang seorang gadis sudah mengangkatnya.


"Assalamualaikum," ucap gadis itu yang tidak lain adalah Afrin.


"Waalaikumsalam, Sayang. Bagaimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah, baik. Bukannya baru saja kamu pulang dari sini?"


"Tapi aku sudah kangen banget sama kamu, Sayang!"


"Gombal," sahut Afrin. Namun, wajahnya kini sudah memerah dengan senyum menghiasi bibirnya.


"Aku nggak gombal, Sayang, ini beneran!"


"Iya, iya, ada apa kamu telepon?"


"Apa aku harus ada alasan untuk menghubungi kamu? Tiap jam, menit, detik, aku selalu kangen sama kamu."


"Kalau kamu kebanyakan gombal bisa muntah aku dengarnya."


Ini pertama kalinya Afrin menjalin hubungan dengan seorang pria. Dia merasa senang karena Khairi akan segera menghalalkannya. Tidak seperti pria di luaran sana yang hanya ingin bersenang-senang. Bahkan diantara mereka juga ada yang sudah melakukan hubungan suami istri


"Sayang, Mama mau ketemu sama kamu. Kamu mau, kan?" tanya Khairi dengan nada suara serius.


"Boleh, kapan mama kamu mau ketemu?" tanya Afrin balik.


"Kamu mau! Sekarang saja, bagaimana?"


"Ya, nggak sekarang juga! Besok, lusa atau Minggu depan saja."


"Besok saja, kalau Minggu depan kelamaan, Sayang. Kapan kita nikahnya kalau begitu!"


Afrin menghela napas berat. Calon suaminya memang benar-benar bikin pusing. "Terserah kamu saja."


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2