
Dorrr!
Suara tembakan menggema. Darah mengalir dari punggung Khairi, membuat gadis yang ada dalam pelukannya itu gemetar. Beberapa anak buah pria itu memasuki kamar dan segera meringkus Agung. Sempat terjadi perlawanan. Namun, sang musuh akhirnya kalah juga.
Sementara Khairi yang ada dalam pelukan Afrin mulai terkulai lemas. Gadis itu tidak kuat menyanggah tubuh sang pria hingga keduanya jatuh di atas ranjang
"Kamu nggak pa-pa, kan? Ka--kamu jangan menakutiku. Kamu harus baik-baik saja atau ... atau aku akan sa--sangat marah padamu dan tidak akan mau ... menemuimu," ucap Afrin dengan gemetar. Air matanya semakin mengalir deras.
"Jangan me--nangis ... aku baik-baik saja," sahut Khairi dengan pelan.
Anak buah Khairi mendekat. Dia memeriksa keadaan bosnya, memastikan bahwa pria itu baik-baik saja.
"Mari, Nona. Kita harus segera pergi dari sini. Biar anak buah saya yang mengangkat Tuan Khairi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."
Afrin mengangguk. Dua orang mengangkat tubuh Khairi. Gadis itu mengikutinya dari belakang. Mereka menaiki mobil dan meninggalkan rumah itu menuju rumah sakit. Khairi dan Afrin duduk di belakang. Gadis itu tidak ingin jauh darinya.
"Nona tolong pastikan Tuan Khairi dalam keadaan sadar," ucap anak buah Khairi yang berada di depan.
Afrin mengangguk dan mulai mengajak Khairi berbicara. Dia mengatakan apa saja yang ada di otaknya, yang terpenting pria itu masih sadar dan mendengarkannya.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tiba-tiba Khairi membuka suara. Meski sangat pelan, tetapi Afrin masih bisa mendengarnya.
"Apa? Katakan saja," jawab Afrin.
"Maukah kamu membuka hati untukku? Aku tahu kamu tidak memiliki perasaan apa pun padaku, tapi izinkan aku berusaha meluluhkan hatimu. Kamu tidak perlu melakukan apa pun. Cukup buka hatimu saja. Biarkan aku mengukir namaku di sana," ucap Khairi dengan sangat pelan membuat Afrin merasa sangat bersalah.
Selama ini dia mengira Khairi hanya main-main dengan perasaannya, tetapi kini gadis itu bisa melihat ketulusan dari pria itu.
"Asal kamu baik-baik saja, aku akan membuka hati untukmu," sahut Afrin dengan tulus membuat pria itu tersenyum.
Dalam perjalanan, Khairi merasa tubuhnya kedinginan. Dia menggigil sambil memeluk sendiri tubuhnya. Afrin yang tidak tega, segera memeluk pria itu. Bagaimanapun Khairi seperti ini karena menolongnya.
Sungguh gadis itu sangat berhutang nyawa padanya. Padahal selama ini dia selalu sinis, tetapi Khairi masih saja baik padanya. Afrin tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi sesuatu pada pria itu.
"Kamu harus baik-baik saja. Aku mohon," bisik Afrin.
__ADS_1
Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Seorang perawat membawa brankar mendekat ke mobil. Segera anak buahnya mengangkat Khairi dan mereka membawanya masuk ke rumah sakit. Afrin terus mengikuti dengan air mata yang menetes.
Khairi dibawa masuk ke sebuah ruangan ICU. Afrin dan anak buah Khairi hanya bisa menunggu di depan ruangan dengan gelisah. Bibir gadis itu tidak hentinya memohon pada Pencipta agar menyelamatkan pria itu.
"Nona, ini minumlah, ada roti juga untuk mengisi perut Anda. Saya yakin Anda belum makan," ucap seseorang yang baru saja datang dengan menyerahkan sebuah kantong kresek.
"Aku tidak lapar."
"Tetapi Anda harus tetap memakannya. Kalau tidak, Tuan Khairi akan sangat marah pada kami karena memperlakukan kekasihnya dengan tidak baik."
Afrin pun menerimanya. Sebenarnya gadis itu ingin menyangkal bahwa dia bukan kekasih Khairi, tetapi melihat keadaan pria itu yang seperti ini, lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu. Afrin pun memakan roti itu untuk menghargai orang yang sudah perhatian padanya.
Tidak berapa lama Emran dan Yasna datang. Mereka mendapat kabar dari anak buahnya, bahwa Afrin sudah ditemukan dan saat ini berada di rumah sakit.
"Afrin!"
"Bunda!"
Yasna segera memeluk putrinya. Dia sangat bersyukur bahwa Afrin baik-baik saja. Sebelumnya wanita itu sangat khawatir jika pelaku melakukan kekerasan atau hal lainnya yang tidak sanggup dia bayangkan.
"Aku tidak apa-apa, Bunda, tapi Khairi ... dia tertembak saat menolongku," jawab Afrin dengan meneteskan air mata.
"Kita berdoa sama-sama, semoga dia baik-baik saja?" ucap Yasna yang ingin menenangkan putrinya.
Dia juga sudah mendengar kabar itu. Tadi Emran yang menceritakannya, sungguh wanita itu sangat beruntung ada Khairi menyelamatkan putrinya. Meski dengan taruhan nyawa. Yasna akan melakukan apa pun untuk membalas kebaikan pria itu.
"Apa Agung sudah melakukan sesuatu sama kamu, Sayang?" tanya Emran.
Afrin hanya menggeleng sebagai jawaban. Dia tidak mau menceritakan kejadian itu untuk saat ini. Sekarang yang lebih penting hanyalah keselamatan Khairi. Masalah Agung biarlah polisi yang mengurusnya.
"Sebaiknya kita duduk dulu," ucap Yasna yang diangguki Afrin.
Mereka duduk di depan ruang ICU. Afrin memeluk bundanya begitupun dengan Yasna. Mereka seolah tidak ingin berpisah. Kejadian itu membuat mereka ketakutan.
Tidak berapa lama pintu di depan mereka terbuka. Tampak dokter keluar dengan diikuti oleh seorang perawat. Semua orang segera mendekat, ingin tahu bagaimana keadaan Khairi.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Khairi, Dokter?" tanya Afrin.
"Kami sudah mengeluarkan pelurunya. Pasien masih belum sadarkan diri, tapi dia baik-baik saja. Kami masih harus melihat perkembangannya nanti."
"Apa saya boleh melihatnya, Dokter?" tanya Afrin.
"Nanti, setelah perawat memindahkannya ke ruang rawat inap."
"Terima kasih, Dokter."
"Sama-sama, kami permisi dulu," pamit dokter itu yang diangguki oleh Afrin.
Tidak berapa lama seorang perawat mendorong brankar yang ditempati oleh Khairi. Pria itu tampak tertidur dengan posisi miring karena luka yang diterimanya memang berada di punggung. Afrin, Yasna, Emran beserta anak buah Khairil mengikutinya dari belakang. Mereka menuju sebuah ruangan yang akan menjadi tempat Khairi dirawat.
Perawat memindahkan Khairi ke atas ranjang dan memeriksa segala sesuatunya.
"Maaf, Pak. Apa orangtua Khairi belum diberitahu?" tanya Yasna pada anak buah Khairi yang mengikutinya.
"Orang tua Tuan Khairi sedang berada di luar negeri. Saya juga tidak berani mengabarinya. Itu bukan hak saya. Biar nanti Tuan Ivan yang mengurusnya."
Yasna mengangguk. Dia tidak mengenal siapa keluarga Khairi. Biarkanlah mereka saja yang mengurusnya.
Dua orang perawat tadi pergi meninggalkan ruangan. Afrin duduk disamping ranjang Khairi. Dia ingin berada di sisi pria itu hingga sadar. Yasna dan Emran duduk di sofa.
Sementara anak buah Khairi memilih berdiri di depan pintu, memastikan keamanan atasannya. Dia sudah memberi kabar kepada Ivan mengenai apa yang terjadi pada Khairi. Atasan keduanya itu mengatakan jika hari ini juga akan pulang karena kerjasamanya juga sudah berhasil.
Ivan sempat marah pada anak buahnya karena dianggap tidak becus, tetapi setelah mendengar cerita anak buahnya, dia tersenyum karena perjuangan Khairi tidak sia-sia. Meski harus mempertaruhkan nyawa, setidaknya ada kebaikan dibalik itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.